Connected World

Connected World
Fajar di Markas


__ADS_3

"What the!?"


Setelah pengakuan Suzu mengenai identitas mereka, Marinir yang masih di telan rasa kaget mulai mendekati keduanya.


"Jadi, biarkan aku mengkonfirmasi sekali lagi, kalian bisa bahasa Inggris, dan kalian dari Jepang?"


"Y..Yes, we have come from Japan"


Balas Riria dengan bahasa yang sangat kaku, Marinir mulai saling tukar pandangan sebelum menoleh ke mereka berdua.


"Markas, Disini Delta Company, apa kau mendengarkan ku, over?"


("Dengar dengan jelas")


Marinir yang merupakan pimpinan dari regu Delta, sekali lagi menatap ke keduanya yang tampak gelisah.


"Kami melaporkan mengenai status dua manusia yang terkepung tadi"


("Lanjutkan")


"Mereka mengaku sebagai manusia dari bumi, mereka datang dari Jepang, meminta perintah lebih lanjut"


Komando pusat tidak membalas sama sekali melalui radio, keheningan sesaat itu kemudian berakhir setelah komando memberikan instruksi pada mereka, yaitu membawa dua manusia itu ke pangkalan untuk konfirmasi lebih lanjut


"Landing Zone Clear"


Helikopter UH-1 Venom mulai mendarat, para marinir bersiap naik namun dua gadis itu tampak seakan mengatakan kalau mereka tidak ingin di tinggal begitu saja, pimpinan skuad Delta dengan cepat merespon ke khawatiran mereka


"Kenapa kalian berdiri disitu? Ikut sama kami, kami akan membawa kalian pulang"


"Hueh!? Benarkah!"


"Tentu"


Dua gadis itu tampak meledak dalam kegembiraan, ekspresi wajah keduanya yang meledak dalam kesenangan itu membuat pimpinan skuad harus menoleh kearah lain.


"Bro, apa kau lihat ekspresi Sersan"


"Dia malu-malu, heh .."


Sindiran dari marinir sukses membuat Sersan itu melotot tajam kearah mereka yang seakan merendahkannya di depan anak-anak.


Saat helikopter mulai menaikkan ketinggian setelah semuanya naik, pemandangan lahan rerumputan mulai tampak mengecil setelah mereka terbang cukup tinggi.


"Whoa.... ini kali pertamanya aku naik helikopter"


"Benarkah?"


"Iya!"


Keduanya saling tertawa lepas seakan mereka tidak memiliki beban sama sekali, untuk marinir sendiri, mereka yang mendengar dua gadis yang saling tukar bicara dengan bahasa yang terdengar sangat familiar itu hanya bisa beranggapan kalau mereka tampak senang dengan kehadiran mereka.


("Sersan, apa menurutmu, mereka ini penyihir dunia ini?")


Tanya Marinir di sebelahnya melalui radio helikopter, dikarenakan suara rotor helikopter yang sangat keras membuat suara mereka tidak mungkin bisa terdengar tanpa radio yang berfungsi sebagai pelindung telinga.


"Kalau dilihat dari penampilan, mereka sepertinya berperan seperti itulah"


Terlalu banyaknya hal gila yang ia saksikan hari ini membuatnya hanya bisa beranggapan kalau eksistensi seperti penyihir sangat mungkin ada di dunia ini.


'Lagipula, aku penasaran, bagaimana mungkin mereka ada di dunia ini'


'Markas pasti sedang menggila saat ini'


Kedua gadis itu yang tampak sangat bersemangat membuatnya tersenyum dalam diam.


...****************...


Entah kapan aku merasa hidupku sangat menarik, setiap pujian, setiap kemewahan yang ada dalam hidupku semua bagaikan dunia tanpa warna.


Sarashiki Riria, itulah namaku, sebagai putri sulung di keluarga yang memiliki nama di mata dunia, aku sejak kecil di latih untuk hidup seperti gadis boneka.


Orang tuaku tak pernah mencintaiku, dan bahkan semua yang ku kenal, semuanya memandang statusku ketimbang diriku yang sebenarnya.


Hingga saat itu duniaku mulai berbeda, aku berserta empat lainnya yang di panggil ke dunia ini untuk melawan ras iblis, mulanya aku sangat menentang keras tentang hal itu, namun perlahan aku menyadari satu hal.


Mereka di dunia ini menerimaku dengan apa adanya, mereka tersenyum dan mendukungku dengan tulus, sesuatu yang tak pernah aku rasakan di dunia lamaku.


Hari demi hari ku jalani di dunia dimana peradaban masih jauh dari kata modern, era dimana kasta sosial masih berlaku.


Dunia yang ku kira bisa menjadi rumah baruku, perlahan jauh di dalam hatiku aku tak bisa menerima ini.

__ADS_1


Hingga malam itu kami berkumpul, untuk pertama kalinya kami membicarakan tentang rumah lama kami.


Tokiwaki, laki-laki yang ku anggap sebagai panutan kami karena tetap menyemangati dan berjuang bersama dengan kami, mulai merasakan perasaan yang sama seperti keempat lainnya.


Mereka merindukan rumah mereka, mereka memiliki keluarga yang menyambut dan menanti mereka. Lalu bagaimana dengan aku? Apakah keluargaku peduli jika aku hilang? Apakah ada yang mencemaskan ku jika aku tidak ada?


Satu persatu pertanyaan itu bermunculan di kepalaku sesaat setelah kami selesai pertemuan di restoran itu


Di dalam ruangan ku yang gelap, aku sedikit merasa kesepian, di dunia ini selama setahun lebih, aku sendirian, walau kami berlima datang dari dunia yang sama, namun kami datang dari tempat yang berbeda.


'.....'


Perasaan sesak menggerogoti hatiku ketika aku mengingat seseorang yang selama ini selalu ada bersamaku saat aku kecil dulu hingga aku SMA.


'Robert....'


Laki-laki yang sejak ia remaja di pekerjakan sebagai pelayan ku, sejak dulu ia selalu bersama denganku dan selalu menemaniku, aku penasaran, bagaimana kabarnya dia


Sesak itu tetap menyengat hatiku hingga matahari terbit.


Hari lain berlalu, Tokiwaki dan dua lainnya pergi ke wilayah selatan setelah adanya permintaan dari warga setempat mengenai ancaman monster di hutan. Aku dan Suzu, kami berdua memilih untuk berjalan ke kawasan barat dimana menurut pengakuan Suzu, ia merasakan adanya gelombang energi aneh di area itu


"Riria!"


Kami berjuang mati-matian, hari itu aku dalam lubuk hatiku, aku takut akan kematian. Aku takut, sangat takut sampai-sampai kakiku tak mau berdiri, Suzu pun terluka akibat membawaku, dengan para monster yang semakin mendekat kearah kami, aku yang di ambang putus-asa hanya bisa berharap pada siapapun untuk menolong kami.


Hingga keajaiban pun terjadi tepat di depan mataku.


Layaknya petir yang menyambar diikuti ledakan, ratusan makhluk itu dalam waktu singkat terbunuh oleh benda yang tak pernah aku kira akan ada di dunia ini.


'Pesawat...!?'


Mataku tak salah lihat, Suzu dan aku kami berdua kehabisan kata-kata, kegembiraan adalah emosi yang memasuki diriku sesaat melihat sepasang pesawat tempur dari dunia kami datang.


Aku tidak tahu apa aku salah lihat atau tidak, tapi saat salah satu pesawat itu terbang sangat rendah, aku dapat melihat sekilas pilot di dalam pesawat itu memberikan semacam gestur tangan sebelum menaikkan ketinggian dan terbang menjauh dari kami.


Rasa senang kami tak berhenti disitu, saat kami berpikir akan memberitahukan pada yang lain mengenai apa yang kami lihat, sesuatu muncul di kejauhan, dan sesuatu itu berhasil mengkonfirmasi apa yang aku dan Suzu pikirkan.


'Apa kami akan pulang?'


Pikir ku saat melihat langit dimana saat ini aku dan Suzu di bawa oleh helikopter tentara dunia kami.


'Amerika? Bagaimana cara mereka bisa ke dunia ini'


Aku hanya bisa berandai-andai kalau mereka terjebak sama seperti kami di dunia ini, namun sekali lagi pemikiran ku di patahkan setelah melihat apa yang ada di ujung sana.


"Riria, lihat itu"


Sebuah pangkalan militer yang tampak masih sedang di bangun, berdiri di pinggir pantai dengan beragam kapal modern yang berlabuh tak jauh dari pantai


"Riria, mereka mungkin saja"


"Iya, itu sangat masuk akal"


Mereka mampu ke dunia ini dengan manipulasi ruang waktu, atau setidaknya itulah teori yang muncul di kepalaku.


Helikopter kami mulai mendekati pangkalan itu, dan mendarat dengan beberapa prajurit yang tampak berdiri di kejauhan menatap kearah kami.


"Are you alright, ladies?"


Tanya salah satu prajurit dengan bahasa Inggris, aku yang sedikit bisa bahasa Inggris, menjawab dengan bahasa yang sangat kaku.


Kami mulai berjalan kearah pangkalan dengan para prajurit ini berjalan seakan mengawal kami. Aku cukup banyak mendengar rumor buruk tentang prajurit Amerika, namun dari apa yang ku lihat mereka tak tampak seperti orang jahat.


"Tuan-tuan, dan kalian, Nona"


Para prajurit itu mulai membuka jalan, tak lama di depan kami seorang pria dewasa yang tampak berusia sekitar 45 tahun mengenakan pakaian resmi militer berwarna hijau berjalan dengan penuh wibawa.


"H...Halo, pak!"


Aku dan Suzu kami berdua dibuat gugup dengan aura penuh kehormatan darinya, kami mungkin terlalu terbiasa dengan sikap para bangsawan ataupun sikap para kesatria kerajaan yang normalnya tidak bersikap seperti kami manusia modern pada umumnya.


"Sir"


Prajurit yang tadi menjemput kami mulai memberi hormat ke pria itu, dan dari lencana yang terpasang di baju pria itu, aku berasumsi kalau dia setidaknya berpangkat Letnan Jenderal.


"Kerja bagus tuan-tuan, baiklah ladies, saya yakin kalian punya pertanyaan untuk kami"


Aku dan Suzu mengangguk, tak lama kami berdua di bawa menuju ke tempat yang tampaknya bangunan untuk pusat komando, bangunan yang tampak baru selesai itu, masih penuh dengan bekas bahan bangunan yang tertumpuk di pinggir gedung.


"Whoa, baru kali ini aku melihat dengan dekat Tank modern"

__ADS_1


Ucap Suzu ketika menatap ke Tank M1A2 Abrams yang sedang di rawat oleh tentara ini. Aku sedikit banyaknya tahu mengenai peralatan tempur milik Amerika Serikat, namun ketika melihatnya dari jarak yang cukup dekat membuat rasa penasaranku sedikit terpancing.


Ketika kami di bawa ke dalam gedung, beragam tentara dengan pakaian perwira tampak tengah sibuk dengan urusan mereka masing-masing, aku dan Suzu bersama pria itu kami menuju ke lantai dua dimana di dalam ruangan itu, tampak bendera Amerika Serikat dengan sangat rapinya berdiri di sudut ruangan ini.


"Silahkan duduk"


Ucapnya setelah ia duduk di kursinya, aku dan Suzu kami tahu jika mereka pasti memiliki banyak pertanyaan tentang keberadaan kami dan bagaimana kami bisa disini, cukup adil mengingat aku juga memiliki pertanyaan yang sama juga ingin ku tanyakan ke mereka.


,


...****************...


"Whoa ... Jadi ini yang membuat benda ini bisa mengeluarkan sihir peledak?"


Rosella de Voir Junois, Pimpinan ras Iblis sekaligus pimpinan dari ras setengah manusia, ia saat ini dengan wajah berbinar menatap ke Marinir yang tengah membongkar sistem persenjataan 25mm bushmaster dari LAV-25.


Penuh rasa semangat dan penasaran, Rosella terus menghujani beragam pertanyaan ke Marinir yang tengah mengecek ulang peluru yang tersambung ke sistem persenjataan turet LAV-25.


"Dia tampak senang"


Sersan Joseph tersenyum kaku melihat bagaimana marinir yang tampak kewalahan akan sikap Rosella yang terus menghujani mereka dengan ribuan pertanyaan.


"Apa kau tak mau menolong mereka, Sersan?"


"Hei, jaga bicaramu, Kopral, aku masih atasanmu"


"Lah lagian kau tak peduli soal itukan Sersan?"


"Begitulah"


Keduanya saling tatap sebentar sebelum berbalik menatap ke area yang sangat asing ini.


"Menurutmu, apa kita perlu memanggil bantuan rekonsilasi udara?"


"Dan mengakui kalau kita tersesat entah dimana?"


Sersan angkat bahu akan pertanyaan balik Jonathan, alasan kenapa mereka berhenti di pinggiran hutan ini, karena sekarang ini mereka tersesat, peta yang di berikan markas tidak akurat akan pemetaan jalur menyebabkan tim bergerak ke arah yang sama sekali tidak ada di peta dan sekarang berada di entah berantah.


Letnan Fujiwara juga tampaknya kebingungan tentang lokasi tepat mereka yang berada di mana.


Buntu karena tidak ada lagi yang harus ia lakukan, Jonathan melepaskan helmnya sambil menghirup udara sedalam mungkin.


"Kenapa? Apa akhirnya kau bosan dengan kehidupan Marinir, Kopral?"


"Nah, bukan itu Sersan, aku cuma mengagumi bagaimana segarnya udara disini"


"Heh... kau berbicara seakan orang yang sudah jenuh di kota"


"Begitulah"


Tak lama Letnan Fujiwara berjalan kearah mereka dan mulai memberikan instruksi untuk kembali bergerak ke arah tenggara.


Tim butuh beberapa saat untuk siap bergerak terlebih lagi kru LAV-25 yang tadi tengah merawat sebentar persenjataan turet membuat tim baru bisa bergerak setelah mereka selesai memasang ulang persenjataan mobil baja itu.


Di tengah perjalanan Rosella seperti biasanya duduk di bangku depan tepat tengah-tengah antara Jonathan dan Fujiwara, ia tampak sangat menikmati perjalanan ini.


Fujiwara sendiri, sejak mereka bertarung dengan monster mirip kadal raksasa itu, dia selalu diam tak bersuara sama sekali.


'Terguncang karena pengalaman pertempuran pertama, sudah lama sekali aku tidak merasakan itu'


Pikir Joseph ketika melihat ekspresi wajah Fujiwara yang masih menunjukkan kekhawatiran.


Saat para marinir dan Ratu Iblis Rosella kembali menyusuri jalan setapak, jauh dari tempat mereka berada, tepatnya di pangkalan Delta, Riria dan Suzu mengetahui kenyataan yang sangat mereka ingin dengarkan tentang dunia mereka setelah lebih dari satu tahun di dunia ini.


...****************...


"Bosan, sangat membosankan"


Di sebuah ruangan redup cahaya, sebuah siluet manusia yang tampak duduk dengan tenang menatap ke kegelapan dengan ekspresi wajah kecewa.


"Ini terlalu mengecewakan untuk hiburan ku"


Ucapnya dengan nada yang menggema di kegelapan.


"Coba kita tambah kemeriahan ini dengan hal lain"


lingkaran sihir merah bersinar di gelapnya ruangan ini, auman gelap menemani siluet itu seakan menjadi melodi yang amat merdu di telinganya.


"Mari kita berpesta"


...********...

__ADS_1


__ADS_2