Connected World

Connected World
Era baru untuk Ras Iblis


__ADS_3

"...... ehm ... Nona Rosella"


Rosella de Voir Junois, itulah nama penguasa iblis saat ini, dia dengan tenangnya menikmati teh di siang hari seakan tidak memperdulikan Sophia yang menjabat sebagai sekretaris jenderal, menatapnya sejak tadi dengan tatapan gelisah


"Haruskah aku katakan lagi, Sophia, kau terlalu khawatir"


"Tapi, mereka itu manusia!"


"Iya aku tahu itu, justru karena mereka manusia yang berbeda makanya aku bisa sedikit tenang" Balas Rosella sambil kembali melanjutkan minum tehnya yang masih hangat itu.


'Satu hari mereka disini, dan mereka masih bisa membuatku tertawa'


Ia sedikit menahan tawanya ketika membayangkan kemarin sore, saat ia diam-diam mengawasi salah satu manusia yang tampak mencurigakan, justru hal yang ia lihat membuat alis matanya terangkat sedikit.


"Hoo... mereka benar-benar nyata, dunia ini benar-benar dunia fantasi!"


Ucap pria itu dengan nada bersemangat saat bersembunyi di balik tembok, ia tampak melihat para pelayan yang tengah bekerja, namun ia tidak mengerti apa yang membuatnya sangat senang begitu.


Alhasil Rosella memutuskan mendekati manusia itu dan cukup mengejutkan ketika manusia itu menjelaskan dengan cara penuh semangat bagaimana ia bisa melihat ras selain manusia.


Lagi-lagi Rosella dibuat tertawa oleh manusia ini untuk kedua kalinya.


"Ahaha! Kau harusnya melihat bagaimana manusia itu"


Tawa Rosella ke Sophia yang masih memiliki rasa was-was ke manusia yang ada di kastil.


"Lalu, apa anda akan membiarkan mereka tetap disini, Nona Rosella?"


"hm.... aku belum tahu, mereka bilang kalau mereka menunggu jawaban petinggi mereka, jika mereka mendapatkan jawaban dari petinggi mereka, hubungan kerjasama antar kerajaan mereka dan kerajaan kita bisa terjalin"


"eh!?"


Sophia yang tak siap akan jawaban seperti itu langsung melebarkan matanya seakan ia di kejutkan oleh sengatan listrik tegangan tinggi.


"T..tunggu sebentar Nona, anda... Anda tak berniat menjalin hubungan diplomatik dengan mereka, kan?!"


"Ah? Aku belum bilang apapun ya?"


Rosella yang bersikap biasa saja semakin membuat Sophia merasa takut dengan posibilitas kalau mereka akan di serang tiba-tiba.


"Aku tahu apa yang kau pikirkan Sophia"


"fueh!?"


Rosella memejamkan matanya, lalu sebuah bola energi pun terbentuk di depan mejanya. Bola tersebut menunjukkan sekelompok manusia berpakaian aneh yang tampak tengah berdiri di luar area pemukiman warga.


"Aku tidak lengah, aku selalu mengawasi mereka, tapi coba kau lihat sendiri, kau pasti mengerti tentang keputusan ku"


Tak lama manusia-manusia itu menatap kearah anak-anak yang memerhatikan mereka dengan tatapan takut. Manusia itu tampak melambaikan tangannya dengan senyuman tanpa menunjukkan adanya sikap bermusuhan sama sekali, namun respon dari penduduk masih sama seperti sebelumnya.


"Mereka tidak seperti manusia pada umumnya, aku sangat yakin pada instingku"


Ucap Rosella dengan nada tenang, bola energi itu terus menunjukkan apa yang di lakukan Marinir tanpa sepengetahuan mereka.


Marinir yang berjumlah 8 orang itu, seperti biasanya mereka berdiri dan mengawasi sekitar, 3 lainnya tampak sedang mengerjakan sesuatu di kereta yang memiliki bentuk aneh terbuat dari baja itu.


Tak lama mereka menatap ke arah anak-anak yang sepertinya masih penasaran dengan mereka. Marinir itu kemudian mengambil sesuatu yang memiliki bentuk seperti bola dari dalam kereta mereka lalu melemparkannya kearah anak-anak.


Dengan senyuman, mereka melambaikan tangan kearah mereka seakan mengatakan kalau mereka boleh memilikinya.


"Nona Rosella...."


"Apa kau masih curiga dengan mereka?"


"ehm.... bukan begitu hanya saja...."


"kalau kau masih tidak yakin, biarkan ini menjadi tanggung jawab ku pribadi, apa kau mengerti?"


Sophia tak punya pilihan lain selain mengangguk akan keputusan Rosella ini.


Tepat saat Rosella berpikir berapa lama ia akan mendapatkan respon dari pimpinan manusia itu, ia pun di sambut dengan kejutan lainnya.


Di ruang pertemuan, Rosella dan Fujiwara serta dua Marinir yang berjaga di luar depan pintu masuk ruangan, keduanya saling tatap mata dimana kali ini menyangkut pembicaraan yang penting sehingga tidak ada yang boleh mengetahuinya kecuali mereka berdua.


"Pertama saya ingin minta maaf karena merepotkan anda, Nona Rosella"


"Tidak masalah, saya mengijinkan hal itu"


"Terima kasih atas pengertiannya, baik saya akan menyampaikan tentang pembicaraan kita kemarin. Atasan saya setuju atas permintaan anda mengenai anda yang tidak berkeinginan untuk menjalin hubungan diplomatik dengan kami"


"Humu, aku tidak mempermasalahkan soal itu"


Rosella sendiri, ia siap untuk mengubah arah topik pembicaraan ke arah dimana ia akan menyetujui gagasan mereka kemarin, hanya saja Fujiwara belum selesai dengan apa yang ingin ia katakan.


"Oleh karena itu, perwakilan dari atasan kami akan datang ke tempat anda untuk membicarakan serta memohon untuk anda mempertimbangkan kembali keputusan anda, apa anda tidak keberatan dengan itu, Nona Rosella"


"ha? Kalian, mau kemari?"


Fujiwara tersenyum melihat ekspresi Rosella yang nampaknya tidak menduga kalau pembicaraan akan seperti ini.


"Itu benar, perwakilan kami akan kemari untuk mendiskusikan pada anda mengenai hal tersebut. Apa anda tidak keberatan mengenai permohonan kami, Nona Rosella"


Dengan mempertahankan kehormatan serta jarak antar dua peradaban, setidaknya mereka bisa membentuk jembatan pemahaman antar kedua belah pihak, itulah yang Fujiwara bisa lakukan, respon dari Rosella pun berhasil membuahkan hasil baik dari negoisasi ini.


"Aku pribadi akan menyambut kalian, jadi kapan kira-kira perwakilan kalian datang? Besok? Lusa?"


"Fufufu.... Mungkin dalam dua jam perwakilan kami sampai disini"


Sesaat setelah pertemuan selesai, Rosella di bentur oleh masalah baru.


'Mereka mau datang!? Secepat itu? Manusia apa mereka ini?! Apa mereka tidak curiga atau takut dengan potensi di khianati di sela negoisasi?!'


Sedikit panik, Rosella berusaha menjaga ketenangan dirinya hanya saja ia masih tidak yakin apa yang harus ia lakukan untuk membuat citra kerajaannya lebih baik di mata kerajaan manusia asing ini.


"Sophia!"


Tak lama seorang wanita datang kearahnya dengan wajah panik.


"Ada apa Nona!? Apa serangan musuh! Apa mereka menyatakan perang ke kita!"


"Hah! Bukan itu, segera cepat panggil seluruh divisi pelayan untuk menyiapkan jamuan! Pimpinan manusia aneh itu setuju datang kesini!"


Dan begitulah hasilnya, seisi istana langsung sibuk menyiapkan beragam hal untuk menyambut manusia aneh yang akan datang itu, untum Rosella sendiri, ia berusaha untuk mengenakan pakaian khas bangsawan yang telah lama tak ia pakai.


'Jika kami bisa membentuk aliansi dengan manusia ini, posisi kami dengan manusia dunia ini setidaknya bisa aman, apapun yang terjadi aku harus bisa membuat mereka setuju dengan aliansi'

__ADS_1


Pikir Rosella saat di bantu oleh para pelayan mengenakan pakaian khas bangsawan miliknya ini.


Ia tak tahu apakah ini keputusan yang tepat atau tidak dengan membiarkan manusia, ras yang selalu menyatakan perang ke ras mereka, menjadi sekutu.


Saat Rosella selesai mengganti pakaiannya, ia berjalan kearah lain dimana manusia aneh itu biasanya berada.


Di taman kerjaan, 3 orang manusia dengan pakaian berwarna coklat bergaris-garis seperti warna lumpur, mengenakan helm sama seperti warna pakaian mereka, manusia itu saat melihatnya keluar dari istana, mulai menatapnya dengan tatapan hormat.


"Nona Rosella, anda tampak sangat anggun sekali" Puji Fujiwara dengan senyuman.


"Terima kasih untuk pujianmu"


Keduanya saling tukar pandangan namun tidak ada niatan bermusuhan dari Fujiwara maupun Rosella.


"Apa pimpinan kalian benar-benar akan kemari?"


Sedikit penasaran, Rosella menoleh ke Fujiwara yang masih tersenyum.


"Sesuai dengan apa yang saya katakan tadi, Pimpinan kami akan tiba mungkin sekitar 10 menit lagi... ah itu mereka"


Pandangan Rosella kemudian tertuju ke cakrawala dimana benda-benda besi terbang mengeluarkan suara yang sangat keras, menggema di seluruh kerajaan.


"Tunggu kalian mau kemana?"


"oh, Maaf Nona Rosella, kami harus ada disana saat helikopter itu turun"


"Ha? Heli...?"


Rosella yang tak mengerti apa maksud dari perkataan Fujiwara hanya bisa kebingungan dengan maksud perkataannya.


Di langit sebuah Helikopter UH-60 Blackhawk di kawal 2 AH-64D Apache mulai mendekati kerajaan.


("Landing zone confirmed")


Di pinggiran kerajaan, wilayah yang landai dimana tempat Marinir memperkirakan kendaraan mereka, Helikopter UH-60 Blackhawk mulai menurunkan ketinggian hingga helikopter mendarat sepenuhnya.


Dua Apache masih terbang di angkasa mempertahankan posisi perlindungan udara jika di butuhkan.


Marinir dengan cepat berdiri tak jauh dari helikopter, Fujiwara, Jonathan, Joseph serta 8 Marinir, serentak memberikan hormat militer pada seseorang yang mengenakan pakaian hijau perwira Marinir.


"Kalian tampak baik-baik saja huh, Letnan Fujiwara?"


"Kolonel! Terima kasih karena menyempatkan waktumu"


"Tidak masalah"


Mereka kemudian berjalan kearah pemukiman dengan Marinir berada di barisan paling depan.


"Situasi disini persisi seperti yang kau laporkan, Letnan Fujiwara"


Ucap Kolonel saat melihat kondisi kerajaan yang di penuhi rumah bertingkat kumuh serta tua dimakan usia.


Beberapa penduduk tampak menatap mereka dengan pandangan takut, di balik topi perwira yang masih terpasang di kepalanya, Kolonel berusaha menghindari kontak mata dengan mereka.


"Mereka tampak waspada dengan kehadiran manusia, bukan begitu, Letnan Fujiwara?"


Fujiwara yang berjalan di samping Kolonel hanya bisa mengangguk, di sela perjalanan Fujiwara juga menceritakan tentang keadaan ekonomi disini serta ilmu pengobatan medis yang sangat terbelakang.


"Hm... Menarik, jadi dari semua laporan mu, Nona Rosella ini adalah penguasa yang tampaknya peduli dengan penduduknya, itu sebabnya anda menyarankan untuk menjalin hubungan diplomatik dengan kita, bukan begitu?"


"Saya tidak bisa mengelak dari itu, Kolonel"


Tak lama tim kemudian sampai di pintu masuk istana dimana Rosella tampak berdiri di depan gerbang yang telah terbuka.


"Saya yakin anda bernama Rosella de Voir Junois, bukan begitu?"


"Benar, saya adalah penguasa di kerajaan ini, saya menyambut anda disini, silahkan ikut denganku"


Rosella dan Kolonel kemudian berjalan menuju ruang pertemuan dimana untuk kali pertamanya dalam sejarah ras iblis, mereka melakukan pertemuan dengan ras manusia.


Di dalam ruang pertemuan, Rosella merasa sangat tertekan, walau saat ini hanya mereka berdua namun entah kenapa melihat perwakilan pimpinan manusia di depannya ini, membuatnya sedikit gugup


"Silahkan teh anda"


Ucap maid dengan nada anggun saat meletakkan teh di depan Kolonel, Kolonel menyambut itu dengan senyuman.


"Terima kasih"


Saat Maid itu pergi dari ruangan, Kolonel melepaskan topi perwiranya lalu menatap ke Rosella seakan membaca pikirannya saat ini.


"Anda tidak perlu kaku, Nona Rosella. Saya sudah mendengar banyak tentang anda mengenai situasi anda dan bagaimana hubungan anda dengan manusia di dunia ini"


"Ah .. baik"


"Sangat bagus, seperti yang anda sudah ketahui, kami bukanlah manusia dari dunia ini, dan tujuan kami di kerajaan anda, murni untuk membentuk hubungan diplomatik dengan pihak kami. Saya harap anda mengerti itu"


"Iya, saya sangat tersanjung dengan tawaran anda"


"Terima kasih" Balas Kolonel sambil mengangguk, "Untuk membentuk saling kepercayaan dan transparansi dari kami, kami menawarkan anda kerja sama untuk membangun kerajaan anda kearah yang lebih baik, apa anda tidak keberatan?"


'Huh? Kerjasama? Apa mereka bermaksud untuk menguasai kerajaan ku?!'


Melihat wajah sedikit menyeramkan dari Rosella, Kolonel dengan cepat menyerahkan sebuah dokumen yang baru saja selesai di cetak di markas.


"Anda tidak perlu waspada ke kami, ini adalah proposal kami ke kerajaan kalian, ku harap anda bisa mengerti dengan niatan kami yang sebenarnya"


Dokumen yang tertulis dengan bahasa dunia ini, menjelaskan tentang maksud serta apa yang di tawarkan oleh mereka.


'Mereka,....'


"Maa sebelumnya, apa anda benar-benar menawarkan hal ini begitu saja!?"


Rosella yang tak bisa menahan rasa kaget ketika melihat proposal tentang 'bantuan' yang di berikan dari parlemen mereka jika ia menyetujui itu.


Hanya saja yang membuatnya semakin bertambah curiga dengan ajuan itu


"Kalian tidak berencana membuat kami terjebak dalam hutang budi yang akan membuat kalian bisa menguasai kerajaan kami dari dalam, kan?"


Dengan tatapan ingin membunuh, Rosella berusaha membuat pria ini tertekan, namun reaksi yang ia dapatkan persis seperti Fujiwara saat berbicara dengannya.


"Kami dari perwakilan Amerika Serikat serta di bawah ketentuan Geneva, kami bisa menjamin pada anda bahwa ketentuan bilateral ini adalah hal yang sebenarnya, kami tidak memiliki niatan untuk menguasai maupun menggulingkan kepemimpinan anda"


"Lantas, apa yang kalian dapatkan dari membantu kami?"


Kolonel hanya memberikan senyuman tulus sambil menatap ke arah jendela dimana pemandangan pemukiman sangat jelas terlihat di depan mata mereka.

__ADS_1


"Anda pasti paham tentang kondisi kerajaan anda, bukan begitu?"


"....."


"Kami, sebagai negara yang berdaulat, kami memiliki kewajiban untuk mempertahankan dan membantu negara yang kesulitan, bisa anda katakan itu adalah ketentuan mutlak dibawah peraturan sah negara kami"


Karena tidak adanya niatan lain dari Kolonel, Rosella hanya bisa terdiam tak bersuara akan apa yang ia lihat ini.


'Manusia dunia lain...... Apa sebenarnya mereka ini'


'Kendaraan terbuat dari baja tanpa memerlukan kuda untuk bergerak. Mesin terbang yang secara bebas bergerak, mereka ini seperti'


Ia teringat akan cerita dongeng dulu dimana para dewa-dewi memiliki benda yang memiliki kekuatan yang tak bisa di tandingi oleh makhluk fana seperti mereka. Benda yang di jelaskan oleh dongeng dimana bisa bergerak terbang tanpa sihir dan bergerak di daratan membawa gempa dahsyat dimana tak ada satupun yang bisa menandinginya.


'Valkrie'


Satu-satunya yang bisa terpikir di kepalanya, mereka ini adalah manusia keturunan dewa-dewi yang perkasa.


Saat pertemuan dengan perwakilan dari negara yang disebut sebagai Amerika Serikat, selesai, Rosella terdiam di ruang pertemuan dengan dua lembar kertas yang berisikan ajuan dari mereka ke kerajaan ini.


'Mereka ini'


"Nona Rosella, bagaimana dengan pertemuan itu?"


Sophia yang baru saja masuk, di hadapkan dengan Rosella yang seakan kehabisan kata-kata.


"Nona Rosella, anda kenapa!? Jangan bilang kalau mereka benar-benar berniat mengambil alih kerajaan!?"


"Hah.... bukan itu"


"Lantas?"


"Lihat sendiri ajuan mereka" Sambil menatap dokumen yang ada di meja, Rosella kemudian kembali menyandarkan wajahnya di meja dan menghela nafas cukup berat.


".... Ini..... "


"Mustahil kan? Aku tahu perasaanmu, tawaran mereka terlalu bagus untuk di percaya"


"Jadi? Apa anda menolak ini?"


"Tidak, justru aku menyetujuinya"


"Eh!? Nona dengan hormat, mereka bisa saja menipu kita!"


"Iya aku tahu, tapi satu sisi aku tidak bisa melewatkan kesempatan ini. Lagian....."


"Lagian....."


Rosella kembali teringat di perbincangan mereka tadi, Pria dengan nama Kolonel Sanderson itu menunjukkan sesuatu dari benda berukuran petak kecil namun bisa menunjukkan gambar seakan itu adalah sihir yang biasa ia gunakan untuk mengawasi sesuatu.


Di benda itu, Kolonel menunjukkan lokasi markas mereka serta apa yang membuatnya semakin penasaran adalah tentang mesin-mesin yang ada di markas itu.


Kapal-kapal berukuran besar tanpa layar, lalu kapal yang jauh lebih besar membawa benda besi terbang di atasnya. Kemajuan peradaban mereka sangat jelas melebihi dari apa yang ia tahu, oleh karena itu Rosella mempertimbangkan kembali tawaran Kolonel Sanderson.


'Hanya saja.... Apa mungkin mereka bisa mewujudkan apa yang mereka janjikan?'


Di dokumen tersebut tertulis bahwa pemerintah negara Amerika Serikat dibawah ketentuan PBB Perlindungan Anak, mereka berniat memberikan bantuan dengan nilai sekitar 76 Ribu koin platinum.


Angka yang terlalu luar biasa untuk orang sepertinya, bahkan ia yang sebagai bangsawan, belum pernah melihat secara langsung koin platinum.


Hanya saja saat itu juga semua yang ia ragukan tentang manusia itu pun berubah.


18 Februari 2023,


0900 Waktu setempat


Di angkasa 12 Helikopter CH-47 yang membawa kargo tampak mendekati kearah kerajaan.


Di taman kerajaan, Rosella dengan anggun kembali menikmati teh yang telah di buat maid pribadinya


'Hah..... mereka terlalu banyak mengejutkanku dalam 3 hari ini'


Keluhnya saat melihat di kejauhan dimana beragam benda besi datang dan pergi membawa beragam hal untuk kebutuhan rakyat di kerajaannya.


'Bukan cuma menepati janji mereka, mereka benar-benar serius mengenai menjalin hubungan diplomatik dengan kami, tanpa meminta balasan apapun'


'Sebenarnya siapa mereka ini, dunia seperti apa mereka hidup'


Melihat dari berapa banyaknya barang yang mereka bawa serta makhluk besi itu yang mampu bergerak secara cepat, membuatnya semakin penasaran tentang makhluk di dunia sebrang sana.


...****************...


"Ara? Tuan Jonathan, apa ada yang bisa saya bantu?"


Di dalam istana, Jonathan seperti biasanya di tugaskan untuk menjaga nama baik mereka dengan TIDAK melakukan hal aneh selama di kerajaan.


Namun untuk manusia modern seperti dirinya, melihat ras fantasi untuk pertama kalinya, membuatnya sedikit bersemangat.


"Tidak ada, saya hanya berkeliling sebentar"


Balas Jonathan ke Maid yang memiliki fitur hewan di kepalanya, tubuhnya yang menyerupai manusia namun memiliki telinga seperti hewan memberikan kesan menarik tersendiri untuknya


"Hooo... sepertinya anda sangat menyukai maid kami ya?"


"Hua!"


Jonathan hampir di buat terjungkal ketika sebuah suara datang dari belakangnya, "Nona Rosella!? K..kenapa anda disini?"


"Hm? Kenapa tidak? Ini istana ku, kan?"


"Urgh?! A.. ahahaha..... Kalau begitu, aku permisi!"


Jonathan yang ingin berlari dari Rosella, namun sangat terlambat untuknya ketika ekor naga Rosella berhasil menangkap tubuhnya.


"Fufufu! Kenapa lari? Ayo, aku masih ingin mendengar ceritamu tentang dunia kalian"


"T..tunggu, aku masih..."


"hm? Kau tidak keberatan, kan?" Rosella menoleh kearahnya dengan tatapan kematian seakan mengancam dirinya.


"Eh!? Ti...."


"Kau tidak keberatan, kan?"


Nada mengancamnya semakin terasa menakutkan, Jonathan akhirnya hanya bisa pasrah dan mengikuti apa yang ia mau.

__ADS_1


Cukup malang untuknya karena Rosella sudah terlanjur tertarik dengan dirinya setelah aksi yang ia lakukan saat pertemuan pertama mereka.


'Manusia satu ini menarik~'


__ADS_2