Connected World

Connected World
Operation Kingdom Shield II


__ADS_3

Letnan Jenderal Norman yang kembali ke gedung komando, ia langsung di sambut beberapa perwira yang tampak sibuk dengan tugas mereka masing-masing.


"Lanjutkan tuan-tuan"


Ucap Norman ketika mereka yang berdiri memberi hormat padanya untuk segera menurunkan sikap itu dan kembali melanjutkan tugas mereka.


Saat ia sampai di ruangan pusat kendali operasi dimana beberapa perwira tampak mengerjakan banyak dokumen menggunakan laptopnya masing-masing.


"Letnan Jenderal, silahkan kopi anda"


Seorang Letnan Dua yang baru saja masuk ke ruangan mulai memberikannya secangkir kopi hangat yang baru saja dibuatnya.


"Terima kasih Letnan Dua Raymond"


"Dengan senang hati, Letnan Jenderal"


Letnan Dua itu kembali ke posisi duduknya yang berada di pojok ruangan, Norman mulai menyalakan komputernya dimana layar menunjukkan informasi terbaru mengenai perkembangan dunia ini.


'Informasi yang kami miliki masih meliputi sosial politik, struktural pemerintah serta perekonomian, kami masih belum memiliki jawaban pasti mengenai eksistensi sihir'


Saat ia mulai melihat lampiran surat yang ada di salah satu file, laporan mengenai pemindahan tangan untuk menginterogasi Tiara yang akan di lakukan oleh salah satu anggota dari Intelligence Specialist 0231 O-4/Mayor Vincent.


Persetujuan itu masih menunggu konfirmasi darinya, Norman sendiri ia mulai melihat daftar biodata dari Mayor Vincent itu, dan cukup mengesankan melihat prestasi Vincent selama mengabdi di kesatuan Marinir selama 15 tahun dengan dua kali Re-Enlist setiap kontraknya berakhir.


'Mungkin dia bisa diandalkan'


...****************...


Pentagon, Amerika Serikat.3 Maret 2023


Di ruangan tempat pertemuan antara petinggi militer di setiap cabang, seorang pria dengan pakaian militer perwira dengan pangkat Brigadir Jenderal mulai berdiri dan menunjukkan laporan yang ada di tangannya.


"Tuan-tuan, saat ini situasi mulai berubah. Kami kehilangan enam marinir kami di balik dunia itu akibat serangan sepihak oleh kerajaan yang tak menunjukkan adanya potensi negoisasi antara kita dengan mereka. Kita sangat beruntung media masih tidak terlalu memperhatikan mengenai hal ini sehingga kita bisa memberikan informasi palsu soal kenapa mereka meninggal, namun saya sangat yakin anda semua tahu kalau cepat atau lambat operasi ini akan terbongkar"


Saat ia selesai berbicara, Brigadir Jenderal itu kemudian kembali duduk, layar monitor di ruangan mulai menyala dimana menunjukkan seorang perempuan dengan rambut putih yang saat ini berada di ruang tahanan.


"Menurut Norman, perempuan itu adalah tersangka utama atas insiden tersebut, laporan menyatakan kalau pasukan dibawah perempuan itu melakukan serangan sepihak ke pangkalan Marinir dan mulai menyerang kawasan warga sipil, karena situasi itu, Norman harus menggunakan aset laut dari U.S Navy, saya harap anda memahami soal itu"


Dua orang yang memiliki jabatan Letnan Kolonel di Angkatan Laut dan Udara mulai menatap ke layar monitor dimana mereka menyaksikan laporan lengkap dari salah satu perwira yang mendampingi Brigadir Jenderal.


'Situasi tampaknya akan semakin runyam, ya?'


Pikir Brigadir Jenderal saat melihat apa yang harus mereka laporkan ke kongress tahun depan.


Sementara itu di penjara Markas Delta, Mayor Vincent, Intelligence Specialist O-4, saat akan memasuki ruangan tempat Tiara di tahan mulai memperbaiki bajunya.


Ia mengenakan setelan hitam standar namun logo pin Amerika Serikat tampak terpasang di dada kanannya sebagai simbol kalau ia akan menjadi perwakilan dalam pembicaraan ini.


"Pak, terima kasih anda mau mengambil alih tugas ini, kami sampai saat ini sangat kesulitan untuk membuatnya bekerja sama dengan kami"


Salah satu letnan tampak mengajaknya berbicara sebelum ia masuk ke ruangan, Vincent hanya membalas dengan anggukan sebelum ia masuk ke ruangan itu


Suara pintu besi terbuka membuat tatapan Tiara teralihkan ke sosok yang masuk ke ruangan ini.


"Hmp, apa kau disini cuma mau bertanya padaku? Menyerahlah, aku tak akan mau berbicara sedikitpun tak peduli kalian siksa aku seperti apapun itu"


Tiara dengan nada keras tampak berusaha mengintimidasi pria yang kemungkinan berusia 40 tahun dengan jenggot tipis di wajahnya.


Pria bernama Vincent itu kemudian duduk bersebrangan dengan Tiara di ruangan tahanan tempat dimana Tiara sejak tadi di hujani beragam pertanyaan dari tim intelijen.


Saat Vincent duduk, ia mulai meletakkan dokumen di meja dengan cara sedikit membanting dokumen itu membuat suara yang tak terlalu keras namun cukup untuk membuat perhatian Tiara sepenuhnya tertuju ke arahnya.


"Bisa kita langsung saja, Nona?"


"Hmp! Kalian manusia, kalian adalah sampah! Beraninya kalian menyebut diri kalian manusia setelah bekerja sama dengan kaum iblis itu"


Cercaan Tiara tampak seakan memancing Vincent, namun untuk pria yang terlatih serta berpengalaman lebih lama di bidang ini tak membuatnya terpancing sama sekali, Ia justru membuka lampiran dokumen yang ada di dalam amplop berkas itu.


"Biar saya ulang, Anda Diara Claudisse, apa saya benar?"


"Tsk! Kenapa kau malah salah mengeja namaku!? Aku Tiara Vunois Claudisse! Putri Mahkota dari Kerajaan Claudisse yang pernah mencatat sejarah sebagai kerajaan yang mengalahkan iblis!"


Ucapnya dengan bangga membuat satu alis mata Vincent sedikit terangkat.


"Baik, maaf akan ketidaksopanan saya sebelumnya, Tiara? Apa saya benar?"


"Humu! Kali ini kau benar, Jadi apa yang kau inginkan dariku? Kau tak mungkin disini cuma mau basa-basi kan"


Tegas Tiara dengan tatapan tajam, Vincent sekali lagi tak bergeming, ia menjawab tatapan itu seakan hanya sebuah gurauan semata


"Baik, sebelumnya saya akan memperkenalkan diri saya. Saya Vincent, saya mewakili Delegasi akan pembicaraan antara Amerika Serikat bersama dengan Kerajaan kalian"


"Ha?"


Tiara tak memahami maksud dari perkataan dari Vincent, karena menurutnya kalimat seperti Delegasi adalah kosakata yang tak pernah ia tahu.


"Apa yang kau katakan? apa artinya kau semacam perwakilan dari kerajaan manusia lain? Hmp! Kalian pasti sangat bangga bisa mengalahkan kami ya?"

__ADS_1


Dengan nada angkuh Tiara masih tak memperdulikan kalau saat ini ia sekarang berada di bawah penahanan mereka.


"Kalian semua yang ada disini jangan terlalu sombong, karena kalau kerajaan manusia lain tahu kalau kalian bekerja sama dengan Iblis, kalian pasti akan musnah"


Ancam Tiara, lagi-lagi ekspresi datar masih terpampang jelas di wajah Vincent yang sama sekali tak menggubris soal hal itu.


"Jadi, anda adalah salah satu putri mahkota dari kerajaan itu? Bisa jelaskan pada saya apa yang membuat kerajaan anda lebih menarik ketimbang kerajaan lain?"


Tiara yang mendengar ucapan Vincent yang seakan terdengar tertarik dengan kerajaannya mulai berceloteh dengan nada yang mengandung kebanggaan mendalam pada tempatnya, namun untuk Vincent sendiri, ia sama sekali tak memperdulikan celotehan itu, jauh di dalam pikirannya ia justru menganalisa kepribadian hingga pola sikap dari Tiara yang dapat ia gunakan untuk menyerang mentalnya secara efektif.


'Dia hanya remaja biasa, ekspresi wajah hingga tutur emosional masih terbilang labil. Ini terlalu mudah'


".... Begitulah kami, kami kerajaan yang penuh akan nilai kebudayaan yang tak tergantikan dan kekuatan sihir yang melampaui..."


"Sudah cukup, saya sudah tak mau mendengarkannya lagi"


Potong Vincent dengan nada tegas sontak membuat Tiara sedikit menoleh kearahnya dengan tatapan kemarahan namun ekspresi wajah Vincent yang tajam berhasil membungkam Tiara dari berkata-kata.


"Kami sama sekali tak memperdulikan tentang kerajaan kalian, kami justru tak memperdulikan apapun soal itu, sekarang kau harus paham situasimu nak, apa kau mengerti kalau kau sedang berada di tahanan karena apa yang kau lakukan?"


"Ha!? apa maksudnya itu! Aku tak melakukan apapun yang salah, kami melakukan itu karena mereka itu Iblis! Mereka tak lebih dari musuh manusia!"


Tegas Tiara di tempat duduknya, namun hal berikutnya yang dilakukan Vincent kembali membuat Tiara terbungkam.


"Eek!"


Teriak kecil Tiara ketika sebuah suara tangan yang di hantaman kan ke meja dengan cukup keras di tambah ekspresi tajam dari Vincent berhasil membuat Tiara terbungkam dalam takut ketika melihat ekspresi itu.


"Sudah diam, kau harus mengerti nak, kau disini karena kau kami tahan, apapun yang kau katakan tidak akan merubah fakta soal itu. Aku ingin kau bekerjasama dengan kami, atau aku jamin kau akan membenci apa yang akan kulakukan padamu jika kau menolak permintaan ku"


"Apa .... Apa maksudmu aku ...... Eh..."


Tiara terputus dari kata-kata yang akan ia ucapkan ketika melihat ekspresi tajam Vincent yang masih tak berubah, ekspresi itu justru terasa mencekam hingga membuat tulang belakangnya menggigil.


"Aku katakan lagi, bekerjasama atau hadapi apa yang akan aku lakukan padamu, kuberi kau waktu 5 detik untuk menentukan"


Ancam Vincent dengan nada sedingin es, Tiara yang akan membantah namun entah kenapa ia merasa sangat takut akan orang di hadapannya ini


'Dia cuma menakuti-nakuti ku tak mungkin dia.....'


Tatapan yang tak memiliki niatan yang jelas, di tambah aura yang sangat menekan membuat Tiara merasa kalau hidupnya dalam bahaya jika ia mengatakan sesuatu yang salah.


"A...apa kau akan melukai ku?"


dengan nada sedikit bergetar, Tiara mulai berbicara berusaha membalas tatapan mata Vincent yang sangat tajam.itu.


"Dibawah ketentuan HAM, aku tak akan melukaimu, jika, kau bekerjasama"


Sedikit penasaran Tiara ingin memancing Vincent, namun kata-kata yang akan ia keluarkan justru tertahan di tenggorokannya seakan ia tak berani berbicara yang dapat memancing mereka.


Untuk Vincent sendiri, baginya ini terlalu mudah menginterogasi seseorang hanya menggunakan tindakan sederhana.


Berbicara dari pengalamannya selama menjabat sebagai Intelligence Specialist membuatnya sangat mudah menebak kepribadian serta kelemahan seseorang hanya dari caranya berbicara.


Dan ternyata itu masih efektif untuk manusia dunia lain.


'Lagian kenapa mereka berpikiran kalau menggunakan anak remaja akan sangat berpengaruh besar dalam pertempuran?'


Vincent yang sedikit banyaknya membaca laporan tentang kemampuan Tiara yang dapat mengendalikan sihir membuatnya sedikit tertarik tentang fakta kemampuan manusia dunia ini.


Hanya sedikit interogasi dengan tatapan tajam berhasil membuat Tiara tergagap dan bergetar ketakutan, metode yang mengandalkan Psikologi seseorang untuk melawan orang tersebut adalah cara yang paling efektif di dunia mereka.


Melihat urusan antata Vincent dan Tiara yang masih ketakutan selesai, Vincent mulai berdiri dan berjalan kearah pintu keluar, namun sekali lagi ia menoleh ke Tiara yang langsung tersentak ketakutan


"Kau akan tetap kami tahan, dan jangan coba-coba melakukan sesuatu yang membuat kami terpaksa harus menggunakan cara kasar, apa kau mengerti"


Tegas Vincent yang dijawab dengan anggukan dari Tiara seakan tak berani melawannya.


Di ruangan Joint Operation & Tactical Center, Norman melihat laporan yang datang ke meja kerjanya dimana hasil yang diberikan oleh Vincent cukup membuatnya puas


'Sudah kuduga kalau akan begini jadinya'


Dari kesimpulan Vincent, Kerajaan Manusia sangat jelas tidak mentolerir adanya umat manusia yang bekerjasama dengan ras iblis, dengan kata lain akan ada potensi konflik yang akan terjadi di kedepannya.


Laporan ini hampir sama dengan apa yang JAD laporkan padanya tiga jam lalu mengenai adanya posibilitas kalau tim di incar oleh kerajaan manusia karena membawa paksa tiga manusia dari dunia mereka kembali ke Markas


"Pak, haruskah kita awasi kerajaan itu?"


Salah satu operator bagian komunikasi dan intelijen mulai mengusulkan saran ke Norman.


"Saran bagus, perintahkan E-2 untuk awasi lokasi kerajaan itu, berikan update status selama satu jam sekali"


"Affirm"


Layar laptopnya kemudian bergeser ke lampiran dokumen lain yang datang dari Pentagon mengenai apa yang harus mereka lakukan saat ini.


Sementara itu di kawasan Administratif Rosella de Voir Junois, Jonathan Crish, pangkat Kopral.

__ADS_1


Ia berjalan menyusuri jalanan kota yang masih sibuk dengan beragam hal, dan salah satunya adalah proses pembangunan ulang serta pembenahan bangunan yang tampak tua dimakan usia.


'Mau berapa kali aku lihat ini, aku masih tak bosan-bosan bagaimana perbedaan ras sangat memanjakan mataku'


Pikir Jonathan ketika beragam ras dengan fitur unik di tubuh mereka menjadikan sebuah pemandangan yang sangat menarik untuknya dan Marinir yang ada disini.


"Hm? Apa ada yang bisa saya bantu, Sersan?"


Seorang sersan yang tiba-tiba mendatanginya tanpa banyak bicara langsung membawanya kembali ke pangkalan Keating tempat Kolonel Anderson berada.


'Ini akan jadi masalah'


Pikir Jonathan sambil mendesah.


Dan tepat seperti yang ia sangka, Jonathan yang berada di tenda pusat komando FOB (Forward Operation Base) Keating, disambut tatapan serius dari Anderson


"Kopral anda akan di tugaskan bersama dengan 2nd Company, 5th Mechanized Infanteri, bersiaplah, penugasan mu akan berlangsung selama 2 Minggu"


"Yes sir"


Kopral Jonathan, ia saat ini tak bisa membantah perintah itu sesaat setelah menerima surat konfirmasi perintah yang diberikan oleh Anderson padanya


Sedikit kesal, Jonathan berjalan kearah gudang persenjataan dimana ia mengambil perlengkapan yang ia butuhkan selama penugasan, daftar perlengkapan yang tercantum dalam catatan manual perlengkapan dan persenjataan.


Menurutnya hal ini sangat merepotkan sekaligus menyebalkan karena jika kau salah atau kurang dalam perawatan bahkan jika kau sampai-sampai menghilangkan perlengkapan yang ada di dalam catatan itu, bersiaplah untuk gajimu di potong sebanyak 80 persen selama 4 bulan penuh jika perlengkapan itu memiliki nilai harga di atas $50 ribu USD.


'Sialan, kenapa harus begini jadinya'


Pikir Jonathan ketika melihat daftar persenjataan hingga perlengkapan yang harus ia bawa ke misi ini.


Perlengkapan yang sangat menyusahkan adalah M203 Peluncur Granat yang biasanya di pasang di bawah barel senjata M4A3 untuk Grenadier sepertinya atau M16A4 untuk Rifleman.


'Walau tampak sangat keren di foto, nyatanya senjata yang dipasang dengan M203 sangatlah menyebalkan, menambahkan benda itu kau hanya menambah beban di senjatamu, belum lagi kalau dalam posisi tiarap, membidikkan senjatamu dengan benda itu terpasang dibawah barel senjata, hampir sangat mustahil kau bisa dapat posisi yang nyaman untuk menembak'


Celoteh Jonathan saat mulai memasang M203 di senjatanya, lalu ia pun mendapat satu benda lain yang sama menyusahkan dengan benda yang tadi.


Yaitu FGM-148 Javelin, benda yang memiliki nilai melebihi gajinya selama satu tahun penuh, saat ini harus ia bawa lagi ke are tempur.


Tak terbayangkan beban yang harus ia bawa ke badannya dalam misi ini, Jonathan kembali menghela nafas sambil menyusun setiap perlengkapan yang diberikan padanya oleh kru Inventori senjata.


Misi yang ia terima mencakup operasi pengawasan serta penjagaan perbatasan yang besar kemungkinannya akan terjadi kontak bersenjata, oleh karena itu tim diberikan dukungan kendaraan lapis baja Tank Abrams serta LAV-25 dan Bradley.


'Terlalu aneh mereka mengirimkan Abrams ke garis paling depan'


Pikir Jonathan ketika menatap ke kru Abrams yang mulai menyiapkan Tank itu.


Saat Jonathan selesai dengan persiapannya, ia berjalan keluar menuju titik temu dengan tim dimana ia akan berada di bawah pimpinan First Sergeant Oprah.


"Kopral Jonathan Crish, 0311, Rifleman, Infanteri Grenadier, Alpha Company, 1st Company Division, melapor bertugas"


Ucap Jonathan ke Sersan Satu Oprah yang mengangguk ketika semua regu telah berkumpul, total Marinir yang di kirim berjumlah 50 Infanteri serta 30 Combat Engineer yang bertanggung jawab atas 12 kendaraan lapis baja yang menjadi aset mereka di garis depan.


Jonathan sendiri ketika melihat kendaraan yang siap bergerak mulai menaikkan alis matanya,


'Bukankah mengirim 4 Abrams kesana sedikit terlalu, overkill?'


Pikirnya sambil melihat ke arah 4 LAV-25, 2 M2-Bradley, dan 2 Humvee.


Misi mereka terdengar sangat simpel namun jika ia pikir lagi, sangat mustahil misi ini hanya sekedar observasi semata, sangat jelas kalau Markas Utama Delta pasti memikirkan soal posibilitas kontak bersenjata skala besar


...****************...


Raja yang saat ini duduk di singgasana dengan seorang perempuan dengan rambut putih panjang tampak saling tukar pandangan.


"Jadi, apa kau pikir mereka adalah ancaman untuk kita?"


Tanya Raja dengan nada tenang ke perempuan itu yang merupakan seorang Ratu sah dari kerajaan Claudisse, Yang Mulia Ratu Solia Yunos de Vunois Claudisse, wanita itu tersenyum dengan tatapan yang sangat dingin ketika di tanyai seperti itu.


"Mereka sudah berpihak ke ratu iblis Rosella, dan mereka juga berhasil mengalahkan pasukan Putriku, sangat jelas kalau mereka ancaman nyata untuk kita"


"Hm.... Aku tak bisa mengabaikan fakta itu"


"Lalu, apa kau setuju dengan proposal yang ku ajukan, Raja Arthur?"


"....."


Raja terdiam sejenak sebelum ia menoleh ke Ratu Solia.


"Ku rasa kau benar, kita tak bisa berdiam begitu saja, kita harus segera menyingkirkan mereka, ini ku rasa bagian dari ramalan itu untuk kita"


"Fufu.... Kalau begitu saya nantikan persiapan pasukan anda"


"Kau juga"



Saat Solia keluar dari ruang singgasana, Arthur menatap ke langit-langit ruangan dimana sebuah lukisan besar tampak dengan sangat indah terukir di langit-langit.

__ADS_1


'Ramalan dimana sebuah kehadiran misterius yang akan merubah dunia, aku tak yakin kalau kami bahkan bisa sanggup melawan mereka'


Ia yang telah menyaksikan kemampuan manusia yang mengaku datang dari dunia dimana pahlawan itu datang, membuatnya sedikit penasaran apa yang akan terjadi di masa depan


__ADS_2