
Kerajaan Iblis, Sophia yang seperti biasa mengerang dalam frustasi akibat tumpukan pekerjaan yang tak ada habisnya mulai membuatnya menjerit kesal.
"Arrgh! Kenapa ga ada habisnya benda menjijikan ini!"
Teriak Sophia ketika melihat tumpukan dokumen yang semakin hari semakin bertambah banyak, pagi hari yang lumayan cerah, di kerajaan banyak penduduk dari beragam ras mulai terbuka dengan para manusia aneh itu.
Tak sedikit dari mereka tampak dengan senang hati menyambut dan menyapa mereka di sela pekerjaan yang mereka lakukan.
'Grrr ... Nona Rosella, kalau saja dia bukan ratu aku sudah memakinya sejak lama!'
Protes Sophia dalam benaknya ketika ia harus menjalani pekerjaan yang normalnya harus Rosella yang bertanggung jawab atas pekerjaan ini.
'Dan juga'
Ia melirik ke pria yang tengah mengerjakan dokumen di sudut ruangan ini. Pria yang menyebut dirinya sebagai penanggung jawab atas pasukan manusia aneh di area kerajaan ini, sejak pertama ia disini, pria ini sama sekali tak memperdulikan soal perbedaan ras yang ada di antara mereka.
"Jika anda punya waktu untuk menatapku, sebaiknya anda lanjutkan pekerjaan anda, Sophia"
"Hueh!?"
Ketahuan melirik kearahnya, Sophia langsung terbata-bata tak mampu membalas apa yang dikatakan First Sergeant Alfred.
'Dia ini'
Sophia sedikit jengkel dengan tingkah Alfred yang kelewat santai soal menghina dirinya.
"Nona Sophia, ada yang ingin saya tanyakan pada anda"
"Hah .. apa lagi?"
Alfred kemudian berdiri dan berjalan kearah meja kerja Sophia dengan sebuah dokumen proposal proyek yang ingin ia ajukan ke Sophia.
"Apa maksudnya ini, Alfred?"
Sophia yang sedikit bingung soal usulan yang diberikan oleh Alfred, mulai menatapnya dengan tatapan ingin penjelasan.
"Seperti ini niat saya, anda pasti tahu soal kehadiran kami di kawasan kastil anda. Jadi kami menginginkan ikatan lebih baik dengan warga di kerajaan ini, caranya adalah kami ingin mempekerjakan beberapa warga untuk menjadi jembatan komunikasi antara kerajaan kalian dengan kami jadi tidak ada lagi batasan serta tatapan kecurigaan yang ada di warga"
"Bagaimana menurut anda, Nona Sophia?"
Melihat gagasan dari Alfred, Sophia membaca setiap baris kalimat dengan teliti sebelum memberikan keputusannya.
Namun tak butuh waktu lama untuknya bisa memberikan ijin pada mereka setelah melihat potensi yang akàn muncul dari gagasan ini.
Tepat di keesokan harinya, 27 Februari 2023, wilayah kerajaan Junois.
Sophia pertama kalinya melihat beberapa demi-human yang di rekrut oleh mereka.
Alis matanya sedikit terangkat ketika melihat data dari para rekrut dimana tiga elf dari kawasan kumuh, tiga dwarf serta dua dari ras cat-human yang di rekrut oleh mereka.
"Apa gunanya melatih mereka membaca dan menulis, Alfred?"
Melihat Alfred yang tetap diam dengan beberapa dokumen di ruangan ini, membuatnya sedikit penasaran apa yang manusia ini pikirkan dengan menjalin hubungan antara kerajaan yang sangat berbeda dalam hal budaya dan ekonomi.
Pelatihan para rekrut baru di mulai dengan melatih mereka dari segi fisik dimana para rekrut di wajibkan menjalani pelatihan berat semi-militer yang biasa di jalani oleh Marinir baru.
"Kalian semua! Jangan banyak protes dan cepat lakukan apa yang ku perintahkan! Kalau kalian ingin keluar, sebaiknya lakukan sekarang!"
Bentak seorang sersan ke para rekrut baru yang tampak tak siap akan suara keras oleh Sersan itu.
"tsk... kenapa kita harus di maki sama manusia ini"
Salah satu elf tampak tak terima ketika mereka dimaki-maki oleh manusia itu.
"Entahlah, tapi mereka janji kalau kita menyelesaikan ini, mereka akan membayar kita"
Elf yang lain tampak menjawabnya dengan nada acuh tak acuh. Benar kalau manusia ini adalah orang yang memberikan banyak hal pada keluarga mereka, tapi untuk para elf, mereka masih tak terima jika harus di bawah perintah manusia.
"Kenapa kalian melamun dasar rekrut baru! Cepat bergerak!"
Bentak sersan yang sontak membuat keduanya tersentak kaget dan mulai ikut berlari bersama dengan yang lain.
Tatapan dari para kesatria kerajaan seakan menanyakan, untuk apa pelatihan mereka ini, dibentak lalu di paksa untuk melakukan latihan fisik.
Pelatihan yang hampir mirip dengan pelatihan ksatria kerajaan, tapi mereka tak pernah tahu kalau orang dari kaum jelata bisa masuk ke pelatihan seperti ini membuat para ksatria sedikit keheranan.
Satu hari penuh mereka di latih dengan cukup berat dimana mereka diajarkan untuk patuh pada perintah, tahan terhadap tekanan, serta bisa membaca dengan baik.
Di sekitaran kawasan pangkalan Marinir yang berada di kerajaan Junois, satu-persatu Marinir mulai ikut berlatih dengan para rekrut baru yang dari kerajaan dimana mereka menunjukkan apa yang harus di lakukan di situasi tertentu.
Sersan Satu Alfred bersama dengan Sophia, mulai membicarakan soal ekspedisi untuk tim Marinir di kawasan paling utara kerajaan Junois yang dimana adanya peringatan soal makhluk buas kelas A yang cukup berbahaya.
"Tidak bisa, aku tidak mengijinkan kalian untuk pergi kesana"
"Dan bisa anda jelaskan kenapa?"
"Sudah ku bilang, disana terlalu berbahaya untuk siapapun. Aku tak bisa meresikokan jika sesuatu terjadi pada kalian"
"Apa hanya itu basis untuk pelarangan kami pergi kesana?"
"Hah..... Kau, dengar tidak apa yang ku maksud!?"
Frustrasi, Sophia membanting tangannya ke meja saat melihat Alfred yang tidak masalah sama sekali soal eksistensi makhluk berbahaya yang ada disana.
"Apa yang harus ku katakan pada nona Rosella jika kalian pergi kesana dan saat kalian kembali, salah satu teman kalian terluka!? Apa kalian ingin membuat hidupku makin sulit!?"
"Hoo..."
Melihat Sophia yang sangat pusing menghadapi Alfred, ia hanya menuruti apa yang Sophia katakan untuk sementara waktu.
Keesokan harinya, Alfred yang saat ini berada di Kamp tempat para Officer pimpinan pleton Combat Engineer, mulai membaca laporan dari Markas Delta tentang situasi di Markas
__ADS_1
Laporan yang berisikan tentang Angkatan laut yang akan di tarik kembali ke dunia mereka besok, lalu mengenai Rosella yang berada di markas bersama dengan Jonathan, lalu tentang "agenda" kecil yang secara tersirat ada di dalam dokumen tersebut
'Mengirim tim ekspedisi ke wilayah paling utara dimana aktivitas vulkanis masih aktif serta menurut klaim Sophia tempatnya makhluk berbahaya hidup, mungkin bisa menjadi tempat yang paling bagus untuk eksperimen mengenai kadar mineral yang ada di dunia ini'
'Tata Surya yang berada di susunan zona habitat untuk makhluk hidup, serta kondisi bintang yang menurut astronom di markas, masih terbilang sangat muda, membuat dunia ini adalah tempat yang paling cocok untuk menjadi dunia cadangan jika sesuatu terjadi pada bumi. Aku sedikit tertarik bagaimana reaksi Musk jika tahu soal dunia ini'
Di tengah kesibukan Marinir dalam membangun markas sementara ini, beberapa rekrut baru juga tampak masih di latih oleh Sersan yang bertanggung jawab atas pelatihan mereka
"Pak, saya ingin melaporkan soal pengamatan udara"
Salah satu Marinir berpangkat Kopral masuk ke tendanya dengan transkrip dokumen ia serahkan ke Alfred.
"Apa ada sesuatu yang menarik, Kopral"
"Ehm... Bukan menarik, Pak. Lebih tepatnya sesuatu yang aneh"
"Aneh?"
Alfred kemudian membaca dokumen itu dimana laporan pengintaian dari angkatan laut melaporkan tentang adanya pergerakan dalam jumlah besar berjarak sekitar 278 kilometer selatan dari Kerajaan ini.
"Menurut angkatan laut, pergerakan itu di yakini sebagai tindakan bermusuhan dari kerajaan tetangga"
"Apa ada konfirmasi dari markas soal apa yang harus kita lakukan?"
"Sejauh ini Letnan Jenderal mengatakan pada kita untuk tidak terlibat apapun"
"......"
Alfred sedikit terganggu soal apa yang ia dengar ini, ia kemudian memerintahkan semua marinir untuk tetap siaga dan tidak menunjukkan aktivitas mencurigakan selain bersiaga tempur disaat genting.
Sementara itu di ruangan Letnan Jenderal, Norman ketika berhadapan dengan Admiral yang bertanggung jawab atas dua grup Serbu Kapal Induk/Carrier Strike Group 8 dan 9, saling tukar tatapan ketika laporan dari E-2C Hawkeye tiba di ruangan kerja Letjend.
"Letnan Jenderal, Saya yakin anda tahu apa yang akan terjadi kan?"
"...."
Admiral itu memberikan tatapan cukup tajam ke Letnan Jenderal Norman ketika mereka berdua sudah memahami situasi yang akan terjadi jika ini dibiarkan.
"Aku tahu itu, hanya saja kita tak bisa bergerak sekarang, Kalian besok akan di jadwalkan kembali ke posisi kalian, dengan kalian yang akan kembali kesana, posisi kami akan jauh lebih ekstra rentan akan serangan"
"...."
Apa yang di katakan Norman sangat masuk akal, satu-satunya pertahanan mutlak di markas adalah kapal Aegis serta aset udara dari angkatan laut, aset udara yang di miliki marinir di markas ini hanyalah 4 A-10A Thunderbolt II yang cukup usang serta 10 Apache sebagai aset serbu.
Jika Norman bertindak sekarang, besar kemungkinan jika markas akan di serang tanpa ada yang menyadari sama sekali.
Satu-satunya alasan untuk ia bisa menerjunkan aset udaranya ke wilayah ini, adalah jika angkatan laut masih berada di markas.
...****************...
Sore di FOB, kawasan administratif Rosella de Voir Junois.
"Sersan, apa kita harus berjaga malam ini?"
Satu-satunya pertahanan udara yang mereka miliki adalah Phalanx Ciws, mereka juga tak memiliki aset kendaraan tempur selain Humvee dan M2-Bradley.
Jika invasi skala besar terjadi, maka sangat memungkinkan kalau markas mereka akan paling pertama terkepung dan hancur.
'Tak peduli senjata apa yang kami miliki disini, tetap saja dalam masalah jumlah kami kalah telak'
"Kopral, katakan pada semua unit untuk bergantian jaga selama 4 jam sekali, katakan untuk status siaga 2, semua senjata di bebaskan, kalian di beri ijin menembak ke target yang tampak bermusuhan"
"Dimengerti Pak!"
Saat ia pergi kembali ke posisinya, Alfred mulai menyalakan radio berusaha mendapatkan bantuan dari Markas jika situasi menggila.
Namun respon yang ia dapatkan sangatlah mengecewakan untuknya.
["Kami tidak bisa mengirimkan bantuan apapun ke area kalian"]
"Pak, kami bisa terkepung jika anda tidak mengirim bantuan ke kami"
["Kami tahu itu, tapi untuk sekarang kami tidak bisa mengirimkan apapun ke tempat kalian, sampai instruksi selanjutnya, bertahanlah, Perintah pasti datang dari Letnan Jenderal, disini Command, out"]
Saat komunikasi berakhir, Sersan Alfred hampir membanting radionya ketika mendapat respon yang sangat membuatnya kesal dengan ini semua
'Omong kosong'
Di tengah kegelapan malam, penduduk yang tertidur dengan pulas tak tahu apa yang akan terjadi malam ini.
Marinir yang dibantu bersama para rekrut baru yang tampak tak tahu situasi yang akan terjadi saling tukar pandangan sebelum mereka kembali berjaga mengawasi sekitar, para Rekrut baru itu yang di persenjatai dengan panah dan pedang tampak berjaga tak tahu apa dan mengapa.
Rosella sendiri yang berada di Markas manusia ini, tampak sedikit resah, entah kenapa perasaannya mengatakan kalau sesuatu yang buruk akan terjadi.
"Malam ini terlalu tenang"
Ucapnya saat melihat langit malam yang cukup cerah.
...****************...
Tepat pada 1 Maret 2023 kawasan spesial administratif Rosella, 00:34, di kejauhan tampak puluhan ribu manusia bersenjata dari kerajaan Vunois bergerak menuju Kerajaan Iblis.
"Fufufu....."
Semacam energi berwarna putih menyelimuti dirinya, energi tersebut kemudian membentuk sebuah pedang yang sangat berkilau memiliki aura suci yang sangat nyata untuk di lihat oleh makhluk fana.
"Lihatlah aku Ayah, aku akan menunjukkan padamu seberapa hebatnya kita"
Mereka bergerak menuju Kerajaan itu dalam formasi yang sangat rapi.
Sementara itu di tenda Sersan Satu Alfred, ia mendapat laporan dari Marinir yang berada di garis terdepan.
__ADS_1
"Pak, rekon telah mengkonfirmasi serangan akan datang ke kerajaan dari arah timur. Kita tak bisa memobilisasi semua pasukan kita tanpa menimbulkan kecurigaan dari Sophia"
"...."
Melihat situasi yang memburuk, Alfred hanya bisa memikirkan opsi yang paling benar, yaitu ...
"Katakan pada Marinir untuk segera siaga tempur, bawa 2 pleton ke area timur dan pertahankan wilayah itu, bawa bersama kalian M2-Bradley sebagai kekuatan ekstra"
"Siap pak!"
Tim Marinir dengan cepat di bentuk menuju ke area yang akan di serang, dua kendaraan lapis baja Bradley pun di kerahkan untuk menjadi dukungan peluru berat.
Sementara itu, Sophia yang tengah tertidur di meja kerjanya tiba-tiba tersentak ketika ia merasakan ada yang melintasi barier yang ia buat.
'Serangan!?'
Dengan cepat Sophia berdiri dan berlari keluar dari ruangan menuju pimpinan ksatria yang ada di kastil, namun di koridor justru banyak ksatria sudah siaga duluan sebelum ia sempat mengatakan apapun.
"Nona"
Pimpinan ksatria itu menatap Sophia dengan tatapan serius.
"Iya, kita di serang"
Di langit, Sophia melihat sesuatu yang tampak bersinar menerangi kejauhan.
("Flares out!")
Marinir menembakkan suar cahaya ke kejauhan menggunakan mortar berkaliber 81mm.
Marinir yang menatap melalui teropong melihat di kejauhan setidaknya ada beberapa ratus manusia disana, namun sedikit aneh dari mereka.
'Bukannya laporan ada yang mengatakan kalau mereka berjumlah ribuan?'
Tersentak akan hal itu, Marinir dengan cepat menoleh ke arah barat dimana suar di tembakkan ke kejauhan.
'Sialan!'
Di area barat, Putri Tiara bersama dengan 50 ribu pasukannya tampak siap menyerbu wilayah Rosella.
"Wahai Roh Kudus, berikan hambamu berkah.... Peluru Api"
Lima objek berukuran seperti batu cukup besar itu melesat menuju pangkalan Marinir di area barat.
[Beep...Beep...Beep.... Incoming! Incoming! Incoming! Beep.....Beep.....Beep... Incoming! Incoming! Incoming!]
Alarm pertahanan udara berbunyi keras saat objek itu mulai mendekati markas.
Dengan seketika, peluru 20 milimeter di tembakkan oleh platform Phalanx Ciws/CRAM/Counter Rocket Artillery & Missile.
Peluru tersebut menginterupsi lima objek tersebut yang nyaris membuat markas tenggelam dalam ladang api.
[Beep...beep...beep... Incoming! Incoming! Incoming!]
Alarm kembali berbunyi kali ini sepuluh objek datang ke markas membuat sistem pertahanan langsung kewalahan dalam mencegat objek itu.
Sembilan dari sepuluh objek di tembak jatuh, sementara satu lagi berhasil mendarat di salah satu pemukiman warga yang sontak membuat seisi kota jatuh dalam kepanikan.
"Semuanya! Jaga perimeter!!"
Teriak Alfred melalui radio ke semua unit untuk bersiaga tempur.
"Kopral luncurkan mortar ke bajingan itu!"
"Yes sir!"
Mortir dengan cepat di tembakkan ke arah mereka namun semacam perisai tak kasat mata melindungi musuh oleh seorang wanita yang di lapisi energi berwarna putih.
"What the!?"
Saat musuh makin mendekat di jarak 900 meter, Marinir dengan cepat membentuk barisan untuk menembaki mereka.
"Kopral, perintahkan unit baru itu untuk segera evakuasi warga! Jika Sophia menentang, katakan itu perintahku!"
"Pak!"
Kopral itu dengan cepat berlari kearah para rekrut baru yang termenung melihat prajurit dunia lain yang tengah bertarung mempertahankan kota mereka.
"Kalian, cepat ikut aku! Kita harus evakuasi warga!"
Sedikit kaku dalam bahasanya, Kopral itu dengan cepat menginstruksikan mereka yang beruntung mereka bisa paham maksud dari perkataannya.
"Tembak mereka!"
Turet kaliber 12.7 yang di operasikan oleh Infanteri Machinery Gunner, mulai menghujani posisi musuh dengan rentetan peluru yang di susul oleh beragam kaliber oleh Marinir yang telah melihat musuh memasuki jarak tembak.
[Incoming! Incoming! Incoming!]
Alarm sekali lagi berbunyi, kali ini lima belas objek datang kearah mereka, sistem pertahanan CRAM menembaki objek itu namun lagi-lagi dua objek berhasil melewati pertahanan dan mengenai pemukiman warga yang lain.
"Fufufu ... Ini akan sangat menarik"
Tawa Tiara ketika melihat manusia yang tengah melindungi kerajaan yang harusnya menjadi musuh umat manusia.
'Senjata mereka sangat menarik'
Pikirnya saat melihat beberapa pasukannya yang terbunuh seketika oleh sihir aneh yang mereka gunakan.
"Fufufu...Ahahaha!"
"Kalian semua akan mati hari ini!"
__ADS_1