Connected World

Connected World
Operation Phantom Force: Power Projection


__ADS_3

Di tengah keriuhan akibat serangan dari pasukan kerajaan Vunois, pasukan Marinir yang datang dari Combat Engineer dan Mechanized Infantry Regiment, terus menembaki posisi pasukan Tiara dengan membabi buta.


Peluru beragam kaliber di arahkan ke pasukan Tiara yang semakin mendekati kastil dimana proses evakuasi warga masih berlangsung dengan Marinir memimpin evakuasi bersama dengan Sophia dan ksatria kerajaan ini.


"Sophia, kita harus menyerang manusia itu"


Salah satu ksatria tampak melihat suasana di luar dimana prajurit aneh itu tampak bertempur untuk kerajaan ini, sedikit merasa aneh.


Di dalam pikirannya, ia selalu menganggap kalau manusia adalah ras yang akan selalu memusuhi mereka, namun untuk para ksatria ketika melihat langsung bagaimana manusia itu dengan cepat mengevakuasi warga tanpa memperdulikan bahaya yang ada untuk mereka sendiri.


Sophia yang berpikiran sama dengan para ksatria hanya bisa berusaha secepatnya mengungsikan para warga keluar dari kerajaan dengan bantuan manusia aneh bersama dengan prajurit baru yang mereka rekrut dari kerajaan ini.


"Mereka ini"


Sophia mulai membukakan diri ke manusia baru ini yang sangat jelas terlihat khawatir dengan warga yang ada disini.


'Mereka ini....'


'... tidak hanya mereka tak memperdulikan soal antar ras, mereka bahkan berani mempertaruhkan nyawa untuk kerajaan ini. Sebenarnya apa yang mereka dapatkan dari kami'


Sophia kehabisan kata-kata saat memikirkan soal manusia dunia asing ini.


"Jangan panik, untuk orang tua, jangan paksakan diri kalian berlari!"


Salah satu Manusia tampak membantu ras setengah manusia yang telah lanjut usia berjalan tanpa merasa adanya perbedaan ras dari pria itu


'Ku rasa ini yang membuat nona Rosella yakin pada mereka'


...****************...


Markas Delta, 1 Maret 2023, 00:53 Dini hari


Kopral Jonathan yang baru saja selesai menulis laporan detil soal Jurnal ekspedisi yang ia lakukan bersama Alpha Company ke Staff Sersan, mulai berjalan kearah barak yang terletak di bagian paling barat di markas ini.


Tepat di area parkiran Motorpool seorang pria tampak bersandar di kap mobil dengan tatapan curiga ke Jonathan.


First Sergeant Yohanes, 0311 Rifleman, dari kesatuan 44th Mechanized Infantry Regiment.


"Jonathan, bisa kita bicara sebentar"


Melihat ekspresi dari Yohanes, Jonathan sedikit menebak apa yang akan di bicarakan olehnya.


"Apa kau sengaja mengajakku berbicara disini tanpa ada yang mendengarkan, Sersan Satu Yohanes?"


"Heh... Kau sangat kaku"


Melihat ekspresi mengejek darinya, Jonathan sedikit risih dibuat orang sepertinya.


"Bisa kita langsung saja ke intinya?"


Yohanes mulai menatapnya dengan tatapan serius yang jelas mengatakan sesuatu sedang terjadi di markas ini.


"Kau pasti sadar apa yang di pikirkan Letnan Jenderal dengan membawa tamu khusus ke markas ini, bukan begitu, Kopral?"


"Sedikit banyaknya, ya aku mengerti"


"Begitulah kira-kira, saat ini posisi kita sangat di untungkan dengan kehadiran dunia baru ini, tapi kita tak bisa melakukan pergerakan signifikan tanpa adanya alasan yang cukup untuk kita bawa ke kongres, dengan kalian yang membentuk ikatan dengan ras itu, sedikit banyaknya kalian berhasil membuat jembatan penghubung antar posisi kita dengan mereka"


"Tapi bukannya tidak masuk akal kenapa kita harus repot-repot mengirim logistik sebanyak itu ke tempat Rosella?"


"Heh... Kau masih berpikiran kalau angka yang kita berikan itu terlalu besar ketimbang bantuan yang kita berikan ke Ukraina tahun lalu, sangat naif"


"....."


Yohanes mulai menatap ke langit malam yang dimana suasana cerah penuh dengan bintang menerangi malam ini.


"Dunia ini penuh dengan misteri, tentang bagaimana tata Surya dunia ini bekerja, tentang eksistensi makhluk hidup antar ras, serta yang paling utama...... Fakta tentang bagaimana mereka bisa memanggil manusia dari dunia kita ke dunia mereka hanya menggunakan teknik seperti sihir. Kau pasti berpikiran kalau pemerintahan kita akan menggunakan dunia ini sebagai sumber eksploitasi, ya kan?"


"Apa aku salah soal itu?"


Yohanes tersenyum mengejek kearahnya yang sangat jelas membuat alis mata Jonathan sedikit berkedut.


"Dengar ini, Sersan Mayor Jonathan Crish, aku berbicara ini sebagai mantan bawahanmu. Dunia kita sudah hampir sepenuhnya tidak bergantung pada sumber daya lagi, dan jika portal ini di ketahui oleh semua orang, kita tak akan peduli sama sekali, namun yang jadi masalahnya adalah soal keseimbangan politik dunia, jika semua negara tahu soal dunia ini, maka satu-satunya musuh kita adalah mereka yang mencoba mengancam kita dengan mencoba menggunakan dunia ini sebagai akses utama sumber daya"


"Kau pasti tahu apa yang akan terjadi jika sempat semua orang mencoba kesini, bukan begitu"


Tatapan serius dari Yohanes langsung membuatnya terdiam. Dia benar soal hal itu, satu-satunya alasan kenapa dunia mereka tak ada perang karena perebutan sumber daya sudah tak lagi di anggap penting untuk dunia, satu-satunya yang paling di perlukan dunia adalah perang mikrochip yang paling maju, sehingga perang dagang di atas pena oleh pemerintahan adalah hal yang paling penting di dunia saat ini.


Setelah hubungan antara Amerika Serikat dengan Rusia memburuk akibat invasi Ukraina tahun lalu, di perparah dengan China ingin atau setidaknya memiliki agenda untuk menginvasi Taiwan, maka stabilitas dunia sedang di pertaruhkan sekali lagi sejak perang dingin berakhir.


Menggunakan dunia ini sebagai cadangan jika perang nuklir terjadi, adalah opsi yang paling masuk akal karena dunia mereka sedang di ambang perang dunia ketiga.


Itulah Agenda yang paling masuk akal untuk Pentagon saat ini.


"Apa kau ingin mengatakan padaku kalau kita akan menunjukkan "sesuatu" pada mereka untuk sebagai bahan pertimbangan penghuni dunia ini agar tak macam-macam dengan kita?"


"Tidak juga"


Kali ini Jonathan tak bisa berkata-kata saat mendengar respon dari Yohanes.


"Sebaiknya kau bersiap, ada kemungkinan apa yang kau pikirkan barusan itu akan kenyataan"


Peringat Yohanes sebelum ia berjalan meninggalkan Jonathan tenggelam dalam pikirannya sendiri.


Ia tak perlu di beri tahu soal apa yang sedang terjadi di markas serta posibilitas dia akan di terjunkan, hanya melihat dari bagaimana markas ini tampak siaga tempur dimana normalnya Marinir yang seperti biasanya bersantai dan saling menghina satu sama lain, justru terlihat serius dengan perlengkapan tempur terpasang di badan mereka.


"Kau kenapa melamun, Jonas?"


"Ah!"


Ia tersentak kaget ketika seseorang berbicara dari belakangnya, saat ia berbalik, seorang wanita dengan rambut merah scarlet memiliki sepasang tanduk di kepalanya tampak menatap kearahnya dengan tatapan curiga.


"Jangan buat aku kaget, Nona Rosella"


"hump.... Kenapa kau malah memanggilku seperti itu lagi!?"


Protesnya dengan nada cukup lucu.


Jonathan sedikit tertawa kecil melihat bagaimana Rosella terkadang bisa bersikap seperti anak-anak.


"Pfft.... Maaf"


"Ah! Kenapa malah tertawa!"


Kali ini protesnya dengan cukup keras ke Jonathan yang menertawakan nya.


"Sudahlah, aku tak peduli lagi"


Rosella mengalihkan wajahnya dengan kedua tangan terlipat seakan mengatakan kalau ia sedang merajuk, seriusan apa reaksi normal yang harus ia berikan ketika melihat perempuan dari bangsawan yang tak terima di panggil dengan nada kehormatan oleh seorang marinir biasa sepertinya, jelas ia akan tertawa kecil melihat sikap itu.

__ADS_1


"Lagian, kenapa kau disini, Rosella? Tak bisa tidur?"


Jonathan dengan cepat merubah topik pembicaraan agar ia tak marah padanya, karena jika Letnan Jenderal tahu ini, ia bisa habis di telan olehnya.


"Oh! Aku baru ingat sekarang, Apa kalian mau pergi ke suatu tempat?"


"Kenapa?"


"Tidak.... Hanya saja, kenapa mereka... (Sambil menatap ke Marinir yang tampak tengah siap dengan semua perlengkapan di Helikopter yang siap lepas landas kapanpun) ... Mereka terlihat serius?"


'Instingnya bagus'


Pikir Jonathan saat melihat Rosella yang kelihatan sudah sedikit tahu soal apa yang akan terjadi.


"Tidak, itu cuma latihan biasa"


Ucapnya dengan santai sambil berjalan menuju barak.


"Hei, kau pasti bohong kan!?"


Rosella dengan cepat mengikutinya dari belakang berusaha menuntut jawaban pasti darinya.


...****************...


FOB, Wilayah Administratif Kerajaan Junois.


01:00 AM


["Incoming! Incoming! Incoming!"]


"Awas!!!!"


Teriak Alfred ketika puluhan bola api datang, ladang api dengan cepat membakar pos Marinir yang syukur tak ada yang terkena serangan itu.


"Terus tembaki mereka!!"


"Pak! Barel overheat!"


Teriak Machine Gunner ketika barel .50 Cal hampir meleleh akibat menembakkan ratusan peluru tanpa henti.


Sistem pertahanan udara CRAM juga langsung mati karena barelnya yang hancur akibat menembak tanpa henti.


"Perimeter telah jatuh! Semuanya mundur!"


Posisi Marinir yang tengah di telan kekacauan akibat ledakan dari bola api yang menghantam generator listrik untuk sistem pertahanan CRAM, langsung bergerak mundur ke garis pertahanan terakhir dimana mereka akan berdiri disini sampai mereka sepenuhnya akan di kalahkan.


Pasukan Tiara yang masih memaksa maju walau ribuan pasukannya berguguran akibat tembakan Marinir, masih terus maju tak gentar sama sekali.


"Tsk.... Terlalu lama"


Melihat pasukannya yang masih berada di perlindungan perisai sihirnya yang bisa di tembus oleh serangan manusia aneh itu, Tiara mulai membentuk lingkaran sihir raksasa yang terletak di bawah kakinya.


"Mari kita selesaikan ini"


Marinir yang menembaki mereka langsung tersentak kaget ketika melihat lingkaran sihir itu, kemudian dalam waktu hitungan detik mereka lenyap begitu saja seakan tak pernah ada disana.


"What the!?"


Namun tak butuh lama untuk Alfred menyadari apa yang terjadi, di belakang garis pertahanan terakhir Marinir, pasukan Tiara tiba-tiba muncul saat itu juga.


"SEMUANYA TEMBAK!!"


"Ahahaha! Mati kalian manusia!"


Tawa Tiara ketika melihat manusia ini mulai menyerang mereka namun pasukannya yang sudah sangat dekat dengan mereka membuat manusia ini langsung kewalahan menghadapi mereka semua.


["This is Juliet 5-6, our position is overrun, request immediate air support, Over!"]


Salah satu JTAC/Joint Terminal Attack Controller, mulai memanggil dukungan udara ketika situasi mereka yang sangat terjepit.


"Jangan hina aku manusia pengkhianat!"


Tiara melesat ke Alfred yang menghujani nya dengan peluru 556, pertempuran yang berada di pinggiran pemukiman itu dengan cepat melahap rumah-rumah ke dalam api yang membara ketika Tiara mengeluarkan kekuatannya.


"Arrgh!!!"


Marinir yang terbakar hidup-hidup itu langsung membuat Marinir yang lain mulai berpencar ke formasi yang lebih individual dimana estimasi satu marinir harus menghadapi 60 musuh sekaligus.


"Takkan ku biarkan!"


Salah satu ksatria dari ras iblis yang telah tiba langsung mencegat Tiara dari mengeluarkan sihirnya menggunakan pedang besar yang ada di genggaman tangannya.


"Tuan Manusia, kalian punya rasa hormatku karena melindungi rakyat kami"


"Izinkan kami membalas kebaikan kalian"


Ksatria yang lain mulai berdatangan dengan sayap di keluarkan dari tubuh mereka.


"Ahahaha!!!! Inilah yang aku suka!"


Tiara dengan tawa histeris mulai menyerangnya, adu pedang pun menggema di sekitar, Alfred yang nyaris tewas jika ksatria itu tak datang, mulai mengumpat dalam pikirannya.


'Fck! Kami bisa tamat disini!'


Satu persatu Marinir tampak mulai hampir kehabisan amunisi ketika mereka menembak tanpa henti ke setiap musuh yang berusaha mendekati mereka.


Jarak pertempuran pun menjadi 50 meter dimana Alfred terpaksa harus mengelak dan menembak secara bersamaan.


Sophia juga tampak telah hadir di pertempuran menghadapi Tiara yang dengan mudahnya menghadapi tiga ksatria bertubuh besar dari ras iblis itu.


"Semuanya berlindung!"


Teriak Alfred ketika melihat Tiara mengeluarkan sihirnya, sekali lagi bola api raksasa tercipta dan kali ini puluhan rumah tenggelam dalam ladang api.


Di Selatan kerajaan, Marinir bersama para rekrut baru itu berusaha mengeluarkan warga yang tampak panik ingin segera keluar dari kerajaan.


Namun pertempuran yang telah menelan satu kerajaan ini membuat upaya mereka sedikit sulit karena musuh sudah mulai mengejar mereka.


"Sialan! Kau! Cepat bawa mereka keluar dari sini!"


Bentak kopral itu pada elf yang tampak panik ketika melihat manusia dari kerajaan Vunois akan membantai mereka.


"Open fire!"


Lima Marinir dengan cepat menembakkan senjata M4A2 milik mereka kearah musuh yang berusaha mendekat kearah mereka.


"Luna, cepat pergi darisini!"


Elf yang menjadi prajurit rekrut dari Marinir berusaha mencegah putrinya ikut ke pertarungan.

__ADS_1


"Ayah, aku harus bertarung!"


"Luna! Dengarkan perkataan ku!"


"Tapi"


"Sudah cepat pergi!!"


Bentak Elf itu ke Luna yang bersikeras ingin membantu manusia itu, Luna yang tak bisa berkata-kata langsung terdiam menurutinya, mereka bersama warga yang lain hampir semuanya keluar dari kerajaan meninggalkan Marinir yang masih tetap di tempat mereka menembaki musuh yang tak ada kata menyerah di pikirkan mereka.


"Bahaya!"


Salah satu Rekrut melemparkan tubuhnya ke Marinir saat melihat bola api datang kearah mereka, dua marinir itu langsung terhempas seketika namun untuk rekrut itu naas ia terbakar hidup-hidup.


"Bodoh!"


Bentak Marinir ketika berusaha memadamkan api yang membakarnya.


Seketika sebuah suara tembakan terdengar, Marinir dengan cepat menoleh ke siapa yang menarik pelatuk itu.


"Apa yang kau lakukan bajingan!"


Kopral yang hilang dalam kemarahan langsung memukul seorang Sersan yang menembak tepat di kepala rekrut itu yang terbakar yang spontan membunuhnya


"Tetap jaga emosimu Marinir! Apa kau mau berakhir seperti dia!!"


"......"


Marinir yang lain berusaha menyingkirkan emosi mereka sebentar lalu melanjutkan menembaki musuh yang terus mendekat.


...****************...


Ruangan Letnan Jenderal Norman.


Saat Norman membaca laporan darurat dari Perwira Waran, ia mulai menatap serius ke perwira itu, Admiral Switzer yang melihat ekspresi Norman langsung tahu apa yang ia pikirkan.


"Saatnya bergerak"


Perwira Waran itu kemudian keluar dari ruangan bersama dengan Norman, Switzer sendiri tetap diam sebentar di kursinya


'Sudah kuduga kalau ini rencana dia'


'Dibawah ketentuan Yuridiksi, Angkatan bersenjata dilarang untuk melakukan operasi skala besar di wilayah asing tanpa alasan yang dapat menjustifikasi di pengadilan, Aku yakin Norman sengaja menunggu waktu dimana warga sipil disana ada yang terbunuh serta salah satu darah penduduk Amerika yang ikut jadi korban, maka alasan untuk melakukan invasi serangan balik dengan tujuan mengeliminasi insurgency pun dapat dilakukan'


Switzer kemudian berjalan kearah kantor lain di gedung ini dimana ia mulai menghubungi XO Kapal Induk Carrier Strike Group 9 yang tengah siaga.


"Disini Command, Izin diberikan"


Markas langsung siaga penuh, ratusan marinir pun langsung menaiki kendaraan mereka masing-masing, pasukan Marinir yang di bawa melalui 5 Blackhawk, 4 CH-53E Super Stallion dan 6 UH-1 Venom tampak siap lepas landas saat semua marinir telah masuk ke helikopter.


Di area lain, 5 AH-64D bersama dengan 7 AH-1Z Viper juga tengah siap menunggu instruksi lepas landas.


Ruang Pusat Operasi


"Tuan-tuan, saat ini kerajaan Rosella de Voir Junois dalam keadaan bahaya, Marinir kita yang tengah melindungi kota itu, sekarang mereka mati-matian menunggu kita. Kalian semua, laksanakan misi ini dengan baik"


Ruang komando yang berisikan semua perwira di beragam posisi mulai menatap ke layar laptop mereka masing-masing yang dimana mereka menunggu instruksi memulai operasi.


Sementara itu di landasan helikopter, Jonathan yang tengah siap naik ke helikopter langsung di cegat oleh Rosella dengan wajah penuh kemarahan.


"Kau sengaja tak mengatakan apapun, kan?"


Dengan nada ingin membunuh, Rosella mengancamnya seakan ia siap menyayat leher Jonathan saat itu juga.


Jonathan yang tak mau berkomentar soal itu hanya bisa mengangguk akan pertanyaan itu.


"Iya"


Seketika sebuah pedang tercipta yang langsung terarah ke lehernya namun Jonathan tak bergeming sama sekali.


Para Marinir yang melihat itu langsung membidik senjata mereka ke Rosella, namun Jonathan dengan cepat menaikkan tangannya kearah marinir sebagai tanda untuk jangan melakukan apapun.


"Nona Rosella de Voir Junois"


"Apa yang ingin kau katakan, Manusia Rendahan"


"Benar jika aku tahu sesuatu, tapi aku berani jamin padamu, tak akan ada satupun wargamu yang sengaja kami buat terbunuh tanpa alasan, aku berani jamin padamu"


"Dan apa yang membuatmu berpikir kalau aku bisa percaya omongan mu?"


Aura Rosella semakin mengental, para Marinir di tempat mulai mengepung Rosella dengan senjata siap mereka tembakkan.


"Nyawaku taruhannya, jika kau mau, kau bisa ambil nyawaku nanti setelah ini selesai"


Melihat wajah Jonathan yang tak ambil peduli itu membuat Rosella harus menahan diri dari keinginan membunuh mereka semua yang ada disini.


"Jika kau berani menipuku kali......"


Aura membunuh yang sangat kental membuat Marinir siap menembak saat itu juga, mereka saat melihat Jonathan yang sama sekali tak bergeming akan ancaman itu, dengan santainya mengangkat bahu sambil menoleh kearah helikopter.


"Kalau kita punya waktu untuk berbicara disini, sebaiknya kita habiskan saat selesai berurusan dengan mereka"


"Hump"


Seketika itu juga, sepasang sayap tercipta di punggung Rosella, dalam hitungan detik Rosella melayang di udara dan tepat sebelum ia terbang menjauh Rosella menatap ke Jonathan sekali lagi.


"Aku akan mengejar mu ke neraka sekalipun jika kau berani menipuku lagi, kau ingat itu"


"Ya..ya.. sudah sana pergi"


Jonathan langsung naik ke helikopter seakan tak memperdulikan ancaman Rosella, melihat sikap Jonathan yang seperti itu beberapa marinir sedikit kagum dengannya.


("Hawkeye, disini Phantom 1, Penargetan selesai")


Di angkasa satu pesawat E-2C Hawkeye tampak mengawasi area sekitaran kerajaan yang tengah di telan pertarungan sengit.


setidaknya 3 skuadron (36 pesawat) F/A 18 tampak mulai menurunkan ketinggian setelah lepas landas dari Kapal Induk.


Di lain sisi, 2 A-10A Thunderbolt dengan 2 A-10B Warthog juga mulai memasuki wilayah tempur.


Jonathan bersama marinir yang lain, dalam diam menunggu mereka di turunkan ke lokasi tempur.


'Sumpah ku pikir aku bakalan mati'


Tak ada yang tahu kalau Jonathan masih berkeringat dingin setelah di ancam oleh Rosella karena tak memberitahu padanya soal situasi yang terjadi di kerajaan.


'Aku harus mencari cara bagaimana biar dia jangan membunuhku'


Keringat dingin yang Jonathan rasakan hanya dia yang tahu, namun untuk marinir yang lain mereka menganggap kalau Jonathan justru semacam Marinir yang keras kepala.

__ADS_1


'Jarhead'


__ADS_2