
"Tetap pertahankan posisi! Jangan biarkan mereka mengepung kita!"
Di tengah pertarungan yang sengit dimana 13 pasukan kesatria dari suatu kerajaan melawan ratusan pria yang tampaknya dari organisasi kriminal, seorang wanita dengan rambut perak tampak mengkomandoi pasukannya yang mulai terkepung.
"Argh!"
Salah satu ksatria itu terkena serangan dari musuh, ksatria itu langsung terluka parah menyebabkan formasi mereka mulai pecah.
"Hahaha! Lihat kalian! Kalian akan mati disini!"
Tawa seorang pimpinan dari para musuh yang melihat satu persatu ksatria itu terluka parah dan ada yang mati akibat kehilangan banyak darah setelah terkena tebasan di badannya.
"Grr... Beraninya kalian!"
Bentak Wanita rambut perak itu dengan kemarahan sangat jelas terlihat di wajahnya
Ia dengan kekuatannya kembali menyerang musuh yang tampak tak kenal menyerah.
'grrr...'
"Sword of light!"
Dengan kekuatan melapisi pedangnya, ia mengayunkan pedang itu kearah para musuh yang menyerang mereka, seketika 10 musuh tersebut tercabik akibat serangannya.
"Putri Tiara!"
Saat salah satu ksatria berteriak kearahnya, wanita bernama Tiara itu langsung berbalik dengan cepat, namun reaksinya kurang cepat dimana salah satu musuh tampak siap mengayunkan pedang kearahnya.
"Sampai jumpa, Putri"
Tak bisa bersuara lagi karena melihat ayunan pedang yang kearahnya lebih cepat daripada reaksi tubuhnya, Tiara hanya bisa mempersiapkan dirinya terkena serangan yang akan melukainya
Namun rasa sakit itu tak datang sama sekali, justru suara guntur yang amat keras menggema di sekitar yang sontak semua orang yang ada terdiam membeku.
"Ha?"
Tiara melihat musuh yang tadi akan menebaskan pedangnya, sekarang terbaring di tanah tak bergerak dan juga tak bernafas dengan lubang kecil tampak terbentuk di kepalanya.
"Kemari kalian semua! Hahaha!"
Lalu suara baru datang membuat semua perhatian tertuju ke pendatang baru.
Di kejauhan seorang pria memegang semacam tongkat besi lalu satu orang yang sangat ia kenali siapa itu.
"Ratu Iblis, Rosella!?"
Para Ksatria pun tampak terkejut ketika melihat sosok Rosella yang berjalan mendekati mereka dengan aura gelap menyelimuti tubuhnya.
"Dasar serangga!"
Musuh yang kesal dengan kehadiran pendatang baru itu, langsung menyerbu Rosella, namun Tiara yang sangat tahu jika ratu iblis Rosella itu adalah musuh umat manusia yang sangat berbahaya, ia hanya bisa terdiam, kedua tangannya terasa bergetar dalam ketakutan ketika melihat sosok Rosella.
Hingga sesuatu yang tak ia sangka pun terjadi,
"Dasar rendahan"
Rosella dengan nada sedingin es mulai menyerang para musuh yang sontak membuatnya semakin terdiam tak bisa berkata-kata.
'Kenapa dia...'
Rosella menyerang musuh yang tadi mengepung mereka dengan membabi-buta, serangan api yang melapisi pedangnya dengan cepat membunuh para musuh yang tadi mengepung mereka tanpa ampun.
Saat Tiara tengah tenggelam dalam pikirannya sendiri, seorang pria dengan baju aneh tampak mendekati mereka, mengenakan seragam berwarna hijau di lapisi kain aneh serta memakai helm, pria itu tampak berjalan dengan tenang mengamati mereka.
"Siapa kau!"
Dengan intonasi mengintimidasi, Tiara langsung waspada ke pria aneh itu, pria itu tampak tak menunjukkan adanya sikap bermusuhan padanya, Pria itu justru menaikkan kedua tangannya ke atas menandakan kalau ia tidak berniat menyerang atau bertindak apapun pada mereka.
"Maaf jika saya ikut campur dalam hal ini, tapi kalian terlihat di serang oleh mereka. Apa anda bisa memaafkan kelancangan kami?"
Ucap pria itu dengan bahasa yang sangat kaku, Rosella, sang ratu iblis yang selesai dengan para bandit yang tadi mengepung kami, mulai berjalan kearah pria aneh itu.
"Heh.... Sangat gampang"
Ucap Rosella dengan nada bangga ke pria itu, namun pria itu yang tampak seperti manusia biasa, justru menghela nafas seakan ia tak merasa takut sama sekali ke Ratu Iblis Rosella.
"Uhm.... Siapa kau! Kenapa kau bisa bersama dengan 'dia' "
Ucap Tiara sambil menatap ke Rosella, namun pria itu hanya mengangkat bahunya seakan ia menyerah akan topik itu
"Merepotkan untuk di jelaskan, tapi dia ini entah bagaimana bisa ikut denganku"
"Ah!? hei, apa maksudnya itu? Apa kau menganggap kalau aku ini menyusahkan!?"
Tak terima dengan jawaban dari pria aneh itu, Rosella mulai tampak marah, Tiara melihat ekspresi kemarahan Rosella mulai merinding ketakutan, namun saat ia menoleh ke pria itu, ia tak percaya dengan apa yang dilihatnya.
'Eh!? Dia tak takut sama sekali!?'
...***************...
Saat ini, entah bagaimana aku, Kopral Jonathan, bisa berada di situasi yang aneh.
Saat kami akan kembali ke Markas untuk melaporkan soal perpindahan penugasan ku serta mengikuti perintah untuk mengajak Rosella bertemu dengan Letnan Jenderal Norman, kami entah bagaimana bisa berhadapan dengan sekumpulan Ksatria yang tampak di kepung oleh ratusan manusia yang tampak seperti kumpulan kriminal jalanan.
Mulanya aku berpikir mereka akan baik-baik saja, namun itu berubah ketika melihat empat dari 13 ksatria itu terluka parah dan salah satunya tampak mati akibat kehabisan darah karena luka sayatan yang cukup dalam
Melihat situasi yang berbahaya itu, aku tak punya pilihan lain selain menyerang mereka.
__ADS_1
'Man, aku berani taruhan kalau laporan soal penghitungan munisi nanti di markas, aku akan di interogasi habis-habisan sama kepala inventori'
LACE Report: Liquid, Amunition, Casualties, and Equipment Report, adalah sebuah kertas ajaib dimana jika kau ada kesalahan sedikit dalam laporan itu, maka gajimu tidak hanya akan di potong, melainkan kau akan di lemparkan ke peran pendukung di markas tanpa adanya kesempatan untuk kembali ke garis depan serta kenaikan pangkat di atas NCO/Non-commissioned Officer/Pangkat Sersan & Kopral.
Staff Sergeant/SSgt, di markas pernah berkata padaku saat pertama kali aku di kesatuan marinir, jika kau mau naik pangkat maka gunakan munisi mu secara efektif dan selalu ingat alasan kenapa kau menembakan senjatamu, dengan begitu kau punya nilai plus untuk naik ke jabatan Commissioned Officer.
"Ini akan menyusahkan"
Aku menghela nafas lalu menatap ke mereka yang tampak membeku melihat kehadiran Rosella disini.
"Uhm, maaf apa kami bertindak lancang dengan mengintervensi ini?"
Tanyaku dengan bahasa yang sangat kaku.
"Tidak, justru saya sangat berterimakasih karena telah menyelamatkan kami, tuan"
Gadis dengan rambut berwarna perak mengenakan jirah yang melapisi pakaian khas bangsawan itu tampak menyapaku dengan sangat formal.
"Saya, Tiara Vunois Claudisse, Putri ketiga dari Kerajaan Vunois, kami sangat menghargai upaya kalian yang menolong kami, begitu juga dengan anda......"
"... Ratu Iblis Rosella "
Aku tak tahu kenapa, tapi senyumannya itu membuatku sedikit risih.
Para Ksatria yang dibawah kepemimpinan Tiara tampak mulai merawat pasukan mereka yang terluka serta menyingkirkan tubuh musuh yang di habisi seorang diri oleh Rosella.
'Padahal sudah kubilang sama dia, tapi kenapa dia malah...'
Aku hanya bisa mengerang dalam kepalaku saat melihat semua kondisi tubuh musuh yang di habisi oleh Rosella.
"He..he...he... Apa sekarang kau mengerti seberapa kuatnya aku, kan?"
Rosella dengan senyuman bangga tampak sangat senang dengan apa yang ia lakukan, aku yang tak mengerti maksud dari perkataannya hanya bisa menaikkan alis mataku.
"Apa itu adalah sesuatu yang harus aku tanggapi dengan serius, nona Rosella"
Aku kembali ke cara bicaraku padanya yang sontak mendapat tatapan tak suka dari Rosella.
"Hump! Kenapa kau malah memanggilku seperti itu lagi!"
Protesnya, namun aku yang tak mau ambil pusing akan komentar itu hanya menjawab dengan nada setengah hati.
"Karena anda bangsawan"
"grrrr... Kau sangat keras kepala"
Aku mengangkat bahuku akan retorika darinya.
Saat kami berdua kembali dalam diam, Rosella yang menatap ke Putri bernama Tiara Vunois Claudisse dari kerajaan Vunois membuatku sedikit tertarik dengan apa yang Rosella pikirkan soal menyelamatkan manusia yang ia benci.
Tepat sebelum aku bisa mengatakan apapun, Rosella langsung menyelaku.
"Mereka adalah Kerajaan yang dari dulu selalu menjadi paling pertama yang menyerang kerajaan iblis dengan dalih ingin menyelamatkan umat manusia, karena posisi kerajaan mereka bersebelahan dengan kerajaan kami, mereka merasa kehadiran kami justru merupakan ancaman"
'Jadi begitu situasinya'
Proses penyingkiran tubuh para bandit itu lumayan lama dari yang ku pikirkan, karena dunia ini memiliki sihir, aku mulanya berpikir kalau mereka akan membakar tubuh itu dengan sihir, tapi tampaknya mereka tak berpikiran sampai kesitu.
"Tuan, ehm.. bisa saya tahu siapa nama anda, penyelamat kami?"
Tiara yang telah selesai dengan Ksatria, ia mulai berdiri di depanku dengan para ksatria lainnya mulai berlutut khas Ksatria di buku cerita yang pernah ku baca.
"Tolong jangan berlutut di depanku, nama ku Jonathan Crish, aku kebetulan lewat di area ini"
"Kalau begitu.."
Putri bernama Tiara Vunois Claudisse itu kemudian berdiri dan menatapku dengan senyuman yang sekali lagi membuatku sedikit risih.
"... Bagaimana kalau anda datang ke kerajaan kami, saya sangat senang jika anda menerima undangan saya"
Melihatnya yang mengundangku, aku mulai berpikiran negatif, dengan cepat aku menolak tawarannya namun Putri bernama Tiara itu masih bersikeras mengajakku ke kerajaannya.
"Maaf nona Tiara, saya punya kewajiban lain, saya sangat terhormat jika anda bersedia membiarkan saya kembali melanjutkan perjalanan, lain waktu mungkin saya akan mengunjungi anda"
"Oh, begitu, saya sangat menghormati keputusan anda, kalau begitu, sebagai bentuk terima kasih, silahkan anda ambil ini"
Tiara kemudian menyerahkan semacam kertas yang di segel oleh semacam tali khas kebangsawanan.
"Dengan ini, anda bisa mengunjungi kerajaan kami, saya sangat menantikan pertemuan kita di lain waktu, begitu juga dengan anda.... Rosella de Voir Junois"
'Oh, kurasa aku membuat keputusan yang tepat'
Pikirku ketika melihat interaksi keduanya yang sangat jelas saling bermusuhan.
...----------------...
Kerajaan Iblis, Pinggiran pemukiman kumuh.
"Turunkan pelan-pelan dasar Kadet!"
Para Kopral lagi-lagi di bentak oleh Sersan ketika mereka mulai membangun pangkalan garis terdepan di kawasan spesial administratif Rosella de Voir Junois.
Pangkalan garis terdepan atau FOB/Forward Operating Base di bangun sejak persetujuan ikatan bilateral antara Ras Iblis dan [New United States] terbentuk, jumlah personil yang di kirimkan oleh Markas Delta mulai bertambah.
Setidaknya ada 357 Marinir yang terdiri dari 31st Combat Engineer, 2nd Marine Mechanized Brigade, dan 44th Field Artillery Regiment.
__ADS_1
Karena pembatasan penerjunan pasukan skala besar di kawasan ini, Marinir yang berada disini harus lebih ekstra waspada jika terjadinya potensi konflik yang terjadi disini.
Di tengah kesibukan, beberapa anak-anak dari ras setengah manusia tampak bermain dengan senang dan ceria seakan ketakutan mereka kemarin itu tidak pernah ada sama sekali.
Sophia yang bertugas sebagai pengganti administratif di kastil ini harus bekerja ekstra karena perginya pimpinan tertinggi wilayah ini menjadikannya sedikit lebih stress dari sebelumnya.
"Argh! Kepalaku mau meledak!"
Jerit Sophia ketika melihat tumpukan dokumen yang datang ke mejanya.
"Yah, anda harus bekerja lebih keras dari sebelumnya, saya tak bisa menyalahkan kalau anda akan begini"
"Grrr.... Kau ini"
First Sergeant Alfred, Pimpinan dari perwakilan Markas Delta, Markas FOB Charlie, ia tampak tersenyum kearah Sophia yang masih banyak pekerjaan yang harus di lakukan.
"Apa anda kesulitan dengan pekerjaan ini?"
Pertanyaan Alfred walau tak terdengar menghina, namun di telinga Sophia, ia merasa sedang di hina olehnya
"Dan salah siapa yang buat pekerjaan ku jadi bertambah banyak!?"
Bentaknya sambil berdiri dari kursi meja kerjanya, tatapan frustrasinya sedikit membuat Alfred simpatik padanya.
"Aku tak bisa bilang kalau itu bukan salah kami, Nona Sophia"
"Tapi, satu sisi itu juga kesalahan anda yang sengaja mengulur-ulur pekerjaan anda"
"Urgh!"
Sophia dibuat tak bersuara akan ucapannya, Alfred kemudian mengambil salah satu dokumen yang ada di meja. Memang benar penyebab pekerjaan yang berurusan dengan dokumen kebanyakan datang dari mereka, seperti perizinan atas pembangunan markas garis terdepan, perizinan dalam ikut dalam urusan domestik dan banyak hal lainnya yang mencakup urusan diplomatik antar dua peradaban
'Tak ku sangka kalau dia ini cukup pintar untuk urusan seperti ini'
Pikirnya saat melihat beberapa perizinan di tolak oleh Sophia. Beberapa perizinan seperti meminta untuk menerjunkan pasukan di markas dalam jumlah besar serta beberapa hal lainnya yang sangat jelas memiliki niat tersembunyi di balik kata-kata itu.
"Kalian manusia, jangan anggap remeh aku"
Sophia mulai menatapnya dengan tatapan curiga, "Walau kalian melakukan banyak hal untuk membantu kerajaan kami, tapi kami tidak akan dengan mudahnya bertekuk-lutut di depan kalian"
Alfred tersenyum melihat respon dari Sophia.
"Pembebasan pemungutan pajak atas perdagangan bagi kami tak lebih dari sekedar pencurian, jadi ku harap kalian bisa pertimbangkan itu lagi"
"Tidak"
"Ho.... menarik"
...----------------...
Di ruangan Letnan Jenderal Norman, seorang pria tampak baru masuk ke dalam ruangan mengenakan pakaian formal militer angkatan darat.
Letnan Jenderal langsung tahu apa yang pria ini inginkan dari ruangan terlebih melihat tatapannya yang seakan menuntut jawaban akan sesuatu.
"Letnan Satu, Andrew, apa yang U.S Army inginkan disini?"
Letnan Satu Andrew, U.S Army, Press & Media Center.
"Letnan Jenderal, saya datang kesini atas instruksi Pentagon mengenai operasi anda di kawasan spesial administratif Rosella, Pentagon menuntut informasi segera akan struktural kerajaan itu serta potensi kerjasama yang akan dilakukan dalam agenda nomor 417"
"Lalu, apa itu artinya saya harus menyerahkan informasi itu saat ini juga?"
"Tidak juga, Pentagon tidak memberikan detil kapan anda harus menyerahkan laporan itu, namun ada baiknya anda harus segera membuat laporan detil jika anda ingin pendanaan terhadap operasi ini tetap berjalan"
"Baik, aku mengerti situasinya, laporan akan ku berikan langsung saat di Pentagon"
"Terimakasih atas pengertian anda, Letnan Jenderal"
Perwira itu kemudian berjalan keluar dari ruangan Letnan Jenderal membiarkan dia tenggelam dalam pikirannya sendiri.
'Sudah kuduga akan begini jadinya'
Dengan dua grup kapal induk absen di wilayah yang seharusnya mereka berada, Pers mulai menuntut jawaban akan keberadaan asli dimana kapal induk itu berada.
Jika grup kapal induk kembali ke dunia mereka, maka pangkalan ini akan sangat rentan akan serangan berkepanjangan dari segala sisi, belum lagi keberadaan makhluk yang menyerupai monster yang berkeliaran bebas di dunia ini, membuat potensi bahaya Markas ini akan sangat rentan sekali.
Saat ia hanyut dalam pikiran, seseorang mulai masuk ke dalam ruangannya, kali ini orang yang masuk datang dari pimpinan tim rekonisasi udara.
"Letnan Jenderal, laporan dari Jonathan, ia akan di jadwalkan sampai di markas pada 16:43, bersama dengan Rosella"
"Bagus, apa ada lagi yang Jonathan laporkan?"
Perwira itu mengangguk sambil memberikan laporan hasil tim.
"Jonathan juga melaporkan jika ia terpaksa menggunakan peluru untuk menyelamatkan regu konvoi yang tengah terlibat dalam konflik di sekitaran sektor Bravo. Jonathan juga menambah jika basis ia menggunakan pelurunya, karena konvoi yang di sergap itu merupakan salah satu bangsawan dari kerajaan Vunois"
"Oh? Jadi bagaimana statusnya?"
"Menurut Jonathan, ia diberikan hak akses ke kerajaan itu atas seizin dari Putri bangsawan bernama Tiara Vunois Claudisse"
"Sangat bagus, aku tunggu laporan penuhnya jika ia sampai disini, baiklah, bubar"
"Yes sir"
Letnan Jenderal kali ini di buat tertarik dengan apa yang Jonathan lakukan, jika ini berjalan dengan baik, maka mereka akan memiliki ikatan yang cukup luas di dunia baru ini dan juga
__ADS_1
Mencari jawaban tentang alasan kenapa mereka mampu membawa manusia dari dunia mereka ke dunia ini, berapa banyak manusia yang telah di bawa kemari dan sudah berapa lama kasus ini terjadi.