Connected World

Connected World
Markas Garis Depan Delta


__ADS_3

Di tengah tenangnya perairan lepas pantai, sesuatu mulai tampak di cakrawala.


Lebih dari 10 kapal transportasi amphibi pembawa Tank M1A2 Sept V3, serta kendaraan lapis baja pengangkut infanteri M2 Bradley dan LAV-25, tampak mulai mendekati pantai.


Gemuruh dari mesin mulai terdengar, dan getaran di tanah pun mengikuti sesaat setelah kapal tersebut sampai di pantai dimana puluhan Tank langsung bergerak membentuk formasi.


Tak lama, kendaraan lapis baja itu mulai membentuk formasi tak jauh dari formasi Tank, mereka mulai mengeluarkan Marinir yang dengan sigap membentuk perimeter.


"Ugh...."


Kopral Jonathan Crish, 27 tahun. Saat ini ia sedang kebingungan akan apa yang ia lihat di depan matanya.


'Dimana kami?'


Pantai yang di tumbuhi pepohonan rindang, menjadi penunjuk kalau mereka saat ini berada di wilayah tropis.


"Apa anda mabuk laut, Kopral?"


Letnan Satu Fujiwara Sayaka, bertanya dengan nada sedikit menggoda kearahnya, Jonathan dengan cepat membantah karena itu sangat memalukan untuk seorang marinir yang punya penyakit mabuk laut.


"Lagian Letnan, apa anda yakin bersikap terlalu santai begitu?"


"hm? Memangnya aku tidak boleh bersikap begini ke bawahanku ya?~"


"ehm, bukan itu maksudku, tapi..... bukankah kita saat ini berada di teritori musuh?"


Pertanyaan Jonathan langsung di balas dengan raut wajah muram dari Fujiwara Sayaka, ia tampak tidak siap akan potensi konflik bersenjata yang mungkin akan terjadi.


'Seperti yang ku duga'


Tak tahu apa yang akan menanti mereka di tempat yang tidak mereka ketahui dimana ini, memberikan sedikit perasaan paranoid ke setiap marinir yang ada di sana, namun Jonathan yang masih menatap ke langit biru yang terbilang terlalu cerah ini, hanya bisa berasumsi kalau mereka berada di sebuah negara yang sangat terbelakang sampai-sampai polusi udara pun tidak terasa sama sekali.


...----------------...


"Haaargh......hm....."


"Bro, kalau kau menguap lebar, sebaiknya jangan blak-blakan, apa kau ga takut di marahi Letnan?"


Aku, Kopral Jonathan Crish, yang sebelum pensiun menjabat sebagai Sersan Mayor, sekarang mendapat tugas yang paling membuat suntuk.


"Lagian, kenapa pula aku harus takut? Kau sendiri apa ga bosan, Alex?"


Lance Corporal Alex, 23 tahun, dia yang baru saja naik pangkat ke Lcpl, sekarang mendapat tugas yang paling khusus untuk mereka pangkat Kopral kebawah.


Yaitu, menjaga gerbang masuk.


"Yah, jujur saja aku bosan, Kopral"


"Kan? belum lagi tempat ini terasa sangat sejuk dibandingkan Kalifornia yang selalu panas, ku rasa hidup pensiun disini ga terlalu buruk"


"Hehe ... leluconmu, ga lucu Kopral, lagian apa Kopral tahu ini dimana?"


"Entah"


"......"


Alex mulai menatapku dengan tatapan aneh, seakan ia sedang bersimpati kearah ku yang seakan kelelahan akan sesuatu.


Yah, wajar saja aku lelah. Sejak tiba disini, tugasku sebagai Kopral adalah mengatur skuad yang di tugaskan di bawah kepemimpinan Letnan Fujiwara Sayaka, mulai dari mendirikan tenda, menata parkiran kendaraan hingga membentuk perimeter bersama dengan regu Combat Engineer.


"Aku turut simpatik padamu, Kopral"


"Hei, kenapa kau malah terkesan mengejekku!?"


"Eeh!? Mana mungkin saya berani menghina anda, Kopral!"


"Tapi, kalau saya boleh berbicara bebas"


Aku kembali menoleh kearahnya yang sepertinya ia ingin mengatakan sesuatu yang cukup penting.


"Tempat ini, sama sekali tidak terdeteksi di GPS, bahkan aku berusaha menggunakan GPS, selalu nonaktif. Apa menurutmu, kita di dunia fantasi, Kopral?"


Canda Alex, namun candaannya justru menambah rasa was-was yang sejak kemarin memasuki pikiranku


Jujur, apa yang Alex katakan ada benarnya, karena sangat mustahil untuk DOD (Department of Defense) mengirimkan 2 regu kapal induk sekaligus hanya untuk sekedar latihan semata, belum lagi apa yang di lakukan DOD sama sekali tidak diketahui oleh Pers, membuat seluruh operasi ini sangat aneh.


"Yah, ku harap kita jangan sampai melawan naga bro"


"Ahahaha..... Kopral, apa anda pikir kita di dunia game DnD?"


"Yo, jangan di anggap lucu, mana tahu saja kan?"


Alex yang tertawa akan perkataan ku, membuatku semakin tidak bisa tenang akan kemungkinan itu.


...----------------...

__ADS_1


13 Februari 2023, Markas Garis Depan Delta.


Pusat Kendali dan Komando


"Letnan Satu Fujiwara Sayaka, berdasarkan hasil keputusan, kami memerintahkan anda bersama skuad aplha untuk melakukan investigasi ke wilayah barat laut. Operasi kalian di jadwalkan mulai pukul 1100 dan harus kembali ke Markas paling lambat 67 hari sejak kalian mulai bergerak, apa ada pertanyaan lagi?"


"Dengan hormat Kolonel, meminta ijin untuk menambahkan satu personel lagi ke regu Alpha"


"Hn... baik, siapa yang ingin anda tambahkan?"


"Spesialis Kopral Jonathan Crish"


Kolonel sedikit menaikkan alis matanya ketika mendengar nama Jonathan. Ia kemudian melihat bio data di laptopnya dimana tertulis jelas siapa Jonathan Crish.


"Oh, anak itu ya? Pilihan bagus, dia pernah berperan sebagai JTAC, jadi kalian pasti akan sangat terbantu dengan pengalamannya"


"('sebenarnya bukan itu alasanku memintanya ke tim')"


"Hm? Apa ada lagi yang ingin anda tambahkan, Letnan"


Saat mendengar suara pelan dari Fujiwara, Kolonel menatapnya, Fujiwara yang bergumam sendiri itu, langsung memperbaiki sikapnya dan berusaha untuk membuat alasan kenapa ia menggumam tadi.


"Baiklah, kalau begitu, anda boleh pergi. Temui tim mu, dan persiapkan apa yang kau perlukan"


"Terimakasih, Kolonel"


Markas Delta, markas yang di dirikan sejak H+1 Expedisi Marinir tiba di sini. Sekarang sudah terhitung hampir dua Minggu mereka tiba di dunia ini dan status pembangunan markas masih belum sepenuhnya selesai.


"Selamat pagi, Letnan"


Dua orang Marinir dari kesatuan Combat Engineer yang lewat di depannya langsung berdiri tegak dan memberi hormat.


"Pagi"


Jawabnya sambil melanjutkan langkah kakinya menuju tempat berkumpul.


'Instalasi pertahanan udara?'


Terlihat marinir yang mulai menurunkan sistem pertahanan udara berbasiskan peluru, Phalanx CIWS, dari kapal Aegis yang berlabuh tak jauh dari pantai.


Karena pelabuhan yang belum di buat, para marinir harus menurunkan dan membawa sistem pertahanan udara itu dengan mobil truk.


Suasana sibuk di pangkalan masih dapat terlihat dimana-mana, tepat saat ia sampai di titik temu tim. Satu orang masih belum sampai, dan wajar saja kalau satu orang itu tidak ada disini karena penempatan "dia" di tim ini terbilang terlalu mendadak.


"Siap mam"


Saat Fujiwara berjalan kearah gerbang utama markas, ia melihat sosok familiar yang nampaknya tengah bercanda dengan seorang Lance Corporal.


'hm.... dia tidak pernah berubah'


Senyuman tipis terbentuk di wajahnya yang terbilang sangat cantik itu.


"Hahaha! Kopral! wajahmu!"


Tawa lepas Alex saat Jonathan seakan membentuk wajah Kolonel yang sedang marah.


"Kalian semua, pergi keliling lapangan 25 kali!"


"hahahaha!!"


Seakan tertawa lepas melihat wajah Jonathan yang sangat jelas mengolok-olok Kolonel yang mereka berdua benci, sesaat itu pula keduanya langsung menyesal seumur hidup.


"ehm"


"eh!?"


"eh!?"


'Mampus kami'


'Mampus kami'


Pikir keduanya saat melihat Letnan Satu Fujiwara Sayaka yang menatap keduanya yang terdiam membeku tak bersuara.


"ehm.... Letnan! Maafkan kami!"


Dengan cepat Jonathan dan Alex berlutut di depannya berharap kalau Fujiwara tidak akan melaporkan keduanya.


"Kopral ikut denganku"


"eh!?"


Tepat saat ia ikut dengan ekspresi wajah putus asa karena membayangkan hukuman yang akan di berikan padanya bukanlah sesuatu yang bisa di bayangkan.


Atau setidaknya itulah yang ia pikirkan

__ADS_1


Unit yang di kirimkan oleh Markas Delta, adalah unit skuad spesialis dimana mereka memiliki tugas untuk melakukan penyelidikan terhadap potensi kehidupan di tempat ini.


'Berdasarkan laporan pesawat pengintai yang di terbangkan dari USS Gerald R. Ford, seharusnya ada potensi pedesaan sekitar 119 kilometer dari sini'


"Hah......"


"Kenapa anda mendesah, Kopral? Apa bertugas bersamaku tidak menyenangkan ya?"


"Egh!"


Jonathan yang mengemudikan mobil HMMV/Humvee dengan Letnan Satu Fujiwara Sayaka berada di sebelahnya, senyuman terlihat jelas di wajahnya membuatnya sedikit merinding


'Lagian kenapa dia ...... terlalu akrab denganku?'


Satu-satunya hal yang bisa ia ingat, adalah saat ketika ia masih menjabat regu Charlie Company dimana kala itu Fujiwara Sayaka masih berstatus Sersan Satu.


Dan itu pun mereka bertemu hanya saat latihan militer RIMPAC, sesaat setelah RIMPAC usai mereka tak bertemu lagi, atau setidaknya itu yang ia ingat.


"Fufufu"


'Seriusan, aku ga tahu apa yang ia pikirkan'


Saat Humvee yang di kawal M2 Bradley melewati dataran yang di penuhi rerumputan, mereka sesekali merasakan perbedaan udara yang ada disini dengan tempat mereka.


'Disini terlalu segar'


Jonathan yang terus mengemudikan mobil, tak hentinya berpikir kapan penugasannya selesai.


...----------------...


Regu Aplha Company, yang di bawah kepemimpinan Letnan Satu Fujiwara Sayaka, berhasil melintasi perbukitan yang dimana di prediksikan akan sampai di tempat yang di yakinkan adalah pemukiman penduduk sipil.


Selain itu, di suatu tempat.


"Hei, apa kau sudah dengar? Katanya kerajaan sudah berhasil mencegah kaum iblis ke wilayah kita selama setahun ini!"


"heh!? Para pahlawan yang di panggil itu ternyata sanggup juga melawan si ratu iblis itu ya?"


"Haha! Tentu saja! Mereka adalah simbol kesucian negara kita"


"ouh!"


Riuhnya tempat ini sedikit menganggu mereka yang ingin makan dengan tenang.


Salah satunya di sudut bar ini dimana lima sosok manusia nampak menyantap makanan dalam diam.


"Kita sepertinya terlalu terkenal, ya?"


Tokiwaki yang nampaknya agak malu dengan pujian dari para penduduk yang ada di bar ini, mulai menggaruk kepalanya.


"Riria, kau nampaknya tak peduli sama sekali dengan itu ya?"


Sambung Tokiwaki saat menatap gadis berkacamata yang memiliki ekspresi tenang.


"Yah, aku tidak perlu buang-buang waktu cuma untuk memikirkan pujian hampa"


Jawabnya dengan ekspresi datar tanpa peduli apapun yang akan di katakan tentang dirinya.


"Sudah-sudah, lagian Riria memang seperti itu. Jadi jangan ungkit-ungkit lagi ya, Tokiwaki"


Suzu mulai bergabung ke pembicaraan dengan nada yang dewasa, dari mereka berlima Suzu yang justru tampak lebih dewasa baik dari penampilan maupun cara bicaranya.


"Sudah, sekarang mari kita bicarakan tentang bagaimana menghadapi pasukan iblis di masa depan nanti"


Houki langsung ikut ke dalam pembicaraan, Rin yang sejak tadi diam juga ikut mendengarkan tentang bagaimana persiapan mereka kedepannya.


Tokiwaki sebagai pemimpin regu, ia memiliki tanggung jawab untuk di garis paling depan.


Tanggung jawab sebesar itu normalnya sangatlah sulit untuk di emban anak SMA seperti mereka, belum lagi ..


"Apa kita akan terjebak di dunia ini selamanya?"


Suzu mulai mengeluarkan topik pembicaraan yang selama ini berusaha mereka abaikan.


"Sudah setahun kita di dunia ini, tentang cara bagaimana kita pulang pun masih belum ada"


Apa yang di katakan Suzu sangatlah benar, mereka selama ini berusaha mengabaikan kenyataan dimana ini bukanlah rumah mereka, mereka berlima punya rumah masing-masing dan fakta kalau mereka sampai saat ini tak bisa pulang, cukup membuat pikiran mereka terbebani.


"Y...yah... kita harus segera menyelesaikan tugas ini, dan sambil mencari jalan pulang, setuju!?"


Melihat suasana depresi dari rekannya, Tokiwaki dengan nada riang berusaha mengembalikan keceriaan mereka. Walau itu lumayan efektif, namun mereka masih tidak bisa menyangkal kalau perasaan itu masih tetap ada di dalam hati mereka.


disudut bar seseorang dengan pakaian tebal yang menutup tubuhnya menatap kearah regu remaja itu dengan tatapan santai


("Jadi mereka ya?")

__ADS_1


__ADS_2