
Ruang Debrief, Pusat Komando Markas Delta.
"Tuan-tuan, terima kasih telah hadir"
Letnan Jenderal Norman, Pimpinan tertinggi markas Marinir Batalion Kedua, Divisi Marinir Kedua, saat memasuki ruangan, para perwira tampak tengah menantinya
"Misi kali ini cukup diluar prediksi kita, seperti yang kita ketahui, dua gadis itu adalah penduduk Jepang dan dari keterangan mereka setidaknya ada 3 lagi seperti mereka yang di bawa secara paksa ke dunia ini dan di perintahkan untuk melawan pasukan asing yang mereka sebut sebagai pasukan raja iblis, namun dari laporan pasukan kita yang saat ini berada di kastil iblis, mereka tidak melihat pergerakan militer apapun ke kawasan manusia"
Layar tancap yang ada di ruangan mulai menunjukkan foto tiga orang yang di konfirmasi identitas mereka yang di yakini sebagai penduduk Jepang.
"Ketiga dari mereka saat ini masih berada di kawasan kerajaan manusia dunia ini, sampai saat ini kita tidak tahu apa tujuan manusia dunia ini memanggil dan menyuruh anak-anak untuk pergi berperang, di bawah ketentuan Geneva, ini sangat jelas melanggar hukum"
"Tuan-tuan"
Letjend menatap ke para perwira itu dengan tatapan tajam.
"Aku ingin kalian menyusup ke wilayah kerajaan manusia dan menjalin kontak dengan ketiga dari mereka, Jika memungkinkan aku ingin kalian membawa mereka kembali kesini, hindari kontak bersenjata yang tidak di perlukan, misi kalian adalah untuk membawa mereka secara sukarela, bukan memaksa mereka, apa kalian mengerti?"
Empat perwira yang akan di tugaskan adalah pasukan khusus dari kesatuan Marine Special Operation Forces Letnan Jason, Air Force Special Operation Joint Terminal Attack Controller Samuel, dan dua orang dari Detasemen Khusus Ranger Jackson dan Lawrence.
"Kalian akan di berangkatkan menggunakan C-2 dan di terjunkan 12 kilometer dari kawasan kerajaan, disana kalian akan di jadwalkan bertemu dengan SEAL Team 6 yang tengah mengawasi sekitar, apa ada lagi yang kalian ingin ketahui?"
Melihat tidak adanya pertanyaan, Debrief operasi pun di akhiri dengan jenderal memberikan instruksi pada mereka untuk segera bersiap menuju ke USS Gerald R Ford menggunakan helikopter.
Seperginya empat pasukan khusus itu, Jenderal menatap ke profil dua gadis itu yang di konfirmasi oleh kepolisian Jepang sebagai warga yang hilang selama dua tahun lebih.
'Bagaimana bisa waktu di dunia ini dan dunia kami berbeda? Apa ini ada kaitannya dengan sistem tata Surya asing ini?'
Pikir Letjend ketika mengkonfirmasi sekali lagi kelima manusia yang berstatus hilang oleh kepolisian Jepang.
'Aku tidak tahu apa dan kenapa mereka bisa memanggil manusia ke dunia ini, tapi fakta dimana mereka menggunakan anak remaja sebagai prajurit, itu sangat tidak bisa dimaafkan'
Di landasan kapal induk USS Gerald R Ford, tepat saat helikopter mendarat menurunkan empat prajurit, mereka kemudian berjalan ke pesawat E-2C Hawkeye yang tengah menunggu mereka di ketapel nomor 3 di atas kapal induk.
Waktu yang masih menunjukkan pukul 03 dini hari, kegelapan malam justru tak menjadi penghalang untuk operasi di atas kapal induk.
...****************...
("Go full throttle, sir")
Instruksi operator ketapel uap yang melihat semua persiapan telah selesai, pesawat dengan cepat melaju dengan kecepatan 120 km/jam dalam waktu hitungan detik.
Pesawat kemudian terbang menjauh dari kapal induk menuju lokasi yang di tuju.
di Markas, Letjend mulai menatap ke perwira yang bertanggung jawab atas komunikasi.
"Perwira kelas satu, Sanders, hubungi Letnan Fujiwara, katakan pada mereka tentang perubahan misi"
"Siap Laksanakan, Pak"
****************
("Disini Command kepada Alpha Company, apa kau mendengarkan ku?")
"Disini Fujiwara, kepada Command, aku mendengarkan mu"
Di tengah malam, regu yang menginap di luar di kawasan hamparan rumput luas, langsung terbangun ketika komunikasi dari markas tersambung.
("Perubahan rencana, kalian harus menuju ke Selatan, sekitar 127 kilometer dari posisi kalian, kalian di tugaskan untuk bertemu dengan pasukan khusus, itu saja. Out")
"Di mengerti"
Joseph dan Jonathan yang kebetulan mendengar itu, saling tukar pandangan dengan Fujiwara seakan mereka bertanya padanya kenapa terjadi perubahan rencana mendadak.
"Sayangnya Markas tidak menjelaskan padaku apapun"
"Oh, apa kalian ingin bergerak lagi, manusia?"
Rosella yang entah darimana bisa berdiri di tengah-tengah Joseph dan Jonathan tanpa mereka sadari, langsung tersentak kaget.
"Uah! Jangan buat kaget, Rosella!"
Ketus Jonathan ke Rosella yang ngomong-ngomong itu merupakan tindakan yang sangat sopan ke bangsawan.
"Ha..ha..ha... Reaksimu terlalu berlebihan" Tawa Rosella ketika melihat reaksi Jonathan yang cukup menggelikan.
"Nona Rosella, kami akan menuju ke tempat para manusia dunia ini, apa anda yakin mau ikut dengan kami?"
Fujiwara langsung memotong keduanya dengan mengatakan kemana mereka akan pergi.
"Ho... Kerajaan manusia maksud kalian, menarik, aku ikut"
"Begitu"
Fujiwara yang tak mau memperpanjang pembicaraan, langsung memerintahkan semuanya untuk masuk ke kendaraan masing-masing.
Di tengah gelapnya malam dini hari, Fujiwara masih diam di bangku depan, Jonathan tahu jika ia tak punya kewenangan apapun untuk menanyakan apa yang di pikirkan Fujiwara, namun melihatnya yang selalu memasang wajah khawatir membuatnya sedikit risih, dan ia sangat yakin kalau itu juga yang di pikirkan tim ke Fujiwara.
"Maaf jika saya bersikap tidak etis Letnan, tapi bolehkah saya berbicara gamblang"
Rosella yang duduk di belakang, tertidur cukup pulas memberikan Jonathan peluang bisa berbicara dengan Fujiwara tanpa peduli di interupsi oleh Rosella.
"Silahkan"
Dengan izin dari Fujiwara, Jonathan mengatakan apa yang ia pikirkan dengan pandangan mata masih tertuju ke jalan di depannya.
"Saya tahu jika anda khawatir mengenai penugasan ini, tapi bisakah anda sedikit lebih santai? Jika anda terus merasa was-was bagaimana mungkin kami tidak ikut was-was dengan situasi kita"
Dengan bahasa yang sangat formal, Jonathan berusaha untuk tidak bersikap tidak sopan kepada atasannya, dan respon dari Fujiwara tepat seperti yang ia pikirkan.
"Lalu aku harus apa? Setelah melewati itu, apa kau berharap kalau aku tidak ambil peduli tentang apa yang terjadi kemarin?"
Wajah Fujiwara tampak kosong seakan ia masih shock akan situasi itu
Itu benar, saat monster itu berusaha menyerang mereka, yang mengambil alih komando tanpa seijin pimpinan regu maupun NCO yang bertugas, adalah Jonathan yang dengan seenaknya memerintah tim untuk melakukan reaksi cepat.
Normalnya Jonathan harus menerima konsekuensi soal kenapa ia mengambil alih komando tanpa seijin Sersan yang bertugas sebagai rantai komando kedua di regu.
"Tidak, aku tidak bermaksud begitu, Letnan"
"Jadi?"
"Yah, aku cuma bilang, kalau kau terus-terusan begitu, bagaimana mungkin kami bisa tenang? Kau adalah pimpinan kami, sebaiknya ingat Letnan, kita Marinir, kita di latih untuk berpikiran semuanya itu omong kosong yang gak guna"
Ucapnya dengan nada ketus yang sangat jelas pasti akan membuatnya terkena hukuman militer jika Letnan Fujiwara kesal dengan sikapnya.
Hukuman seperti membakar tinja manusia atau membersihkan seluruh kendaraan di regu Mechanized Infantry Regiment adalah
dua dari sekian banyak hukuman yang paling menyebalkan di Marinir.
Melihat ekspresi Jonathan yang tampak seakan mulai takut jika ia akan di hukum karena nada bicaranya membuat senyuman tipis terbentuk di wajah Fujiwara.
"Fufu.... Tampaknya kau perlu ku berikan hukuman nanti saat di markas, Kopral"
"Eh!? T. .tunggu dulu letnan, maafkan sikapku tadi"
Panik akan perubahan bicara Fujiwara, Jonathan mulai berbicara dengan gagap, satu-satunya hal yang berusaha ia hindari selama dua kali di Marinir adalah terkena cap NJP-ed di daftar biodata.
Sekali ada catatan itu, maka kompensasi saat kau keluar dari militer bisa saja di potong separuhnya setiap bulan.
Namun tanpa Jonathan ketahui, ekspresi wajah Fujiwara jauh lebih santai ketimbang tadi yang berekspresi muram.
Saat tim kembali bergerak menuju destinasi titik temu, di angkasa tepatnya di ketinggian 25 ribu kaki di atas permukaan laut, pesawat E-2D hampir mendekati titik penerjunan.
Dengan waktu menunjukkan pukul 0340 pagi, pintu kargo belakang pesawat pengintai itu terbuka menampilkan 4 manusia berseragam taktikal militer, siap terjun kapanpun pilot memberi aba-aba.
("Semoga berhasil, Boys")
Empat prajurit itu kemudian melompat keluar dari pesawat, di temani gelapnya malam, mereka terjun di angkasa yang hening.
("Perhatikan ketinggian kalian")
Ucap pimpinan Skuad ketika melihat penunjuk ketinggian yang ada di lengannya, masing-masing dari mereka mulai bersiap menarik parasut ketika ketinggian mencapai 5 ribu kaki.
Lompat ketinggian di atas ketinggian 25 ribu kaki, di kategorikan sebagai terjun yang paling berbahaya namun berbeda untuk mereka yang terlatih di bidang ini.
("Buka parasut!")
Empat manusia itu kemudian melayang dengan lambat ke daratan yang ada di bawah mereka. Tak butuh waktu lama mereka mendarat dan bersiap seakan tidak ada apapun yang terjadi disitu.
("Comms check")
Pimpinan Skuad melakukan cek radio ke tiga yang lainnya, mereka bertiga menjawab dengan anggukan, mereka mulai berjalan menyusuri hutan yang dimana, di sepanjang mata memandang hanya rawa-rawa yang ada.
("Disini Recon 4/1, kepada Raidsoc, Apa kalian mengkonfirmasi?")
Tepat saat mereka berhenti di pinggir rawa, pimpinan Skuad mulai melakukan komunikasi dengan pasukan SEAL yang ada di sekitar area ini.
("Aku ulangi, disini Recon 4/1, Raidsoc, apa kalian mengkonfirmasi?")
Tak ada jawaban sama sekali, hingga komunikasi radio mulai terhubung setelah sempat hening beberapa saat.
("Disini Raidsoc, kami di posisi, area aman, silahkan lanjutkan")
Titik temu mereka berjarak sekitar 200 meter dari posisi mereka saat ini, saat tim mulai kembali berjalan, semak-semak belukar tampak bergerak dengan sendirinya, tak lama semak itu menunjukkan siapa sebenarnya dia itu
"Kalian cukup cepat"
__ADS_1
Puji salah satu anggota Seal Team yang menyamar sebagai semak belukar, lima lainnya juga ikut keluar dari tempat persembunyian mereka dan mulai berkumpul dengan tim.
"Aku Jad, Pimpinan Seal Team 6 ini"
Pria bernama Jad itu menjabat tangan pimpinan skuad yang baru saja tiba disini.
"Jason, itu namaku, MARSOC, 314 Specialist"
Ia kemudian menunjuk ketiga lainnya, "Itu Samuel, JTAC kami, dua sisanya, bocah dari Ranger Jackson dan Lawrence"
"Ok, kalau begitu, ikut dengan kami Jason, kita punya pekerjaan untuk diselesaikan"
Jad kemudian memimpin tim gabungan itu menuju lokasi yang sebenarnya.
Di tengah gelapnya malam, tim yang terdiri dari 10 orang yang datang dari kesatuan SEAL Team dan pasukan khusus gabungan dari MARSOC, Angkatan Udara JTAC, dan Ranger, kemudian sampai di pinggiran tembok di suatu kerajaan.
"perhatikan suara langkah kaki kalian"
Peringat Jad ke pasukan ketika mereka akan memanjat tembok ini. Tembok yang memiliki tinggi sekitar 200 meter itu sedikit menjadi penghalang untuk mereka, namun mereka dengan mudah memanjat tembok.
("Kontak, arah jam 12, jangan tembak")
Sesaat setelah Jad memberikan peringatan, tim mulai berhenti dari memanjat membiarkan penjaga itu berjalan melewati mereka.
Dengan kondisi yang sangat gelap di tambah penerangan di sekitar hanyalah sebuah obor menjadikan sebuah keuntungan tersendiri untuk tim yang sedang menyelinap masuk.
("Awasi sekitar")
Tepat saat mereka sampai di atas tembok, mereka dengan cepat menurunkan tali dan turun menggunakan tali itu, bergerak cepat namun tidak tergesa-gesa menjadikan setiap pergerakan mereka nyaris tidak terdengar oleh siapapun.
"Rumah target di depan kita"
Mereka bergerak berusaha untuk tidak terlihat oleh siapapun, gelapnya malam hampir hilang saat bulan mulai menyinari jalanan. Tim dengan cepat masuk ke gang dimana mereka mengawasi dari luar rumah ini.
("Visual?")
Ucap salah satu Navy Seal ketika mengawasi jendela, melihat ke dalam ruangan rumah yang kosong ini.
("Aman")
Mereka masuk melalui jendela tanpa ada suara sama sekali, sesaat setelah mereka masuk ke dalam. Tim mulai berkumpul di ruang utama dimana mereka menunggu instruksi selanjutnya.
"Baiklah, karena kalian sudah disini semuanya biarkan aku jelaskan situasinya"
Jad mulai mengambil sesuatu dari saku celananya, perhatian semua tertuju ke meja dimana Jad memperlihatkan pada mereka apa yang ia temukan.
"Seperti yang kalian sudah tahu, misi kita adalah mengamankan tiga orang yang berasal dari Bumi, mereka bertiga seharusnya ada di kota ini, mereka tak lebih dari sekedar remaja biasa, jadi batasi penggunaan kekerasan sebisa mungkin. Aku yang bertanggung jawab sebagai XO di misi kali ini, apa kalian mengerti?"
mereka mengangguk tanpa ada protes sama sekali.
"Bagus, sekarang ada hal lain yang ingin ku beritahukan pada kalian semua"
Tatapan tajam dengan cahaya redup di ruangan ini membuat mereka semua semakin serius.
"Intel yang ku dapatkan, kerajaan ini akan di serang dalam waktu kurang dari 7 jam dari sekarang. Aku tahu apa yang kalian pikirkan, peperangan antar kerajaan seharusnya bukan menjadi masalah kita, dan kalian sangat benar, misi utama kita adalah mengutamakan keselamatan dari tiga manusia dari bumi itu, namun melihat situasi ini aku sangat ragu jika mereka akan bekerja sama dengan kita. Jadi ku minta pada kalian untuk tetap awasi dan jangan lakukan apapun kecuali situasi memang memaksa kita untuk membongkar diri"
"Apa kalian semua jelas?"
Anggukan lain adalah jawaban yang ia dapatkan, tim mulai mempersiapkan diri mereka, rumah ini adalah titik utama mereka untuk beroperasi, untuk saat ini pasukan khusus ini hanya bisa menunggu disini sampai target mereka terlihat.
Walau sangat tidak masuk akal kenapa mereka harus menunggu, namun karena ini perintah dari pimpinan regu, tim hanya bisa mengikuti apa yang ia perintahkan.
****************
"Tokiwaki, kita harus mencari Suzu dan Riria!"
Di sebuah ruangan dimana tempat pertemuan tim Pahlawan Pemberani yang di utus oleh kerajaan dari dunia lain, Kirisu Tokiwaki, Amane Rin, Shizuku Houki, adalah tiga dari lima pahlawan yang datang dari dunia lain.
Saat ini mereka tampak tengah gelisah ketika dua teman mereka yang sampai sekarang belum kembali dari misi mereka.
"Rin, apa kau ada mendengar laporan apapun soal Suzu dan Riria?"
Amane Rin, ia menjawab dengan menggelengkan kepalanya ke Tokiwaki yang mulai ikut resah.
"Baik, besok pagi kita akan ke perserikatan, kita minta bantuan para tentara bayaran untuk mencari mereka berdua"
Usulan Tokiwaki di jawab anggukan keduanya, mereka tak bisa menghentikan rasa takut tentang posibilitas apa yang terjadi pada dua teman mereka itu.
Saat nuansa pagi dini hari terasa mulai semakin dingin, Tokiwaki menatap ke jendela dimana sinar bulan tampak menyinari kota ini.
'Sudah hampir dua tahun kami di dunia ini'
Pikirnya saat melihat dua rekannya yang mulai tampak depresi, ia tak bisa berpura-pura tak mengetahui apa yang mereka rasakan tentang realita di dunia ini. Mulanya mereka berlima berpikir dunia ini akan di penuhi petualangan yang menyenangkan, namun tak butuh waktu lama untuk realita datang menghampiri ke mereka.
Realita dimana di dunia ini kau bisa mati jika ceroboh, mati jika kau tidak waspada, dan mati jika kau terlalu waspada.
'Aku bisa apa.....'
Ia menggeram dalam diam ketika melihat pedangnya yang kerajaan berikan padanya saat ia telah di latih selama 3 Minggu berturut-turut oleh para kesatria kerajaan.
Namun mereka yang tak mengetahui tentang apa yang akan terjadi nanti, justru menjatuhkan mereka jauh ke dalam mimpi buruk yang paling terdalam.
Pagi itu, tepat pukul 0450 waktu setempat, seseorang memukul bel sekeras mungkin membuat seisi area yang tadinya hening langsung berubah mencekam.
"SERANGAN!!"
Dari kamar Tokiwaki, ia langsung terbangun ketika sebuah teriakan oleh para kesatria yang berlari di sepanjang jalan mulai menggema.
"apa yang terjadi!?"
Tokiwaki dengan cepat menuju lantai bawah dimana Houki dan Rin tampak ikut kebingungan sama sepertinya.
"Tokiwaki, aku merasakan lonjakan energi mana dari gerbang utama"
Ucap Houki ketika ia merapalkan mantera sihir dari tongkatnya.
"Tidak salah lagi, serangan datang"
Berusaha tetap tenang, Tokiwaki menatap ke Houki yang sepertinya ingin mengatakan sesuatu.
"Seberapa banyak?"
Pertanyaan yang terdengar terlalu ke poin utamanya, membuat Houki harus memasang wajah suram.
"Terlalu banyak" Ucapnya.
"....."
Tokiwaki langsung keluar dari rumah ini dengan pedang di punggungnya, ia berlari secepat mungkin menuju gerbang utama.
"Kau terlalu sembrono"
Ucap Rin saat berhasil menyusulnya, Tokiwaki yang tak menjawab, ia tetap berpikir tentang bagaimana untuk bertindak secepatnya demi melindungi kota ini.
'Kenapa harus aku yang jadi pahlawan!'
Umpatnya dalam pikiran ketika melihat asap yang mulai mengepul di gerbang itu. Ia selama menjadi pahlawan di hadapkan beragam hal yang pemikirannya tak sanggup untuk ia terima. Sejak di bawa ke dunia ini saat ia berusia 17 tahun, pemikirannya sangatlah berbeda dengan apa yang ia pikirkan saat ini.
"Rin, Houki..... Aku, Aku akan melindungi kota ini"
Ucapnya dengan nada penuh keyakinan, namun tersembunyi perasaan sesal dan takut yang tetap menyelimuti dirinya selama ia di dunia ini.
Saat mereka tiba di gerbang, mereka bertiga menatap tajam ke apa yang ada disana.
"..... Rin, Houki, ku rasa kita harus serius"
Tokiwaki ketika melihat pemandangan dimana banyak tubuh yang tergeletak di tanah, mulai menggenggam erat gagang pedangnya, di depan mereka ratusan makhluk menyerupai iblis tampak mengamuk berusaha menghancurkan tembok kota ini.
"Houki! Buat barier! Rin, segera evakuasi warga ke area aman!"
"Baik"
"Baik"
Keduanya merespon cepat akan perintahnya.
Houki yang memiliki peran hampir sama dengan Riria/Priestess, yaitu Battle Mage, sehingga ia bisa menggunakan beberapa kemampuan Priestess dengan status peran Battle Mage.
"Oh Alam Dunia yang pengasih dan pelindung, berkahi aku dengan kekuatanmu, Divine Protection!"
Pagar yang terbuat dari cahaya itu membentang panjang melewati kota ini, pagar itu adalah perisai mutlak yang mampu menangkis segala serangan fisik maupun sihir sehingga melindungi mereka yang di balik pagar cahaya itu.
"Hehe.... Lihat ini, Blizzard!!"
Elemen es dari Rin langsung membentuk beragam batu-batuan es yang dengan cepat menyerang makhluk-makhluk itu yang masuk ke dalam kota.
"Kuasa alam, aku memintamu, berikan aku kekuatan surgawimu"
Pedang Tokiwaki dengan cepat bersinar terang seakan fajar terjadi disini.
Tokiwaki dengan cepat melesat ke para iblis itu, dengan satu tebasan ia berhasil memotong puluhan iblis yang ada.di depannya.
"Hyaaah!!!!! Sword of Phoenix!"
Pedang Tokiwaki mulai di selimuti api yang membara, ia berlari dan menghindari setiap serangan yang datang menuju kearahnya, menyerang balik dengan kekuatan yang ia miliki, puluhan makhluk itu ia kalahkan tanpa jeda.
"hah...hah.... mereka terlalu banyak"
Tokiwaki mengumpat ketika melihat total musuhnya semakin bertambah banyak, dinding yang melindungi kota ini juga mulai tampak akan hancur sebentar lagi, ia hanya bisa memberikan waktu untuk proses evakuasi selesai yang di pimpin oleh Houki dan Rin.
__ADS_1
Dengan kata lain,
"Aku harus bisa menahan mereka sendirian disini"
Di tengah kekacauan akibat serbuan ini, kepanikan dengan cepat melanda kota yang tengah tertidur tadi.
Di ruang singgasana, Raja yang tampak tertidur dengan sangat cepat di bangunkan oleh salah satu kesatria yang berlutut di depannya.
"Yang mulia, kita di serang"
Sang Raja dengan wajah tajam menatap ke arah luar yang dimana asap tebal mengepul dari sana.
"Persiapkan seluruh unit, kita harus mempertahankan kota"
"Dengan senang hati, Yang Mulia"
Raja bersama dengan wakil-wakilnya mulai berjalan menyusuri koridor kastil dengan langkah kaki yang cepat mereka menuju ke ruang persenjataan dimana ia untuk pertama kalinya dalam 20 tahun mengenakan kembali zirah besinya lagi.
'Siapa sangka kalau aku harus mengenakan ini lagi'
Pikirnya saat melihat dirinya yang telah selesai memakai zirah besi yang dulu sering ia pakai saat masih di kesatuan kesatria kerajaan.
Di posisi Tokiwaki, ia mulai kehabisan nafas karena banyaknya musuh yang harus ia lawan sendirian.
"Sword of Phoenix!"
Sekali lagi ia memaksakan diri menggunakan elemen api yang sangat menguras energi magis yang ada di tubuhnya.
"Belum... Masih belum!"
Bentaknya pada musuh yang tak ada habisnya.
Api dengan cepat menyambar ke beberapa rumah kosong membuat suasana semakin kacau, proses evakuasi masih di lakukan, beruntung barier energi dari Houki masih mampu menahan para iblis yang berusaha menerobos masuk jauh ke area pemukiman warga
'Belum, masih belum! Aku harus lebih kuat lagi!'
Umpatnya ketika ia nyaris tak mampu berdiri lagi. Tangannya mulai bergetar akibat kehabisan tenaga, bahkan kedua kakinya pun mulai menolak untuk berdiri, namun Tokiwaki masih terus memaksa diri untuk berdiri dan bertarung melawan gelombang makhluk yang terus bermunculan.
Di tengah kacaunya suasana, sesuatu tampak muncul di balik kepulan asap itu
"Sialan!"
Sosok makhluk raksasa dengan tinggi tubuh mencapai 2 meter lebih mulai mendobrak tembok kerajaan diikuti auman keras yang tampak siap menghancurkan apapun yang ada di depannya.
"Grrr....."
Tokiwaki yang sudah tidak sanggup lagi berdiri, menatap ke monster itu dengan tatapan tajam.
"He .he...he... Maaf membuatmu menunggu"
Rin dan Houki datang ke posisinya dengan Rin memasang wajah siap bertarung.
"Heh... Kalian lama" Balas Tokiwaki dengan senyuman, Houki dengan cepat merapalkan mantera pemulihan kearahnya, wajahnya yang tadi memucat akibat kehabisan energi magis, perlahan mulai pulih
"Terima kasih, Houki"
"Jangan sungkan, lagian kita harus cepat mengalahkan mereka"
"Hum... Kau benar"
Rin, Houki dan Tokiwaki, ketiganya mulai tampak siap menghadapi makhluk itu dengan wajah penuh percaya diri.
"Houki, lakukan!"
Teriak Tokiwaki saat ia berlari melesat cepat menuju makhluk itu, dengan sangat cepat ia menghindari setiap pukulan yang datang menujunya.
Lingkaran sihir terbentuk di bawah kaki Houki, lingkaran sihir tersebut kemudian menampilkan cahaya putih yang cukup terang kemudian cahaya itu menyerang ke Monster yang memiliki bentuk menyerupai bilah-bilah pisau yang sedang melayang kearahnya.
Satu persatu serangan cahaya itu menembus kulit makhluk itu.
"Arrrghhh!!!!! Graaahhh!!!"
Makhluk itu mengaum keras, tampaknya makhluk itu sangat marah ke mereka, Rin sendiri yang ikut membantu Tokiwaki menyerang dan menebas kulit makhluk itu dengan pedang mereka, membuat makhluk itu semakin mengaum keras.
"Takkan ku biarkan!"
Rin yang melihat makhluk itu siap memukul ke arah barier cahaya yang di bentuk oleh Houki, dengan sigap ia menggunakan kedua tangannya yang di lapisi sihir es.
"Striker Ice!"
Lingkaran sihir terbentuk di depan kepalan tangannya, Rin kemudian memukul makhluk itu yang spontan membuatnya terbanting menghantam beberapa rumah kosong.
"Tokiwaki!"
Tokiwaki yang melihat momentum itu, mulai menambah kekuatannya yang ia arahkan semua ke pedang yang ada di genggaman tangannya.
"hyaaah!!!!! Flame Sword!"
Tokiwaki menebas pedangnya ke makhluk itu yang langsung membuat makhluk itu terbelah dua akibat pedang yang berlapis energi api darinya.
"Hah ... hah ...."
Tokiwaki mulai kehabisan energi sihirnya lagi, Rin dan Houki mulai mendatanginya ketika melihat Tokiwaki yang tak mampu berdiri.
"Biar aku pulihkan energi mu"
Houki mulai merapalkan mantera yang perlahan mulai mengisi kembali energi sihirnya.
"Apa mereka sudah habis?"
Rin melihat yang seakan makhluk-makhluk itu tidak berdatangan lagi, mulai berpikir jika ini sudah berakhir namun naifnya mereka berpikir jika pertarungan ini berakhir begitu saja
...****************...
Ruang Komando Markas Delta,
Letnan Jenderal Norman bersama dengan para komando misi pasukan yang ada di wilayah, mereka menatap situasi melalui tayangan langsung dari pesawat pengintai serta pesawat radar, E-2C Hawkeye, yang menayangkan situasi di kerajaan itu.
"Letjend, tampaknya kita harus mengirimkan satu skuadron F-18"
Usul salah satu perwira ketika mereka melihat jejak inframerah kumpulan makhluk yang mendekati kerajaan itu dari sisi lain kerajaan, tampaknya mereka berencana menyerang dari dua sisi dan di sisi yang akan mereka serang adalah sisi barat laut dimana lokasi safe house pasukan yang mereka kirim.
"Tidak perlu, kita tidak bisa meresikokan pesawat seperti itu untuk misi ini"
Ucapnya pada Perwira itu, tampaknya makhluk-makhluk itu semakin mendekati gerbang barat laut, satu-satunya aset udara yang bisa mereka kirimkan dengan tingkat efektivitas tinggi adalah A-10A Thunderbolt.
"Kolonel, perintahkan angkatan udara untuk persiapkan A-10, kabari juga JTAC tim untuk segera memandu dukungan udara"
"Laksanakan Letjend"
Di lapangan udara sementara yang dimana landasan pacu masih tanah yang telah di ratakan, empat pesawat A-10A Thunderbolt II dengan muatan AGM & JDAM bersiap lepas landas.
Sementara itu di kerajaan, Tokiwaki, Houki dan Rin yang telah berkumpul dengan pasukan kerajaan mulai mengamankan situasi, namun tak pernah mereka akan duga jika sesuatu yang jauh lebih buruk tengah menunggu mereka di lain tempat.
"Lapor! Serangan lebih besar dari barat laut!!"
Salah satu kesatria yang panik berlutut di depan mereka, mendengar laporan itu tiga pahlawan yang di panggil ke dunia ini melebarkan matanya.
"..bagaimana bisa!?"
Rin dan Houki mulai ketakutan ketika mendengar laporan tentang pasukan iblis yang jauh lebih banyak menyerbu di bagian barat laut.
"Grrr...... !!"
"T.. Tokiwaki!?"
Tokiwaki tak menunggu lagi, ia melesat dengan cepat menuju tempat itu, serangan sangat besar dengan banyaknya penduduk yang di evakuasi ke wilayah itu membuatnya menggeram sekaligus mengutuk dirinya.
"Sialan!"
Di kegelapan malam, gerbang barat laut dengan cepat berubah menjadi kengerian.
"Semuanya lari!"
Perintah kesatria ketika melihat gerbang berhasil di jebol, penduduk yang panik berlarian tak karuan.
Kepanikan semakin di perparah ketika satu persatu rumah di bakar dan di hancurkan.
Warga yang terdiam dalam ketakutan menatap ngeri akan serangan ini.
Tokiwaki yang masih terus mengumpat dan mengutuk dirinya, hanya bisa berharap tidak ada korban jiwa.
'Kenapa ini terjadi!'
"Tolong!!"
Teriakan amat keras menggema di telinganya, tepat saat ia melihat seseorang akan di serang oleh iblis itu, Tokiwaki langsung melesat kearahnya berusaha menggunakan tubuhnya untuk melindungi orang itu.
Ia hanya bisa berharap kalau ia mati disini, setidaknya ia ingin bisa melihat keluarganya sekali lagi.
Hingga
("Go loud!!")
Sebuah bahasa yang sangat familiar, ia tak tahu apa bermimpi atau tidak, tapi suara itu sangatlah ia kenali.
Ia hanya bisa berpikiran kalau dirinya pasti sudah mati akibat serangan iblis yang tadi berusaha menyerang warga itu.
Namun pemikirannya pun berubah setelah pertemuan tak terduga yang akan ia lihat di depan matanya sendiri.
__ADS_1