Cowok itu bernama Ryan

Cowok itu bernama Ryan
Bab 9


__ADS_3

“Udah selesai Nis? Gmn?” Tanya Lani setelah menunggu hampir 2 jam


“Emmm... lulus dong” Ucap Nisya sambil memeluk tiga sahabatny itu.


“Lapar nih, ngemall yuk” Lanjutnya lagi


“Wahh... tumbenan nih Nisya ajakin kita ke Mall” Lauren membentuk muka tidak percaya


“Hahaha, bisa aja lu, yuk ah, gue traktir” Ucap Nisya diikuti anggukan sahabat2nya.


Merekapun menuju parkiran mobil, dan melajukan mobilnya meninggalkan kampus menuju Mall. Nisya melupakan sejenak Dion, dia tau saat ini waktunya yang tepat buat hangout dengan sahabat-sahabatnya disaat Dion tidak ada disisinya. Mungkin Dion beneran sibuk, batinnya.


Tiba di mall mereka ke salah satu tempat makan favorit mereka, disana mereka tertawa, bercanda layaknya anak gadis pada umumnya. Selesai makan merekapun memutuskan untuk ke tempat karoke, disana Nisya benar benar merefshkan diri. Melupakan sejenak Dion yang dari kemarin tidak ada kabar. Sahabat sahabatnya juga tidak mau merusak waktu mereka bersama Nisya hari itu, tak ada satupun yang memberitahu Nisya kalau Dion habis menelpon. Mereka tau kalau saat ini mereka bilang Nisya pasti langsung pulang, dan waktu bersama ketiga sahabatnya juga jadi berkurang.


Tidak terasa waktu sudah menunjukan pukul 7, mereka sudah lapar kembali, tapi duit di dompet sudah menipis, jadi mereka memutuskan buat makan malam di ruma Nisya lagi sekalian ketemu dengan Kak Ari.


“Nis, gue antarin lu duluan yaa, sekalian nebeng makan, kita udah lapar lagi nih” Lani membuka suara

__ADS_1


“Hahahha, dasar ya kalian,numpang makan gratis mulu” Nisya hanya bisa tertawa melihat tingkah sahabatnya itu


Selesai makan, merekapun pamit pulang malam itu mereka benar benar lelah, benar benar ingin merebahkan diri di kasur masing-masing.


“Eh Nis, HP Lu nih” Tian lupa kalau HP Nisya masih ada di dalam Tasnya.


“58 panggilan tak terjawab, 10sms, 30pesan WA, mati gue” Ucap Nisya kaget melihat notif dilayar HPnya


“Gue ga ikutikutan yaa Nis, hihi. Dadada” Pamit Tian sambil tertawa melihat kepanikan dan ketakutan di muka Nisya.


Nisya masuk kamar, cuci muka, mengganti pakaian selesai itu dia baru mau memberanikan diri membuka HPnya dan langsung menekan tombol Call tanpa membuka membaca isi pesannya.


“Kenapa diam? Di jawab, bukan menangis!!!!” Lanjutnya lagi masih dengan emosi tinggi


Hanya suara tangisan Nisya diseberang telpon yang kedengaran.


“Yaelah nih anak, ga bisa ngomong? Ya udah deh”

__ADS_1


“Aku minta maaf sayang, aku hanya kecapean, pulang dari kampus aku langsung tidur, aku benar benar lelah tadi di kampus, kamu jangan marah ya?” Ucap Nisya bohong karena dia tau kalau dia jujur Dion pasti akan lebih marah


“Alasan, aku ga percaya!!! Aku tadi telpon Ari katanya kamu belum pulang, terus kamu kemana?Sudah berani bohong ya kamu!!!” Tanyanya lagi masih dengan emosi yang sama


“Maaf, tapi aku benar benar ga bohong sayang, Kak Ari ga tau kalau aku udah di rumah. Aku pulang ga liat dia langsung masuk kamar karena aku benar benar capek” Nisya mencoba menjelaskan


“Sudahlah Nis, aku ga suka ya kamu bohongin aku kaya gini, kamu pikir aku anak kecil yang akan percaya semua omongan kamu?”


“Maaf sayang, aku mohon maafin aku, aku benar benar kecapean dan ketiduran, aku mana berani bohong sama kamu” Nisya memelas


“Ya sudah kamu istrahat aja dulu kalau capek, nanti besok atau ada waktu baru aku hubungin lagi” Dion lalu mematika telponnya tanpa menunggu Nisya yang masih mau bicara.


Nisya menangis, banyak hal yang ingin dia ucapkan tapi tak ada satupun yang mampu keluar dari mulutnya, dia benar benar takut sama Dion


“Kamu yang ga ada kabar seharian kemarin aku ga ada marah marah kaya gini sama kamu” Tulis Nisya dan mengirimkan sama Dion, dia tau dia ga bisa ngomong secara langsung


5menit kemudian Dion

__ADS_1


“Jadi sekarang kamu mau main hitunghitungan? Terus aja gitu Nis. Kamu tau kemarin aku sibuk, capek habis perjalanan jauh. Terus kamu nuntut aku harus selalu kasih kabar kamu, gitu? Balasan Dion benar benar tak disangka Nisya.


“Maaf bukan maksudku, tapi kamu tolong ngertiin aku, gimana aku nungguin kabar kamu, bahkan hapemu pun tidak aktif” balasnya lagi. Tapi ternyata Dion sudah memblokir Nisya sebelum Nisya sempat mengirimkannya. Hanya ada centang satu, Foto Dionpun hilang. Nomor Nisya benar benar sudah diblokir sama Dion. Malam itu Nisya hanya bisa menangis. Matanya bengkak. Dia tidak mengerti Dion, emosi Dion sungguh sulit ditebak. Dion begitu sayang sama Nisya tapi kalau sudah marah Dion sulit dibujuk. Hanya emosi yang menyelimuti Dion. Apapun yang Nisya katakan tidak ada yang benar semuanya salah. Sedangkan Dion tak pernah salah. Malam itu Nisya tertidur dalam keadaan sedang menangis. Paginya dia benar benar malas buat keluar kamar, matanya bengkak. Dia terus mencoba menghubungi Dion tapi Dion masih memblokir nomornya. Yang Nisya bisa lakuin hanya mengirim SMS ke Dion yang isinya sama. “Sayang, aku benar benar salah karena ketiduran dan ga mendengar telpon dari kamu, tolong kamu jangan kaya gini, aku benar benar minta maaf, tolong maafin aku” Sms Nisya ke Dion tapi tak ada balaspun dari Dion.


__ADS_2