
"Aset Udara, Aset Udara, Grimm 4-1-6, kerja bagus, kerja bagus, area telah bersih"
("Copy, kembali ke Markas")
Di angkasa, tiga pesawat A-10A Thunderbolt mulai menaikkan ketinggian dan terbang menjauh dari kota ini.
Pemandangan dimana tumpukan tubuh yang hancur dimana-mana adalah hal yang harus mereka tahan kan hingga operasi pembersihan di mulai.
Di tengah kebingungan, ketakutan dan rasa cemas dari penduduk yang ada disana, Raja berserta para kesatria kerajaan yang sampai di lokasi bersama dengan Amane Rin dan Shizuku Houki, mulai mendekati Tokiwaki yang tampak sangat senang akan suatu hal.
"Mereka dari dunia kita, kan?"
Houki mulai berbisik ke Rin yang masih tidak percaya dengan apa yang ia lihat, di depan mereka delapan belas manusia dengan perlengkapan yang jauh lebih modern ketimbang era ini tampak tengah memperhatikan sekitar, beberapa dari mereka berjalan ke warga yang terluka dan mulai merawat mereka
"Tak salah lagi, mereka memang dari dunia kita"
Jawab Rin ketika melihat logo bendera di lengan kanan mereka, baju militer modern lengkap dengan senjata yang mereka gunakan, belum lagi pesawat terbang yang tadi mereka saksikan, sudah menjadi sebuah bukti nyata kalau mereka benar-benar prajurit dunia mereka.
Tokiwaki sendiri, ia tampak cukup bersemangat bersama dengan tentara dunia mereka, ia tak seperti biasanya dimana normalnya Tokiwaki selalu bersikap seakan semuanya akan baik-baik saja, namun kali ini...
'Jeez, dia seperti anak-anak '
Senyum Houki ketika melihat betapa senangnya dia dengan mereka.
"Tuan-tuan, maaf jika menyela kalian"
Para kesatria kerajaan mulai berbaris ketika sosok pria dewasa dengan zirah besi itu berjalan kearah mereka.
Rin dan Houki langsung diam berusaha bersikap seperti biasanya dimana ia bersikap hormat pada bangsawan
Kekhawatiran yang ada di dalam pikiran semuanya yang ada disini kecuali para Marinir, adalah fakta jika Rosella yang merupakan ratu iblis saat ini tengah bersama dengan manusia yang datang dari dunia lain.
Membuat Houki dan Rin mulai bertanya-tanya apa dan mengapa Rosella bersama dengan tentara dunia mereka.
"Tuan-tuan, saya adalah Raja di kerajaan ini, saya selaku penguasa tertinggi disini, sangat berterimakasih atas apa yang anda lakukan untuk menyelamatkan kota kami dari bencana"
Ucap Raja pada Marinir dan Navy SEAL yang menatapnya sesaat setelah memberikan hormat.
Jad dan Fujiwara mulai berjalan ke hadapan Raja sambil memberikan tundukan kepala sekali sebagai bentuk tanda hormat.
"Perkenalkan, saya Letnan Fujiwara, kami datang dari dunia yang sama dengan para manusia yang ada di sisi anda saat ini. Saya juga yakin anda memiliki pertanyaan pada kami, jadi bisakah kami berkunjung disini sementara?"
"Tentu saja, saya sangat senang untuk menyambut anda sekalian disini, termaksud juga"
Raja kemudian melirik ke Rosella yang seakan tak ambil peduli dan tetap berdiri di samping Jonathan dalam diam.
"Anda, nona Rosella"
"Humf" Rosella menjawab dengan nada angkuh masih tidak memperdulikan jika Raja berusaha menyambutnya dengan hormat.
'Semoga dia jangan buat masalah'
Doa Jonathan ketika melihat raut wajah kesal dari Rosella yang tampaknya siap meledak dalam kemarahan, wajar saja jika ia merasa sangat kesal, kerajaannya selalu bertikai dengan kerajaan manusia dunia ini sehingga sudah sangat wajar jika Rosella merasa sangat tidak terima jika berada disini.
...****************...
Markas Delta, 0624 Waktu setempat, Februari 2023
Ruang Pemeriksaan Kesehatan.
"Apa kau baik-baik saja, Riria?"
Gadis remaja yang kemungkinan berusia 19 tahun itu sesaat setelah masuk ke dalam ruangan, ia mulai bertanya ke gadis yang tengah duduk di kasur ruang perawatan.
Gadis blonde keturunan setengah British dan Japanese itu duduk di kasurnya dengan tatapan sedih.
"Riria?"
Suzu mulai duduk di sebelah kasur dengan wajah khawatir, keduanya yang mengenakan baju pasien tampak mulai membaik setelah mengalami anemia berat akibat kehilangan banyak kekuatan magis.
"Tidak ada, aku cuma bingung harus apa"
"Bingung?"
Melihat wajah hampa Riria, Suzu mulai ikut khawatir dengan apa yang mengganggu pikiran temannya selama mereka berada di dunia ini.
Riria tak lama mulai mengambil sesuatu dari dalam selimut kasurnya dimana ia menunjukkan ponsel yang telah lama mati karena kehabisan baterai, melihat Riria yang mengeluarkan ponselnya Suzu mulai berasumsi kalau Riria bisa menyalakan ponselnya dan mendapat berita tentang dunia mereka, namun ekspresi Riria yang masih terlihat hampa itu mulai membuatnya sedikit risih.
"Aku dulu sering berpikir kalau orang tuaku tak pernah berpikir tentang membesarkan ku, aku selalu beranggapan kalau para pelayan ku bahkan tidak peduli tentangku"
Ponsel Riria mulai ia nyalakan, di depan Suzu ia melihat beragam kilas berita bahkan beragam komunikasi yang berusaha masuk ke ponselnya.
Riria mulai menangis ketika melihat salah satu berita yang datang ke media sosialnya dimana pesan itu mengabarkan tentang seseorang yang meninggal.
"Aku bodoh, kan?"
Suzu sangat tahu apa yang Riria rasakan saat ini.
Melihat Riria yang menangis, Suzu tahu apa berita yang Riria dapatkan dari ponselnya, tapi bagaimana dengan dirinya?
Di dalam sakunya, Suzu masih memiliki ponsel lamanya, setiap dari mereka masih menyimpan ponsel lama mereka karena itu adalah satu-satunya kenang-kenangan yang mereka miliki tentang planet bumi, namun kali ini, mereka bisa pulang, apa Suzu berani dan siap mentalnya jika ia menerima kabar tentang keluarganya yang khawatir padanya?
__ADS_1
Pertanyaan itu berhasil membungkamnya, Suzu dan Riria masih diam tak bersuara di ruang perawatan dimana tak ada satu suara pun yang keluar dari keduanya.
Mulanya mereka berpikir jika ini semacam petualangan di dunia lain dimana mereka semacam protagonis di sebuah kisah legenda, namun seiring berjalannya waktu, mereka di sadarkan oleh realita dimana, mereka adalah manusia biasa yang memiliki keterbatasan tersendiri.
Mereka masih anak-anak yang naif dan itulah yang selalu mengganggu pikiran mereka setiap hari.
...****************...
Ruang Operasi dan Komando, Markas Delta.
"Petugas Waran Kelas Satu, berikan aku laporan tentang hasil pemeriksaan kesehatan dua gadis itu"
Perintah Letnan Jenderal Norman ketika ia selesai melihat laporan tentang operasi di kota.
Pagi hari di markas, tepatnya pukul 0700 waktu setempat, Letnan Jenderal Norman mulai membaca laporan tertulis dari tim medis tentang kedua gadis itu.
"Pak, tim medis tidak menemukan adanya gejala penyakit asing di tubuh keduanya, dari laporan hasil pemeriksaan sementara mereka tampak baik-baik saja secara fisik, hanya mereka mengalami kekurangan gizi karena faktor makanan di dunia ini yang tampaknya tidak memenuhi standar"
"Lalu, apa ada lagi yang ingin kau tambahkan?"
Perwira Waran Kelas Satu itu kemudian menyerahkan tabletnya dimana ia menunjukkan tentang hasil investigasi latar belakangan keduanya dan apa saja yang terjadi selama mereka menghilang
"Seperti yang anda lihat Letnan Jenderal, berita tentang hilangnya mereka tampak masih menyebar di jaringan kepolisian Jepang, salah satu dari mereka berlima yang paling mencolok adalah Sarashiki Riria"
Letnan Jenderal membaca tentang latar belakang Riria dimana gadis ini adalah putri dari salah satu perusahaan cabang militer yang bergerak dalam produksi munisi, hilangnya Riria menyebabkan publik sedikit tergoyahkan terlebih tak ada petunjuk mengenai hilangnya Riria menambah rasa ketidakpercayaan masyarakat ke pihak berwajib.
'Ini akan menjadi masalah serius jika kami tidak bertindak berhati-hati tentang mereka'
Melihat betapa runyamnya masalah, Letnan Jenderal yang mulanya berpikir akan memulangkan mereka dalam waktu 2 bulan dari sekarang, harus mengundur waktu untuk menyiapkan alasan yang bisa ia berikan ke publik tentang bagaimana mereka bisa menemukan Riria.
"Kita kesampingkan dulu masalah itu, bagaimana dengan status Raidsoc dan Alpha Company?"
Perwira itu kemudian kembali ke kursinya dimana ia duduk di antara lima perwira lain di ruang komando ini.
Petugas yang bertanggung jawab dalam pemantauan kondisi serta aset udara, mulai berbicara ke Letnan Jenderal dengan jelas tentang perkembangan situasi yang baru di laporkan oleh XO Jad.
"Pak, Menurut laporan Jad, tim saat ini tengah berada di kastil raja dunia ini bersama dengan ratu iblis Rosella, tampaknya tidak ada masalah sampai saat ini, haruskah saya meminta mereka untuk melaporkan secara detil tentang pertemuan itu?"
"Tentu, perintahkan padanya untuk tidak bertindak apapun yang menyebabkan posisi kita bermusuhan dengan mereka"
"Dimengerti"
"Untuk sekarang, tetap awasi perkembangan, saya mau keluar sebentar"
Saat Letnan Jenderal mulai keluar dari ruangan operasi, seisi ruangan kembali bekerja di posisi masing-masing, di sepanjang jalan menuju gedung sementara bagian rumah sakit, Letnan Jenderal dapat melihat para Combat Engineer yang masih sibuk dengan tugas masing-masing dimana mereka sibuk membangun fortifikasi pertahanan darat dan udara serta membangun pelabuhan sementara untuk kapal Aegis serta kapal suplai.
Pangkalan udara juga tampak tengah di kerjakan oleh para engineer tanpa henti, jika semua sesuai dengan rencana, maka markas ini akan sepenuhnya selesai dalam satu bulan.
'Aku ragu kami bahkan bisa tetap tinggal disini selama setahun'
"Letnan Jenderal, apa yang bisa saya bantu"
Sambut petugas medis yang kebetulan ada di koridor
"Aku ingin menjumpai dua gadis itu, apa mereka bisa aku temui?"
"Dengan senang hati, ikut saya"
Dia dan Norman mulai berjalan menuju ruang perawatan dimana Riria dan Suzu saat ini berada. saat sampai di luar kamar perawatan, dalam diam Norman mulai menatap ke pintu dimana dua pasien itu saat ini berada.
"Letnan Jenderal, saya permisi"
"Terimakasih"
Saat ia masuk ke ruangan, dua gadis yang tampak murung akan sesuatu itu, langsung mengalihkan pandangan kearahnya.
"Nona-nona, bagaimana keadaan kalian"
"Y...yes! Kami baik!"
Suzu langsung berdiri dengan pose aneh dimana ia terlihat berdiri seakan menghadap seseorang yang menyeramkan.
"Jangan terlalu kaku nak, silahkan duduk, saya hanya ingin mengecek keadaan kalian"
Norman mulai berjalan kearah mereka sambil mengambil kursi yang ada di sudut ruangan, saat ia duduk di samping kasur, kali ini suasana tidak terasa tegang di antara mereka.
Saat Norman duduk di samping Riria, Riria mulai menoleh kearah Jenderal Norman yang tampak seperti siap untuk di beri pertanyaan mengenai apa yang ingin ia ketahui.
"Letnan Jenderal, bolehkah saya bertanya kenapa dan apa yang Amerika lakukan disini? Bagaimana caranya kalian bisa disini?"
Pertanyaan yang ia antisipasi pun datang kearahnya, Norman mengangguk sedikit akan pertanyaan itu, Suzu ikut mendengarkan dalam diam akan apa yang Norman jelaskan pada mereka berdua.
"Kami disini atas misi untuk melakukan observasi terhadap semacam anomali portal di tengah lautan Pasifik, namun karena anomali itu karena bertindak seperti semacam jembatan penghubung membuat pemerintah kami memutuskan untuk mengirim kami disini, itu saja yang bisa saya jelaskan pada kalian"
Apa yang dikatakan Norman adalah kebenaran namun detil seperti OPSEC sangat tidak mungkin ia beberkan ke remaja seperti mereka
"Begitu, ya"
Ucap Riria dengan nada setengah pelan, melihat wajah muram dari Riria, Norman mulai menduga jika ada sesuatu yang terjadi pada keluarganya.
Hingga ia ingat apa yang dikatakan oleh perwira Waran tentang informasi Sarashiki Riria.
'Apa dia sudah dapat kabar tentang keluarganya di bumi?'
__ADS_1
Pikirnya sambil menatap ke ponsel yang terletak di meja.
"Letnan Jenderal Norman, apa saya boleh pulang sekarang"
".... Sayangnya kami tidak bisa memulangkan anda saat ini juga, kalian harus disini untuk sementara waktu"
Wajah murung Riria semakin terlihat jelas di wajahnya, Letnan Jenderal Norman yang sedikit banyaknya tahu tentang latar belakang mereka berlima, tak bisa berkomentar apapun selain diam melihat Riria.
...****************...
'Ayahnya meninggal karena stroke dan dari apa yang ku tahu, pelayan di mansion terus mencari keberadaannya'
Letnan Jenderal Norman mulai membaca topik berita yang muncul di beragam artikel. Melihat situasi ini, sangat tidak mungkin untuknya maupun Kementerian Pertahanan bisa mengambil tindakan sembrono dengan memulangkan mereka tanpa persiapan apapun.
Setidaknya proses untuk membuat alasan yang jauh lebih masuk akal membutuhkan waktu yang cukup lama.
Pentagon sampai saat ini masih diam mengenai eksistensi dunia yang berada di tata Surya asing ini, jika situasi ini sampai ke telinga NASA maka semua orang akan panik karena kehidupan alien yang selama ini mereka duga tak ada, ternyata ada di di alam semesta ini.
Letnan Jenderal mulai berjalan kearah lain dimana ia menuju ke landasan pacu helikopter sementara dimana ia akan menjumpai dan menanyakan ke Admiral mengenai tindakan Admiral yang terbilang tidak etis itu.
Situasi di Kota Manusia itu mulai stabil dimana para Marinir memulai operasi pembersihan dari kekacauan yang dibuat oleh serangan dadakan malam itu.
Navy SEAL berserta tim gabungan yang di kirim oleh Markas Delta juga ikut membantu dalam merawat para warga sipil yang terluka akibat serangan itu.
Di lain tempat, di kastil kerajaan, Alpha Company berserta Tiga Pahlawan yang terpanggil tampak tengah menunggu kehadiran Raja yang akan memasuki ruang Singgasana, rasa canggung menyelimuti tiga pahlawan terpanggil itu, salah satu penyebabnya adalah fakta dimana Ratu Iblis Rosella ada disini bersama dengan empat manusia asing berseragam aneh yang tak pernah di lihat oleh siapapun.
Namun untuk tiga pahlawan itu, manusia aneh itu adalah manusia yang mereka sangat tahu datang darimana.
"Tuan-tuan, sekali lagi saya mengucapkan terima kasih telah menyelamatkan kota kami"
Ucap sang raja ketika duduk di kursi singgasana, pria yang tampak di sekitaran usia 40 tahunan itu tampak dengan elegan duduk menatap kearah marinir yang berdiri tanpa berlutut hormat seperti para kesatria yang ada disini.
"Tidak masalah, kami juga disini karena ada kepentingan tersendiri"
"Begitukah? Secara pribadi saya sangat ingin memberikan kalian sesuatu untuk apa yang kalian lakukan, apa kalian menginginkan sesuatu yang bisa saya kabulkan?"
Letnan Fujiwara bersama Jad, keduanya yang menghadap Raja, mulai mengalihkan pandangan kearah tiga manusia yang berdiri di samping Raja, tiga manusia itu tampak seperti anak remaja di usia 18 atau 19 tahun.
"Saya ingin berbicara secara pribadi dengan tiga pahlawan yang ada disini"
Ucap Jad dengan nada jelas dengan tatapan ia arahkan ke tiga remaja itu.
"......."
Melihat permintaan dari Jad, Raja sedikit menaikkan alis matanya, namun ketika ia ingin berbicara, Raja memilih untuk diam tak bersuara.
"Baiklah, jika itu yang kalian inginkan, aku mengijinkan kalian untuk menggunakan ruang utama sebagai tempat pertemuan"
Ucap Raja, setelah ia selesai berbicara, dua manusia aneh itu memberi hormat lalu berjalan kearah pintu masuk utama dimana sisa tim manusia aneh itu tengah menunggu.
"Tokiwaki, apa mereka juga dari dunia mu?"
Saat Fujiwara dan Jad keluar dari ruangan, Raja langsung berbicara ke Tokiwaki yang tampak seakan menantikan pertemuan mereka.
"Iya, mereka dari dunia kami, mereka adalah tentara dari negara yang di sebut Amerika Serikat"
"Ho?"
Raja tampak tertarik dengan topik ini, namun untuk Houki sendiri, ia justru khawatir dengan kenapa bisa Rosella bersama dengan tentara Amerika itu.
"Ehm, maaf jika saya menyela, Apa tidak apa-apa membiarkan Rosella ada di kota ini, Yang mulia?"
Houki yang tak bisa menahan rasa khawatirnya langsung menanyakan masalah ini, selama dua tahun mereka di tugaskan untuk mempertahankan dan membasmi Ratu Iblis namun kenapa justru Ratu Iblis ada disini
"Aku juga ingin tahu itu, tapi dari apa yang ku lihat, tampaknya Rosella tidak memiliki niatan lain ke kerajaan. Lagipula....."
Raja mulai memikirkan posibilitas dimana adanya penguasa iblis lain yang sebenarnya adalah musuh utama mereka namun mereka tak menyadari itu sampai hari ini.
...****************...
"Ahhh bosan~"
Rosella de Voir Junois, Ratu Iblis, saat ini ia tengah duduk bersandar di punggung Jonathan dimana pagi ini, Tim yang setidaknya telah selesai melakukan pembersihan, mulai istirahat sebentar
Untuk Rosella sendiri, ia sangat bosan sampai-sampai ia harus mengganggu Jonathan yang tengah menikmati lamunannya.
"Naa Jona"
"ugh"
Jonathan yang di panggil dengan sebutan Jona oleh Rosella, hanya bisa mengeluh dalam diam ketika Rosella dengan santainya bersandar di punggungnya.
"Apa?"
Rosella menatap ke langit sebentar sebelum ia menjawab Jonathan.
"Benda besi yang terbang itu, apa dibuat dari sihir?"
"Maksudmu pesawat tadi? Nah, itu tidak ada hubungannya sama sekali dengan sihir"
"Hooo?~ Menarik"
Rosella semakin menunjukkan rasa ketertarikan dengan apa yang mereka miliki, dan setiap kali Rosella bersikap seperti ini, Jonathan harus menahan diri dari mengumpat akan hujan pertanyaan yang akan datang dari Rosella.
__ADS_1
'Pembatas bahasa yang kami miliki juga sangat menyebalkan'
Pikirnya saat ia harus membuka buku untuk bisa berbicara dengan mereka yang ada di dunia ini.