Connected World

Connected World
Aftermath


__ADS_3

Di tengah kekacauan yang tersisa di kerajaan, Pasukan Marinir yang sepenuhnya telah turun dari helikopter transportasi, mulai mengamankan perimeter.


["Situasi?"]


Helikopter Blackhawk yang terbang di angkasa membawa komandan nama sandi Eagle 2-6, mulai menghubungi pasukan di darat.


Riria dan Suzu yang mengamati dari helikopter dimana kerajaan masih di telan api yang membara, mulai saling tukar pandangan.


Mereka tampaknya sadar akan sesuatu yang mereka lupakan selama di dunia ini, dan hal itu adalah soal fakta dunia mereka walau tanpa sihir seperti dunia ini, jika mengenai operasi militer, maka teknologi masih sangat unggul ketimbang metode konvensional yang ada di dunia ini.


Marinir yang tengah mengamankan Tiara naik ke Helikopter CH-53E, mulai mengamati sekitar sebelum mulai memberikan sinyal ke pilot untuk lepas landas.


("Disini Romeo 6-7, paket telah di muat ke helikopter")


["Copy, amankan area, kerja bagus"]


Tiara yang masih pingsan, di bawa ke markas Delta dimana tampak beberapa pasang mata dari Marinir yang mengawal tubuh Tiara yang pingsan itu, menatap dengan tatapan ingin membunuhnya saat ini juga .


"Ingin sekali aku tarik pelatuk senjataku saat ini juga, izinkan aku, Sersan Satu"


Kopral yang duduk bersebrangan dengan Sersan Satu di helikopter, mulai memberikannya tatapan tegas.


"Jangan nak, aku tahu kau sangat membencinya, tapi kita punya hal yang harus kita lakukan"


Perintah Sersan Satu pada Kopral itu, benar jika Tiara membunuh salah satu rekan mereka dengan cara biadap membuat semua marinir ingin sekali membalaskan nyawa Alfred, namun tampaknya CO di markas Delta memiliki agenda lain.


Tepat di perjalanan kembali ke Markas', Marinir sekali lagi memeriksa kondisi Tiara sebelum mereka mulai memasang borgol besi yang mengikat kedua tangan dan kakinya.


Di markas ketika Helikopter mendarat di lapangan pacu helikopter, Marinir dengan cepat menurunkan Tiara dari helikopter menuju ke tempat interogasi di gedung Komando.


'Letnan Jenderal akan sangat menikmati ini'


Pikir Sersan Satu ketika melihat Tiara di bawa oleh beberapa Marinir, helikopter kedua yang mendarat kemudian tampak beberapa marinir membawa ksatria itu menuju ke ruang tahanan.


Cukup mengejutkan dimana dari laporan sementara, mayoritas tentara yang menyerang kerajaan Rosella adalah ksatria perempuan.


"Jauhkan tanganmu, Dasar pengkhianat kemanusiaan"


Salah satu ksatria tampak memaki Marinir yang memaksa mereka mengikuti Marinir ke gedung tahanan.


"Shut up, Move"


Marinir dengan cepat menggunakan kakinya menendang ksatria itu untuk melanjutkan jalan.


"Grr... beraninya kalian"


Ksatria itu masih tampak sombong dan angkuh, membuat kesabaran Marinir nyaris habis melihat sikap mereka.


"Dasar tak tahu diri"


Marinir yang kesal mulai menunjang Ksatria itu seakan tak memperdulikan soal gender.


'Mereka sepertinya sangat membenci pasukan ini, ya?'


Yohanes yang melihat itu hanya bisa mendesah dalam diam ketika urusan yang akan mereka hadapi akan semakin menyusahkan.


'Laporan mengenai enam terkonfirmasi Marinir meninggal di kerajaan itu saja sudah cukup membuat Letnan Jenderal dan Admiral sakit kepala, aku tak yakin kalau mereka bahkan siap untuk konsekuensi yang akan terjadi jika sempat di interogasi oleh Media mengenai kenapa ada Marinir yang meninggal dalam misi yang tak di ketahui oleh siapapun'


'Lagipula'


Yohanes mulai melirik ke Helikopter Blackhawk yang tampak akan mendarat menurunkan Kolonel Sanders bersama dua "Pahlawan" dunia ini yang merupakan penduduk Jepang yang entah bagaimana bisa di panggil ke dunia ini


'Masalah semakin bertambah banyak ya?'


Kerajaan manusia yang saat ini berada dalam pengintaian Alpha Company bersama Raidsoc dan Navy SEAL, laporan terakhir dari mereka, mereka menyatakan kalau Raja bersedia berdiskusi soal situasi ketiga "pahlawan" yang ada di kerajaan mereka, namun masih belum adanya konfirmasi soal pemulangan mereka ke tangan kami, yang artinya.


'Mereka mana mungkin bersedia mengembalikan tiga manusia itu, kalaupun mereka mau, aku ragu mereka akan memberikannya begitu saja tanpa adanya semacam kompensasi, ini akan sangat menarik bagaimana Letnan Jenderal akan menyikapi mereka'


Yohanes mulai berjalan ke gedung tahanan dimana ia akan menginspeksi para tahanan serta tahanan spesial yang akan di urus secara pribadi oleh Chief Warrant Officers.


...****************...


Situasi Kerajaan Rosella de Voir Junois, yang masih di telan kekacauan perlahan mulai tampak sedikit membaik, Para Marinir yang bekerja ekstra memadamkan api yang membakar setiap rumah menggunakan air dari sungai terdekat dengan bantuan Helikopter CH-53E atau yang sering di kenal sebagai "Big Fella" karena kemampuannya yang mampu membawa muatan lebih dari 20 ribu ton kargo, mulai terbayarkan hasilnya


Jonathan, itulah namaku, aku sebagai Marinir yang secara kebetulan bisa terhindar dari pekerjaan yang sangat menyusahkan dimana harus memadamkan api yang membara di kerajaan ini, sekarang berdiri di depan pintu masuk kastil Rosella bagaikan orang bodoh.


Berdiri sendirian di depan pintu masuk seakan kau adalah ksatria kerajaan jaman dulu selama dua jam lebih, seriusan, apa Rosella sebegitu bencinya denganku sampai-sampai ia menyuruhku begini sambil memberikan senyuman manis kearahku.


'Man, dia sangat berbahaya untuk kesehatan mentalku'


Bohong kalau aku bilang, aku tak tertarik dengan spesies di dunia ini yang terbilang sangat tinggi sekali spesifikasi mereka untuk manusia modern seperti kami.


Satu senyuman dengan fitur di tubuh mereka memberikan sebuah sensasi aneh di dalam kepalaku, ku rasa sekarang aku mengerti bagaimana perasaan para Marinir ketika mereka melihat sosok Rosella pertama kalinya dalam hidup mereka.


"Sumpah, kalau bukan karena dia cantik, mungkin aku akan protes kearahnya"


"Hee~ Dan siapa yang kau sebut cantik itu?~"


"Hah.... Siapa lagi, sudah jelas itu kau......."


Tunggu dulu, kenapa ada yang menjawabku?


Saat aku menoleh ke samping kiri ku, saat itu juga aku ingin menghilang dari dunia ini.


"Hehe.... apa kau mengakui kalau aku cantik ya?"


"NOPE, kau cuma berimajinasi"


Jawabku dengan nada setengah hati, jujur kenapa dia suka sekali di dekatku, sebenarnya apa yang ia inginkan dariku!?


Rosella de Voir Junois, beruntung sejak aku di seret olehnya mengenai kenapa aku tak memberitahunya kalau kerajaannya di serang, Rosella menuntut segala macam jawaban yang akan membuatnya puas yang aku jawab dengan satu kalimat sederhana yang paling mudah untuk orang sepertinya dan bagaimana orang seperti ku bisa paham.


("Kenapa justru tanya aku? Aku bukan pimpinan, aku cuma Marinir")


Jawabanku itu yang membuatku di perintahkan oleh Rosella (yang sedikit marah karena jawabanku yang begitu) menjaga pintu masuk dan berdiri disini selama dua jam lebih.


"Hooo...."


Rosella ikut berdiri di sampingku sambil menatap kearah pemukiman warga yang tadi sempat terbakar oleh api namun telah berhasil di padamkan tepat setelah matahari terbit.


"Kalian manusia, aku tak tahu kenapa kalian mau sejauh itu membantu kami, jujur aku masih curiga dengan kalian, tapi satu sisi aku juga berterimakasih pada kalian yang menunjukkan bagaimana seriusnya kalian soal diplomatik ini"


"....."


Aku memilih tak menjawabnya, Rosella sekali lagi tersenyum sambil menatapku, mataku untuk sekilas melihat sosok yang mirip seperti malaikat dengan aura kecantikan yang sangat jelas terpancar darinya, terlalu menyilaukan untuk jiwa yang malang sepertiku.


Aku dengan cepat mengalihkan pandanganku kearah lain berusaha untuk tidak melihatnya, aksiku yang tiba-tiba itu langsung membuat Rosella menatapku dengan tatapan sedikit heran.


"Kenapa?"


"Tidak ada apa-apa, cuma aku lagi berimajinasi"


"Imajinasi?"


"Ya"


"Hoo"


Rosella tersenyum sedikit iseng, ia mulai dengan nyamannya melakukan sesuatu yang hampir membuat jantungku berhenti saat itu juga.


"ehm..... kenapa kau malah seenaknya begitu, Nona Rosella"


Dia yang menyandarkan diri di lenganku, membuat alis mataku sedikit terangkat, Rosella yang mendengar nada formalku kearahnya langsung memberikanku tatapan merajuk.


"Foooo.... Kenapa sih kau ini!"


"Aku tak tahu apa yang kau maksudkan, Nona Rosella"


Aku tahu sekali kalau ia sangat tak suka di panggil begitu, karena itulah aku sengaja memanggil nya dengan sebutan begitu.


Rosella yang merajuk mulai berjalan menjauh dariku, tampaknya ia sangat tidak suka kalau aku bersikap formal kearahnya, yah, lagian itu bukan urusanku.


Proses pembersihan dan pemulihan Kerajaan tampak berjalan dengan mulus, aku yang melihat itu dari kejauhan hanya bisa meminta maaf ke rekan-rekan ku yang bekerja keras disana.


Tepat saat matahari di atas kepalaku, itu sudah jelas menjadi sebuah alarm tersendiri di kepalaku


Tujuh jam penuh aku berdiri di depan pintu gerbang masuk, seriusan, apa dia ingin menyiksaku!?


["Kepada semua unit di Wilayah Administratif, berkumpul di titik temu Charlie"]


Radioku menggema, aku yang mendengar itu, langsung menjawab dan mulai bergerak kearah titik temu.


Cukup melegakan aku harus berhenti dari perintah tak masuk akal dari Rosella.


Justru saat aku berada di titik temu, sesuatu yang sangat aku benci justru terjadi di depanku.


Di titik temu tampak ratusan marinir dari beragam kesatuan tampak berkumpul, namun bukan cuma Marinir yang ada di situ, beberapa penduduk dengan Rosella dan ksatria kerajaan juga tampak ada disana.


Di sudut mataku terlihat seorang anak yang menangis menatap ke beberapa jasad yang ada disini.


Setidaknya ada 17 warga sipil yang tewas dan 2 regu rekrut baru yang menjadi korban dalam insiden ini.


Seorang perempuan dari ras elf tampak menahan tangis melihat jenazah ayahnya yang terbaring kaku.


"Kalian adalah bajingan yang paling berani, terima kasih untuk pelayanan kalian"


Letnan Kolonel Anderson, pimpinan sementara di markas FOB wilayah Administratif Rosella, saat ini memberikan pidatonya pada 351 marinir yang bertarung di kerajaan ini tanpa adanya bala bantuan selama tiga jam lebih, ia yang berpakaian "Dress Blue" formal kesatuan Marinir untuk pangkat Letnan Kolonel, kembali melanjutkan perkataannya


"Juga untuk kalian para rekrut baru, kami sangat menjunjung tinggi atas pengorbanan kalian, kalian menunjukkan keberanian kalian dan tekad yang seharusnya kalian miliki untuk melindungi keluarga kalian"


Di depan kami, enam Marinir yang terbaring kaku tanpa luka sama sekali adalah bukti dari pengorbanan mereka di tambah dua dari rekrut baru, sudah cukup menjadikan momen ini untuk titik dimana kami, bisa menunjukkan pada mereka bagaimana kami menyikapi hal itu.


Mataku kemudian tertuju ke salah satu peti dimana Marinir itu adalah CO Sersan Satu Alfred, dia bisa ku bilang teman satu kamp ku dulu saat aku pertama kali masuk Marinir, tepat sebelum kontrak penugasan memisahkan ku dari seluruh Bravo Company.


Walau dibilang kami hanya sekedar rekan satu kamp, tapi bagiku dia sudah seperti keluarga, melihatnya yang tewas di dunia ini membuatku sedikit kesal dan marah di saat yang sama.

__ADS_1


"Juga"


Letnan Kolonel Anderson kemudian berjalan kearah beberapa penduduk yang menangisi keluarga mereka yang meninggal.


Di depan mereka, ia berlutut dengan wajah penuh sesal ia tunjukkan pada mereka. "Kami sangat berduka atas kehilangan keluarga kalian, kami mohon maaf"


Anderson, seorang marinir yang di cap sebagai marinir paling keras kepala, untuk pertama kalinya aku melihatnya berekspresi seperti itu terutama saat ia menatap ke arah dua anak yatim-piatu yang mungkin berusia 13 tahun.


Untuk Rosella sendiri, ia baru menyadari bagaimana cara mereka bersikap ke seseorang yang telah meninggal.


'Tak ku kira kalau mereka bahkan mau berlutut di depan rakyat biasa dan mau bersimpati atas kehilangan anggota keluarga yang bukan menjadi urusan mereka'


"All up!"


Delapan Marinir dengan seragam formal tampak mulai mendekati peti mati milik marinir dan membawa mereka ke dua helikopter CH-53E yang terparkir tak jauh dari titik temu, kami langsung berdiri dengan tegak dan memberikan hormat pada mereka yang gugur.


Satu persatu peti di bawa masuk ke helikopter, mataku kemudian tertuju ke satu peti terakhir yang akan dibawa oleh Marinir itu.


Peti milik Alfred, ia tak terlalu aku kenal, tapi aku sangat ingat masa dimana kami satu kamp dulu.


'..... Sampai jumpa, kawan'


Hal yang tak kami duga pun terjadi sesaat setelah semua marinir yang gugur dibawa masuk ke helikopter.


"Semua Perhatian!"


Semua perhatian langsung tertuju ke Anderson yang tampaknya masih belum selesai.


"Beri hormat!"


Perintah Anderson ke dua Jenazah tanpa peti yang terbaring di depan kami, mendengar instruksi itu, kami secara serentak memberi hormat pada mereka yang gugur.


Salah satu kode etik yang tak tertulis di marinir adalah menjunjung tinggi rasa hormat pada mereka yang mengabdikan diri pada cabang Marinir, tak peduli dari negara manapun itu, sekali kau di kesatuan Marinir, maka kau bagian dari kami juga.


[Refrensi Moto Marinir: Never lie, never cheat or steal; abide by an uncompromising code of integrity; respect human dignity and respect others. Honor compels Marines to act responsibly, to fulfill our obligations and to hold ourselves and others accountable for every action]


Delapan Marinir tadi mulai mengambil peti mati dari dalam helikopter dimana tampaknya dua peti itu memang di sediakan dari markas untuk hal ini.


Anderson yang memimpin ini, mendapat tatapan aneh dari semua penduduk kerajaan ini bahkan Rosella sendiri tak menduga kalau kami akan melakukan ini.


Ketika mereka selesai meletakkan jasad ke peti, dua bendera logo Marinir Amerika Serikat pun di bentangkan lalu di lipat dengan rapi membentuk sebuah segitiga yang kemudian di bawa oleh Anderson anggota keluarga dari rekrut itu


Seorang istri yang menjadi single parent dan seorang anak perempuan dari ras Elf yang menjadi yatim piatu, keduanya adalah korban tak langsung dari insiden ini.


"Suami mu adalah pahlawan, atas nama kesatuan Marinir, kami sangat menghormati pengorbanannya"


Lalu bendera kedua ia serahkan ke perempuan Elf itu dimana wajahnya seakan menahan air mata yang sejak tadi ingin turun dari wajahnya.


"Aku turut bersedih atas kehilanganmu, terimalah bentuk penghormatan kami kepada ayahmu"


Elf itu tak mengambil bendera yang di berikan Anderson, ia justru menatap Anderson dengan tatapan yang masih sama seperti yang tadi.


"Untuk apa? Apa kalian hanya melakukan itu cuma untuk memuaskan kami yang menangis di tinggalkan oleh keluarga kami!?"


"......"


"Ayahku tak akan kembali lagi! Apa kau puas! Kalian manusia selalu begitu, pertama kalian rebut ibuku! Sekarang ayahku!"


Anderson sedikit banyaknya tahu tentang konflik dunia ini, dengan posisi masih berlutut, Anderson memilih diam tak bersuara melihat elf perempuan itu menangis dan membentaknya dengan nada keras.


Elf itu seakan tak memperdulikan tatapan Rosella kearahnya dan terus membentaknya dengan cacian sebelum ia lari menjauh dari sana meninggalkan suasana yang masih di selimuti kesedihan dari para penduduk kerajaan ini


Mereka semua yang memperhatikan Anderson di bentak oleh Elf itu, hanya bisa diam, mereka semua sangat tahu bagaimana perasaan elf itu dan wajar jika ia bereaksi demikian.


Anderson kemudian berdiri lalu menatap ke regu marinir berseragam formal.


"All unit, ready!"


Jonathan bersama Marinir yang berada di barisan paling terdepan mulai maju dan mengarahkan senjatanya ke atas.


"Fire!"


Tujuh tembakan pertama di keluarkan dari senjata api yang mereka pegang.


"Fire!"


Tujuh tembakan lagi di keluarkan


Tembakan terakhir pun kembali keluarkan.


Rosella melihat ini sedikit terbawa emosi akan upacara yang aneh ini.


'Mereka....'


Rosella tak menyangka mereka akan tetap menghormati pasukan yang mereka rekrut bahkan mereka tak bergeming saat di caci dan dimaki oleh Elf itu seakan mereka benar-benar peduli akan perasaan elf itu.


Di angkasa tampak benda besi yang tadi meratakan pasukan Tiara, mulai mendekati kerajaan, mulanya Rosella berpikir kalau mereka akan menyerang namun pikiran itu langsung ia bantah saat ia pikir itu tak masuk akal.


Namun apa yang di lakukan benda besi terbang itu membuatnya sedikit terbawa kedalam kesedihan.


'Missing one man'


'Formasi yang simpel namun memiliki pesan yang sangat mendalam'


Pikir Jonathan ketika menatap ke langit dimana pesawat yang menungkik tajam keatas, masih tampak terbang menjauh dari formasi pesawat.


...****************...


Formalitas yang tak siap aku alami pun berakhir, terakhir kali aku harus berada di formasi ini adalah saat kepulangan salah satu mantan anggota Skuad ku yang meninggal saat evakuasi masal Afghanistan.


Dan untuk kedua kalinya aku harus mengalami ini, sudah cukup membuat mood ku hancur berkeping-keping.


"Hei, Jonas"


"hm?"


Aku yang bersantai di bawah pohon melirik ke Rosella yang duduk di sampingku, suasana yang sangat menenangkan di tambah lagi angin sore yang berhembus pelan membuatku sedikit mengantuk


"Kenapa kalian melakukan itu?"


'Apa maksud dia soal upacara itu tadi?'


Aku hanya menggerakkan bahuku sebagai jawaban.


"Entah, ku rasa itu cuma keegoisan kami semata"


"Keegoisan?"


"Ya...... Dunia kami terlalu maju untuk peradaban seperti kalian bisa pahami, peradaban kami secara singkatnya, dunia dimana kami sangat menghargai nyawa dan akan menghargai setiap satu nyawa yang pergi dari dunia"


"...... Begitukah?"


"Iya"


Aku memejamkan mataku sambil melamun dalam pikiranku sendiri berusaha mengalihkan pikiranku dari situasi yang bisa membuatku sakit kepala.


Untuk Rosella sendiri, ia dalam diam menatap kearah Jonathan yang tampak melamun.


"Bagaimana denganmu, Jonathan"


Mendengar namaku di panggil, aku sedikit menoleh kearahnya yang menatapku dengan tatapan seakan ingin tahu suatu hal.


"Kalau aku pribadi, kami manusia sudah melewati banyak hal, kami sebagai ras terlalu maju untuk peradaban jadi wajar saja kalau kalian masih tidak bisa mengerti kenapa kami berbuat seperti itu, menurutku, apa yang kami punya saat ini, jauh lebih menarik ketimbang 70 tahun lalu"


mendengar balasanku, Rosella mulai membicarakan hal lain soal dunia tempat kami berasal yang lumayan menarik perhatiannya.


"Bagaimana menurutmu soal dunia kalian yang begitu, apa kau menyukainya?"


"Aku tak bisa bilang kalau dunia kami itu membosankan, cuma karena dunia kami terlalu banyak hal yang sangat maju membuat kami jadi terlalu terbiasa akan hal itu"


"Hoo"


Rosella tampak semakin tertarik, aku yang tak ingin berkomentar lebih jauh, memilih memejamkan mataku sambil menikmati hembusan angin di bawah pohon.


'Hari yang indah' Pikirku sambil menatap sedikit kearah awan yang ada di dunia ini.


...****************...


Suatu tempat di Kerajaan entah dimana


Ruang Singgasana seorang wanita di sekitaran umur 40 tahun dengan jabatan sebagai Ratu kota ini, ia tampak berbincang dengan seorang ksatria wanita dengan zirah besi.


"Yang Mulia, apa anda benar-benar percaya dengan mereka?"


Ratu yang bersandar di satu lengannya, tampak diam sejenak sambil menatap kearahnya dengan tatapan sinis.


"Putriku melakukan tindakan yang wajar dengan menyerang tempatnya musuh manusia, namun aku juga tak menyangka kalau ia justru akan di kalahkan secepat itu"


"Lantas apa yang harus kita lakukan, Nona Ratu?"


"Hm..~ Dengan kondisi kita saat ini, kita tak mungkin bisa menyerang, belum lagi aku tak tahu bagaimana nasib anak Perempuanku yang memutuskan pergi berperang kesana, katakan padaku, Duke Yujin, apakah saya harus menghabisi setiap kerajaan aliansi manusia karena hal ini?"


Pria dengan nama Yujin itu memilih diam tak menjawab sang Ratu ketika ia di tatap dengan pandangan penuh kebencian


"Saya tidak yakin soal itu Nona Ratu, bahkan jikapun kita tahu kalau umat manusia ada yang berpihak pada Rosella, kita tak mungkin bisa menyerang mereka begitu saja tanpa adanya dukungan dari kerajaan lain"


"Hee~ Begitukah?"


Ratu dengan wajah sinis mulai berdiri, aura yang tenang di sekitaran Ratu berubah seketika menjadi dingin seperti es batu membuat Ksatria itu merinding sedikit takut.


'Sialan, siapapun itu lawan kami, kalian tak akan mungkin bisa melawannya'


Pikir Yujin ketika sang Ratu keluar dari ruangan menuju ke tempat lain.


...****************...

__ADS_1


Di landasan pacu helikopter markas Delta, tampak 15 helikopter UH-1 Venom dengan dua senjata M134 Minigun di sisi pintu keluar helikopter terpasang siap menembak kapanpun Gunner menggunakan senjata itu.


Helikopter dengan nama kode Venom 2-2, dari kesatuan 2nd Calvary, 2nd Company Air Assault Regiment, mulai bersiap saat melihat para Marinir tengah berjalan kearah helikopter.


Operasi kali ini yang telah di izinkan oleh Letnan Jenderal Norman adalah "Kingdom Shield" dimana mereka akan membentuk perimiter dan menambah pasukan dalam jumlah cukup besar ke kawasan Rosella demi mencegah terjadinya invasi kerajaan Tiara Vunois Claudisse


Operasi yang terdengar sangat sederhana namun menyulitkan untuk pasukan yang dikirim membuat setiap regu yang ada di helikopter harus berpikir ektra soal War crime yang kemungkinan akan terjadi.


"Yo bro, apa kau seriusan mau pakai helm itu?"


Salah satu Lance Corporal bertanya ke Lance Corporal lain yang tampak mengenakan helm tempur era Vietnam yang entah bagaimana bisa ia miliki.


"Kenapa ga? Gunnery Sgt, mengizinkan kok, apa kau pikir gak keren pakai helm ini?"


"Yah, mungkin kau ada benarnya"


Regu pertama berjumlah 90 Marinir siap tempur di kirim kesana dengan ekstra munisi yang akan di bawa oleh tiga helikopter CH-53E yang mengikuti dari belakang regu helikopter UH-1.


Di lain tempat, Riria bersama dengan Suzu keduanya saat ini berada di ruangan Letnan Jenderal.


"Maaf jika kami mengganggu, Letnan Jenderal Norman"


Ucap Suzu dengan nada sopan, keduanya sedikit gugup di hadapan Letnan Jenderal terutama soal apa yang akan mereka katakan saat ini juga.


"Saya langsung ke intinya Letnan Jenderal, bisakah kami pulang saat ini juga?"


Riria dengan nada gamblang langsung berterus-terang soal apa niatan mereka berhadapan dengan pimpinan pasukan Amerika Serikat di dunia ini.



...****************...


"Begitukah...."


Letnan Jenderal diam sebentar sebelum mulai menatap keduanya dengan tatapan sedikit simpatik.


"Aku yakin kalian pasti sudah tahu soal situasi kalian yang menghilang dari dunia kita, kan? Jadi maaf, untuk sementara saya belum bisa memulangkan kalian, jadi kumohon bersabarlah sebentar"


Riria kemudian mengeluarkan ponselnya lalu menunjukkan apa yang ada di layar teleponnya.


"Aku selama ini sangat abai soal keluargaku, aku selalu berpikiran kalau mereka tak pernah mencintaiku, tapi setelah aku di dunia ini, aku menyadari banyak hal, aku sangat merindukan rumah..."


"...Letnan Jenderal, kumohon, setidaknya izinkan aku menghubungi keluargaku"


Tatapan Riria seakan menahan tangis saat melihat kabar berita dari layar ponselnya dimana banyak berita mengabarkan soal status hilang Riria yang misterius bahkan sampai-sampai membuat keluarganya panik belum lagi ayahnya yang ia selama ini tidak sukai justru adalah orang yang paling terkena dampak dari kehilangannya, membuat Riria merasa sangat menyesal.


Bukan hanya Riria yang merasa seperti itu, Suzu dan yang lainnya juga pasti merasa begitu.


Letnan Jenderal yang masih di kursinya, mulai memberikan tahukan apa yang harus mereka ketahui, berharap jika itu adalah pilihan tepat untuk keduanya.


Untuk Letnan Jenderal Norman sendiri, setelah kedua gadis itu keluar dari ruangannya, tatapannya tertuju ke dokumen yang ada di meja dimana laporan mengenai temuan posibilitas lebih dari 100 manusia dari dunia mereka terkirim ke dunia ini selama 60 tahun belakangan ini.


'Aku harus mencari jawaban dan meminta mereka untuk segera menghentikan hal itu. Kalau mereka menolak'


Tatapan tajam ia arahkan ke bandara sementara yang masih tahap pengaspalan oleh tim Combat Engineer, walau dua kapal induk telah kembali ke dunia mereka, namun bukan berarti mereka tak punya aset apapun disini.


'Persetan soal kementerian, aku akan mencari cara agar mereka mau mendengarkan kami'


...****************...


Kerajaan Manusia.


Di ruang tamu bangsawan, Letnan Fujiwara yang berpakaian Perwira formal mulai memasuki ruangan dimana Raja Arthur sebagai penguasa kerajaan ini tengah menunggunya.


"Terima kasih telah disini, Nona Fujiwara"


Sambut Arthur saat Fujiwara yang di kawal dua Marinir bersenjata memasuki ruangan.


Saat Fujiwara duduk, Raja bersama dengan Tokiwaki, Houki dan Rin yang berdiri di belakang Raja tetap diam tak bersuara menunggu Raja Arthur mulai membuka topik pembicaraan.


"Letnan Fujiwara, bisa anda beritahukan pada saya apa yang anda inginkan saat ini?"


Tanya Arthur dengan senyuman tanpa tahu apa yang akan di katakan oleh Fujiwara selanjutnya akan membuat suasana ruangan langsung hening.


"Saya langsung ke intinya, mengenai mereka bertiga, saya ingin membawa mereka bertiga sekarang juga kembali ke markas kami"


mendengar itu, Arthur menaikkan sebelah alis matanya.


"Maaf Nona Fujiwara, soal itu, bisa anda beritahukan pada saya kenapa anda ingin mereka?"


Nada tenang dari Arthur tersembunyi sebuah ancaman tertentu di balik kata-kata itu.


'Ini gawat, kenapa Fujiwara-san malah langsung bicara seperti itu ke Raja?!'


Tokiwaki tak percaya dengan apa yang ia dengar, ini kali keduanya ia melihat pembicaraan seperti ini antara Arthur dengan Fujiwara-san, namun ujung dari pembicaraan itu selalu tak jelas seakan-akan Arthur tak ingin melepas mereka bertiga, baru kali ini ia melihat ekspresi datar Fujiwara yang tanpa menunjukkan ekspresi takut ataupun ragu sedikitpun.


"Raja Arthur, anda sebagai penguasa, saya masih menghormati anda, tapi sebagai sesama penduduk dari dunia sebrang sana, mereka bertiga yang ada disini adalah bagian dari kami, sudah sewajarnya kami menginginkan mereka kembali. Dan hentikan cara anda berusaha menunda-nunda hal ini, kami mulai kehabisan kesabaran akan respon anda"


"Apa itu artinya anda mengancam kami?"


"Jika itu merupakan tindakan yang agresif dari kami, tidak, kami tidak memiliki niatan akan hal itu, setidaknya belum"


Tegas Fujiwara kepada Arthur, Tokiwaki dan dua gadis itu terdiam tak berani berkomentar apapun selain menatap ke Fujiwara yang masih memasang wajah datar ke Arthur.


"Anda pasti tahu konsekuensi jika anda tidak mendengarkan apa tuntutan kami, keinginan kami sederhana, kembalikan ("mereka semua") kepada kami, maka kami tidak akan mengusik kalian, saya harap anda mengerti soal itu"


Fujiwara kemudian menyerahkan dokumen intelijen yang di dapatkan dari tim SEAL di kerajaan ini.


"Kami beri anda waktu seminggu dari sekarang untuk memberitahukan pada kami soal apa yang anda ketahui, dan saya harap kerja sama anda. Dan untuk kalian bertiga, sebaiknya kalian ikut dengan kami sekarang, kami akan membawa kalian pulang"


Arthur dibuat tak bergeming ketika melihat laporan temuan yang tertulis disana.


Seakan tak bisa mengatakan apapun, Fujiwara bersama Tokiwaki, Houki dan Rin mulai berjalan keluar dari ruang tamu bangsawan meninggalkan Arthur dengan dokumen yang ada di tangannya itu.


'Jadi begitu ya'


'Mereka berniat berperang melawan kami jika mereka tak memberikan semua penduduk mereka yang pernah di panggil ke dunia ini'


Negoisasi atau haruskah di katakan sebagai tindakan persuasif dari Marinir berhasil membuat Arthur tak bergeming akan 'Tekanan' yang diberikan ke kerajaannya.


Apa yang Norman inginkan cukup simpel, memberikan semua informasi serta mengembalikan secara penuh semua penduduk mereka ke tangan mereka dan berjanji tidak akan melakukan hal itu lagi, dan jika itu tetap di langgar maka seluruh pasukan manusia dari dunia lain itu akan menyatakan perang ke kerajaannya, menarik untuk Arthur ketika mereka sangat jelas mengancamnya disini dengan catatan dari kertas biasa membuatnya hampir tertawa.


'Mereka pikir siapa mereka? Kami tak sebodoh itu'


...****************...


Berjalan menyusuri jalanan kerajaan Junois yang dalam tahap pemulihan akibat perang cukup memanjakan matanya.


Di sepanjang mata memandang, beberapa marinir tampak bahu membahu membangun ulang dan menyingkirkan sisa-sisa reruntuhan yang menumpuk.


Penduduk di kerajaan ini bahkan tidak menunjukkan ekspresi ketakutan maupun keraguan di mata mereka, justru ia dapat melihat tatapan senang dan gembira dari penduduk.


"Tuan manusia! Silahkan ambil ini"


dua warga tampak mendekati Marinir yang tengah bekerja membangun rumah penduduk, keduanya adalah wanita dari ras setengah manusia yang memiliki fitur semacam telinga hewan di atas kepala mereka.


Dengan penuh senyuman dua perempuan itu tampak bahagia ketika Marinir menerima makanan yang di buat oleh mereka.


"Man, ku rasa aku bisa cari istri disini"


Salah satu Marinir bercanda ketika menerima makanan itu, Marinir kedua yang menatapnya dengan tatapan kesal mulai menendang kakinya.


"Jangan kau berani menganggap kalau kau bisa menguasai mereka sendirian!"


"Ha!? Apa maksudmu itu!"


Keduanya mulai berargumen soal sesuatu yang bodoh.


Di suatu tempat tak jauh dari Kastil, Rosella bersama dengan Jonathan yang kebetulan mengawalnya karena suatu alasan yang tak pernah ia tahu apa itu, keduanya yang saat ini berada di atas bangunan yang menghadap langsung kearah perbukitan yang tak jauh dari Kerajaan, saling diam untuk sementara sebelum Rosella mulai membuka pembicaraan.



"Bagaimana menurutmu tempat kami, Jonas?"


"Yah, bisa ku bilang, lumayan bagus?"


"Bisa katakan padaku di mananya yang bagus?"


Jonathan dibuat berpikir sebentar sebelum ia melirik ke nuansa yang sangat rindang seakan alam di dunia ini masih sangat terjaga keasriannya.


"Mungkin soal bagaimana dunia ini masih jauh dari industrialisasi dimana pencemaran udara membuat banyak binatang punah seiring berjalannya waktu"


"oh?"


Jonathan memilih tak menjelaskan lebih jauh soal bagaimana dunia mereka sampai ke titik peradaban yang sangat maju, karena itu akan menjadi sebuah cerita yang sangat menjengkelkan untuk di jelaskan.


"Jonas, apa kau pikir aku layak jadi pemimpin"


Tatapan mata Rosella yang seakan menatap ke arah yang sangat berbeda dari apa yang ia lihat, membuat Jonathan harus memilih kata-katanya dengan sangat teliti.


Tatapan Rosella terlihat sangat hampa dan penuh dengan kesunyian yang mendalam, sangat wajar kenapa ia seperti itu setelah bagaimana nasib ras mereka di dunia ini selama ratusan tahun berada di persepsi bahwasanya ras Iblis adalah ras musuh kemanusiaan.


Sungguh sangat ironis, manusia akan selalu menjadi makhluk yang gampang paranoid akan banyak hal dan cenderung untuk menjustifikasi hal yang belum tentu benar.


Itu tak jauh berbeda dengan bumi.


Hari kembali berlalu, Jonathan yang saat ini berada di bawah kepemimpinan Kolonel Anderson, Unit 32nd Mechanized Infantry Regiment, 1st Company, ia melakukan rutinitas harinya dimana ia patroli dan menjaga kawasan area masuk kerajaan dimana beberapa pos telah di dirikan oleh Marinir.


'Hanya dua hari sejak insiden itu terjadi, Kerajaan Junois sekarang malah jadi pangkalan militer yang sepenuhnya di kontrol oleh Marinir'


Hal lain yang tak mau ia katakan ke Rosella adalah fakta dimana kemungkinan besar Letnan Jenderal sengaja menggunakan invasi itu sebagai pintu gerbang utama untuk membentuk basis militer terdepan yang mampu menampung setidaknya 3 Resimen Infanteri Mekanis yang masing-masing memiliki setidaknya 1 Abrams dan 3 IFV tipe Bradley untuk setiap Resimen.


Walau tak signifikan, namun banyaknya perlengkapan militer yang di terjunkan kesini seperti alat berat pertahanan darat basis artileri M777 Howitzer dan Tank Paladin self-propelled Artillery sudah cukup menjadi sebuah sinyal kalau Letnan Jenderal memiliki agenda tersendiri soal apa yang akan terjadi kedepannya.


Dugaan ku pun tepat sasaran, jawaban akan pertanyaan ku itu terjawab setelah konvoi dari unit helikopter berdatangan dan mulai memarkirkan helikopter tak jauh dari markas kamp Anderson yang di dirikan.

__ADS_1


Setidaknya ada 7 Helikopter Venom dan 5 AH-1Z Viper, apapun itu yang Letnan Jenderal pikirkan soal markas ini, aku berani jamin itu tidak mungkin menjadi pertanda bagus untuk penugasan kami.


__ADS_2