
Ketika sampai di kantor, Steven langsung menuju ruangan Silvia. Baru beberapa jam yang lalu dia meninggalkan Silvia, tapi dia sudah sangat merindukannya.
Wajah cantik Silvia, aroma wangi tubuh gadis itu, dan semua yang ada pada gadisnya sudah membuatnya kecanduan.
Steven mencoba menelepon Silvia ketika mengetahui gadis itu tidak ada di ruangannya.
Namun sepertinya itu sia-sia karena ponsel Silvia ada di atas meja.
Dia segera keluar dari ruangan dan bertanya keberadaan Silvia pada setiap pegawai yang dijumpainya. Tapi mereka tidak ada yang tahu.
Steven semakin cemas, dia khawatir akan terjadi apa-apa pada gadisnya.
Entahlah, dia merasa kalau gadis itu akan berada dalam bahaya ketika jauh darinya.
Ini masih jam kerja, jadi tidak mungkin Silvia pergi membeli makan.
Steven segera keluar gedung dan mulai mencari gadis itu di tempat yang lebih jauh dari gedung.
Dia kemudian memusatkan pandangannya pada wanita yang tengah digoda oleh dua pria berbadan besar di tempat yang lumayan sepi, tepatnya di ujung mulut gang.
__ADS_1
Steven yakin kalau itu adalah Silvia. Terlihat dari seragam yang dikenakan, juga rambut hitamnya yang terurai.
Steven segera berlari menghampiri Silvia, takut gadisnya akan disakiti oleh pria brengsek yang tidak tahu umur itu.
Ditariknya kerah pria berkumis dan dipukulnya tepat di hidung pria itu. Seketika hidungnya mengeluarkan darah.
Merasa tak terima temannya diperlakukan seperti itu, lelaki dengan tato penuh itu segera melayangkan pukulannya ke wajah Steven. Namun dengan cepat Steven menghindar.
Silvia yang mengetahui perkelahian itu membekap mulutnya. Dia takut akan ada yang tewas nantinya.
Dengan cepat dia merogoh saku jasnya hendak mencari ponselnya. Dia ingin menghubungi Nathan. Tapi dia baru ingat ponselnya ada di atas meja, dia lupa membawa ponselnya. Bodoh!
Steven kalap, dia tanpa ampun menghajar dua laki-laki di hadapannya itu. Berkali-kali dia melayangkan pukulannya ke wajah dan perut kedua pria yang kini sudah tidak bisa melawannya.
Steven dengan kekuatan penuh mencengkram leher kedua lelaki itu. Matanya menatap tajam pada mereka bergantian. Urat-urat dahinya tercipta sangat jelas, menandakan bahwa Steven sangat marah.
"Steve, hentikan! Kau bisa membunuh mereka!"
Steven tidak peduli dengan ucapan Silvia, dia semakin menguatkan cengkramannya.
__ADS_1
Kedua pria itu mulai kehabisan napas dan tenaga, tapi sepertinya Steven tidak ada niatan untuk melepaskan cengkramannya. Dia harus memberi pelajaran karena mereka berani menyentuh gadisnya.
Silvia mulai panik, dia tidak ingin melihat Steven membunuh orang. Lebih tepatnya dia tidak ingin terlibat ini semua.
Dengan air mata yang mulai mengalir, Silvia menggoyang-goyangkan lengan Steven agar pria itu melepaskan cengkeramannya.
"Steve, kumohon hentikan!" Suara Silvia parau, dia gelisah. Kenapa dijalanan ini tidak ada orang yang lewat?
Dia merutuki kebodohannya yang keluar gedung untuk membeli tinta. Sebenarnya di kantor juga menyediakan tinta, tapi dia memilih keluar sekaligus untuk mencari udara segar.
Tapi akibat kebodohonnya itu dia dan Steven terlibat masalah yang besar.
Silvia terduduk lemas ketika mengetahui kedua pria itu sudah tersungkur ke tanah dalam keadaan tak bernyawa.
"Apa ... apa yang kau lakukan?" tanyanya lirih.
Napas Steven terputus-putus, tenaganya terkuras habis. Dia tidak bisa berpikir jernih. Diambilnya ponsel dari dalam saku dan menelepon bawahannya.
"Segera urus orang yang barusan kubunuh," perintahnya dengan napas putus-putus. Setelah itu dia segera mematikan teleponnya dan memasukkan lagi ke dalam jasnya.
__ADS_1
-
-