
"Silv, apa kau baik-baik saja?" Steven mendongakkan kepala Silvia, dia kemudian mengusap sisa air mata di pipi putih gadis itu.
Silvia segera menepis tangan Steven dari wajahnya, matanya memerah. Dia merasa takut sekaligus marah.
"KAU GILA?!" teriaknya marah.
"Kau menghilangkan nyawa orang di depanku dan kau masih bertanya apa aku baik-baik saja?!" lanjut Silvia berteriak frustasi.
Steven menatap sendu ke arah Silvia. Apa dia salah ingin melindungi gadisnya?
"Maaf, aku tidak bisa mengendalikan diriku," sesal Steven.
Silvia bangkit kemudian menampar pipi putih Steven. Steven hanya diam, ini juga salahnya karena tidak bisa mengendalikan dirinya. Apalagi di depan Silvia.
"Maaf."
Silvia dengan air mata yang terus mengalir berbalik meninggalkan Steven. Dengan langkah gontai ia berjalan hendak menuju halte bis. Dia ingin pulang, ingin segera memeluk nenek dan melupakan segalanya.
Kadang dia menginginkan kalau semua yang terjadi selama ini adalah mimpi. Mulai dari pertama kali bertemu Steven, kemudian menjadi sektretaris sekaligus kekasihnya, dan yang terakhir pembunuhan tadi. Dia ingin itu semua hanyalah mimpi, yang apabila ia terbangun maka ia akan kembali seperti dulu, seperti saat dia belum mengenal pria bernama Steven itu.
Steven menatap punggung Silvia dengan tatapan sendu. Dia kemudian mengacak surai putihnya frustasi. Dia benar-benar bodoh.
"KAU BODOH, STEVEN! KAU BODOH!" Dia berteriak sekencang-kencangnya.
...--...
"Kau memang bodoh, Steve," komentar Nathan sambil duduk dan menyilangkan kedua kakinya.
Dia tidak habis pikir kenapa sahabatnya itu bertindak sangat ceroboh. Untung saja kedua orang yang dibunuhnya itu adalah buronan polisi, jadi tidak ada yang menuntut mereka.
Tapi tetap saja, Steven telah membunuh orang, dan Nathan tidak bisa merasa tenang.
__ADS_1
Steven terlihat berjalan mondar-mandir sambil memegang ponselnya, bukan karena memikirkan korbannya, tapi dia memikirkan keadaan Silvia. Gadis itu sampai sekarang tidak bisa dihubungi.
Dia merutuki kebodohannya yang tidak bisa mengendalikan emosi di depan Silvia. Gadis itu pasti tertekan. Tapi Steven tidak ingin pria lain menyentuhnya, hanya dirinya lah yang berhak menyentuh gadis itu.
Steven hanya tidak ingin kejadian masa lalunya terulang kembali.
"Aku tahu kau hanya tidak ingin kejadian masa lalumu terulang lagi." Nathan berkata seolah tahu pikiran Steven.
"Tapi apakah dengan membunuh akan menyelesaikan masalah?" tanyanya.
"Kau malah akan memperburuk keadaan, kau tahu? Apalagi kau membunuh orang di depan mata kepala Silvia."
Steven hanya diam. Dia tidak peduli apa yang dibicarakan sahabatnya itu. Silvia lah yang kini mendominasi pikirannya.
"Hei, dari tadi kau tidak mendengarkan perkataanku?" Nathan mendengus kesal karena Steven sama sekali tidak mendengarkan ucapannya.
Penasihat? Apa tidak salah, semua ucapannya tidak ada satu pun yang dituruti pria dihadapannya itu.
Steven segera berjalan keluar meninggalkan Nathan yang masih diam. Dia harus segera ke rumah Silvia, meminta maaf atas kelakuannya.
Steven mengendarai mobil Mercedes Benz hitamnya dengan kecepatan di atas rata-rata. Beberapa kali dia hampir menabrak mobil di depannya. Tapi dia semakin menginjak gas mobilnya. Dia ingin segera sampai di rumah gadis itu.
Setelah sampai, Steven buru-buru turun dan langsung menerobos masuk rumah karena pintu depan terbuka begitu saja.
"Nek! Silv!" teriaknya sambil menolehkan kepala ke kanan dan ke kiri.
Nenek berjalan tergopoh-gopoh mendengar teriakan Steven.
"Nek, Silvia dimana?"
Nenek menunjuk kamar Silvia dengan dagunya.
__ADS_1
Steven mengetuk pintu kamar Silvia dengan tidak sabar. Tapi sepertinya gadis itu tidak mau membukakan pintu untuknya.
"Silvia, kumohon buka pintunya!"
"Apa ada masalah?" tanya nenek dengan wajah cemas.
Tidak biasanya cucunya pulang dengan wajah sembab penuh air mata. Bahkan Silvia tadi tidak menjawab pertanyaannya. Cucunya itu langsung memasuki kamar tanpa sepatah kata pun.
Steven menggelengkan kepalanya, "Tidak, Nek. Hanya kesalahpahaman."
Nenek mengangguk, "Selesikan masalah kalian. Memang wajar kalau hubungan asmara akan selalu dibumbui pertengkaran, tapi Nenek harap kalian selesaikan kesalahpahaman ini."
Steven mengangguk.
Nenek tersenyum kemudian berjalan ke ruang belakang.
Steven merasa bersalah karena telah berbohong pada wanita tua itu. Tapi dia juga tidak mau kalau nenek sampai mengetahui masalah yang sebenarnya.
Steven segera mengetuk pintu kamar Silvia lagi. Tapi sia-sia, gadis itu tetap tidak memedulikannya.
Steven mengembuskan napasnya kasar, kemudian dia mendudukkan diri di kursi ruang tengah. Dia benar-benar lelah. Hari ini hari terberat untuknya.
Kenapa semua ini selalu terjadi di saat dia telah menemukan tambatan hati?
Apakah dia tidak ditakdirkan untuk bahagia?
Apakah dia harus terus-terusan terbelenggu oleh tipu daya dunia akibat masa lalunya?
Steven menarik rambutnya sendiri dengan kasar. Dia tidak habis pikir kenapa selalu saja ada yang mengganggu gadis yang dekat dengannya.
.
__ADS_1