
Pusat Pertahanan Udara dan Angkasa Amerika Serikat/NORAD, Washington DC
Seorang pria dengan setelan hitam tampak berjalan kearah ruang pertemuan dimana seorang Jenderal Empat-Bintang dari angkatan udara Amerika Serikat dan Admiral dari Angkatan Laut 7th Fleet sedang menunggu kehadirannya.
'Ku harap Laksamana akan memikirkan kembali soal posibilitas ini'
Saat ia masuk ke ruangan pertemuan dimana beberapa perwira tampak duduk di meja bundar dimana mereka menunggu laporan darinya.
"Apa ada laporan terbaru tentang angkasa hari ini, Letnan?"
Admiral itu kemudian membaca laporan yang di serahkan pada mereka, di ruangan yang di penuhi dengan monitor beragam ukuran dimana setiap perwira yang ada di ruangan ini tampak sangat fokus dengan laptop di meja mereka masing-masing.
"Apa laporan ini sudah di verifikasi oleh Pentagon?"
"Sejauh ini Pentagon sudah meyakini mengenai hal ini, Admiral. Justru Pentagon menegaskan mengenai posibilitas terburuk yang akan terjadi di kawasan Ukraina dalam waktu dekat"
"....." Jenderal itu tetap diam membaca laporan mengenai perkembangan wilayah angkasa di Ukraina yang masih terbilang cukup pasif.
"Lalu apa situasi yang ada di sekitaran Kremlin? Apa koneksi kita memberikan kabar terbaru?"
"Untuk saat ini belum ada, Jenderal. informasi terbaru hanya mengenai posibilitas adanya serangan dadakan yang akan terjadi dari Belarusia ke wilayah Polandia"
"Kalau begitu, biarkan saja. Lagipula saya tak yakin kalau mereka akan berani melakukan tindakan bunuh diri seperti itu"
Jenderal kemudian meletakkan dokumen lalu mulai menatap ke layar monitor di dinding ruangan dimana grafik posisi dari satelit tampak akan melintasi kawasan Rusia dalam beberapa menit lagi.
'Kami beberapa kali hampir jatuh dalam perang dunia ketiga, beruntung itu cuma alarm palsu'
Pikir Jenderal sambil menatap ke laporan dari CIA soal situasi yang saat ini terjadi di Medan tempur Ukraina.
Dari layar laptopnya ia melihat perkembangan di angkasa sekitaran pesisir barat dimana lima objek tampak terlihat di radar.
'Hm?'
Ia kemudian mengambil telepon yang ada di mejanya dan mulai menghubungi pusat Pertahanan udara yang berada di Arizona.
"Apa kalian melihat apa yang aku lihat?"
["Affirm, kami mengkonfirmasi di radar objek tersebut"]
"Konfirmasikan ke Pentagon soal temuan kalian, tetap awasi dan berikan perkembangan itu"
["Dimengerti pak"]
Saluran telepon pun berakhir, Jenderal sekali lagi mengawasi objek yang berada di sekitar 76 kilometer dari pesisir New York, berada di ketinggian sekitar 3 ribu kaki di atas permukaan laut, bergerak cukup lambat.
'Benda apa itu?'
Pikirnya saat mengawasi update terbaru dari tim investigasi.
Sementara itu di Pentagon,
Jenderal dari kesatuan Marinir tampak membaca laporan soal korban jiwa dari marinir serta adanya beberapa pertanyaan dari Media mengenai kenapa ada korban di pihak marinir.
'Ini sangat merepotkan'
Pikirnya saat membaca laporan dimana alasan yang bisa ia pikirkan adalah penyakit, mengingat kondisi Marinir yang meninggal sama sekali tidak ditemukan adanya luka apapun membuat alasan ke media mungkin akan sedikit mudah, atau setidaknya itu yang ia pikirkan.
'Lagian, setelah insiden itu aku tak yakin akan membiarkan Markas begitu saja tanpa adanya dukungan aset laut adalah pilihan yang benar'
Ia mulai membaca beberapa aset yang ada di laporan di mejanya dimana beberapa aset laut yang Marinir saat ini bisa kirimkan tanpa menimbulkan kecurigaan apapun, hanyalah USS Amerika/LHA-6/Landing Amphibious Assault Ship/Landing Helicopter Carrier Assault Ship.
Mengingat saat ini USS Amerika berada di kawasan Pasifik, mungkin mengirim satu kapal itu ke dunia tanpa tahu soal teknologi rudal anti-kapal sangatlah masuk akal.
'Ku harap aku melakukan hal yang benar'
Ia kemudian membuat pengajuan pengiriman aset USS Amerika LHA-6 ke Pentagon untuk di ulas dan berharap mereka akan memberikan persetujuan, jika mereka memberikan persetujuan maka semua masalah akan sedikit mudah di atasi.
Di lain tempat, Kerajaan Kota Manusia dunia asing.
Tampak Raja Arthur bersama dengan Ratu Solia yang tengah bersiap di area luar kerajaan bersama dengan ribuan tentara yang gabungan dari dua kerajaan tampak tengah bersiap.
"Apa anda yakin soal ini, Solia?"
"Fufu.... Apa anda mulai ragu soal apa yang ku ajukan padamu, Yang Mulia Arthur?"
"Tidak, hanya saja saya tidak habis pikir anda akan bertindak sejauh ini"
"Fufu..... Mereka seharusnya tidak ada disini, dan itu sudah menjadi kewajiban kita melindungi dunia"
Arthur dalam diam menatap ke Solia yang tampak tertawa namun ekspresinya justru tampak sangat gelap seakan sangat menantikan apa yang akan mereka lakukan.
'Memang benar kalau manusia dunia lain itu memiliki kekuatan yang melebihi kami makhluk fana bisa imbangi, namun dengan jumlah kekuatan militer yang melebihi dari 200 ribu pasukan gabungan bersama dengan tiga keturunan pahlawan di sisi kami, aku ragu mereka bahkan bisa menandingi kami'
Aliansi ini adalah aliansi terbesar yang pernah di bentuk oleh dua kerajaan, dan apa yang Arthur sedikit takutkan tampak akan menjadi kenyataan dalam waktu dekat ini dimana saat sebuah portal tampak terbentuk di depan mereka.
...****************...
2nd Company, 5th Mechanized Infanteri, 56 Kilometer dari pusat kota Wilayah Administratif Rosella de Voir Junois.
'Hah.......'
Aku menghela nafas yang entah ke berapa kali ketika menatap langit biru yang sangat cerah ini.
Tim kami yang dikirim oleh FOB Keating ke kawasan yang tak ku tahu dimana ini membuatku sedikit mengeluh soal kenapa harus aku lagi yang di kirim bersama tim yang tampak siap berperang kapanpun itu.
'Lagian kenapa Markas berpikiran kalau mengirim aset darat kelas berat adalah hal yang bagus?'
Yah, mengirim LAV-25 saja sudah overkill menurutku, konon lagi mengirim aset seperti Tank Abrams.
("Tetap waspada, posibilitas kontak 2 kilometer di depan")
Peringat ketua pleton saat kami melintasi kawasan padang rumput ini.
"Kopral, coba lihat di arah jam 12 mu"
Ucap seorang Lance Corporal yang duduk di kursi belakang sambil memberikan teropongnya padaku.
Saat aku mulai melihat kearah dimana ia menunjukkan jarinya, di kejauhan aku melihat setidaknya ada lima gerobak yang di tarik oleh kuda tampak berhenti di pinggir jalanan ini.
("Semua unit, siaga, kita sudah di sektor Bravo, semuanya tetap jaga keadaan, kita akan berhadapan dengan mereka")
Instruksi Sersan Satu Oprah pada unit, saat itu juga Humvee yang aku naiki yang berada di posisi paling depan mulai menurunkan kecepatan membiarkan kami punya sedikit waktu untuk mengamati mereka.
'Oh?'
Mobil kami mulai berhenti di jarak sekitar 100 meter dari mereka yang tampak mulai waspada pada kami.
'Dari penampilan mereka, aku yakin mereka adalah pedagang'
Gerobak mereka yang tampak memiliki ukuran yang cukup besar membuatku langsung berasumsi kalau mereka adalah pedagang keliling.
Saat Sersan Oprah keluar dari Humvee kedua, ia bersama dua marinir yang mengawalnya mulai mendekati mereka yang tampak semakin waspada dengan kehadiran kami.
'Siapa yang tak curiga melihat konvoi militer dengan Tank sebagai senjata utama ada disini'
Pikirku sambil mengawasi situasi.
Sersan satu Oprah kemudian tampak mengajak mereka berbicara.
Aku dan dua Marinir yang ada di Humvee tetap diam mengawasi sekitar kami.
"Tampaknya mereka sedikit waspada dengan kita"
Ucapku saat melihat reaksi dari dua manusia itu, sekilas gerobak yang mereka miliki tak lain dari sekedar gerobak biasa tanpa pernak-pernik aneh khas bangsawan dunia ini yang sedikit nyentrik untuk dilihat langsung.
("Semuanya, tetap siaga, mereka melaporkan kalau adanya sekumpulan perampok di jalanan ini yang bisa saja menyerang")
Laporan dari Sersan Oprah mulai masuk ke radio, aku langsung mengawasi sekitar, tiga dari empat Tank juga mulai terlihat siaga satu dimana mereka mengawasi melalui detektor inframerah di dalam turet, di area ini.
Saat Sersan kembali ke tim, kami pun mulai melanjutkan perjalanan dengan menjaga kecepatan konstan di 15 mil/jam
"Dunia lain memang luar biasa, bukan begitu Kopral?"
Driver Humvee mulai berceloteh tentang dunia ini, wajar jika dia berkomentar begitu karena aku juga berkomentar hal yang sama saat aku pertama kali di tugaskan bersama Alpha Company.
"Begitulah"
Jawabku sambil menatap ke peta yang ada di tanganku, kami bergerak selama 30 menit dari lokasi tadi kami berhenti.
("Sesuatu terlihat, Jarak 1.7 Kilometer, berada di area pepohonan, kemungkinan mereka adalah kontak bersenjata yang tadi di laporkan")
Ucap Komander Tank Abrams nama sandi 1-1 Tow Truck.
Sersan Oprah yang berada di Humvee kedua mulai menginstruksikan kami untuk berhenti, dengan teropong yang ada di mobil, aku mulai melihat ke area yang di maksud demi mendapatkan visual yang lebih jelas.
Kendaraan kami pun berhenti sesaat setelah laporan itu datang.
"Apa menurutmu mereka sedang melakukan sesuatu yang aku benci, Kopral?"
Ucap Driver Humvee ketika kami berdua menatap ke kerumunan manusia bersenjatakan pedang yang tampak tak mengetahui kami disini karena mereka sedang "sibuk" dengan hal lain.
Alasan aku tak mau berkomentar karena kami berdua atau setidaknya kami semua sangat tahu apa yang sedang mereka lakukan kepada tiga perempuan yang di kepung oleh mereka, disana aku setidaknya bisa mengkonfirmasi adanya 6 tubuh terbaring di tanah dengan kondisi mengenaskan serta gerobak yang telah hancur
("Disini Lead, kalian semua tetap waspada, Tow Truck, pimpin tiga Abrams untuk membentuk formasi, jangan biarkan ada satu orangpun yang bisa mengepung kita dari belakang")
Instruksi Oprah pada Tank yang langsung di jawab dengan empat Tank membentuk formasi dimana dua Tank Abrams berada di garis paling depan dari kami dan dua lagi tetap berada di belakang menjaga regu kami.
("Unit, bentuk perimeter, semuanya bersiap menyerang jika aku beri perintah")
Kami semua langsung keluar dari Humvee dan IFV membentuk formasi siap menembak.
Sersan Oprah tetap mengawasi dari kejauhan dimana ia tak berkomentar apapun selain diam mengawasi dari balik teropongnya.
Aku sendiri sangat siap menarik pelatuk M4 milikku kearah para bajingan itu yang sepertinya sangat menyukai aksi mereka.
("Command, disini 2nd Company, tolong jawab")
["Disini Command, laporkan"]
("Kami melihat adanya potensi konflik di depan sekitar 1.9 Kilometer, grup manusia tampaknya tengah melakukan hal tak terduga kepada warga sipil, meminta perintah")
["Copy, apa kalian di serang?"]
("Tidak, belum")
__ADS_1
["2-1, copy, kalian tidak diperbolehkan untuk terlibat, tetap awasi dan jangan lakukan apapun, out"]
"Copy"
Melihat ekspresi dari Sersan Oprah, aku langsung menebak apa respon dari atasan mengenai situasi ini.
"Semuanya, tetap siaga. Jangan lakukan apapun"
"...."
Kami terdiam tak menjawab respon dari Oprah ketika ia berkata seperti itu seakan mengabaikan kalau tepat di depan kami, sangat jelas ada warga sipil yang tengah di perkosa di depan mata kami.
"Pak, anda tak mungkin bisa memerintahkan kami untuk tetap diam, kan?"
salah satu Marinir tampak berkata apa yang aku pikirkan saat ini.
"Tetap jaga emosimu Marinir, kita punya perintah untuk di ikuti"
"...... Understood"
Kami tetap diam mengawasi mereka yang melakukan tindakan itu kepada tiga wanita malang itu.
Aku sangat ingin menarik pelatuk saat ini juga namun aku tahu kalau senjataku mana mungkin bisa mencapai ke lokasi itu.
...****************...
Malam itu, para perampok tampak berpesta di antara api unggun dekat dengan gua, mereka tampak sangat menikmati hasil buruan mereka.
"hick....hick...."
Salah seorang perempuan tampak menangis dengan memar di sekujur tubuhnya, dua wanita lain tampak masih tak sadarkan diri setelah di perlakukan secara keji oleh mereka.
'...kenapa begini jadinya...'
Ia menangis ketika menatap dengan kosong ke langit-langit gua yang gelap ini.
'Kupikir aku akan hidup berbeda kalau di dunia ini ... tapi kenapa '
Ia terisak ketika seluruh tubuhnya terasa ternodai oleh puluhan manusia biadap itu.
Di tengah heningnya gua, ia sedikit mengingat kembali hidupnya yang sebelum berada di sini, hidup dimana ia pikir sangat membosankan akan jauh lebih menyenangkan jika ia hidup di dunia seperti ini.
Namun realita terkadang jauh lebih pahit ketimbang cerita yang pernah ia dengar.
"Eek!"
"Hehe.... kami akan bersenang-senang"
Tiga manusia itu tampak masuk ke gua, ia menjerit ketakutan ketika melihat ekspresi menyeramkan dari mereka.
Tak perlu dijelaskan apa yang terjadi padanya sesaat setelah mereka mendekati tiga perempuan yang terbaring tak berdaya disini, hanyalah teriakan keputusasaan yang mampu menjelaskan situasinya.
...****************...
Pagi itu, kami kembali di perintahkan untuk melanjutkan perjalanan, setelah melakukan inspeksi terhadap Tank, LAV-25 dan Bradley, Tim kami kembali bergerak.
"Ugh.... ku rasa aku bakalan muntah"
Ucap Driver ketika kami melewati bekas dari penjarahan yang di lakukan para perampok itu. Jenazah korban dengan kondisi mengenaskan ditambah kondisi seorang wanita yang terbaring tak bernyawa di tanah yang sebentar lagi akan membusuk berhasil menyengat hidung kami.
"Hentikan kendaraan"
Perintah Sersan Oprah pada tim, semua kendaraan langsung terhenti dan sesuai instruksinya kami melihat sekitar.
"Marinir, segera makamkan mereka, aku tahu kalian akan sangat membenci ku karena membiarkan mereka, tapi ingat, kita punya tugas lain"
Perintah Oprah pada kami yang memiliki ekspresi rumit di wajah kami.
Prosesi pemakaman jenazah sedikit memakan waktu, setidaknya dengan Abrams yang melindungi kami, aku bisa sedikit tenang dari posibilitas sergapan musuh.
"Maafkan kami"
Ucapku pada makam itu, tim kami kembali bergerak sesaat setelah proses pembersihan jalanan selesai serta combat medic di tim juga telah selesai mengambil dokumentasi korban serta kronologi lengkap yang terjadi.
"Kopral, menurutku kita seharusnya melakukan sesuatu pada bajingan itu"
"Dan kau ingin berurusan di pengadilan militer soal kenapa membangkang akan perintah?"
"....."
"Dengar, aku tahu apa yang kalian pikirkan, tapi apa yang dikatakan sersan ada benarnya, kita tak bisa berbuat sesuka hati"
Ucapku pada Marinir yang ada di mobil, aku sangat tahu kalau apa yang kami lakukan sangatlah salah, namun dengan bertindak sembrono juga akan meresikokan seluruh tim dalam bahaya.
Perjalanan kami mencari jejak peradaban di wilayah ini kembali berlanjut, tepat saat dua jam kami bergerak, kami sedikit menurunkan kecepatan ketika sesuatu di kejauhan tampak menarik perhatian kami.
("Tetap waspada boy's")
Humvee kami berada di barisan paling depan dimana kami akan menjadi yang pertama akan berhadapan dengan kerumunan di depan sana.
'Kurasa mereka tak berniat bagus pada kami'
Pikirku ketika melihat mereka dengan gerobak yang ditutupi oleh tirai tampak bergerak menuju posisi kami.
"Bentuk formasi tempur"
Ucap sersan Oprah ketika kami di jarak 1 kilometer dari mereka dan tampaknya mereka ingin melakukan sesuatu.
Tiga Tank langsung berpencar dengan meriam siap mereka tembakan kearah mereka.
Aku dan marinir yang ada di Humvee juga mulai menyiapkan senjata kami ketika para manusia itu tampak mulai menunjukkan niatan asli mereka.
...****************...
"....."
'Aku mau pulang'
Ia terus mengulang kalimat itu di dalam kepalanya.
Ia bersama tiga lainnya di bawa oleh para perampok itu menuju pasar budak dimana nasib mereka tidak ada yang tahu.
Setelah di permainkan selama satu malam oleh para bajingan itu, mereka bertiga sepenuhnya merasa sangat hina tanpa ada sehelai pakaian apapun menutupi tubuhnya
'Aku mau mati'
Ucapnya lagi dengan air mata sudah mengering dari wajahnya, ia sudah lelah menangis dan berteriak, satu-satunya harapannya adalah berdoa akan keajaiban.
'?'
Saat ia merasa kalau gerobak ini berhenti, ia hanya bisa berpikiran kalau siapapun itu yang para perampok ini targetkan, semoga di beri ampunan oleh mereka.
("Kami hanya ingin mencari tahu soal jalan disini, apa kalian tak keberatan?")
Percakapan? Sangat mustahil para perampok ini mau berbicara
Pikirnya saat mendengarkan pembicaraan mereka.
("Kalau begitu kami permisi")
Percakapan selesai lalu ia merasakan kalau gerobak kembali bergerak, namun sesuatu di dalam dirinya mengatakan kalau ini adalah kesempatan untuknya bisa lari.
Dua perempuan yang tampaknya mengetahui apa yang ia ingin lakukan, hanya bisa diam tak berani berbicara apapun.
'Aku harus kabur!'
Ia menguatkan keberaniannya, dengan langkah gontai, ia melompat keluar dari gerobak.
"Ha!? Ada yang kabur!"
Teriak perampok itu ketika melihat ia keluar dari gerobak.
"T..tidak"
Dengan sisa tenaga yang ada ia berlari dari mereka yang mulai mengejarnya.
'Tolong aku! Aku tak mau mati'
Tangisnya sambil berlari sekencang mungkin.
'Argh! Sakit!'
Ia menjerit dalam kepalanya ketika sebuah tebasan mengenai kakinya, kakinya langsung terpotong saat itu juga ketika bilah pedang berhasil terayun dari tangan perampok itu.
"T..tolong"
Ia mendesah dalam kesakitan ketika darah mulai keluar deras dari sebelah kakinya yang terpotong itu.
"Ah, ini sudah barang cacat"
Hina salah satu perampok ketika melihatnya yang terkapar di tanah dengan darah masih mengalir deras dari kakinya. Ia masih menjerit kesakitan namun para perampok itu malah tertawa dan menghinanya.
"Ah... Dasar tak berguna"
'T..tidak... jangan bunuh aku'
Ia merinding ngeri ketika bilah pedang mulai tampak akan memotong lehernya.
"Kumohon, j.. jangan... ak..aku mohon"
"Ha? Apa yang kau katakan, budak"
"Tuan... aku mohon, jangan bunuh aku"
Ia terus memohon pada mereka dengan air mata yang membanjiri wajahnya.
"Sampai jumpa di neraka, wanita ******"
"Hiyaa!"
Ia menjerit ketika pedang itu akan membelahnya, namun sesuatu bagaikan guntur petir amat keras menggema di telinga mereka semua yang ada disini.
"......."
Keheningan mulai menyelimuti sekitar.
__ADS_1
"Ha?"
Perampok yang tadi akan membunuhnya tampak terbodoh, namun hal yang tak ia sangka tercipta di kepala perampok itu.
Sebuah lubang yang kecil tercipta di kepalanya lalu ia terbaring kaku tepat di depan matanya.
'Eh? ......'
Ia sendiri tak mengerti apa yang terjadi, begitu juga dengan para perampok berjumlah puluhan yang ada disini.
"Open Fire!"
Sebuah bahasa yang amat ia kenali mulai terdengar lalu tak lama rentetan suara petir kembali menggema.
Satu-persatu para perampok terbunuh dengan cara sangat cepat seakan mereka.....
'Mungkinkah!?'
Ia yang masih membelak tak percaya mulai menoleh kearah belakang dimana sumber suara itu datang.
Dari apa yang ia lihat, adalah sesuatu yang tak ia sangka.
'm....mereka....'
Ia mulai menangis keras ketika melihat manusia berbaju aneh itu, mereka tampak seperti manusia biasa namun ia sangat tahu siapa mereka.
"Medic! Medic!"
...****************...
Lima menit sebelumnya
("Tim pertahankan status siaga, biarkan mereka lewat")
Perintah Oprah melalui radio dimana mereka yang berjumlah 30 orang itu tampak tak berniat menyerang mereka.
Melalui turet .50 di atas Humvee, Jonathan tetap mengawasi sekitar dimana ia sedikit curiga dengan isi gerobak itu.
Hingga tebakannya pun terbukti benar.
"Semuanya siaga!"
Seorang perempuan tampak keluar dari gerobak dengan kondisi tanpa busana, tubuh di penuhi memar dan bekas pemerkosaan paksa terlihat di sekujur tubuhnya.
Oprah langsung memerintahkan semua unit menyiagakan senjata, Tank dan LAV diikuti Bradley mulai membidikkan meriam mereka ke arah para bandit itu.
"Aargh!!"
Di depan mata marinir, perampok itu memotong kaki wanita itu tanpa belas kasihan mereka tampak akan membunuhnya.
Kesabaran Oprah mulai menipis melihat ini, para Marinir yang haus akan hasrat membunuh para bajingan ini, di lampiaskan dengan kalimat sederhana dari Oprah.
"Kalian lihat mereka?"
"Yes sir"
Jawab semua marinir secara serentak.
"Buat mereka lenyap"
"Affirm"
"OPEN FIRE!"
Semuanya langsung melepaskan tembakan kearah para perampok itu tanpa peduli akan kemungkinan mereka bisa hidup atau tidak.
Yang semua marinir tahu, mereka adalah bajingan yang tak layak hidup.
"Medic! Medic!"
Perintah Oprah ketika perempuan itu tampak menangis ketika menatap kearah mereka.
Jonathan yang telah melepaskan tembakan melalui turet Humvee kembali mengawasi sekitarnya ketika semua ancaman telah musnah.
Tim medis dengan cepat merawat luka dari bekas tebasan pedang bajingan itu. Sayangnya kaki kiri perempuan itu tak mungkin bisa di sambung kembali karena sudah sepenuhnya terpotong dari kakinya.
Tim medis yang merawat lukanya berusaha melakukan penghentian pendarahan, sementara tim marinir mulai mengecek setiap tubuh yang ada disini.
"Sersan, kau harus lihat ini"
Salah satu Marinir yang barusan dari dalam gerobak mulai mengajak Oprah masuk kedalam, di dalam Oprah mengutuk keputusan yang ia lakukan kemarin dimana memilih membiarkan bajingan ini hidup.
Disana, dua wanita masih di bawah umur tampak memiliki kondisi yang sama dengan gadis yang ada di luar.
Tanpa busana, luka memar, bekas pemerkosaan dan banyak hal lain.
Tim dengan cepat melakukan evakuasi mereka serta memberikan pertolongan pertama seperti disinfektan ke area luka maupun memar hingga area vital yang ada di antara kaki dimana mereka yakin kalau gadis ini pasti terjangkit HIV akibat perlakukan biadap mereka.
Jonathan mulai turun dari Humvee sambil berjalan melihat kondisi gadis yang kaki kirinya terpotong itu.
Gadis itu tampak masih sadar dan masih tak mau berhenti menangis terisak, berusaha memeluk se-erat mungkin ke marinir yang tengah merawat lukanya.
"Man, ini sangat menyayat jiwaku"
Komentar Jonathan ketika melihat hal ini, tak lama marinir mulai mengevakuasi dua gadis dari dalam gerobak yang memiliki kondisi sama seperti gadis ini.
'Tampaknya perbudakan dunia ini jauh lebih parah dari dunia kami'
Pikirnya saat melihat bagaimana tim medis berusaha membersihkan dan netralisir sisa-sisa yang ada di dalam rahim keduanya.
'aku bisa kena PTSD kalau ini terus aku alami'
Marinir yang tengah mengecek setiap tubuh para bandit ini tampak mulai menginjakkan kakinya ke tubuh kaku itu seakan mereka melampiaskan kemarahan ke tubuh yang tak bernyawa itu.
"hick....hick.... terima kasih.... terima kasih!"
Gadis yang kaki kirinya terpotong itu terus menangis di dalam dekapan marinir yang masih fokus merawatnya.
"Jangan takut, kami akan merawatmu"
"Hick...hick..... kumohon.... kumohon, bawa aku pulang"
"Jangan cemas, dimana rumahmu? Apa di kerajaan dekat sini?"
Gadis yang terisak itu berusaha mengendalikan nafasnya, namun ia yang menangis semakin kesulitan mengeluarkan kata-kata
Ia hanya menggelengkan kepalanya pada marinir yang ia peluk cukup erat.
"T...tidak... aku... aku mau pulang...."
"Shu...Shu... jangan takut, tenangkan dirimu, dimana rumahmu, kami akan membawamu ke tempat yang aman"
Gadis itu masih tak bisa mengendalikan bicaranya, Marinir yang mati-matian merawatnya berusaha untuk tetap tenang menjaga amarah mereka yang meledak-ledak akan kondisi anak ini
"rumahku.... rumahku di Shinjuku"
"Shinjuku? Apa itu semacam nama kota di kerajaan tak jauh darisini?"
("いいえ、私は日本から来ました!連れて帰ってください!お願いします、ミスター!")
No, I'm from Japan! Please take me home! Please
Ketika Jonathan mendengar bahasa yang sedikit familiar itu, alis matanya sedikit terangkat, seakan ia salah dengar.
'Bahasa itu? Bukankah itu bahasa..... Jepang?
Marinir yang tak menyadari bahasa itu, menganggap kalau gadis ini berbicara dengan bahasa lokal daerah lain namun untuk Jonathan yang menangkap bahasa itu, langsung berlari kearahnya dengan sedikit kaget.
"Tunggu, apa yang kau lakukan Kopral!"
Bentak Sersan Oprah padanya, namun Jonathan langsung menatap ke gadis itu dengan tatapan serius.
"Do you understand me?"
Jonathan yang langsung menggunakan bahasa Inggris, mulai mendapat tatapan heran dari seluruh tim termaksud Oprah, namun jawaban dari gadis itu berhasil membuat tim tersentak kaget.
"Y..Yes, I understand, Mister"
("The f(..)CK!?")
"What the hell!?"
Oprah langsung berlari ke gadis yang ada di dekapan marinir itu, dan mulai menatapnya dengan tatapan tak percaya sekaligus panik di wajahnya.
'Kumohon, biarkan ini cuma sekedar mimpi'
Pikir Oprah saat ia berjongkok tepat di sebelah Jonathan dengan wajah panik ia menatap ke gadis itu yang masih di banjiri air mata.
"Let me ask you, are you from Earth? If so, tell me where do you live, what is your name, and your original place, describe it in detail"
Gadis itu menatap ke Oprah dengan tatapan penuh harapan, ia mulai berbicara dengan bahasa separuh Inggris dan Jepang
("I am from Japan, nama saya, Himura Hanayama dari kota Shinjuku. Aku lahir tanggal 27 Maret 2003....")
Ia menceritakan lengkap tentang dirinya yang sangat jelas membuat seluruh tim jatuh dalam diam
"........"
Tak ada satupun yang berani berbicara, namun ekspresi mereka sangat jelas menyatakan kalau situasi ini membuat tim tak bisa berkata-kata selain kebingungan dengan situasi ini.
"Sersan"
Medic yang merawat gadis yang masih memeluknya itu, mulai menunggu jawaban dari Oprah.
Oprah sendiri ketika melihat seluruh tim yang semakin meledak-ledak dalam amukan, mulai memahami satu hal.
"Kemungkinan besar ada lagi yang bernasib seperti gadis ini, semuanya, bersiap. Kita akan mencari para bajingan ini"
"Yes sir!"
Gadis bernama Himura Hanayama dengan cepat di bawa ke Humvee bersama dengan dua gadis yang tampaknya adalah penduduk asli dunia ini.
Apa yang akan di jelaskan oleh Himura Hanayama jelas akan menjadi sebuah informasi penting akan apa yang tim akan lakukan selanjutnya.
...****************...
__ADS_1