Connected World

Connected World
First Contact


__ADS_3

"......... cukup tenang ya?"


"Hm"


Aku, Jonathan Crish, saat ini duduk di pinggir sungai dengan sebuah pancing sederhana yang barusan ku buat berbahan kan satu dahan pohon kecil ku lalu ku ikat dengan tali, maka jadilah alat pancing.


Hanya saja, entah kenapa Letnan Fujiwara malah duduk di sampingku seakan tak memperdulikan tatapan tim skuad yang menatapku dengan pandangan curiga


"ehm .... Letnan?"


"Iya~"


'Apa-apaan dia ini'


Pikirku sambil mencoba untuk tidak teralihkan dengan nada menggodanya, aku tak tahu apa yang dia pikirkan, yang pasti dia mungkin sedang mencoba menggodaku seperti biasanya.


"Jonathan"


Mendengar namaku di panggil, aku menoleh kearahnya yang menatap ke sungai ini dengan ekspresi kekhawatiran yang sangat jelas tampak di wajahnya.


"Apa menurutmu kita akan terlibat konflik bersenjata nanti?"



'Jadi itu yang mengganggu pikirannya ya?'


Aku menjawab dengan mengangkat bahuku sebagai jawaban yang terkesan acuh tak acuh.


"Kalau boleh jujur, besar kemungkinan kita akan terlibat kontak bersenjata"


"Begitukah....."


Sangat naif jika berpikiran kalau marinir yang melakukan misi patroli di tempat yang tak diketahui tidak akan terjadi kontak bersenjata, setiap marinir di latih untuk selalu siap untuk kemungkinan terburuk, kami sudah tahu itu, tapi untuk orang yang belum pernah di tempatkan di zona berbahaya, sangat wajar kalau rasa gelisah menyelimuti pikirannya.


Itu juga berlaku untukku.


"Sebaiknya kita bergerak sekarang Letnan"


Letnan Fujiwara sedikit tersenyum kearah ku.


"Kau benar, Kopral"


Kami kembali melanjutkan perjalanan, melintasi perbukitan dan jalur setapak yang cukup sulit untuk di lewati kendaraan yang menggunakan track, untuk kendaraan berbasiskan roda, bisa di bilang masih bisa di lewati namun dengan kondisi medan perbukitan yang rawan sekali tanah longsor serta lumpur yang membuat jalanan sangat sulit di lalui, membuatku harus ekstra hati-hati akan perubahan cuaca yang tidak bisa kami prediksi dengan akurat.


"Hn....~"


'?'


Mataku sedikit menoleh kearah Letnan Fujiwara yang nampaknya tengah menikmati pemandangan di sekitar kami.


"Anda sepertinya sangat menikmati pemandangan ya, Letnan"


"Ehe~ Begitulah, ...."


Melihatnya yang nampak ceria itu membuatku tersenyum dalam diam.


"Kopral, menurut peta, kita akan sampai di titik Alpha dalam 2 jam lagi"


Lapor Sersan Satu Joseph, aku yang mendengar laporan itu hanya bisa mengangguk sebagai jawaban.


Dengan M2-Bradley di belakang kami sebagai dukungan persenjataan berat, setidaknya aku bisa sedikit tenang jika ada potensi serangan dadakan.


Tak lama, kami pun berhasil melewati perbukitan dan sampai di kawasan dataran landai yang dimana di sepanjang mata memandang hanya ada rerumputan yang tumbuh di pinggir jalan setapak ini.


"Kopral, bagaimana menurutmu?"


Tanya Fujiwara saat melihat sesuatu di kejauhan, aku yang sejak tadi menatap kearah itu hanya bisa terdiam.


"Hentikan kendaraan"


Perintah Fujiwara, saat itu juga aku menghentikan mobil dan Bradley juga ikut berhenti tak lama setelahnya.


"Jadi kita benar-benar di dunia fantasi ya?"


Canda Sersan saat melihat sebuah kastil yang di kelilingi pemukiman penduduk berjarak sekitar 12 kilometer dari posisi kami.


"Bagaimana menurut anda, Letnan?"


Aku hanya bisa menunggu instruksi dari pimpinan regu mengenai apa yang kami temukan ini. Melihat tidak adanya penanda di peta yang di buat oleh regu udara, besar kemungkinannya kalau mereka tidak melihat atau tidak sadar akan adanya pemukiman sebesar itu di titik yang mereka tandai


Letnan Fujiwara yang melihat melalui teropongnya tetap diam, hingga ia mulai menatap kearah Sersan Joseph.


"Sersan, bagaimana menurutmu?"


"Sebaiknya kita lapor komando pusat dan menunggu instruksi selanjutnya"


"Cukup masuk akal, baik, bentuk perimeter dan awasi sekitar!"


"Yes ma'am!"


Sersan langsung berbalik kearah skuad yang telah turun dari Bradley, marinir kemudian mulai bersiaga, sementara Sersan kembali ke Mobil Humvee dimana ia langsung menghubungi markas mengenai apa yang kami temukan.


'Kerajaan kah? Man, ku harap kami tidak berurusan yang merepotkan'


"Kopral, sebaiknya anda kembali ke formasi, tunggu instruksi ku atau Sersan"


Perintah Fujiwara yang langsung ku jawab dengan anggukan kepala.

__ADS_1


"Apa kau sudah dengar soal rumor yang beredar di markas, Kopral?"


Salah satu marinir mulai mengajakku bicara, melihat tidak ada yang kami lakukan selain berdiri dan menatap ke sekitar, aku memilih untuk membalas perkataannya.


"Memangnya apa yang sedang beredar di markas?"


"Ada yang bilang kalau kita berada di dunia fantasi dan kita disini untuk mengeksplorasi sekaligus mengeksploitasi, melihat apa yang kita temukan, ku rasa rumor itu ada benarnya, bukan begitu Kopral?"


"Entahlah" jawabku dengan mengangkat bahu. "kalau mengenai itu, aku buang muka mengenai hal itu, lagian untuk apa kita membicarakan hal yang tidak ada hubungannya dengan kita?"


"Masuk akal"


Setelah pembicaraan berakhir, Sersan pun kembali ke grup, melihatnya yang keluar dari mobil, aku hanya bisa menganggap kalau ia sudah mendapat jawaban dari pusat.


"Letnan"


Fujiwara langsung menoleh kearahnya, "Apa yang dikatakan markas?"


"Kita di perintahkan untuk melakukan kontak dengan penduduk disana, pesawat pengintai akan tiba di wilayah udara kita dalam 8 menit. Satu hal lagi, komando juga menekankan untuk menghindari kontak bersenjata dalam segi apapun. Standar ROE di tetapkan ketat"


Mendengar respon itu, Fujiwara mengangguk paham, ia kemudian menatap kami yang masih menunggu instruksi.


"Semuanya, bersiap!"


"Roger"


Kami pun langsung masuk ke kendaraan dan bersiap berangkat menuju kerajaan itu, jika ada yang bisa ku harapkan.


'Semoga kami jangan berjumpa dengan naga'


...----------------...


Skuad yang di kirimkan oleh Markas Delta terdiri dari 1 Komander Letnan Satu Fujiwara Sayaka, 1 Spesialis (Mantan JTAC) Bahan Peledak, 1 Scout Sniper, 3 Combat Engineer yang bertugas sebagai operator serta commander di M2-Bradley, serta 5 Lance Corporal dari 12th Mechanized Infantry Regiment


Untuk sekilas tidak ada yang spesial dari tim itu, mereka di tugaskan untuk ke sektor Charlie dimana hasil dari pengintaian pesawat E-2 dari kapal induk USS Gerald R Ford, adanya posibilitas pemukiman.


'Tapi siapa yang duga kalau itu bukan cuma pemukiman saja'


Kolonel yang melihat laporan dari Sersan Joseph tentang adanya peradaban kerajaan di posisi mereka, membuat status tim terdepan sedikit terancam.


Terlebih lagi tempat yang mereka datangi, berdasarkan hasil analisis sementara....


'Benua iblis'


Ia sangat ingin mengirimkan setidaknya 3 pesawat F-18 ke lokasi mereka sebagai cadangan dukungan udara cepat jika di butuhkan, namun mengingat betapa keras kepalanya Angkatan laut mengenai mengirim aset mereka ke teritori tak di kenali membuatnya harus bisa berharap semoga sesuatu tidak akan terjadi pada mereka.


Di pangkalan masih sibuk dengan beragam hal yang tengah di kerjakan oleh pasukan Marinir, untuk sementara basis militer serta basis pertahanan baik darat dan udara sudah selesai di kerjakan, membuat tim konstruksi bisa lebih fokus untuk mengerjakan yang lain seperti pembangunan markas permanen serta barak militer untuk pasukan.


Sementara itu jauh dari Markas Delta, benua yang di konfirmasi visual oleh pesawat E-2 sebagai benua iblis.


("Ketinggian stabil, konfirmasi visual keberadaan unit Alpha terkonfirmasi")


Di darat, unit skuad yang di pimpin oleh Letnan Fujiwara semakin mendekati kawasan pemukiman padat dimana di yakini adanya peradaban disana.


"Tetap waspada boys"


Ucap sersan melalui komunikator radio. Masing-masing Marinir mulai memperbaiki posisi helm mereka sesaat setelah mereka mulai mendekati kawasan pemukiman itu.


'Apa mungkin bahasa mereka itu sesuai dengan yang ada di kamus kami?'


'Lagian, darimana mereka bisa tahu struktur bahasa mereka?'


Pikir Jonathan saat memikirkan lagi tentang kamus yang di berikan oleh tim sebelum berangkat dari markas. Menurut Letnan Fujiwara kamus ini berisikan kosakata dasar untuk penduduk sekitar, namun tidak pernah di jelaskan pada mereka kalau kosakata ini bakalan di pakai untuk manusia dunia asing ini.


Tepat saat mereka sampai di pinggiran pemukiman penduduk kerajaan asing ini, satu hal yang cukup mengejutkan mereka semua.


("Sersan, apa kau lihat apa yang ku lihat!?")


Komander di Bradley nampak sama terkejutnya dengan kami ketika melihat penduduk yang tak biasa itu, mulai menatap kami dengan pandangan takut dan curiga.


"Tetap waspada kalian semua"


Tegur Fujiwara melalui radio ke sisa grup berusaha membuat tim tetap tenang, walau ia sendiri pun tidak bisa menahan rasa kaget melihat ini.


"hooo.... jadi ini yang biasa di sebut Nekomimi, kah?"


"Hm? Apa kau tahu sesuatu tentang spesies mereka, Kopral?" Tanya Joseph tentang ucapannya yang tiba-tiba itu.


Fujiwara yang ikut tertarik dengan apa yang dikatakan Jonathan, mulai menoleh kearahnya dengan wajah menuntut penjelasan.


"Yah, kalian tahu kan soal karakter anime yang biasanya memiliki telinga hewan seperti kucing dan ....."


("Fucking weebs!")


("Fucking weebs!")


("idiot weebs!")


"Hah.... kenapa aku harus percaya omongamu" Hinaan serentak langsung menyerbu radio, kalimat terakhir dari Sersan pun tak membantunya sama sekali.


"H..hei, kenapa kalian malah menghinaku! Aku cuma bilang soal karakter!"


"Hm? Memangnya kau ada selera tersendiri soal makhluk seperti itu, hee... aku baru tahu"


Entah kenapa tatapan Fujiwara yang melihatnya dengan tatapan curiga itu membuat jantungnya hampir berhenti.


'Stop, hentikan tatapan merendahkan mu itu, Letnan'

__ADS_1


"fufufu"


"Jadi, harus bagaimana kita, Letnan?"


Sersan yang dengan cepat menyudahi hinaan ke Jonathan, ia langsung menanyakan status serta apa yang harus mereka lakukan, melihat tatapan dari para penduduk yang menatap mereka dengan pandangan tidak mengenakkan membuatnya sedikit risih


'Sama seperti Afghanistan'


Pikirnya saat melihat tatapan mereka.


"Untuk sekarang, coba kita menyapa mereka, Jonathan, ikut aku"


"eh?"


Ia dan Fujiwara langsung keluar dari mobil sementara yang lainnya bersiaga di kendaraan masing-masing, Sersan Joseph pun dengan siap mulai mengoperasikan turet kaliber 50 di atas Humvee sebagai tindakan pencegahan jika terjadi kontak bersenjata.


"Ehm, ku rasa mereka tidak menyukai kita, Letnan"


Ucap Jonathan saat berdiri di samping Fujiwara, tepat saat ia berkata itu, beberapa orang yang tampak seperti kesatria abad pertengahan namun memiliki postur tubuh yang mirip seperti binatang buas mulai membentuk formasi di depan pemukiman, seakan menjadi sinyal kalau mereka sama sekali tidak di sambut disini.


"err...."


"Tidak usah terlalu takut begitu Kopral"


Fujiwara terkikik kecil melihat ekspresi dari Jonathan.


"Erm..... ("*Permisi, apa kalian tidak keberatan dengan kehadiran kami?"*)


Ucap Fujiwara dengan kamus di tangannya.


Beberapa orang yang memiliki fitur hewan namun bersikap seperti manusia itu, justru semakin menunjukkan rasa takut pada skuad.


Melihat tidak adanya perkembangan di kedua sisi, Jonathan sedikit melihat kearah anak-anak yang nampaknya ada yang takut dan ada yang penasaran ke mereka.


"Hello?"


Ia melambaikan tangan kearah mereka, namun justru itu di balas dengan sikap agresif dari para penjaga.


("*Manusia! Beraninya kalian kemari! Apa kalian ingin mendeklarasikan perang ke kami!*")


"eh? Apa yang dia bilang, Letnan?"


Jonathan yang tak siap akan komentar panas dari para penjaga itu, langsung menoleh kearah Fujiwara berharap untuk penjelasan.


"Hn, sepertinya mereka mengatakan sesuatu tentang deklarasi perang?"


Balas Fujiwara saat melihat kearah kamusnya.


"Eh!"


"Tunggu-tunggu, kenapa malah begitu jadinya!?"


Panik dengan apa yang di katakan oleh Fujiwara, Jonathan berusaha untuk memikirkan sesuatu namun apapun itu yang ia berusaha pikirkan, ia tak bisa menemukan solusi apapun.


Sementara itu, di dalam kastil Ratu Iblis Rosella, ia yang tengah menikmati teh buatan Maid khususnya, tiba-tiba sesuatu masuk ke dalam ruang tamu di kastil ini.


"Nona Rosella ini gawat!"


"Hm... apa yang membuatmu masuk tiba-tiba seperti itu tanpa menunggu persetujuan ku?"


"M...maafkan kelancangan saya!"


Dengan cepat ia berlutut di depan Rosella yang masih tidak peduli dengan apa yang membuat sekretarisnya itu panik.


"Baik, kalau begitu katakan apa yang ingin kau sampaikan"


Dengan cepat ia menaikkan wajahnya, menatap langsung ke Rosella yang masih tidak bergeming namun apa yang ia akan katakan selanjutnya, membuat Rosella langsung terdiam.


"Manusia kesini, katamu?"


"Iya nona! Saya tidak berbohong, mereka ada di depan kawasan pemukiman!"


"Heh.....hehehe....hahahah! Jadi begitu jadinya ya"


Rosella dengan tawa gelap, mulai berdiri, wajahnya menunjukkan ekspresi kemarahan yang tak bisa ia tahankan lagi.


"Pada akhirnya mereka akan tetap menganggap kita ras yang harus di musnahkan, hahaha! Padahal aku tidak melakukan apapun sama sekali!"


Satu ruangan bergetar akan ledakan kemarahan Rosella. Rambut merah scarlet-nya menyala seakan menjadi penanda itu adalah bara api neraka yang menyala, aura hitam yang menyelimuti dirinya terasa semakin mengental.


"N..nona, apa yang harus kita lakukan"


Dengan posisi masih berlutut, Sophia tak berani menatap kearah Rosella yang tengah meledak dalam kemarahan.


Tak perlu menjawab pertanyaan Sophia, Rosella dengan cepat melayang dan terbang keluar dari ruangan dengan kecepatan tinggi.


"N..Nona!?"


Sophia yang tersentak akan tindakan tiba-tiba Rosella hanya bisa terdiam melongo akan amarah yang membludak dari Rosella.


"..! ... Kamu, segera perintahkan semua unit untuk segera mengikuti nona Rosella!"


"Dengan senang hati"


Maid itu langsung keluar dari ruangan dan bergerak kearah lain, Sophia di lain sisi, mulai mengejar Rosella berharap tidak akan terjadi apapun padanya


'Kenapa manusia kemari! Nona Rosella tidak berbuat apapun ke manusia!'

__ADS_1


Ia mengumpat dalam pikirannya, pertemuan antar kedua ras dimana ras manusia modern dengan ras asing di dunia asing ini pun di mulai.


...****************...


__ADS_2