Connected World

Connected World
Operation Phantom Force


__ADS_3

"Oooh.... Sangat menarik"


Saat ini kami berhenti di pinggiran sungai dimana aku mulai menginspeksi senjataku, beruntung persenjataan yang diberikan pada kami adalah versi lama dari standar M4, jika kami seperti orang-orang di angkatan darat dimana mereka harus beradaptasi dengan senjata SIG-MCX, aku jamin kami akan sakit kepala saat merawat senjata itu.


"Apa sebegitu menariknya melihatku merawat benda ini, Rosella?"


Aku yang harus menggunakan bahasa seperti biasanya karena ku lihat ia sangat benci dengan formalitas, mulai menatapnya yang sejak tadi memperhatikanku membongkar senjata yang menjadi partner ku selama penugasan ini.


Karena posisiku di Marinir sebagai Granadier, aku di tugaskan untuk membawa persenjataan yang cukup merepotkan, salah satunya adalah M203 peluncur granat serta anti-tank portabel AT-4. Oh juga, aku di tugaskan untuk mengoperasikan serta bertanggungjawab penuh atas perawatan FGM-148 Javelin yang telah ku tembakkan saat melawan monster di danau itu.


'Sebaiknya aku membersihkan benda itu sebelum kembali ke Markas'


Karena beberapa alasan, aku kelupaan untuk melepas unit MCU dari tabung launcher Javelin sehingga unit MCU yang bertindak sebagai unit penembak dari sistem Javelin, selalu dalam mode standby.


Syukur baterai yang ada di unit MCU Javelin masih sanggup bertahan jika tidak, aku tak tahu harus alasan apa yang ku berikan ke pusat inventori senjata saat mereka menginspeksi benda ini.


$200 ribu dollar bukan angka yang kecil untuk benda seperti ini, membuatku harus ekstra hati-hati ke benda yang senilai dua tahun lebih gajiku.


"Umu.... aku cuma penasaran apa benda ini sebegitu hebatnya sampai-sampai membuatmu jadi penyihir yang mampu mengimbangi ku"


Aku harus menahan tawa saat bagaimana ia menganggap kalau kami adalah penyihir, bahkan sampai sekarang ia masih beranggapan kalau semua teknologi yang kami miliki adalah bentuk manifestasi dari sihir.


Yah aku tak bisa menyalahkan dia jika berpikiran seperti itu.


"Rosella, benda ini bukan tingkat sihir, ini adalah senjata yang dibuat dari hasil teknologi"


"Hm...."


Rosella tampak tak puas dengan jawaban ku, seakan ia mengatakan kalau itu sangat tidak mungkin benda yang dibuat dengan hasil teknologi mampu mengimbangi makhluk dunia ini.


"Yah, terserahlah, Oh! Lihat itu Jonas!"


Rosella langsung berlari kearah lain dimana ia mengejar makhluk seperti burung namun memiliki bentuk yang aneh. Bisa dibilang makhluk ini hampir semuanya memiliki bentuk seperti makhluk mitologi Yunani kuno yang antara sudah punah ratusan tahun lalu atau sama sekali tidak pernah ada di dunia kami.


Arkeolog pasti akan mencintai dunia ini kalau mereka tahu adanya makhluk-makhluk di dunia ini.


Memikirkan tentang posibilitas dimana bukan hanya arkeolog yang akan ke dunia ini sudah cukup membuat kepalaku sakit.


Dan juga


'Apa dia ini anak-anak?'


Kenapa Rosella malah tampak bermain-main dengan burung yang terbang itu? Apa sebegitu menariknya bermain dengan burung?


Keheningan di dunia ini tanpa adanya polusi suara maupun udara industri sedikit membuatku tenang akan dunia yang bagikan surga ini.


"......"


Mataku terasa sangat berat, mungkin ini efek dari kurang tidur selama beberapa hari belakangan ini.


Aku memilih membaringkan badanku di rerumputan sesaat setelah melepas unit MCU dari peluncur Javelin.


'Sangat tenang'


'......'


Saat mataku hampir terpejam, Rosella mulai mendekatiku dan duduk di sampingku.


"Kau tampak ngantuk ya?"


"Begitulah"


Ucapku dengan nada biasa, aku dan Rosella kami kembali jatuh dalam diam sambil memandangi langit yang terbilang sangat cerah ini.


"Hei Jonas"


"Kenapa?"


"Bisa kau ceritakan soal duniamu"


"Oh....."


Aku mendesah sambil memejamkan mataku sebentar sebelum memulai menceritakan sedikit tentang dunia kami.


"Dunia kami adalah dunia yang maju akibat perkembangan pendidikan dan kemajuan di industri"


"Hoo"


"Karena itulah kami bisa cepat maju dalam waktu 200 tahun dunia kami berubah menjadi dunia dengan industri dimana-mana dan kehidupan pun jauh lebih berbeda dari masa kerajaan dulu"


"Hoho.... Lalu bagaimana dengan benda-benda besi yang kau sebut sebagai senjata itu? Apa itu juga hasil dari industri yang kau sebutkan itu?"


"Bisa di bilang begitu"


"Sangat menarik, tapi kalian masih tetap manusia yang lemah namun kalian sangat cepat beradaptasi ya"


Mendengar kalimat Rosella aku sedikit menoleh kearahnya dimana ia menatap ke kejauhan seakan memikirkan sesuatu.


"Justru kau salah Rosella"


"Heh?"


Ia dengan cepat menoleh ke arahku, kami berdua saling menatap satu sama lain selama beberapa detik sebelum aku kembali melanjutkan ceritaku.


"Justru karena kami ras yang lemah lah yang membuat kami harus segera beradaptasi. Manusia dunia kami mulanya menganggap jika makhluk besar adalah ancaman hingga akhirnya manusia belajar untuk mengalahkan makhluk itu dengan tombak dan panah, saat manusia tidak menemukan adanya makhluk untuk jadi ancaman, manusia saling lihat satu sama lain hingga perkembangan senjata pun ikut berkembang. Lambat laun, dunia kami adalah dunia dimana perlombaan senjata yang paling efektif pun terlahir"


Rosella yang mendengarkan ceritaku dalam diam, ia tampak tak bergeming sama sekali akan ceritaku, aku sendiri hanya bisa membayangkan kengerian manusia dunia kami yang menghancurkan dunia tanpa perlu menggunakan senjata apapun.


"Dibalik senjata yang efektif itu selalu ada konsekuensi dimana perlombaan industri yang menggunakan sumber daya pun ikut berkembang pesat, pada akhirnya dunia kami pun saling berperang demi sumber daya tersebut yang memiliki nilai melebihi dari emas dan permata apapun yang dunia berikan"


"Keserakahan manusia menyebabkan dunia kami seperti ini, manusia dunia kami adalah satu-satunya ancaman nyata dimana kami manusia mampu membuat ras kami punah hanya dalam waktu hitungan menit"


Seakan tak percaya dengan ceritaku, Rosella sekilas tampak ingin membantah, namun setelah ia menyaksikan sendiri bagaimana kuatnya senjata kami mampu mengalahkan monster yang membuat Rosella sedikit kesulitan saat di danau itu, Rosella tak bisa berkata-kata selain kembali diam.


Keheningan diantara kami sedikit terasa aneh dimana Rosella yang membayangkan bagaimana dunia kami mampu berkembang dengan sangat cepat serta konsekuensi yang di timbulkan dari perkembangan itu, sementara aku membayangkan tentang hidup pensiun di dunia ini, jauh dari peradaban yang membuatku sakit kepala.


...****************...


Saat suasana tampak mulai gelap, aku mulai mempersiapkan barang-barang kami dan melanjutkan perjalanan.


Di tengah perjalanan, Rosella masih terus diam tak bersuara, tampaknya ia masih tak bisa membayangkan dunia kami.


Memang sangat mustahil untuk dia bisa percaya dimana manusia dunia kami mampu memusnahkan seluruh kehidupan di planet hanya dalam hitungan menit.


Jika ia tahu mengenai senjata thermonuclear yang memiliki jumlah puluhan ribu di dunia kami, mungkin ia akan menganggap kalau aku gila.


Malam di perjalanan, aku memutuskan menggunakan lampu jarak jauh karena di jalanan ini tak ada satupun lampu jalan yang menerangi gelapnya jalanan ini.


"Hei Jonas"


"Hm"


"Soal duniamu"

__ADS_1


"Apa ada lagi yang kau ingin tahu?"


"Ehm..... Apa dunia kalian ..... tidak, ga usah di pikirkan"


Entah kenapa Rosella tampak sedikit gelisah, apa mungkin karena ia masih tidak bisa menerima kalau dunia kami seperti itu? Entahlah.


'Hm?'


Saat di perjalanan, sesuatu mulai tampak di kejauhan, dan sesuatu itu adalah sebuah kendaraan lapis baja M2-Bradley yang tampak tengah berjaga di area pagar gerbang masuk ke area markas bersama dengan beberapa marinir.


"Oh? Apa itu prajurit kalian juga?"


Tanya Rosella ketika melihat lampu pos penjaga yang tampak manusia dengan pakaian yang aneh di matanya.


"Iya, kita sampai"


"Oh... sangat cepat ya"


Entah kenapa Rosella terdengar kecewa saat kami sampai di markas, namun untukku, aku tak perduli lagi soal itu, yang aku pikirkan adalah bagaimana cara menghadapi kepala inventori yang akan menginterogasi ku nanti.


Saat mobil ku berhentikan di depan pos, beberapa Marinir dengan pangkat Lance Corporal tampak mulai menginspeksi kartu pengenal ku dan juga isi mobil.


Namun tepat saat mereka melihat siapa yang duduk di samping kursi pengemudi, mereka langsung membelak.


"What the!? No way"


"Sir! is she real?"


Beberapa reaksi lucu terlihat di mata Marinir ketika melihat Rosella yang dengan tenangnya duduk seakan tak memperdulikan tatapan Marinir. Walau sebenarnya aku tau apa yang ia pikirkan, terutama ketika melihat wajah poker face yang Rosella tunjukkan sangat jelas kalau ia ingin tertawa saat ini juga.


"Whoa!? No shot, so it's true, that we are in fantasy world"


"You can say like that, Lcpl"


Balasku ke Marinir yang masih tampak sangat tertarik dengan Rosella. Reaksi mereka sama persis dengan reaksiku, jadi aku tak bisa menyalahkan mereka kalau mereka seperti itu.


"Welcome back to base, Corporal!"


Mereka kemudian menaikkan gerbang pembatas membiarkan aku masuk setelah inspeksi selesai.


Saat kami melewati marinir penjaga pos itu, Rosella langsung meledak dalam tawa


"Ahaha! Reaksi mereka sangat lucu!"


'Sudah kuduga akan begini jadinya'


Saat kami melanjutkan perjalanan menuju gerbang masuk ke Markas, Rosella tampak semakin bersemangat melihat pangkalan.


"Whoa.... Tempat ini sangat terang!? Apa kalian menggunakan sihir penerangan?"


Markas yang di terangi lampu tampak sangat aneh di mata Rosella, selama ini yang ia tahu adalah penerangan dari lilin jika malam sudah datang, nah untuk kami manusia yang sudah mengetahui tentang energi kelistrikan serta energi penerangan yang jauh lebih efisien ketimbang bohlam, sangat jelas pemandangan markas yang sangat terang ini justru membuatnya terkagum-kagum akan apa yang ia lihat


"Oh!? Benda baja bisa bergerak?"


Tank Abrams yang tampaknya menjalani perawatan rutin, mulai memasuki hangar penyimpanan dan kebetulan itu terlihat olehnya.


Tak butuh lama untuk kami sampai di garasi penyimpanan kendaraan transportasi dimana Pleton Mekanik akan mengambil alih proses pengecekan kendaraan.


["Hei Kopral, ku dengar perjalanan kalian sangat menarik ya?"]


Suara baru datang saat aku dan Rosella keluar dari mobil, tepat saat aku melihat siapa yang berbicara, pria dengan BDU Marine Pattern Hijau, tampak tersenyum sinis kearah ku.


["Apa ada yang ingin kau ketahui, Sersan Satu?"]


["Tampaknya kau punya niatan lain dengan membawanya ke Markas, bukan begitu, Kopral?"]


["Aku tak paham sama sekali maksud anda"]


Aku kemudian berjalan melewatinya seakan mengabaikan apa yang berusaha ia katakan dengan Rosella mengikuti di belakangku, namun tepat sebelum kami sepenuhnya keluar dari parkiran kendaraan, Sersan Satu mulai berbicara lagi yang sepenuhnya aku tahu apa yang ia maksudkan.


["Jika kau berharap soal kemungkinan negoisasi, kau sepertinya sangat licik, ya kan, Kopral"]


Kami pun berjalan menuju pusat komando yang terletak sekitar 300 meter dari pangkalan parkiran kendaraan, Rosella yang sedikit penasaran dengan apa yang kami bicarakan tadi, mulai berjalan di sampingku dengan wajah menuntut jawaban.


"Tidak ada, aku cuma tak suka dengan dia"


Ucapku seakan menjadi jawaban dari ekspresi penuh tanda tanya di wajahnya.


...****************...


Aku, Rosella de Voir Junois, penguasa dari kerajaan Iblis sekaligus penguasa ras setengah manusia.


Setelah begitu banyaknya hal yang ku lalui sebagai penguasa, aku tak pernah berpikiran akan di kejutkan oleh sesuatu yang di lakukan oleh manusia.


Namun ini berbeda saat aku bersama dengan manusia yang aku panggil dengan Jonas, menuju ke markas manusia aneh yang menyebutkan kalau mereka dari dunia lain.


Kendaraan yang sangat nyaman dan mampu melaju dengan kecepatan yang melebihi kecepatan kuda, kami sampai dengan hitungan jari seakan jarak yang sangat jauh yang normalnya dapat memakan waktu tiga hari dapat di tempuh dengan beberapa saat saja.


Saat kami berhenti sebentar, aku mendengarkan cerita Jonas soal dunianya.


Sangat mengejutkan untukku ketika mendengar ceritanya dimana dunianya tak ada lagi pertempuran yang memperebutkan emas dan berlian di dunianya.


Dunia dimana masyarakat dapat hidup dengan tenang dan bebas dari konflik dimana kemajuan teknologi perang menghasilkan peradaban yang sangat maju.


Namun satu sisi aku merasa sedikit risih ketika ia menceritakan tentang kemampuan dari kelemahan manusia yang mampu membuat peradaban yang telah dibangun itu dapat musnah seketika.


Sebuah kekuatan yang sangat di luar nalar namun ketika aku menyaksikan sendiri di markas manusia ini, aku tak bisa berhenti berpikir soal kemungkinan yang ia katakan itu adalah hal yang mungkin.


Benda baja yang tampak bergerak dengan sangat kokoh tanpa peduli rintangan di depan, benda besi terbang yang sangat cepat melintasi angkasa dengan bentuk seperti burung besi, benda terbang yang memiliki beragam ukuran yang pernah ku lihat di kerajaan serta benda-benda baja yang mengapung di air tanpa adanya layar sama sekali.


'Peradaban mereka terlalu maju untuk dunia kami, jadi itu sebabnya kenapa mereka tak peduli soal total bantuan yang mereka berikan ke kerajaan kami?'


Koin platinum yang memiliki nilai fantastis dimana kau bisa hidup semewah mungkin selama dua tahun adalah nilai yang tak pernah aku bayangkan selama aku menjadi putri mahkota kerajaanku.


[Ekonomi mata uang dunia lain terdiri dari,


Koin Perunggu


Koin Perak


Koin Almetheis/Emas


Koin Platinum


Nilai kurs yang berlaku dimana 1 Koin Perak setara 76 koin Perunggu, 1 Koin Almetheis/emas setara dengan 243 koin perak, dan untuk 1 Koin platinum setara dengan 9760 koin Almetheis.


Nilai tersebut di konversikan ke nilai USD sementara dimana 1 Koin Platinum seharga $54.000]


Saat kami sampai di markas, seseorang yang tampak memiliki jabatan melebihi Jonas terlihat seakan mengejeknya, aku tak tahu apa yang mereka katakan, namun ekspresi Jonas yang seakan membenci ucapan pria itu membuatku berpikiran kalau Pria itu mengatakan sesuatu yang tak sopan.


Kami pun berjalan lagi menuju sebuah gedung yang tampak terbuat dari marmer, berdiri sangat tegak seakan dibuat dengan teknik dwarf yang sangat langka.


"Nona Rosella, saya akan membawa anda bertemu dengan pimpinan saya, sebelumnya saya ingin melapor dulu, jadi anda tunggu disini sebentar"

__ADS_1


Di dalam gedung itu, Jonas kemudian berjalan kearah dimana beberapa manusia tampak berdiri di tempat penerimaan laporan seperti tempat perserikatan pemburu bayaran.


Ruangan yang amat bersih di terangi pencahayaan yang sangat terang ini membuatku sedikit kurang nyaman, karena terbiasa dengan cahaya redup dari lilin dan lentera, melihat sesuatu seperti ini sangat jelas membuat mataku sedikit risih.


"Nona Rosella"


Jonas sekali lagi menggunakan bahasa formal kearahku sesaat setelah selesai melapor pada seseorang. Di ruangan ini banyak pasang mata tampak menatapku dengan tatapan ingin tahu dan penasaran yang membuatku sedikit ingin menahan tawa, mereka tampaknya masih tak terbiasa dengan eksistensi makhluk selain manusia dan dari ekspresi mereka, mereka sangat jelas tak menunjukkan ekspresi yang ingin menyatakan niat permusuhan dari dalam batin mereka, atau setidaknya itu yang aku yakini.


Tak tahu kenapa, aku merasa kalau sebentar lagi kami akan bertemu dengan seseorang yang jauh lebih tinggi dalam hal jabatan di Markas manusia dunia lain ini.


Tepat saat aku membuat asumsi seperti itu, kami pun berada di ruangan dimana seorang pria dengan pakaian formal yang sangat jauh berbeda dari bangsawan dunia ini tampak dengan penuh wibawa menyambut kami ke dalam ruangan.


Jonas yang juga berpakaian formal seperti pria itu terlihat sangat berbeda diantara keduanya, Jonas walau berpakaian formal namun perbedaan wibawa serta aura penuh ketegasan masih jauh berbeda dengan pria itu.


Di samping pria itu, dua sosok manusia yang sangat ku tahu siapa itu mulai membuat ku ingin meludah kearah mereka berdua.


'Dua pahlawan, apa yang mereka inginkan disini'


"Uhm.... Ha..hallo Rosella"


Suzu menyambut Rosella dengan pakaian biasa dari dunia mereka, di samping Suzu satu pahlawan lagi bernama Riria juga tampak ingin mengatakan sesuatu namun aku memilih untuk mengabaikan keduanya.


'Tcih....'


"Nona Rosella, Saya sangat tersanjung dengan kunjungan anda kesini"


Ucap pria itu yang kemudian di jawab oleh Jonas seakan bertindak sebagai penerjemah antara kami.


Aku kemudian di persilahkan duduk dengan pria penuh wibawa itu tampak tersenyum menghormati diriku, walau aku tahu manusia dunia mereka ini pasti adalah manusia yang jauh lebih maju baik pendidikan hingga tata krama, namun ketika melihat langsung di depan mataku orang yang terdidik dengan sangat baik bersikap seperti ini, membuat ku sedikit tergagap.


"Saya Letnan Jenderal Norman, pimpinan dari pasukan Batalion Kedua Divisi Marinir Kedua yang di terjunkan di dunia asing ini"


Apa yang di terjemahkan oleh Jonas sedikit membuatku kebingungan, apa maksud dari divisi kedua? apa artinya mereka semacam perpecahan pasukan dari unit militer?


"Uhm.... Saya Rosella de Voir Junois, saya menerima sanjungan anda Ehm... Letnan Juendrual?"


Melihat bagaimana Rosella tak mampu mengeja nama pangkat dengan benar, Jonathan langsung berbisik kearahnya untuk menyebutkan namanya saja karena itu merupakan sekedar titel semata.


Saat Jonas memberitahukan ku soal itu, aku langsung memperbaiki caraku berbicara sekali lagi.


"Jangan terlalu gugup Nona Rosella, saya tidak keberatan jika anda tidak bisa menyebutkan nama saya dengan benar"


Ucapnya dengan nada santai namun nada itu justru membuatku sedikit tertekan, padahal dia tidak menunjukkan niatan bermusuhan padaku tapi entah kenapa aku malah takut padanya.


"Oh, begitu"


Pria bernama Norman itu kemudian mengangguk sedikit sebelum berbicara tentang apa yang ingin ia katakan.


"Pertama, saya ingin menyampaikan kalau kami tidak memiliki niatan tersembunyi apapun pada kerajaan anda, jadi anda tidak harus waspada soal aktivitas kami disana"


"Sedikit kurangnya aku tahu itu, tapi aku masih belum tahu niatan sepenuhnya dari kalian yang dengan mudahnya memberikan kami bantuan tanpa imbalan apapun"


Ucapanku mungkin terdengar sangat kelewatan ke pria yang sangat jelas memimpin pasukan dunia asing yang membantu kerajaanku, tapi bukan artinya aku bisa diam dan seakan acuh akan posibilitas terburuk yang aku pikirkan jauh di dalam benakku.


"Terimakasih untuk sikap anda, Nona Rosella"


Aku mengangguk atas perkataan Norman itu, kemudian pembicaraan kami mulai ke dua sosok manusia yang sangat ku benci itu.


"Lantas kenapa ada pahlawan disini? Anda tidak berpikiran soal membunuh saya disini, bukan?"


Ancamku pada Norman yang sontak mendapat tatapan serius dari Jonathan yang belum sempat menterjemahkan perkataan ku.


"Jangan terlalu serius, Kopral Jonathan"


Peringat Norman pada Jonas yang sontak membuat alis mataku terangkat, ia sepertinya tahu sedikit perkataan ku itu.


"Saya tak bisa menyangkal soal kecurigaan anda pada kami, Nona Rosella, namun itu bukan alasan kenapa kami mengundang anda untuk kesini, melainkan topik mengenai mereka berdua yang anda pasti tahu mereka datang dari dunia lain, bukan begitu?"


Aku mengangguk akan perkataannya itu


"Mereka berdua dari lima pahlawan yang kalian sebut itu, adalah salah satu warga dari dunia kami"


Dan tepat saat Norman mengatakan itu yang di terjemahkan oleh Jonathan, berhasil membuatku sedikit terkejut.


"Mereka datang dari negara bernama Negara Jepang, dari dunia kami, kami disini sama sekali tidak menduga akan keberadaan mereka yang ada di dunia ini, dimana di dunia kami mereka di anggap hilang selama dua tahun lebih"


"Saat ini tujuan kami adalah menemukan para pahlawan itu yang kemungkinan besar adalah penduduk dunia kami, dan memulangkan mereka kembali ke dunia kami"


"Ha!? Tunggu sebentar tuan Norman, apa anda bercanda? Mana mungkin bisa melakukan itu, anda pasti tahu kalau mereka ini adalah aset manusia untuk melawan kami sepanjang sejarah, apa anda berpikiran untuk membawa mereka begitu saja?"


Aku tak percaya apa yang Norman katakan, kalaupun apa yang ia katakan itu benar, mana mungkin negara manusia akan terima kalau manusia yang di panggil itu dibawa oleh mereka kembali ke dunia mereka, apa mereka berniat mau....


"Tunggu, anda tidak berpikiran kalau"


Suasana di ruangan sedikit tegang, Riria, Suzu, Jonathan bahkan aku sendiri merasa merinding ketika melihat ekspresi serius dari pria bernama Norman itu.


"Jika mereka tak berniat mengembalikan warga kami, maka kami akan paksa mereka mau mengembalikannya secara sukarela"


'Ha.... Dia ini....'


Aku pertama kalinya dibuat takut oleh manusia selain para pahlawan, manusia di depan ku sangat jelas kalau ia hanya sekedar manusia biasa yang tak memiliki aliran mana sama sekali, namun kata-katanya itu terasa sangat mengerikan untuk aku bisa terima secara pribadi.


Malam itu aku di Markas manusia aneh ini dimana mereka menyiapkan ruangan khusus untuk ku, namun pikiranku mengenai ucapan Norman masih belum bisa aku terima secara langsung.


'Dia berniat mengambil paksa warganya kembali ke dunia mereka tak peduli jika itu artinya menyatakan perang dengan manusia dunia ini'


Kata-kata itulah yang ku tangkap dari pembicaraan kami, dua pahlawan itu bahkan tampak sedikit risih dengan ucapan pria bernama Norman itu.


'Kenapa mereka sangat peduli dengan warga mereka?'


Manusia yang ku tahu adalah sosok makhluk yang bahkan tak memperdulikan nyawa warganya terlebih jika berbicara soal lima manusia yang di panggil ke dunia ini dibandingkan dengan semua manusia yang ada di dunia mereka, seharusnya mereka tak peduli soal itu, lantas kenapa mereka malah


'Aku tak tahu sebenarnya apa yang mereka incar, tapi apapun itu, aku harus bisa mempertahankan hubungan diplomatik dengan mereka'


Aku sedikit banyaknya sudah tahu kekuatan mereka hanya dari mendengar kata-kata pria bernama Norman itu.


Aku, Ratu Iblis, bisa dibuat gemetar takut akan kata-kata semata adalah sesuatu yang tak bisa aku bayangkan dalam hidupku.


'Perbedaan budaya kami terlalu jauh, aku tak bisa membiarkan posisi kami lenyap begitu saja'


...****************...


Suatu tempat di kerajaan Vunois.


"Nona Tiara, seperti yang anda perintahkan, kami telah mengumpulkan prajurit untuk memulai operasi kita"


"Bagus, katakan pada petinggi yang ada untuk segera bersiap ke Medan perang, kita tak bisa berdiam diri lebih lama lagi"


"Dengan senang hati"



Dengan senyuman gelap, Tiara menatap ke arah luar kerajaan dimana di kejauhan tepatnya di perbatasan antara wilayah kerajaannya dengan wilayah kerajaan iblis berada, ia memikirkan sesuatu yang akan mengubah situasi secara drastis

__ADS_1


'Tak pernah ku sangka kalau ada pengkhianat di antara umat manusia, Rosella, kau akan tamat kali ini'


__ADS_2