
.
.
Steven merasa terhibur oleh pertunjukan singkat barusan. Matanya tidak bisa lepas dari memandang perempuan berkaca mata yang ternyata tegas dan berani , sangat berbanding terbalik dengan penampilannya yang terkesan nerd.
"Aku benar-benar kesal," adu wanita seksi itu kepada Steven. "Tapi, setelah melihat wajahmu, kekesalanku jadi berkurang," sambungnya tersenyum . "Ayo--- "
"No, no. Jangan pegang aku. Kau kotor dan lengket. Aku jadi jijik dan tidak bergairah lagi." Steven melenggang pergi meninggalkan wanita itu yang memasang wajah super kesal.
--
Dua lelaki dengan setelan jas berparas sangat tampan dan juga tinggi itu memasuki sebuah restoran.
Satunya tersenyum senang, satunya lagi memasang wajah masam.
"Senyum, Steve" ujar lelaki tersebut kepada Steven. "Sepertinya, akan ada kejutan yang akan membuatmu senang setelah ini."
"Senang kau bilang?" protes Steven. "Aku yakin si Tua Bangka bau tanah itu akan menempatkanku ke dalam masalah."
__ADS_1
Nathan, pria berlesung pipit yang merupakan sahabat sekaligus orang kepercayaan Steven itu memamerkan senyum lagi, membuat Steven berdecak kesal seraya menyandarkan punggungnya.
Ketika mengedarkan pandangan, mata Steven tak sengaja menangkap sosok perempuan yang duduk dua meja dari mejanya sedang membaca buku.
Bibir tipis Steven terangkat, tersenyum kecil ketika melihat perempuan itu yang serius membaca buku tebal dihadapannya. Sepertinya, wajah perempuan itu tidak asing lagi baginya.
Ya, Steven yakin, perempuan itu pernah ia lihat di kelab malam.
Perempuan nerd yang ternyata punya keberanian luar biasa.
Setelah itu, terlihat seorang pria paruh baya dan perempuan cantik di belakangnya menghampiri meja Steven dan Nathan. Mereka tersenyum ke arah keduanya.
"Tidak masalah, kami juga baru sampai. Silakan duduk," ucap Nathan mempersilakan.
Pria tua dan perempuan muda itu mendudukkan diri. Beberapa saat kemudian makanan yang dipesan oleh Nathan datang.
Mereka berempat memulai makan malam. Tak lama, mereka pun selesai makan.
Pria tua itu lebih dulu berdeham sebelum memulai pembicaraan. "Seperti yang kita tahu, perusahaan kita sudah bekerja sama selama satu tahun, lebih. Dan perusahaanku juga berperan besar untuk perusahaanmu."
__ADS_1
Steven mulai tahu arah pembicaraan pria di hadapannya ini. Memang benar perusahaannya sedikit maju setelah bekerja sama dengan perusahaan tuan Sam ini. Dan, itu adalah fakta yang sedikit menyebalkan.
Ia terpaksa menjalin mitra kerja dengan tuan Sam atas rekomendasi dari ayahnya.
"Dan agar semakin erat hubungan kita, aku berniat untuk menjodohkan putriku denganmu." Tuan Sam menoleh ke arah perempuan tersebut yang ternyata adalah putrinya.
Perempuan berambut blonde itu tersenyum manis. Anggun. Lalu perempuan itu mengulurkan tangannya pada Steven setelah mendapat isyarat dari ayahnya.
"Roxanne Smith, senang bertemu denganmu."
Steven menerima uluran tangan Roxanne. "Steven Bennet." Dia tetap tersenyum kecil meski sedikit terpaksa.
"Aku dan keluargaku akan datang ke rumahmu minggu depan. Aku akan membicarakan tentang pertunangan ke orang tuamu. Mereka pasti akan setuju."
Steven ingin sekali menyobek mulut pria tua di hadapannya ini. Dengan enteng dia berbicara tanpa ingin tahu apakah Steven setuju atau tidak. Hei, yang pertunangan itu Steven, bukan orang tuanya!.
"Kurasa itu saja yang ingin kukatakan. Kami tidak bisa lama-lama karena akan ke rumah duka setelah ini, ada rekan yang meninggal dunia," beri tahunya.
Tuan Sam menghabiskan minumannya sebelum kembali berucap, "Senang makan malam bersama kalian."
__ADS_1
"Hm, oke," balas Steven mengangguk sebelum akhirnya kedua orang itu benar-benar sudah pergi.