Connected World

Connected World
Battle For the City


__ADS_3

Di suatu ruangan redup cahaya, Sepuluh manusia berpakaian taktikal berwarna hijau, bersenjatakan persenjataan militer kelas modern tampak dalam diam mengawasi jalanan melalui sela-sela jendela rumah yang usang ini.


Pimpinan tim, Jad, ia yang masih mengawasi area jalanan yang tadi hening, perlahan ia dan tim melihat sosok manusia datang memenuhi jalanan dengan wajah panik.


"Tetap tenang boys, kita tidak tahu apa yang sedang terjadi disini"


Perintah Jad pada tim untuk tetap siaga, tak lama Samuel yang berperan sebagai JTAC mulai mendapat transmisi dari markas.


("Raidsoc, disini Komando, apa kau dengar?")


"Dengan jelas"


("Tetap waspada, kami mendeteksi adanya puluhan ribu pergerakan di luar tembok, tampaknya akan ada serangan ke kerajaan itu. Tetap jaga aturan pertempuran, kalian tidak di ijinkan untuk menembak sampai kami beri instruksi lebih lanjut")


"Affirm"


("Bagus, kami juga mengirim tiga aset udara A-10A Thunderbolt, nama sandi Grimm 4-1-6, mereka akan memasuki wilayah udara dalam 20 menit")


"Terimakasih, Disini Trust-2-Actual, out"


Melihat Samuel selesai berkomunikasi dengan markas, Jad menatapnya dengan serius, ia juga melirik ke tim yang tampaknya tahu apa yang harus mereka lakukan.


"Jangan lakukan apapun, kita hanya bisa menunggu, apa kalian semua mengerti?"


"Baik pak"


Jawab mereka serentak dengan nada pelan berusaha tidak menimbulkan keributan apapun.


Jad mengintip dari sela jendela dimana ia melihat setidaknya ratusan makhluk tampak memasuki gerbang dengan senjata pedang dan pemukul kayu, kedatangan mereka tak perlu di katakan apa yang makhluk-makhluk itu akan lakukan.


Mereka dengan cepat membunuh warga sipil yang panik, kekacauan langsung jatuh di antara para penduduk sipil.


"Pak, haruskah kita bertindak?"


Tanya salah satu anggotanya ketika mereka melihat beberapa warga di bunuh dengan sangat keji di depan mereka, namun sekali lagi mereka tidak bisa bertindak apapun sampai instruksi datang dari markas


...****************...


Diatas kapal Induk USS Gerald R Ford CSG-9, Ruang Misi Kontrol dan Pusat Kendali CSG 8 dan CSG 9 (Gerald R Ford), Admiral yang bertindak sebagai pimpinan tertinggi pasukan angkatan laut Amerika Serikat wilayah khusus ini, dia dan 4 orang lainnya yang memiliki jabatan penting di kapal induk mulai membuka topik pembicaraan yang sangat penting.


"Tuan-tuan, hasil pantauan radar, kita mendapat jejak pergerakan yang menunjukkan adanya situasi berbahaya di kawasan kota manusia dunia ini. Kapten, aku ingin kau persiapkan dua Air-wing F/A-18 untuk misi serangan jarak dekat. sementara kau XO (Executive Officer) aku ingin kau tetap bersiaga di anjungan, kalian berdua segera beritahukan divisi persenjataan untuk secepatnya persiapkan setiap persenjataan pesawat untuk misi jangka pendek"


"Baiklah, bubar"


Kapten Kapal Induk USS Gerald R Ford, bersama wakilnya yang menjabat sebagai XO, keduanya mulai keluar dari ruangan.


Admiral yang masih menatap ke layar sesaat semua orang telah pergi, ia tak hentinya berpikir tentang apa yang sebenarnya yang sedang terjadi disini. Setelah mengkonfirmasi jika mereka berada di dunia lain, mereka melakukan kontak dengan pihak penguasa ras selain manusia dan sekarang mereka harus bersiap ikut terlibat dalam masalah pertempuran karena adanya tiga orang dari planet bumi yang terjebak di kota itu dan bisa saja nyawa mereka terancam.


'Sebenarnya apa yang di pikirkan Norman'


Ia menatap ke layar dimana menunjukkan pergerakan dalam jumlah besar itu tampak semakin mendekati wilayah padat penduduk di kota itu, Normalnya di bawah ketentuan militer, Angkatan Laut tidak di wajibkan untuk terlibat dalam konflik terkecuali ada beberapa hal penting yang mendesak maka pengecualian bisa di buat.


Pengecualian yang ia gunakan kali ini adalah, menggunakan tim Navy Seal yang ada disitu sebagai alasan untuk mengirim dua Air-wing ke area.


Namun mengenai apakah alasan ini akan solid di mata Letjend jika ia berakhir di tanyai oleh ribuan pertanyaan maka ia hanya bisa berharap jika Letnan Jenderal bisa terima dengan alasannya.


...****************...


"Syalala~ Syalala~ La~ la~"


"Melodi yang sangat indah menyertai lantunan lagu~"


"La..la...la~ Auman sang monster menggema di langit~ Gemuruh perang menandakan pertumpahan darah~"


"~ La~ La~ La~"


Sosok di balik kegelapan malam bersenandung riang, wajah tersenyum yang ia tunjukkan pada hamparan rumput yang di sinari cahaya bulan yang redup menjadi sebuah gambaran teror untuk setiap makhluk hidup yang ada disana.


Tak satupun hewan berani mendekatinya


Tak ada satupun bahkan angin tidak berani berhembus di saat ia sedang bernyanyi.


"Apakah mereka~ Akan merubah dunia?~ La...la..la...la~"


Senandungnya semakin bertambah mencekam saat tak ada satu angin pun yang berhembus, sang penyair mulai berdiri dan berputar-putar di rerumputan hijau.


"Ahhh~ Aku sangat ingin membunuh"


Ia berjalan sembari bersenandung riang, rerumputan yang ia pijak tampak layu dan mati kering seakan di kutuk.


Bayangan tubuhnya yang di sinari cahaya bulan bahkan tampak bagaikan sosok yang mengerikan yang tercipta bagaikan ribuan kegelapan abadi.


Tak ada yang tahu apa yang di lakukan sosok itu dan kemana ia akan pergi, namun aura yang di pancarkan nya seakan mengatakan kalau ia ingin membunuh banyak orang dengan pedang besar yang ia pegang di tangannya.


...****************...


15 Kilometer lepas pantai dari Markas Delta, ruang operasi USS Gerald R Ford, Carrier Strike Group 9.


["Admiral, saya ingin tahu apa yang anda lakukan"]


"Dengan hormat Letnan Jenderal, saya punya hak tersendiri untuk menjamin unit kami di garis depan"


["Dan itu bukan menjadi sebuah alasan untuk anda bisa mengirim dua Air-wing ke wilayah teritori yang kami awasi"]


Admiral yang tengah menelpon Letnan Jenderal Norman, tampak mulai membuat raut wajah sedikit kesal dengan apa yang di katakan Letnan Jenderal.


"Letnan Jenderal, kami angkatan laut tidak bisa mengikuti instruksi anda, kami masih memiliki hak untuk ikut terlibat dalam operasi ini"


["Admiral, haruskah saya katakan sekali lagi, saya tidak mengijinkan operasi apapun yang anda akan lakukan, sebagai pimpinan tertinggi disini, saya memerintahkan anda untuk tetap siaga dan tidak saya perkenankan untuk melakukan apapun"]


Perintah mutlak dari Letnan Jenderal berhasil membungkamnya, normalnya posisinya dengan Norman tak jauh berbeda namun perintah dari Pentagon sebelum mereka melintasi anomali adalah mengikuti perintah dari Letnan Jenderal Norman membuat posisinya hanya berada di posisi kedua di pimpinan tertinggi tempat ini.


'Apa yang dia pikirkan'


Admiral kembali menatap layar tancap yang menunjukkan setiap posisi pergerakan di kawasan itu.


Sementara itu di ruang pusat komando, Letnan Jenderal Norman bersama dengan beberapa perwira yang bertugas di masing-masing posisi seperti pengawasan pergerakan, komunikasi, arahan unit serta direksi penerbangan setiap pesawat yang mengudara, dalam hening setiap orang yang ada di ruangan ini terfokus pada komputer masing-masing, Letnan Jenderal dengan sangat teliti mengawasi pesawat A-10A Thunderbolt yang baru saja mengudara dari landasan pacu sementara di markas.


'Jika estimasi kami benar, pesawat itu akan sampai di target dalam 18 menit'


'Aku tidak bisa membiarkan resiko dimana media pers akan mengetahui jika salah satu pesawat dari angkatan laut tertembak jatuh di dunia ini, ini bisa jadi masalah besar untuk kami'


Dengan reputasi marinir yang di kenal sebagai cabang militer yang cenderung sembrono, ia bisa membual tentang alasan kenapa salah satu aset milik mereka hancur dan lain sebagainya.


Di Kerajaan, kekacauan yang meledak akibat serangan dadakan di sisi yang tak mereka duga, berhasil membuat seisi kota jatuh dalam kepanikan.


Wilayah gerbang yang tadinya di kira aman, berhasil di tembus oleh musuh.


"Tolong!!"


Jerit minta tolong menggema satu persatu di langit malam yang tadinya sangat hening. Gema perang berbunyi di seisi kota setelah di serang dari dua sisi.


"Pak, haruskah kita keluar?"


Tanya salah satu tim ketika melihat tiga warga sipil terbunuh di depan mereka, dengan tetap menjaga ketenangan, mereka menunggu perintah dari XO tim yang tengah mengawasi sekitar.


"Ray, berikan dukungan sniper dari lantai dua"

__ADS_1


Perintah XO Jad pada salah satu Navy Seal yang membawa senjata laras panjang dengan suppressor terpasang di mulut senjatanya.


"Copy"


Ray dengan perlahan berjalan menuju lantai dua bersama dengan dua orang yang mengawalnya, JTAC dan Ranger.


Saat di lantai dua, Ray menyiapkan posisinya dari jendela dimana ia mendapat pandangan jelas ke arah gerbang yang tengah di serbu.


("Disini Grimm 4-1-6, kepada JTAC di area, apa kau mendengarku?")


Suara radionya berhasil menginterupsi lamunannya sedikit, JTAC Samuel mulai membalas panggilan radio tersebut, Ray juga tampak siap untuk menembak kapanpun Jad mengijinkannya untuk menembak.


Saat ijin di berikan, ia menembak satu persatu makhluk itu yang berusaha menyerang warga sipil, di bantu oleh Ranger, keduanya menembakkan senjata mereka.


Senapan yang di rancang khusus untuk para Penembak jitu itu mengeluarkan suara yang nyaris tak terdengar di antara teriakan dan keributan yang tengah terjadi di tempat mereka.


("One, two, three...")


Navy Seal Ray menghitung jumlah target yang ia berhasil tembak, Ranger itu mulai meniru Ray yang menghitung target yang sudah mencapai angka puluhan.


Di tengah keriuhan yang terjadi, tak lama satu sosok tampak mendekati kearah bagian luar gerbang kota yang tengah ramai oleh pasukan penyerang.


"La~ La~ La~"


"Aku ingin membunuh~"


Ia bersenandung dengan pedang besar ia ayunkan bagaikan mainan.


Saat ia melepaskan kekuatannya, sosok itu melayang di udara dan melesat cepat menuju kota manusia itu.


"Eek! Jangan bunuh aku!"


Seorang manusia yang terpojok tampak ketakutan ketika sosok iblis dengan kapak siap membelahnya, mata terpejam dan tubuh bergetar ia menangis dan menjerit keras.


"!!"


Jad, yang melihat sosok yang tiba-tiba melompat ke arah warga sipil yang akan di bunuh itu, langsung bergerak cepat keluar dari rumah.


"Semuanya!"


"Go Loud!!"


Dengan cepat Jad dan tim berlari keluar dari rumah ketika melihat Tokiwaki yang berusaha menggunakan tubuhnya untuk melindungi wanita itu, hingga sesuatu yang tak mereka semua duga terjadi.


Bagaikan di jatuhi bom, tanah di depan Tokiwaki bergetar, sosok mulai muncul di balik debu yang berterbangan akibat getaran itu


"Fufufu~ Menarik! Sangat menarik~"


Sosok itu perlahan mulai tampak, sosok wanita dengan rambut merah menyala bagaikan warna api yang membara sangat jelas terlihat di sinari cahaya bulan.


Pedang hitam yang di lapisi energi api yang membara membuat sosok itu sangat menawan dan mengerikan di saat yang sama, dengan dua tanduk di kepalanya, sosok itu sangat jelas bukanlah manusia.


"Apa-apaan itu!?"


Jad sama terkejutnya dengan semua yang melihat siapa itu.


Tokiwaki sendiri ketika melihat sosok itu, ia langsung teringat akan sesuatu.


"Ratu Iblis, Rosella!?"


Matanya membelak ketika melihat Rosella, Ratu Iblis yang harusnya menjadi lawannya sekarang berada disini.


"K...kau...."


Seakan terintimidasi dengan aura membunuh dari Rosella yang menatapnya, Tokiwaki langsung bergetar takut, namun untuk sekilas ia tak melihat tatapan membunuh yang harusnya di arahkan kepadanya.



"......"


Rosella yang tak menjelaskan apapun, langsung melesat kearah para iblis dengan tawa lebar serta lonjakan energi hitam dari dirinya membuat seluruh area ini jatuh dalam suasana mencekam, di kepalanya, kedua tanduk itu tampak sedikit berbeda diikuti lonjakan energi yang meluap darinya menjadikan sosok Rosella sekilas tampak seperti iblis sesungguhnya.


"Uahahaha!!! Kalian semua! Kalian lihat siapa aku sebenarnya, makhluk rendahan!!"


'Ra...Ratu Iblis Rosella? Kenapa dia disini dan.... kenapa dia...'


Terbata-bata melihat Rosella yang mulai menghabisi para iblis yang menyerang kota, Tokiwaki nyaris tenggelam dalam pikirannya sebelum ia sadar kalau ia sedang memegang seseorang di dalam dekapannya.


"Uhm... t..terima kasih, tuan!"


"Tidak masalah, cepat pergi dari sini!"


Perintah Tokiwaki, saat itu juga wanita itu berlari darisana, namun keterkejutannya tidak berakhir disana.


"Everyone Fire at will!!"


Suara letusan menggema di sekitarnya, suara letusan itu perlahan makin mendekat, saat ia berbalik melihat sumber suara, delapan manusia dengan pakaian aneh namun sangat familiar terlihat.


"Mereka!? Tidak mungkin"


Ia kembali kehabisan kata-kata ketika melihat tentara berbaju hijau bersenjata tampak menembaki satu persatu iblis yang menyerang kota


"Tetap pertahankan tembakan! Jangan biarkan mereka mendekati garis ini!"


"Yes sir!"


"SAMUEL, Status dukungan udara!"


'Mereka.... Mereka tentara dunia kami!'


Ia yang tak bisa berdiri karena rasa kagetnya yang berhasil memenuhi kepalanya, hanya bisa terdiam menatap para prajurit itu yang menembaki iblis satu persatu dengan sangat efektif.


Salah satu prajurit itu berlari kearahnya lalu menatapnya dengan tatapan serius


"Are you alright!?"


'Bahasa Inggris.... ah .. sudah lama sekali aku tak mendengar bahasa itu'


Seakan perasaan senang menyelimuti dirinya, Tokiwaki sedikit menangis.


"Kalian, kalian bagaimana bisa disini" Ucapnya dengan bahasa dunia ini, ia sangat tahu kalau mereka tidak mungkin bisa mengerti dengan ucapannya namun tak ia duga kalau mereka akan mengerti apa yang ia katakan.


"Sebelumnya itu, konfirmasi siapa nama aslimu, dan darimana kau lahir"


Tanya tentara itu dengan nada jelas padanya, mendengar pertanyaan itu, Tokiwaki tak bisa berhenti menahan rasa gembiranya.


"Aku... Aku dari Jepang, Hoshikagawa Distrik, Nama Asliku, Tokiwaki Kirisu, 19 tahun"


Mendengar jawaban Tokiwaki, Jad menatapnya dengan serius sebelum ia berbalik ke tim sambil mengangguk.


"confirmed, it's him"


Sisa tim ikut mengangguk sebelum mereka kembali fokus menembaki musuh yang tengah menerobos gerbang.


"Jangan takut nak, kau akan kami bawa pulang"


'Pulang?... tunggu... apa mungkin mereka ini....'

__ADS_1


Dugaannya pun akan terjawab sesaat setelah rentetan tembakan yang jauh lebih dahsyat diikuti suara mobil yang menghantam puluhan iblis yang berada di jalan mereka.


Mobil LAV-25 terus menembaki senjatanya kearah para iblis sesaat setelah mobil lapis baja itu berhasil menerobos para iblis dan menabrak mereka bagaikan potongan daging yang tak berarti


"Apa kami terlambat, ladies?"


Canda seorang marinir ketika keluar dari pintu belakang mobil lapis baja, namun candaan mereka justru di balas tatapan sinis dari anggota Navy SEAL.


Mobil Humvee yang mengekor di belakang LAV-25 juga mulai mengeluarkan Marinir, Letnan Fujiwara dengan cepat menemui Jad yang tampaknya tengah menanti mereka.


"Anda pasti Jad, aku Letnan Fujiwara, dari Alpha Company"


"Kalian terlambat"


"Maaf, kami terjebak beberapa kendala di perjalanan"


Melihat interaksi keduanya, Tokiwaki tetap terdiam sebelum akhirnya ia berdiri dan menatap mereka dengan tatapan penuh rasa penasaran.


"Tunggu, kalian! Kalian apa dari Amerika!? dan bagaimana kalian bisa disini!"


Pertanyaan yang di penuhi rasa penasaran membuat alis mata Fujiwara sedikit terangkat, ia tersenyum ke Tokiwaki sebelum memberikannya penjelasan tentang mereka.


"Kami disini hanya kebetulan, dan anda pasti Tokiwaki-san, bukan begitu? Saya Letnan Fujiwara, kita sama-sama orang Jepang, ya?"


penggunaan nada kehormatan khas penduduk Jepang itu membuat Tokiwaki sedikit nostalgia karena selama ia di dunia ini, dia dan empat lainnya hampir berhenti menggunakan nada imbuhan setiap kali mereka memanggil satu sama lain.


Baku tembak terus berlangsung, Jonathan sendiri ia mengumpat ketika melihat bagaimana Rosella dengan penuh kegembiraan menghabisi setiap iblis bagaikan tak punya rasa beban sama sekali.


'Lagian, apa dia tidak merasa aneh membunuh kaumnya sendiri?'


Tak butuh lama untuk dirinya menarik balik kata-kata yang ia lontarkan di kepalanya.


'Yah, kami manusia pun begitu'


"Aset udara, Aset Udara, Grimm 4-1-6, disini Raidsoc, meminta dukungan udara, kode are Kilo 5-7-3-1, multi target di luar gerbang, kalian bebas menyerang!"


Di luar gerbang, Rosella yang dengan senangnya menghabisi setiap iblis yang ada, mulai melayang dalam diam ketika mendengar sesuatu di angkasa.


"Oh? Pegasus Besi?"


Ucap Rosella ketika benda baja itu terbang dengan suara bising yang menggema, tak lama suara bising bagaikan gemuruh petir itu menelan daratan ke dalam ledakan kecil yang membunuh ratusan iblis seketika.


Dua pesawat Thunderbolt itu yang terbang tepat melewati Rosella, sekilas pilot dan Rosella saling tukar pandangan, pilot itu yang menatap Rosella, langsung memberikan hormat militer sebelum menaikkan ketinggian dan memulai serangan dari arah lain.


"Ho??? Hohoho..... Mereka benar-benar menarik!"


Penuh dengan rasa semangat tentang manusia dunia lain ini, Rosella menambah kekuatannya dan membunuh semua yang ia lihat.


Logo di ekor pesawat Thunderbolt yang memiliki bentuk malaikat maut, membuat Rosella tak habis-habisnya tertawa lebar.


Saat gemuruh yang di ciptakan pesawat berhasil membuat seisi kota teralihkan ke angkasa, dari sisi lain, regu kesatria kerajaan yang di pimpin oleh Raja dan dua pahlawan Houki serta Rin, mereka langsung terhenti dan melihat ke angkasa.


"Rin! Lihat di angkasa!"


Tunjuk Houki dengan jarinya ketika dua pesawat terbang rendah melewati regu kesatria.


"Benda itu..... Tak mungkin!"


Houki yang sama kagetnya dengan Rin, mereka terdiam membeku di tempat membuat sisa kesatria dan bahkan sang raja sendiri ikut bertanya-tanya apa benda itu.


Sekali lagi pesawat terbang melewati mereka dengan ketinggian rendah, suara gemuruh itu kembali menggema.


"Rin! Itu benda dunia kita!!"


"Ayo kita harus cepat!"


Houki dan Rin langsung berlari secepatnya menuju tempat Tokiwaki, Raja sendiri tak tahu harus berkata apa ketika melihat benda itu.


'Benda apa itu....'


Sang Ratu Iblis yang mengamuk di area luar gerbang, bersama dengan tiga pesawat A-10A Thunderbolt II nama sandi Grimm "Reaper" menyerang dan menghabisi setiap iblis yang ada di luar.


Dari dalam gerbang, pasukan marinir berserta Navy SEAL dan Tim MARSOC menembaki sisa Iblis, seakan tak bisa melangkah lebih jauh, setiap iblis yang melintasi tembok yang hancur, mereka di sambut ratusan peluru beragam kaliber yang melesat sangat cepat.


Tokiwaki kehabisan kata-kata melihat ini, 'Mereka, mereka disini apa mungkin untuk menyelamatkan kami?'


Pemikirannya hanya bisa beranggapan seperti itu mengingat tentara itu bertanya padanya tentang siapa namanya dan dimana aslinya dia berasal, sangat masuk akal jika ia berpikiran kalau pemerintah dunianya mengirim tentara untuk mencari mereka.


'Kami.. Kami bisa pulang'


Setelah dua tahun di dunia ini, dimana harapannya kalau mereka bisa pulang kembali lagi ke dalam dirinya sekali lagi.


Ia tak berbicara selain diam menahan rasa senang yang menyelimuti dirinya.


Tak lama di kejauhan dari dalam kota, Tokiwaki melihat ratusan manusia dengan zirah besi mulai datang ke lokasinya, namun di antara para kesatria itu, Houki dan Rin tampak paling cepat berlari kearahnya.


"Rin! Houki!"


Kedua perempuan itu dengan cepat mendatangi teman mereka yang saat ini bersama dengan regu Marinir dan Navy SEAL.


"Halo, kalian"


Fujiwara dengan senyuman menatap ke kedua remaja perempuan yang menatap ke mereka dengan tatapan tak percaya.


"Aku tahu kalian pasti sama terkejutnya sepertiku, tapi ini kenyataan, mereka dari dunia kita"


"B..benarkah!?"


"Iya, aku tahu itu agak tak bisa di percaya!"


Houki dan Tokiwaki tampak sangat senang, Rin sendiri ia mulai sedikit takut melihat tentara dunia mereka yang entah bagaimana bisa ada disini.


"Anda pasti Rin Amane-san bukan? Saya Letnan Fujiwara, jangan takut, kami disini tidak akan berbuat jahat ke kalian"


"Ah...b..baik... Letnan Fujiwara-san"


Rin langsung tergagap ketika ia di ajak bicara dengan cara hormat seperti penduduk jepang pada umumnya.


Sementara itu, melihat tidak adanya lagi makhluk yang datang melewati gerbang, Jonathan hanya bisa berasumsi kalau mereka semua mati.


Di angkasa, tiga pesawat yang telah menghabiskan seluruh munisi yang mereka bawa mulai terbang berputar di atas kota.


("Disini Grimm 4-1-6, seluruh area telah di sapu bersih, kalian mulailah mengepelnya")


"Grimm 4-1-6, kerja bagus, kerja bagus, area telah bersih, terima kasih!"


("Copy")


Sebelum berputar balik menuju markas, satu pilot sengaja terbang melewati Rosella yang masih melayang di udara, sekali lagi pilot itu memberikan hormat militer sebelum tiga pesawat itu menjauh dari area tempur.


'Tidak hanya membantu kami, mereka bahkan sangat menghormati antar ras tanpa peduli siapa dan apa. Mereka benar-benar ras yang menarik'


Lalu tatapannya tertuju ke bekas pertempuran yang ada di luar gerbang, pikirannya tertuju ke pertanyaan,


'Siapa yang mengendalikan makhluk-makhluk ini'


Pertempuran yang telah berakhir menjadikan ini sebuah kemenangan mutlak untuk kerajaan manusia, namun apa yang menanti mereka yang berkuasa di kerajaan ini adalah fakta dimana hadirnya Rosella yang ikut serta dalam pertempuran berserta Marinir dunia lain sangat jelas menambah rumitnya keadaan untuk sang Raja.

__ADS_1


__ADS_2