
Nisya terbangun, dia melihat jam pukul 03.00 dia tidak dapat terlelap kembali, kepalanya sakit, pikirannya kacau, dia mengingat kembali perselingkuhan yang Dion lakukan, sungguh hatinya bergetar merasakan sakit, dadanya sesak tanpa terasa airmatanya jatuh membasahi pipinya. Dia ternyata tidak setegar itu. Dia rapuh. Dia cukup malu untuk curhat ke sahabatnya. Betapa selama ini dia membanggakan Dion, “ah berat sekali rasanya” gumamnya sendiri. Nisya lalu mengambil HPnya dan menyalakannya.
Nisya lalu membuka galeri HPnya, melihat foto2nya dengan Dion, sesak kembali menyelimuti dirinya. Nisya menghapus semua foto dia dengan Dion, dia menangis, menangis dalam diam, takut orang rumah akan mendengar tangisannya tapi itu tidak membuat hatinya lebih baik. Nisya mengambil bantal, lalu mendekap wajahnya sambil berteriak menangis agar tak ada yang bisa mendengarnya.
Nisya memeriksa WAnya, melihat notif groupnya yang cukup banyak karena sejak pagi tak ada satupun yang dia baca, matanya tertuju pada nama “Ryan”, Nisya sedikit ragu, lalu dia memberanikan diri mengirim pesan pada Ryan.
Nisya:belum bobo?
15 menit sudah berlalu, Tak ada balasan, Nisya ingin segera menghapus pesannya, sungguh memalukan, batinnya. Belum sempat dia memencet tombol hapus pesan, Ryan membalas WAnya
Ryan:maaf Nis, baru balas, baru selesai sholat, kamu kenapa belum tidur?
Nisya:lagi banyak pikiran, pusing ga tau mau cerita sama siapa.
Ryan:kalau kamu belum siap cerita sm aku, kamu bisa cerita sm Allah, mengadu sm Dia. Ambil wudhu terus sholat malam, mengadu sebanyak-banyaknya. In sha Allah hati kamu bisa lebih damai dan tenang.
Nisya : terima kasih Ryan, tapi gue cukup malu untuk menghadap sama Allah. Sholat aja masih bolong2, ga ada yang ingatin sih, hehe
Ryan:Sholat itu kewajiban, bukan nanti ada yang ingatin baru sholat, download aplikasi juga bisa klo hanya sebatas mengingatkan, aku akan ada kok Nis, tenang aja.
Ryan:eh eh tunggu, kok masih elu gue sih? Bukannya sudah aku bilang ya semalam?🤨
Nisya:ahaha, iya maap lupa.🥺Makasih ya Ry, udah mau nemenin aku, VC boleh?😌
Ryan:ambil wudhu dulu, baru sholat. Setelah itu aku telpon ya.
Nisya:hemm, siap bos.😫
Dengan berat hati Nisya melangkah ke kamar mandi, mengambil wudhu dan melakukan sholat tahajud, Nisya berdoa cukup lama, menangis dan mengadu sama Allah, benar kata Ryan, perasaan jadi lebih ringan. Selesai sholat Nisya tertidur diatas sajadah.
__ADS_1
Drrtttt...drttttt...drrttttt
HPnya berbunyi mengagetkannya.
“Hallo” Nisya menjawab telp dengan nada masih mengantuk
“Assalamualaikum” seorang diseberang telp
“Waalaikumsalam, hehe, maap lupa, aku ketiduran tadi” Nisya tau itu suara Ryan.
“Iya aku tau kok, makanya ga ganggu kamu tadi, sekarang aku cuma mau bangunin buat sholat shubu, masa iya sholat sunnah tapi tidak sholat wajib, bangun sholat gih, abis itu siap2 katanya semalam mau ke kampuskan? Jam berapa aku jemput?” Ryan benar2 senang bisa seakrab dan sedekat ini sm Nisya tak ada perasaan canggung sama sekali. Nisya juga mau mendengarkan nasehatnya.
“Iya siapp ustad Ryan, hahaha. Aku sholat dulu kalau gitu, jam 8 ke kampusnya. Ga perlu jemput, aku bisa naik ojek online kok.” Nisya masih merasa tidak enak jika merepotkan Ryan terus2an walau sebenarnya dia ada perasaan cukup nyaman.
“Sekarang Kamu anggap aku teman apa orang asing?” Tanya Ryan
“Maksud kamu apa? Ya temanlah, masa orang asing kalau orang asing ya ga bakalan aku ajakin bicara shubu2 begini” Nisya mengkerutkan dahinya belum paham maksud dari perkataan Ryan.
“Apa sih aneh banget” Nisya tersenyum lalu berjalan ke kamar mandi untuk mengambil wudhu dan melaksanakan sholat.
Selesai sholat, Nisya lalu mandi dan siap2 buat ke kampus. Hari ini Nisya cukup lama memilih baju yang dia mau pakai. “Aneh banget sih gue” gumamnya yang bingung dengan tingkahnya sendiri. Dia lalu memilih baju kemeja garis biru putih dan celana jeans biru yang senada dengan warna bajunya. Dia memakai make up tipis. Biasanya dia make up begini kalau mau jalan sama Dion saja. Kalau ke kampus cukup pakai bedak dan lipglos. Hari ini untuk pertama kalinya Nisya berdandan selain buat Dion.
“Pagi Bunda, pagi Ayah, Pagi Kakaku sayang” Sapa Nisya dengan wajah yang sumringah
“Senang tuh yang kekasih hatinya sudah datang, kemarin2 aja berkurung diri didalam kamar, orang kasmaran emang gitu” Ari menggoda adiknya yang tingkahnya pagi ini tidak seperti biasa
“Ih apaan sih, Kak Ari nih ya, sibuk aja” Nisya lalu duduk disamping Kakaknya dan memukul bahunya.
“Auh sakit tau” Ari menatap sang adik
__ADS_1
“Weekkk” Nisya memeletkan lidahnya kearah kakaknya. Bunda dan Ayah hanya tersenyum melihat tingkah kedua anaknya itu.
“Mobil kamu kemana Nis?” Tanya Ayah yang membuat wajah Nisya menjadi panik.
“Oh iya mobil, sampai lupa semalam mobil aku parkir di rumah Dion” ucap Nisya dalam hati
“Itu Yah, kemarin simpan di rumah Dion. Hehehe” Ucap Nisya sambil tersenyum manis takut kalau Ayahnya marah
“Ya udah telpon Dion sekarang, bawa mobil kesini sekalian antarin kamu ke kampus. Ayah juga mau ketemu sama dia” Ucap Ayah Nisya lagi
“Eh nanti Yah, hari ini Nisya udah janjian mau di jemput sama teman” Nisya masih belum mau bertemu dengan Dion, dia juga sudah janjian sama Ryan.
“Siapa?” Tanya Ari, Bunda dan Ayah Nisya barengan karena tidak seperti biasa ada yang menjemput Nisya selain Dion & Lauren.
“Mau tau aja, kepo banget sih” Nisya lalu memakan roti bakar dan meminum susu yang sudah di buatkan sama Bundanya.
Selesai sarapan Nisya lalu berpamitan karena Ryan sudah menunggu di depan rumah. Ari yang penasaran mengikuti Nisya. Tapi Nisya menatap kakaknya dengan tatapan tidak senang, Ari terpaksa masuk kembali kedalam rumah takut sang adik marah berubah jadi singa.
Diperjalanan mereka bercerita banyak hal, tentang jurusan Nisya, cita2 Nisya setelah kuliah. Walau dulu cita2 Nisya ingin jadi istri Dion sekarang dia belum kepikiran ketikan ditanya sama Ryan dia asal jawab saja mau jadi Dosen.
“Kalau jadi dosen harus lanjut kuliah dong?” Tanya Ryan sambil terus menyetir
“Hmm. Iyaya ga kepikiran, belum sanggup kalau mau kuliah lagi. Hahahaha” Nisya merasa begitu konyol, dia hanya asal jawab saja tidak kepikiran kalau jadi dosen minimal harus S2. Kalau dia bilang cita2nya mau jadi istri Dion, Ryan pasti akan menertawai kekonyolannya.
“Kamu sendiri cita2nya seperti apa? Sudah sesuai dengan ekspetasi?” Tanya Nisya lagi
“Belum semua, kan terkadang manusia hanya bisa berencana selebihnya serahkan semuanya sama Allah tapi kamu mau tau ga hal apa yang belum terwujud di hidupku sampai hari ini?”
“Apa?” Tanya Nisya penasaran
__ADS_1
“Jadi Suami kamu” Jawab Ryan tegas dan tak ada nada bercanda diucapannya, Nisya merasa jantungnya akan meledak mendengar Ryan mengatakn itu dengan santainya. Mukanya memerah, Ryan menatap Nisya menandakan apa yang dia bilang barusan benar. Deg deg deg jantung Nisya tambah berdetak kencang ketika matanya dan mata Ryan saling bertemu. Nisya dengan cepat memalingkan wajahnya. Dia salah tingkah. Begitu juga dengan Ryan. Mereka lalu saling diam sampai tiba di Kampus Nisya.