Connected World

Connected World
Alpha Company


__ADS_3

Pagi hari yang cukup tenang, Kerajaan Iblis di ruang singgasana Penguasa Ras Iblis sekaligus Ras Demi-human, Ratu Rosella de Voir Junois.


Ia duduk di kursi singgasana dengan seorang pria berlutut di depannya dengan ciri memiliki tubuh menyerupai monster, Minotaurs.


"Apa itu saja yang ingin kau sampaikan, Jufeer?"


"Iya, yang mulia"


"Baik, aku mengerti situasinya, tetap lakukan seperti biasanya dan jangan lakukan apapun tanpa sepengetahuan ku"


"Dengan senang hati, yang mulia"


Sesaat setelah ia selesai melaporkan keperluannya, Minotaurs bernama Jufeer, justru tidak bergerak, membuat alis mata Rosella terangkat sedikit.


"Apa ada lagi yang kau inginkan?"


"Maaf jika saya membuat anda bertanya seperti itu, Yang Mulia Rosella"


"Hanya saja, saya masih sependapat dengan Nona Sophia mengenai manusia yang berada di kerajaan kita"


Rosella menatap ke arah jendela di ruang singgasana dimana langit biru masih tampak sangat cerah di kerajaan ini, namun untuknya ini merupakan sebuah titik baru untuk kerajaan ini.


Untuk sekarang yang bisa ia lakukan hanyalah


...----------------...


19 Februari 2023,


("Disini Sherlodim, Mengkonfirmasi titik pendaratan, paket kalian datang")


Di luar kerajaan, tempat dimana Marinir mendirikan markas sementara untuk memulai operasi bantuan ke Kerajaan Ras Iblis, Marinir dari regu Alpha Company, yang di pimpin oleh Letnan Fujiwara dan Sersan Joseph sebagai wakil, mereka saat ini menunggu sesuatu yang di bawa oleh helikopter CH-53E Super Stallion.


Tak lama di cakrawala helikopter pun terlihat membawa sebuah LAV-25 ke tempat mereka.


Beberapa marinir dengan cepat bergerak ke bawah helikopter yang masih terbang cukup rendah dimana mereka memulai proses pelepasan pengikat yang terpasang antara kendaraan lapis baja dan bagian bawah helikopter.


("Ok, paket sudah sampai, kembali ke Markas")


Ucap pilot sambil terbang menjauh dari kerajaan sesaat setelah marinir mengkonfirmasi jika pengikat antara helikopter dan kendaraan lapis baja telah terlepas.


"Seperti biasanya, kalian masih tetap mengejutkanku sampai sekarang"


"Ah? Nona Rosella, selamat pagi"


Sapaan Fujiwara di balas dengan anggukan sebelum keduanya kembali menatap ke arah dimana para marinir yang tampak sibuk dengan beragam hal.


"Nona Rosella, mengenai proposal kami, apa kami bisa memulai operasi kami?"


"Humu, silahkan, kalian memiliki izin penuh dariku"


Sedikit penasaran, Rosella menatap ke arah manusia-manusia aneh yang mereka sebut sebagai Marinir dunia Amerika, mereka tampak mulai membawa banyak barang kearah penduduk yang penasaran melihat apa yang di lakukan manusia ini.


"Silahkan ambil ini, jangan takut, kami tidak berniat buruk ke kalian"


Ucap marinir yang mengenakan pakaian BDU (Battle Dress Uniform) lengkap dengan kevlar dan masker penutup wajah, karena mayoritas marinir disini mengenakan pakaian yang tidak menampilkan wajah mereka secara jelas, banyak penduduk justru takut dan seakan masih sangat curiga dengan mereka.


("Jangan takut")


Rosella yang melihat ini, langsung berdiri di antara keduanya.


Menggunakan bahasa ras iblis, Rosella dengan cepat membuat beberapa warga yang masih takut tampak sedikit percaya.


Butuh beberapa penjelasan darinya untuk membuat penduduk yang masih tidak percaya dengan manusia, mau membukakan diri mereka.


Hari kembali berjalan seperti biasanya namun kali ini pekerjaan yang Marinir lakukan sangatlah berbeda, karena mereka harus memulai pekerjaan dimana mereka membagikan kebutuhan dasar untuk masyarakat disini, dan sangat jelas itu sangat sulit di lakukan karena bagaimana persepsi penduduk terhadap manusia masih sangat rendah.


Rosella mengusulkan pasukan kerajaan untuk ambil bagian dalam tugas itu, dan hal itu langsung di terima baik oleh Marinir.


Berbeda untuk Alpha Company yang tampaknya memiliki tugas lain yang di perintahkan untuk mereka.


"Letnan Fujiwara, Atas perintah Jenderal Norman, kalian di perintahkan untuk melanjutkan perjalanan ke Timur, Silahkan anda bawa tim terbaik anda dan bawa bahan cadangan seberapa yang anda butuhkan"


"Baik, saya mengerti"


"Bagus, silahkan lanjutkan tugas anda, misi kalian dimulai sesaat setelah kalian pergi dari tempat ini dan kami harapkan laporan setiap 1x24"


"Terima kasih, Mayor"


Saat Fujiwara keluar dari tenda komando sementara wilayah kerajaan Demi-human, Fujiwara kemudian berjalan menuju arah lain dimana ia mencari Kopral Jonathan dan Sersan Joseph.


Untuk Jonathan sendiri, ia menghabiskan waktunya dengan bekerja bersama Pleton Engineer yang tampak tengah mengeluarkan kargo yang ada di kontainer baja.


"Bruh, barang-barang ini macam tidak ada habisnya" Keluh Jonathan saat tangannya terasa kram akibat banyaknya kargo dari dalam kontainer ini.


Belum lagi, jumlah kontainer yang dibawa dari Markas berjumlah 23 kontainer dengan beragam kargo bahan pangan dan pakaian untuk warga disini, membuat proses muat turun barang sangat melelahkan untuknya.


"Sudah lelah, Kopral?"


Ejek seorang sersan yang tampak tersenyum kearahnya yang banjir keringat.


"Yah, maaf saja kalau saya memang lemah, Sersan"


"Haha! Kau harus lebih banyak latihan angkat beban lagi, Kopral" Canda Sersan itu, kemudian ia menepuk bahunya sambil tertawa lepas


"Kau tahu, kalau kau sehari saja jadi Gunner Abrams, kau pasti akan terbiasa dengan beban seperti ini"


'Oh, pantas saja'


Melihat bagaimana sersan ini mampu tak berkeringat sama sekali setelah banyak barang ia turunkan, membuatnya sedikit penasaran, apakah semua Gunner/loader di Tank Abrams semuanya seperti dia.


"Oh, lihat siapa yang datang"


Sersan itu kemudian melihat ke pendatang baru yang membuat keduanya langsung memperbaiki posisi berdiri mereka


"Letnan, apa yang bisa saya bantu?"


"Sersan, maaf jika mengganggu waktu anda, saya memerlukan Kopral Jonathan ke dalam tim, apa anda tidak keberatan?"


"Tentu, silahkan saja"


"Terima kasih"


Seperti itulah kehidupan di dalam militer, kalau kau berpangkat rendah, jangan harap opinimu berarti banyak untuk mereka yang Senior Officer keatas.


...----------------...


"Hm...hm...hm..~"


"ehm...."


Namaku Kopral Jonathan Crish, pensiun sekali dari Kesatuan Korps Marinir dimana jabatan terakhirku adalah Sersan Mayor, dan sekarang ini, kami berada di dunia lain.


Atau setidaknya itulah yang aku percaya, hanya saja bukan itu yang membuat kami, Alpha Company, terdiam tak bersuara.


"Errr.... Nona Rosella?"


"Kenapa~"


"ehm.... bukankah anda harusnya memimpin kerajaan anda?"


"Lalu?"


"Yah, bukan itu, cuma..."


Rosella de Voir Junois, dia adalah penguasa ras iblis dan demi-human, memiliki rambut merah scarlet serta sepasang tanduk di kepalanya, sangat jelas menandakan jika ia adalah ras iblis yang sangat di takuti oleh buku legenda.


Hanya saja, mengenai alasan kenapa dia sekarang bisa ada di dalam Humvee bersama dengan kami, membuat aku serta Letnan dan Sersan hampir terkena serangan jantung karena hal mendadak ini


"Uhm, nona Rosella, bisa anda jelaskan kenapa anda disini?"


Fujiwara dengan tenang bertanya ke Rosella namun bukan hal itu yang membuatku penasaran, melainkan tatapan Fujiwara sedikit menyeramkan kearah ku.


"Dan bisa jelaskan, kenapa anda sangat dekat sekali dengan Kopral?"


Suara menyeramkan itu berhasil membuatku terdiam tak berani menoleh kearahnya.


"Fufufu.... Kenapa? Lagian, aku ingin tahu tentang kendaraan kalian ini~"


"oh, Begitukah?"


Suaranya semakin terasa menyeramkan, lagian kenapa dia nampak sangat marah hanya karena nona Rosella duduk kursi depan, tepat di tengah-tengah antara kursi penumpang dan pengemudi. Untung mobil ini menggunakan perseneling yang terletak di atas sebelah kiri dari setir membuat ruang untuk satu penumpang di tengah masih memungkinkan.


'Aku jadi punya firasat buruk soal ini'


Keluhku dalam pikiran saat mulai menginjak pedal gas, Sersan yang duduk di belakang memilih untuk diam tak berkomentar apapun.


Humvee kemudian bergerak dengan dukungan kendaraan lapis baja LAV-25 yang membawa 7 Marinir dari 1311 Resimen Infanteri Mekanis.


Kami kembali bergerak menuju arah pegunungan dimana tugas yang kami terima yaitu mencari peradaban lain yang mungkin bisa memberikan sebuah informasi lebih jauh tentang dunia ini.


"Hm.... Benda ini sangat nyaman untuk di gunakan"


Puji Rosella, aku berusaha untuk tidak mengajaknya berbicara dengan pikiran masih fokus di depan setir, namun karena ini dunia yang sama sekali aku tidak yakin kalau ada peraturan lalu lintas yang berlaku, aku mulai menjawab pembicaraannya, hanya sekedar buang-buang waktu semata.


"Benda ini namanya Mobil, ini bisa bergerak karena menggunakan mekanisme mesin"

__ADS_1


"Hooo...~ Jadi sihir apa yang bisa membuat benda ini?"


Aku nyaris tertawa dibuatnya, cukup masuk akal kenapa Rosella menganggap jika benda ini dibuat menggunakan sihir karena di peradaban seperti mereka, Pabrik sangat tidak mungkin ada disini


"Benda ini tidak dibuat dengan sihir, melainkan menggunakan teknologi manusia yang sudah cukup maju"


"Hooo"


Walau bahasa ku masih sangat kaku, tapi sepertinya ia tidak keberatan dengan caraku berbicara yang terdengar sangat aneh ini


"Kopral, kita sebentar lagi akan melewati lembah perbukitan, sebaiknya perhatikan jalanan"


Tegur Sersan saat kami hampir sampai di kawasan jurang yang cukup dalam.


"Hentikan kendaraan"


Perintah Fujiwara saat itu juga, tak lama saat aku menghentikan kendaraan, Fujiwara keluar dari mobil kemudian di ikuti Sersan Joseph dan beberapa marinir yang keluar dari kendaraan lapis baja LAV-25.


...****************...



"Hoo.... Baru kali ini aku melihat air sejernih ini"


Ucap salah satu Marinir saat melihat danau di depan kami yang terhubung dengan sungai bercabang serta sebuah jembatan kayu yang tampak sangat tua.


"Hati-hati melangkah, bisa saja kayu itu lapuk"


Ucapku ke Marinir yang tengah mengawasi sekitar, Rosella yang sejak tadi di sampingku, ia mulai menatap ke pegunungan yang otomatis membuatku sedikit menoleh kearahnya.


"Ada apa, Nona Rosella?"


"hm...hm...~ Tidak ada, aku cuma merasa nostalgia dengan tempat ini"


"oh? Apa artinya anda pernah kesini, sebelumnya?"


"hm.... Lebih tepatnya berkunjung ke tempat rekan lama"


Memilih untuk tidak bertanya lebih jauh, aku dan Marinir yang lain kembali mengawasi sekitar, sementara Letnan dan Sersan, mereka berdua nampak tengah membicarakan sesuatu.


'Kenapa aku merasa diawasi?'


Aku berusaha melihat sekitarku, namun karena tidak adanya apapun disini sangat jelas mengatakan kalau tempat ini tidak ada potensi bahaya sana sekali, namun perasaan yang mengganjal ini entah kenapa tidak bisa hilang.


"Kopral, apa ada masalah?"


Salah satu Marinir yang penasaran melihatku, mulai berbicara yang sontak membangunkan ku dari lamunan.


"Tidak, tidak ada, aku cuma melamun"


Namun untuk Rosella sendiri, ia mulai membentuk ekspresi wajah seram yang membuatku merinding hingga ke tulang punggung ku


"Kukuku...."


Tanah mulai bergetar, Letnan dan Sersan langsung berlari kearah kami.


"Semuanya waspada!"


Perintah Fujiwara ketika getaran di tanah semakin mengeras, tak lama dari sungai itu, sesuatu terlihat akan keluar dari dasar danau itu.


"What the!?"


Salah satu Marinir yang membelak di balik visor kacamata pelindung, menatap ke makhluk yang perlahan menampakkan diri dari danau.


"Semuanya, evakuasi!"


Teriakku pada semua marinir yang ada, Driver LAV-25 dengan cepat menginjak pedal dan bergerak mundur, aku berlari kearah Humvee namun Rosella sendiri


"Apa yang kau lakukan! Cepat kita harus pergi dari sini!!"


Namun Rosella tidak bergeming akan teriakanku padanya, dalam hitungan detik Rosella mulai di kelilingi oleh semacam energi aneh


'Ini?... sihir?'


"Mari sini kau! Sudah lama aku tidak bertarung!"


Rosella dengan energi sihir yang membludak dari dirinya mulai melesat ke makhluk yang tampak sangat kesal dengan kehadiran kami.


Makhluk yang memiliki bentuk seperti kadal raksasa dengan sepasang sayap, tampak akan mengaum, namun sebelum ia bisa mengamuk, Rosella menghantam wajah makhluk itu dengan sangat keras membuat makhluk itu terbanting menghantam air danau


"Whoa"


Rosella yang memukul keras makhluk itu sampai terhempas keras, mulai tertawa seakan melepaskan frustrasinya dalam pukulan itu


"Hahahah! Cuma itu kemampuanmu!?"


'Dia maniak' Pikirku saat melihat bagaimana Rosella yang seakan mempermainkan makhluk itu.


"Terus, coba serang aku"


Ejek Rosella ketika melihat bagaimana makhluk itu tak mampu menyerangnya, Rosella kembali mengeluarkan energi sihirnya dan menyerang makhluk itu dengan serangan sihir lain.


("Kopral, apa kita harus membantunya?")


Tanya Gunner LAV-25 yang langsung ku jawab dengan pertanyaan lain.


"Kenapa kau malah bertanya padaku?" Balasku dari radio ke Gunner LAV-25 yang tampak merasa tak berguna dalam pertarungan ini.


Sementara itu Rosella yang masih menikmati pertarungan dengan Kadal raksasa bersayap ini, mulai sedikit kesal akan sulitnya makhluk ini untuk mati.


"Hyaah! Mati kau!"


Bentak Rosella ketika menghajar kadal itu dengan kekuatan mengerikan bahkan membuat angin di sekitar kami berhembus keras seakan angin ribut sedang terjadi disini.


"Gyaaah!"


Monster itu mengaum sekali lagi, Rosella yang terkena auman itu sedikit menyeringai bagaimana makhluk ini sangat keras kepala.


'Heh..... mari ku tunjukkan padamu siapa aku! penguasa iblis sebenarnya'


Tepat saat ia akan menambah kekuatannya sesuatu bergema layaknya guntur dari petir mengaum di sekitar.


Kepala dari monster itu di hantam ledakan tak lama setelah suara guntur itu menggema, lalu satu persatu suara keras kembali diikuti ledakan menghantam tubuh monster.


"Ha!?"


Mata Rosella terbelak melihat monster itu di telan ledakan yang membabi-buta tak henti-hentinya menghantam tubuhnya


"KEEP SHOOTING! DON'T LET THAT THING ALIVE!"


Saat ia mendengar bahasa yang aneh, Rosella berbalik badan, di belakangnya, manusia berpakaian aneh dengan senjata aneh itu tampak menyerang monster ini hanya saja yang tak bisa ia terima oleh akalnya adalah


"Benda itu....."


Benda baja yang ia kira hanya kendaraan biasa, melepaskan suara guntur sangat keras, bertubi-tubi tanpa henti, benda-benda besi itu menyerang dan ******* monster kedalam serangan beruntun seakan tidak memberikan jeda untuk bisa menyerang balik.


"EAT THIS YOU STINK LIZARD!"


("Grrrahhhh!!!")


Ledakan kembali menghantam kepala monster itu, kali ini ledakan yang menghantam monster itu datang dari seorang prajurit dunia asing yang ia tahu siapa namanya.


'Jonathan? Apa sebenarnya mereka ini..... mereka apa penyihir!?'


Benda yang di tangan Jonathan bagaikan tongkat sihir yang terbuat dari besi, Rosella tak pernah mendengar apapun tentang tongkat sihir yang seperti itu, belum lagi mampu mengeluarkan kekuatan yang mengerikan seperti itu membuatnya sedikit merinding, saat itu juga ia tahu satu hal yang ia sudah tahu sejak pertama ia bertemu dengan pimpinan manusia aneh ini.


'Mereka..... terlalu kuat untuk kami'


Masih tidak percaya dengan apa yang ia lihat, Monster yang sepenuhnya terbaring mati dengan kondisi hancur akibat kekuatan dari manusia aneh ini, Rosella hanya bisa terdiam membatu seakan kehabisan kata-kata.


Jonathan sendiri, ia sedikit berkeringat setelah menembakkan roket FGM-148 Javelin tepat ke kepala makhluk itu.


'Man, tak pernah ku sangka kalau benda ini bisa membidik benda selain Tank' Pikirnya saat menurunkan Javelin dari bahunya, sekali lagi ia berterima kasih kepada penemu senjata ini, karena sangat jelas kalau mereka tak akan mungkin bisa membunuh makhluk ini hanya bermodalkan roket anti-tank biasa.


Pertarungan dengan cepat berakhir, Rosella sendiri ia mulai turun setelah energi sihirnya mulai terasa menipis, namun ia justru tetap diam seakan tak mau berbicara sama sekali ke Marinir yang tengah melakukan cek ulang ke makhluk yang baru saja di bunuh oleh mereka.


'Mereka terlalu berbahaya, kekuatan mereka bahkan melebihi kekuatanku' Pikir Rosella ketika melihat bekas luka di tubuh Naga ini, Naga ini yang kemungkinan berusia 130 tahun bisa dengan mudah di bunuh oleh manusia ini tanpa perlu harus berhadapan langsung dengan naga ini, membuatnya sedikit merinding ngeri sekaligus tertarik dengan kekuatan mereka yang sebenarnya.


'Sudah kuduga, mereka manusia yang menarik'


...****************...


Di suatu tempat, jauh di Timur, tampak dua manusia yang berjalan melewati padang rumput yang luas mulai terlihat waspada setelah melihat sesuatu di kejauhan.


Sarashiki Riria dan Amakuri Suzu, dua dari lima pahlawan yang di panggil oleh kerajaan manusia untuk melawan ras iblis yang tengah mengancam, keduanya tampak shock akan sosok di kejauhan itu.


"Suzu... Itukan"


"Iya, aku tahu"


Keduanya melihat ratusan hingga ribuan makhluk dengan bentuk aneh tampak bergerak kearah mereka. Makhluk-makhluk yang bergerak dimana diantaranya tampak seperti naga kecil mulai terbang dan melesat kearah mereka.


"Riria!"


Teriak Suzu ketika melihat makhluk-makhluk itu mulai berlari kearah mereka. Riria yang berperan sebagai High Priestess mulai merapalkan mantera yang tak lama energi berwarna putih menyelimuti mereka berdua.

__ADS_1


"Divine Protection!"


Barrier tak kasat mata itu langsung menghentikan naga itu yang berjarak beberapa meter lagi dari mereka, seakan menabrak dinding, naga-naga itu terjatuh, Suzu yang tak menunggu perintah, langsung mengeluarkan sihirnya.


"Wind cutter!!"


Ia menebaskan pedangnya di udara yang tak lama angin yang berbentuk seperti tebasan mulai menyerang empat naga yang tak sempat bangkit.


Naga itu dengan cepat terbunuh seketika. Keduanya mulai bersiap akan serangan dari unit iblis yang berjarak beberapa meter dari mereka.


"Wind Blaze!" Tebas pedang Suzu kearah para iblis kemudian di susul Riria dari belakang.


"Scream Burst!"


"Riria! Gunakan barier!"


Riria langsung menciptakan pelindung di depan mereka, Suzu mulai merapalkan mantera lain dimana angin di sekitar mereka mulai berhembus ke satu titik yang perlahan membentuk seperti tornado.


"Tornado Slicer!!"


Angin berputar-putar itu mulai menyapu para iblis dimana banyak dari mereka tercincang rata akibat angin itu.


"ugh....."


"Riria, apa kamu baik-baik saja!?"


Teriak Suzu ketika melihat Riria yang terduduk di tanah dengan wajah memucat.


"ghuk.... Aku... aku kehabisan mana"


Ucap Riria dengan nada lemah, Suzu yang melihat situasi yang sangat jelas tidak memungkinkan untuk mereka bisa bertarung mulai mengumpat dalam pikirannya.


'Kami harus mundur'


"S...Suzu?'


Suzu mulai mengangkat badannya dan mulai berjalan, di kejauhan tentara-tentara iblis itu kembali berdatangan seakan tak ada habisnya.


"Riria, kita harus pergi! Kita harus meminta bantuan!"


Riria yang terlalu lemah untuk bisa bersuara hanya bisa diam, dengan kondisinya yang tak bisa bertarung, Suzu berusaha menambah kecepatan larinya berusaha lari dari kejaran para iblis itu.


"Kyah!"


Suzu dan Riria terbanting ke tanah sesaat setelah sebuah anak panah berhasil menembus kaki Suzu.


'grrrh!!! sakit!!'


Jerit Suzu dalam kepalanya ketika melihat lukanya yang mulai di banjiri darah. Riria yang melihat ini, berusaha sebisanya untuk bergerak dan merapalkan mantera pemulihan, namun ia sama sekali tidak punya mana lagi untuk bisa mengaktifkan sihirnya.


"Riria! Lari! Kau harus pergi!"


"T..tidak.... a..aku"


Riria mulai ketakutan ketika melihat jarak iblis itu semakin mendekat, dengan keadaan medan dimana hamparan rumput yang sangat luas, membuat mereka terbuka akan serangan jarak jauh.


Keduanya yang terpojok di tambah dengan luka Suzu yang semakin terasa menyakitkan, Riria hanya bisa memejamkan matanya dan berdoa sekeras mungkin.


'Tolong kami, Tokiwaki!'


Seakan doanya di jawab oleh para Dewi, sebuah suara datang dari kejauhan namun suara itu sangat tidak ia kenali berasal darimana dan apa itu.


Bagaikan suara rentetan tembakan terdengar menggema di angkasa. Suzu dan Riria keduanya langsung terdiam membeku akan apa yang keduanya lihat di angkasa.


"Itukan......"


"Tidak mungkin...."


Dua pesawat A-10A Warthog II terbang dengan ketinggian rendah, mulai menghujani para iblis itu dengan rentetan peluru 30 mm.


suara keras sekali lagi menggema di sekitar area, tanah seakan ikut bergetar akibat dampak dari hujan peluru itu kembali membuat keduanya melongo akan pemandangan ini.


Seakan para iblis itu seperti semut, mereka dengan cepat di bantai habis oleh dua pesawat yang terbang di angkasa seakan menguasai langit.


'B....bagaimana mungkin.....' Suzu terdiam, mulutnya terasa bergetar ketika melihat benda yang di angkasa itu.


"Suzu! Itukan!"


Dengan nada yang seakan menahan rasa gembira, Riria berjalan gontai ke Suzu yang sama sekali tidak memperdulikan lagi rasa sakit di kakinya.


"Tidak salah lagi, Riria! Itu benda dunia kita!"


Suzu yang tiba-tiba meledak dalam kegembiraan, mulai berdiri dan melambaikan tangannya dengan penuh semangat ke pesawat itu.


Satu pesawat A 10-A yang kebetulan terbang rendah, saat menoleh dari balik kokpit, ia melihat sekilas, dua manusia dimana salah satunya tampak terluka.


"Oiii!!! Kami disini!!"


Teriak Suzu ke pilot yang masih terbang di angkasa, tak lama dua pesawat itu mulai terbang menjauh dari mereka namun Suzu masih tidak bisa menghentikan rasa senangnya.


"Riria!! Itu tadi!"


"Iya! Aku lihat!! Tak salah lagi!"


Riria yang mulai merasakan adanya sedikit mana yang tersisa di dalam dirinya, mulai merapalkan mantera ke Suzu.


"Wahai Dewi yang pengasih"


lingkaran sihir terbentuk, dan luka pun langsung tertutup seakan tidak pernah ada sama sekali, namun perasaan penuh akan semangat masih menyelimuti keduanya, mereka sangat senang sampai-sampai mengabaikan kalau mereka nyaris mati tadi.


"Riria, kita mungkin bisa pulang!"


"hm! benar!"


Keduanya yang masih di telan oleh rasa gembira, mulai berpelukan dengan erat, air mata yang tak bisa di tahankan mulai mengalir membasahi wajah keduanya.


"Syukurlah.... kita...."


Kesenangan mereka langsung di gantikan sesaat setelah sesuatu datang mendekat kearah mereka.


"Suzu! Ada yang datang!"


Keduanya mulai siaga, namun sesuatu yang datang dari cakrawala bukanlah sesuatu yang mereka sangka.


"Suzu! Itu!"


Riria menunjukkan jari tangannya ke sesuatu di langit.


"Riria! mereka itu...."


Di langit tampak sebuah helikopter UH-1 Venom di kawal dua helikopter AH-1Z Viper mulai mendekati wilayah tempat tadi Riria dan Suzu bertarung.


Tak lama helikopter mulai mendarat dan menurunkan beberapa manusia berseragam BDU penuh.


"Hoiii!!! Disini!"


Teriak Riria dan Suzu ke Marinir yang baru saja turun dari helikopter, mereka berdua langsung berlari ke arah marinir yang masih tampak siaga ke keduanya, Helikopter mulai terbang lagi berputar di sekitar area dimana mereka menyisir sekitar tempat ini.


"T..tunggu! Jangan tembak kami! Kami bukan orang jahat!"


"Kalian dari bumi kan!?"


Keduanya yang berusaha berbicara ke Marinir yang masih waspada ke keduanya.


Mereka berdua yang tak bisa bahasa Inggris, berusaha berbicara dengan bahasa Jepang berharap tentara ini mengerti apa yang mereka katakan.


"Whoa..whoa... wait ladies, hold up a sec"


Salah satu Marinir yang mulai merasa kalau keduanya ingin mengatakan sesuatu, mulai menenangkan mereka yang tampak sangat senang dengan kedatangan mereka.


"um.... We.. aren't enemies, we have come from Japan! You from Earth, right sir!"


Salah satunya yang berbicara dengan bahasa Inggris yang sangat kaku itu, membuat semua marinir yang ada disitu terdiam kaget.


"What!?"


Riria dan Suzu sendiri, keduanya yang menangis gembira berusaha untuk tidak melompat kegirangan saat melihat para marinir ini yang tampak sangat terkejut akan pengakuan Suzu.


...----------------...


"Reaper 3-1, terima kasih untuk dukungan udaranya, kerja bagus, seluruh area telah aman, kami lanjutkan kembali"


("Disini 3-1, di mengerti, RTB")


Di kejauhan, empat manusia yang menatap kearah padang rumput bekas pertarungan di puncak bukit, mulai bersiap bergerak kearah lain meninggalkan lokasi itu seakan tak pernah terjadi apapun.


...----------------...


Markas Delta, Februari 2023.


"Kolonel, kita menerima laporan dari Tim SEAL jika wilayah telah bersih, dua manusia yang terpojok itu tengah di amankan oleh Marinir"


"Kerja bagus, laporkan padaku perkembangannya segera"


"Laksanakan"

__ADS_1


Letnan itu kemudian bergerak keluar dari gedung sementara pusat komando Marinir Batalion Kedua, 2nd Marines wilayah ekslusif khusus dunia lain.


Apa laporan yang ia tunggu adalah sesuatu yang membuat seisi ruangan hampir jatuh dalam kepanikan akan fakta yang di laporkan oleh Marinir di garis depan, kenyataan tentang dunia aneh ini serta bagaimana dua dunia bisa saling terhubung pun masih menjadi misteri untuk kedua dunia itu.


__ADS_2