
{[{[Disclaimer: Perhatian pembaca di sarankan}]}
Saya sebelumnya tidak atau berusaha semampu mungkin untuk tidak mempropagandakan perang yang tengah terjadi di dunia nyata dengan karya fiksi saya, saya sebelumnya meminta maaf jika ada yang merasa sedikit tersinggung mengenai chapter sebelumnya. Saya murni mengambil konflik yang tengah terjadi sebagai bahan referensi dan bukan sebagai bahan untuk saling berdebat. Terima kasih atas waktunya
************
Bakhmut, Ukraine.
Pertempuran Bakhmut, pertempuran paling berdarah dan paling menelan korban jiwa sepanjang perang modern di abad ke-21 ini.
banyak yang bilang itu disebut sebagai 'kenangan dari perang dunia I' ada juga yang bilang sebagai 'meat grinder' dimana setiap harinya selalu ada korban jiwa dari kedua belah pihak.
kota yang dulu indah sekarang telah menjadi puing-puing akibat artileri yang mendarat disini setiap harinya.
"FUUUCK!!!"
Bentak pria Jepang yang menjadi bagian 1st International Foreign Legion of Ukraine ketika ia hampir terhempas oleh artileri dari pasukan Rusia.
"Sialan! Itu tadi nyaris saja membunuhku!"
Ia mengumpat ketika bangunan tempat ia berlindung telah rata di telan artileri dan ajaibnya ia masih bisa selamat dari reruntuhan bangunan ini.
"2-5, jaga area timur! Meraka datang lagi!!"
Bentaknya pada orang Amerika yang ikut menjadi bagian dari legiun ini.
Satu skuad yang tersisa dari lima skuad yang di terjunkan ke garis terdepan berusaha menahan posisi mereka mempertahankan garis terakhir ini.
"Mati kalian!!"
Jeritnya saat menembakkan AK-12 kearah para Wagner yang tampak tak memperdulikan nyawa mereka, mereka berlari keluar dari parit-parit pertahanan mereka berusaha memaksa maju ke garis pertahan mereka yang tampak terpojok ini.
"Hah...hah....hah....."
Ia kehabisan nafas ketika mengelak peluru yang nyaris menembus kepalanya.
Saat ia berdiri ia melihat puluhan manusia tampak berusaha memaksa maju kearahnya yang dengan cepat ia tembakkan semua peluru yang ada di magasin senjatanya.
"SEMUANYA PERTAHANKAN POSISI KALIAN!!"
Bentak kepala skuad yang ada di sebrang puing-puing bangunan dimana ia tampak masih menembaki mereka.
"Artileri!!!!!"
Jeritnya pada semua skuad ketika suara munisi artileri akan mendarat ke posisi mereka, ia dengan cepat berlindung di puing-puing, saat itu juga posisi mereka di jatuhi 7 munisi artileri yang meratakan semua bangunan yang ada.
Telinganya untuk sesaat serasa berdengung keras, pandangannya mulai memburam, di matanya ia melihat dunia yang seakan memutih.
'aku tak akan mati disini!'
Ia dengan cepat berusaha bangkit dan meraih senjatanya .
"Fuxk you!"
Teriaknya pada mereka yang berusaha menembaki posisinya, saat ia menembaki mereka, satu-persatu target berjatuhan, nyawa di tempat ini seakan tidak ada harganya sama sekali dimana pertempuran jarak dekat hingga saling adu bayonet nyaris sering terjadi.
"Dieee!!!!"
Ia berlari dan menembak secara bersamaan berusaha mencari perlindungan dari hujan peluru kearahnya.
["Kepada semua unit, bantuan datang, 2 BTR dan 1 T-72 datang dari barat kalian"]
("Copy! Kami hampir terkepung!")
["Solid copy!"]
Dari arah baratnya, tampak tiga kendaraan lapis baja datang, tak butuh lama untuk Tank itu melepaskan meriam utamanya kearah para Wagner yang hampir mengambil alih sisa dari kota Bakhmut ini.
Pria bernama Satoshi, nama kode "Sar" mulai menatap ke kepala skuad sambil berkomunikasi dengan radio.
"Pak! Bajingan itu mulai mundur ke arah parit pertahanan!"
("Jangan biarkan mereka lari!")
Ia mulai berlari sambil menembakkan senjatanya kearah bebatuan dimana Tank T-72 mulai menembakkan senjata mesin otomatis sebagai perlindungan padanya.
"Granat!!"
Ia melempar granat kearah mereka, ledakan pun menyusul dimana ia tak bisa melihat cukup jelas tentang kondisi musuhnya namun ia yakin kalau setidaknya ia menghabisi tiga orang di parit itu.
"Tank, awas RPG dari arah jam 11 kalian!"
Teriaknya pada Komander Tank melalui radio ketika ia melihat seorang dengan anti-tank tampak siap di tembakkan kearah tank itu.
Tank tersebut nyaris saja terkena ATGM yang untungnya melesat beberapa sentimeter dari turet tank.
Pria bernama Satoshi mulai berlari kearah lain dimana ia berusaha menjumpai dengan sisa pasukan 2nd Infanteri Ukraina yang berkumpul memulai serangan bertahan berusaha membuat kota ini tidak jatuh ke tangan para Wagner.
Tak jauh dari posisinya tampak regu kedua dari Armored Batalion bersama dengan Mechanized Infanteri juga tiba di kota yang porak-poranda ini.
"Kalian datang tepat waktu! Mereka hampir mengepung 1st unit disana!"
"Yes sir!"
Pasukan bala bantuan Ukraina yang tiba langsung mendekat kearah pasukan Legion asing yang tengah berjuang mati-matian di garis terakhir kota ini
["Kepada unit, kami melihat adanya ribuan manusia tampak tengah.... Pesta kostum? Mereka entah darimana datang, kepada unit yang ada di area untuk segera mengevakuasi mereka"]
__ADS_1
("Disini Reaper, kami mendekati area tersebut bersama dengan 77th")
Area pinggiran kota Bakhmut yang masih tak reda di hujani artileri menjadi pemandangan yang terlalu biasa untuk mereka yang berada di garis depan.
Dengan kondisi tanah yang berlumpur di tengah-tengah musim dingin memperburuk situasi untuk medan untuk kendaraan berbasiskan roda rantai seperti Tank.
Namun di tengah kekacauan yang terjadi, sesuatu tampak tak menduga akan hal ini.
Sesuatu itu adalah pasukan ratu Solia yang baru saja tiba di dunia ini.
Pasukannya yang bersama dengan seribu tentara yang entah bagaimana bisa terpisah dengan pasukan Raja Arthur, tampak kebingungan di lahan yang porak-poranda ini
'dimana kami?'
Pikirnya saat melihat kota yang hancur ini, lalu ledakan pun tercipta tak jauh dari posisi mereka, ledakan amat dahsyat dari Artileri membuat pasukannya tampak sedikit panik
"Ratu! Kita diserang entah darimana!"
Lapor salah satu kesatria ketika melihat dampak dari bekas artileri jarak jauh itu.
"Pertahankan formasi!"
Perintahnya pada pasukannya, apa yang ia lihat di kota ini adalah pasukan aneh dengan seragam aneh tampak berjalan kearah lain seakan mengabaikan mereka.
'mereka tak memperdulikan kami?'
"Ratu, kenapa tak ada yang menyerang kita?"
Tanya salah satu kesatria yang sama kebingungannya dengan dia, ia mengira saat mereka tiba disini, mereka akan di sambut ribuan tentara dunia lain yang akan menyerang mereka.
'sepertinya mereka sedang berperang, tapi senjata yang mereka gunakan.....'
Ia tak mengerti sama sekali dengan apa yang mereka pegang.
"Musuh!"
Teriak salah satu kesatria ketika melihat tiga BTR dengan Infanteri tampak duduk di atas BTR menuju ke kota.
"Benda besi apa itu?"
Solia tak tahu apapun soal benda yang tampak bergerak kearah mereka, dengan sigap ia memerintahkan pasukannya untuk bersiap menyerang namun hal yang tak ia duga justru membuatnya semakin kebingungan.
"Ти хочеш померти!? Рухайся, ідіот!" (UA: Apa kalian cari mati! Menyingkir bodoh!)
Tiga BTR itu melewati mereka seakan tak memperdulikan mereka yang menghunuskan pedangnya kearah tentara yang sibuk dengan hal lain.
'apa yang sebenarnya terjadi disini?'
Solia masih tak mengerti apa yang barusan terjadi, ia tak henti-hentinya berpikir benda apa yang barusan ia lihat.
Tak lama seorang pria dengan seragam aneh tampak berlari kearah mereka dengan kondisi wajah amat kotor.
Ucap pria bernama Satoshi pada kerumunan manusia yang tampak membawa pedang siap di hunuskan kearahnya.
"Apa yang kau katakan, manusia, dimana ini?"
Balas Solia dengan bahasanya namun Satoshi yang tak mengerti apa yang Solia katakan hanya bisa berteriak pada mereka ketika ia mendengar sesuatu.
("Everybody Get DOWN!!")
Artileri menggema akan mendarat ke posisi mereka.
"Ha?"
Tak lama Solia bersama dengan prajuritnya di kejutkan dengan ledakan yang menghantam mereka, lima dari sepuluh munisi daya ledak tinggi (High Explosive Airburst/munisi yang meledak tepat beberapa meter di udara) dari Howitzer mendarat menelan siapapun kedalam ledakan, Solia, Satoshi bersama dengan siapapun yang ada disana di telan ke ledakan besar.
"......"
Gema berdering keras di telinganya, Satoshi merasa tubuhnya amat berat, butuh waktu untuk kedua matanya bisa menyesuaikan apa yang ia lihat.
"Whoa! **** off"
Ia tersentak ketika sebuah kepala ada di wajahnya, darah yang berserakan pun terlihat di seluruh tubuh Satoshi, saat ia melihat ke sekelilingnya, sebuah pemandangan mengerikan dimana beragam tubuh bergeletakan dengan kondisi sangat mengenaskan.
"****!"
Ia mengumpat keras ketika melihat beberapa manusia itu tampak kebingungan dan ada yang menghunuskan pedangnya kearah entah mana.
"Bodoh! Cepat berlindung!!"
Teriaknya pada orang itu namun ledakan kembali tercipta dan menelan manusia itu kedalam api yang membara akibat dari munisi thermobaric.
"!!"
Ia berusaha berdiri dengan kedua kakinya dan berlari kearah perempuan dengan zirah besi yang tampak shock akan apa yang ia lihat
"Jangan melamun bodoh! Kita harus berlindung!"
Satoshi dengan cepat menarik wanita itu dengan kedua tangannya, membawanya ke gendongan menuju ke bangunan berusaha menyingkir dari zona kematian ini.
"Kyah"
Pekik kecilnya saat ia di bawa oleh Satoshi, ketika mereka di dalam bangunan, Satoshi mengamati sekitarnya dimana ia melihat dari kejauhan ada beberapa manusia tampak seperti musuh mendekati posisinya.
"Tutup telingamu kalau kau tak mau tuli!"
"Ha?"
__ADS_1
Solia yang tak mengerti apa yang Satoshi katakan, dengan cepat ia tutup kedua telinganya ketika dentuman dari senjata AK-103 menggema.
"Eek!"
Ia sedikit ketakutan ketika suara keras dari senjata itu menggema di telinganya.
Untuk Satoshi ia menembaki lima dari dua puluh manusia yang dengan cepat menembak balik ke posisinya.
"Menunduk!"
Ia dengan cepat menekan kepala Solia ke bawah berusaha mengelak dari peluru yang datang.
Dengan cepat zirah putih yang Solia kenakan berubah kotor akan lumpur dan darah yang menodai bajunya.
Debu bercampur lumpur menodai rambutnya yang ia selalu banggakan sebagai simbol dari kerajaan Vunois
Dari sela bangunan yang hancur ini, ia melihat tentaranya tergeletak disana dengan kondisi mengenaskan akibat ledakan yang ia secara ajaibnya bisa selamat dari ledakan itu.
'apa ini..... Dimana kami'
Pikirnya saat melihat tentara asing tampak menyerang posisi mereka dengan senjata yang mampu mengeluarkan benda yang sangat cepat.
Tatapannya tertuju ke pria yang membawanya kesini, ia tampak sangat kotor namun pria itu tampak berusaha menyerang mereka yang semakin mendekat ke tempat mereka berlindung.
Ledakan kembali tercipta, Solia berteriak kecil ketika ledakan itu menghantam bangunan mereka membuat telinganya sedikit bergema.
Namun pria itu tampak tak bergeming sama sekali akibat ledakan itu, ia justru membalas dengan serangan lain diikuti teriakan penuh kutukan dengan bahasa yang tak pernah ia tahu
"F*CK YOU!"
Dunia yang asing ini terasa sangat mengerikan untuknya, perang yang tak pernah ia tahu akan seperti ini membuatnya merinding setelah melihat pasukannya dengan cepat di musnahkan dengan serangan yang sangat cepat
["Kepada semua unit, jangan biarkan mereka memasuki kota, M777 akan di tembakkan, Bahaya Jarak dekat"]
("Disini bravo, Roger")
Ledakan tak lama tercipta ke posisi Satoshi yang beruntung ia berlindung di gedung ini, tak lama debu bekas ledakan pun mulai menghilang menampilkan pemandangan horor untuk siapapun yang tak biasa melihat ini.
"Apa mereka menyerah? Sialan, tadi itu mengerikan"
Desah Satoshi melihat dampak dari artileri kawan yang menyelamatkan nyawanya.
"Apa kau baik-baik saja?"
Tanyanya pada wanita yang ada di sampingnya, wanita itu tampak shock berat dengan badan bergetar ketakutan, yah, ia tak bisa menyalahkan kalau wanita ini akan bereaksi seperti itu setelah melihat hal ini.
Dan juga
"Dari mana kalian? Kenapa kalian bisa disini, dan apa yang kalian lakukan? Apa kalian semacam pesta kostum Halloween?"
Satoshi berujung menghujani Solia dengan beragam pertanyaan namun barier bahasa justru membuat komunikasi keduanya sangat rumit.
Sementara itu di lain tempat, Jonathan bersama dengan tim yang di pimpin oleh Oprah mulai mengamati sekitar setelah selesai melakukan perawatan dan evakuasi korban yang ada di gua
"mau teh hangat?"
Tanya Jonathan pada Himura Hanayama yang tampak masih terdiam di dalam Humvee, dengan gelas teh yang masih hangat, Himura berusaha tersenyum namun untuk Jonathan ia sangat tahu kalau wajahnya sangat hancur oleh perasaan kesedihan yang amat mendalam.
"Kau sudah melewati banyak hal, kami akan membawamu pulang, jangan takut"
Ucapnya sambil mengelus kepala wanita itu berusaha menenangkannya dari rasa cemas.
"Hick...hick.... T...terima kasih... Terimakasih telah menyelamatkanku!"
Ia kembali menangis, dan untuk Jonathan sendiri, ia tak menyangka akan begini jadinya, hanya bisa menenangkan wanita ini dengan memberikannya pelukan berusaha membiarkan dia melampiaskan semua rasa kesedihannya.
'..... Kenapa harus begini yang kami hadapi'
Pikirnya saat melihat situasi yang mereka lewati. Siapa yang menyangka kalau dunia fantasi justru membawa hal yang tak ingin ia ketahui.
Markas Delta sudah mengkonfirmasi soal laporan mereka, dalam setengah jam dari sekarang helikopter medis akan tiba menjemput korban, bersamaan dengan bahan suplai seperti bahan bakar, munisi dan alat-alat perawatan tank serta perlengkapan medis.
Di markas sendiri, kesibukan masih tak kunjung selesai.
Hal lain yang membuat marinir tampak sangat sibuk, karena mereka tampak membangun basis pertahanan artileri dan mortir untuk potensi invasi yang mungkin akan terjadi
Tokiwaki, satu dari lima pahlawan terpanggil tampak berkeliaran dan mengagumi apa saja yang ia lihat.
"Whoa.... Benda ini keren"
Ucapnya saat melihat beberapa teknisi dari Combat Engineer tampak merawat instalasi Phalanx C-RAM yang ada di markas.
"Tokiwaki, kau terlalu kekanak-kanakan"
Balas dua temannya saat melihat tingkah temannya, untuk mereka yang telah tiba di markas, mereka berlima masih harus bersabar menunggu kapan mereka bisa di pulangkan oleh Letnan Jenderal Norman namun Norman sudah berjanji mereka akan menemui keluarga mereka dalam waktu dekat ini
Namun kabar yang justru Norman dapatkan adalah sesuatu yang tak ingin ia baca saat ini juga
"Pak! Laporan darurat!"
"Katakan"
"Polandia di serang!"
Tatapan Norman langsung mengeras ketika mendengar itu
Tak lama ia melihat transmisi darurat datang dari Pentagon akan hal ini.
__ADS_1
'jadi begitu.....'
Untuk kali pertamanya sejak 20 tahun terakhir kali Artikel V dari pertahanan NATO kembali di ungkit lagi setelah serangan 9/11 terjadi di masa lalu.