Cowok itu bernama Ryan

Cowok itu bernama Ryan
Bab 22


__ADS_3

Seminggu setelah kejadian hubungan Nisya dan Dion semakin berjarak, Nisya sudah mengganti nomor HPnya. Hanya orang2 terdekatnya saja yang tau. Nisya kembali melanjutkan aktivitasnya di kantor yang cukup membuat Nisya sedikit melupakan kesedihannya. Ditambah lagi sekarang Nisya tidak sendiri, Ryan yang selalu ada untuk Nisya.


#tiitt# bunyi pemberitahuan di HP Nisya


Nisya lalu membuka mengecek ada pesan masuk diIGnya.


“Nis, maafin aku, aku stupid banget, aku cemburu liat kamu datang dengan Ryan. Akal sehatku ga jalan. Tolong maafin aku” ternyata yang DM Dion menggunakan Fake Akun karena akun IG Dion sudah Nisya blokir bersama dengan semua kenangannya.


Nisya : kamu selalu begitu, minta maaf terus diulang lagi, aku sudah bahagia sekarang tolong jangan ganggu aku lagi


Dion : kasih aku 1 kesempatan untuk memperbaiki diri aku Nis, aku janji ga bakalan sia2in kamu lagi.


“Huufffh” Nisya membuang nafas berat, dia tidak bisa menghadapi Dion, dia selalu lemah. Entah ap yang membuat Nisya selalu mau memaafkan Dion. Nisya menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Bismillah. Nisya lalu menelpon seseorang lewat telpon kantor.


“Assalamualaikum” Sapanya


“Nisya? Waalaikumsalam, aku pikir kamu ga bakalan telpon aku lagi Sayang, aku tunggu balasan kamu dengan harap2 cemas” Ternyata yang di telpon Nisya itu Dion


Nisya : “mau kamu apa Dion?”


Dion : “aku mau kita balikan seperti dulu lagi, apakah itu sulit buat kamu?”


Nisya : “huuffh” hanya nafas berat


Nisya : “kita ketemu sebentar di tempat biasa”


Setelah janjian Nisya lalu menutup telponnya. Ada rasa rindu yang tak bisa dia bohongi. Perasaannya itu terlalu dalam buat Dion. Tapi untuk memulai kembali rasanya tidak mungkin banyak hati yang akan dia sakiti termasuk Ryan walau Nisya tidak tau bagaimana perasaan Ryan sebenarnya.

__ADS_1


Sore harinya, Ryan menelpon Nisya dan bilang akan menjemputnya tapi Nisya bilang dia ada janji dengan teman, Ryan curiga kalau teman yang dimaksud Nisya itu adalah Dion karena Nisya tak pernah jalan selain dengan ketiga sahabatnya.


Di sebuah restoran sudah menunggu seorang cowok dengan sesekali meminum kopi yang ada di depannya.


“Assalamualaikum” Sapa Nisya tersenyum lalu duduk di depan Dion


“Waalaikumsalam, kamu cantik banget Nis” Dion memandangi wajah Nisya yang saat itu mengenakan Hijab berwarna merah dan samar2 make up yang sudah mulai memudar tapi tidak mengurangi wajah Nisya yang manis


“Mau ngomong apa lagi,” Tanya Nisya membuka suara


Mereka panjang kali lebar, intinya dia ingi mereka kembali seperti semula. Nisya masih butuh waktu. Dia bingung dan bimbang dengan hatinya. Sebenarnya dihatinya saat ini ada sedikit rasa untuk Ryan tapi Ryan belum juga menyatakan perasaannya. Nisya jadi bingung dibuatnya. Tak terasa azan magrib sudah berkumandang, Nisya pamit untuk mencari masjid terdekat.


“Udah magrib, aku sholat dulu ya” Pamit Nisya


“Aku antrerin kamu” Dion lalu berjalan disamping Nisya sesekali dia ingin menggenggam tangan Nisya tapi selalu Nisya tolak.


“Kenapa tak sholat?” Tanyanya. Dion hanya diam tak memberi jawaban sambil terus melajukan mobilnya. Mereka tiba diperumahan yang cukup familiar buat Nisya. Dia tersadar ini bukan daerah rumahnya.


“Ngapain kita kesini, ini bukan daerah rumah aku” Nisya mencoba memberontak mau keluar dari mobil.


Dion/ “sebentar aja Nis, aku masih rindu sama kamu. Aku janji dari sini aku bakalan anterin kamu pulang.


Nisya hanya diam membisu. Tak ada satu katapun yang keluar dari mulutnya. Mereka lalu dirumah minimalis tidak terlalu megah tapi cukup mewah ya itu adalah rumah Dion. Rumah yang sering Nisya datengi dulu 3bulan yang lalu. Nisya mengambil napas berat lalu memasuki rumah.


“Assalamualaikum” Nisya memberi salam ketika masuk didalam rumah


“Waalaikumsalam, eh non baru muncul lagi” Jawab seorang wanita paruh baya, yang biasa datang membersihkan dan memasak buat Dion. Dia adalah Bi Narti

__ADS_1


“Hehe, iya nih bi” Nisya tersenyum pada Bi Narti


“Ya udah non, makan dulu atuh bibi udah masak nih, masih angat kok. Soalnya tadi kata den Dion bakalan ada tamu spesial yang datang” Ucap Bi Narti sambil mengajak Nisya ke ruang makan. Nisya hanya mengikuti dibelakang. Dia celingakcelinguk mencari sosok Dion yang sejak masuk rumah tadi sudah menghilang.


Dion lalu keluar dari kamar, hanya menggukan celana pendek dan kaos oblong. Ah Sungguh pemandangan yang indah, membuat jantung Nisya semakin berdetak. Dalam hatinya “Dia salah sudah mau masuk kesini. Dia akan terjebak didalam lubang yang sama”


Dion/ “Bi Narti pulang aja kalau udah mau pulang. Kerjaan udah selesai kan?


Bi Narti/ “iya udah semua den tapi kalau bibi pulang siapa nanti yang bakalan beberes sesudah den dan non Nisya makan?


Dion/ “ga apa2 bi, nanti Dion yang beresin dibantu sama Nisya.” Dion lalu mengkode Bi Narti seolah paham. Bi Narti lalu pamit pulang pada Dion dan Nisya.


Suasana jadi hening kembali, Dion lalu duduk disebelah Nisya yang lagi sibuk mengunyah makanannya. Nisya tersentak kaget hampir tersedak. Dion lalu memberi minum pada Nisya.


“Apaan sih, kamu ga liat aku lagi makan, kalau aku tersedak gimana? Kam.........” belum selesai Nisya bicara Dion sudah mencium Nisya dengan lembutnya. Nisya diam tak bergerak dan tak juga membalas. Dion masih terus memainkan bibir Nisya. Ada getaran panas didada Nisya. Nisya menutup matanya seolah menikmati setiap sentuhan yang diberika oleh Dion. Oh Shit dia tak berdaya. Rasa bencinya sudah hilang oleh nafsu dan Rindu yang lebih besar. Iblis berhasil menggoda mereka (ye gue lagi yang disalahin, kata iblis :P) Nisya lalu membalas ciuman Dion. Dion lalu mendekap Nisya memainkan tangannya diseluruh tubuh Nisya yang membuat Nisya menggeliat. Dion lalu menggendong Nisya dengan posisi mereka masih berciuman. Membawa Nisya masuk ke dalam kamarnya. Hanya satu yang bisa membuat Nisya tak lepas dari dia yaitu dengan menjadikan Nisya lagi2 miliknya, batin Dion. Ketika melihat Nisya sudah mulai terangsang Dion lalu membuka seluruh pakaiannya. Nisya mencoba memberontak ingin keluar tapi tenaga Dion lebih besar dari tenaganya.


“Kamu udah ga bisa kemana2 lagi sayang, kamu milikku malam ini” Bisik Dion ditelinga Nisya kemudian dia kembali menggendong Nisya dan kembali mencium bibirnya. Sedangkan tangannya terus membuka pakaian Nisya satu persatu jadilah mereka berdua tak berbusana sama sekali. Debaran didada mereka sudah mencapai titiknya. Nisya masih berusaha memberontak tapi tekanan yang Dion kasih membuat Nisya tak bisa bergerak. Dion masih memaikan lidahnya. Nisya menangis airmatanya keluar, Dion tak peduli yang dia tau hanya ini satu2nya cara agar Nisya tak lepas dari genggamananya walau dengan cara yang salah.


“Aaaarrrggghhhtttt” jerikan kesakitan Nisya rasanya masih sama seperti pertama kali mereka melakukannya. Airmatanya tak terbendung lagi tapi tak menghentikan Dion. Keringat sudah membasahi seluruh badan Dion. Sedangkan Nisya masih terus menangis airmatanya tak kunjung berhenti. Dia hanya membiarkan Dion memainkannya tanpa bergerak ataupun melawan sedikitpun. Terlihat hanya Dion yang menikmati.


Tak lama kemudian Dion sudah selesai. Dia lalu melepaskan pelukannya dari Nisya membuang kon**m yang dia pakai. Lalu kembali ketempat tidur mencium kening Nisya. “Terima kasih sayang” sambil berbisik ditelinga Nisya dan menghapus airmata Nisya. Dion lalu tertidur sambil memeluk Nisya dalam dekapannya. Merasa Dion sudah tertidur pulas, Nisya lalu bangkit kekamar mandi untuk membersihkan diri. Memakai kembali pakaiannya. Dia lalu dengan langkah pelan meninggalkan Dion yang masih tertidur. Diceknya HPnya pukul 21.05 dia lalu memesan taksi online didepan supermarket tempatnya dulu bersembunyi. 10menit kemudian taksi pesanan Nisya sudah datang dengan segera Nisya menaikinya sebelum Dion terbangun dan sadar kalau Nisya sudah tak ada disampingnya.


“Sesuai titik bu?” Tanya sopir taksi


“Iya” Jawab Nisya datar sambil sesekali mengusap air matanya. Rasa penyesalan yang terus menghampirinya. Setibanya di rumah Nisya langsung masuk kekamar dan segera mandi, untuk membersihkan dirinya yang sudah kotor itu. Air shower mengalir membasahi seluruh tubuh Nisya begitu juga dengan air matanya.


“Bagaimana bisa? Apa yang harus aku perbuat sekarang?” Nisya terus menangis mendekap dirinya dengan rasa frustasi merasa dirinya sudah begitu kotor. Kalau saja 4bulan yang lalu dia mungkin akan menikmatinya, merasa bahagia tapi tidak hari ini.

__ADS_1


__ADS_2