
---Nisya POV---
Aku bingung, aku dilema, siapa sebenarnya yang aku cintai. Aku saat ini sudah merasa nyaman dengan Ryan. Tapi mengapa hatiku selalu luluh ketika aku bersama dengan Dion. Perasaan itu belum memudar. Aku bingung dengan perasaanku sendiri. Ya Allah aku mohon petunjuk darimu. Kumantapkan hatiku, aku berniat malam ini aku haris sholat istikhara.
"Gimana tadi lu ga kenapa-napa kan? Lu ga diapa2in kan?" Tanya Tian membuyarkan lamunanku.
"Ga kok, kita cuma ngobrol aja. Tenang in sha Allah aku bisa jaga diri kok" aku tersenyum pada sahabat2ku yang menungguku dengan muka panik mereka.
Setelah meyakinkan mereka aku baik2 saja, aku lalu pamit karena Bunda udah menunggu di rumah enta apa yang akan mereka katakan.
Setibanya di rumah, Ayah, Bunda dan Kak Ari sudah menungguku dimeja makan. Aku memasuki kamarku buat mandi dan berganti pakaian setelah menyusul mereka ke meja makan.
"Wah enak banget menunya hari ini" kataku melihat masakan Bunda yang hari ini lebih banyak menunya. Ku tarik kursi duduk disebelah kakaku tersayang.
"Gimana kamu Nis?" Kata Ayah membuka suara ditengah keseriusanku mengunyah makanan
"Gimana apa Yah?" Tanyaku bingung
"Ayah udah ga pernah liat Dion kesini lagi. Kapan dia mau datang melamar"
"Uhuk, uhuk" aku tersedak karena pertanyaan Ayah, Ayah memang tidak tau kalau aku dan Dion udah lama putus. Bunda yang mengerti mengkode Ayah
"Sudah putus toh, pantas udah ga pernah kerumah lagi" Kata Ayah dengan senyumannya.
Ari dan Bunda hanya tertawa melihatku yang jadi salah tingkah.
"Apaan sih, jadi aku diminta pulang cepat tadi hanya untuk digodain? Tau gitu tadi aku lama2 aja di rumah Tian" Ngambekku.
"Ehm, jadi gini adikku sayang. Kakak udah ngomong sama Ayah dan Bunda. Ya Kaka ga perlu izin kamu sih sebenarnya sama kamu, tapi alangkah baiknya jika kamu juga tau. Kaka minggu depan berencana akan melamar pacar kaka." Kata Kak Ari yang membuatku lebih syok dari pertanyaan Ayah tadi, bukannya kenapa baru saja kemarin Lani bilang dia pacaran sama Kakaku sekarang Kak Ari lagi yang bilang mau nikah, mereka memang jodoh suka membuat orang spot jantung.
__ADS_1
"Kaka hamilin Lani?" Tanyaku spontan
"Auuu sakit" aku mengelus kepalaku yang sakit karena diketok pakai sendok oleh Kak Ari
"Ngomongnya dijaga, memangnya kakakmu ini sebejat itu?"
"Eh darimana kamu tau kalau pacar kaka itu Lani?" Tanya Kak Ari lagi
"Ya taulah, Lani kan sahabat aku, jadi dia ceritalah ke kita. Baru juga kemarin tau. Dasar ya kalian itu, pintar banget sembunyiin dari kami. Hu"
"Udah udah, makan dulu. Selesai makan baru kita ngobrol di ruang keluarga, biar lebih santai juga" Kata Bunda yang melerai perdebatanku dengan Kak Ari.
Setelah selesai makan aku membantu Bunda membersihkan meja, mencuci piring dan menyapu.
"Eh jadi gimana?" Tanyaku sambil berbaring dipaha Bunda setelah selesai mengerjakan perkejaan rumah
----Nisya POV end----
Hari ini hari kepulangan Ryan ke indonesia. Nisya menunggu kabar dari Ryan. Tapi sejak semalam Ryan tak ada kabar. Di Kantor Nisya tidak kosentrasi. Dion selalu menghubunginya. Walau terkadang Nisya malas untuk membalas chat dari Dion tapi hati dan pikirannya selalu tak singkron. Dia masih belum menemukan jawaban siapa sebenarnya yang benar2 dia cintai, Ryan atau Dion.
🎵 Man ana man ana, man ana laulaakum
Kaifa maa hubbukum kaifa maa ahwaakum
Man ana man ana, man ana laulaakum
Kaifa maa hubbukum kaifa maa ahwaakum🎵
Suara dering telpon Nisya mengangetkannya dari lamunan.
__ADS_1
"Assalamualaikum" sapa sesesorang diseberang telpon
"Waalaikumsalam, kamu kemana aja sih dari semalam" protes Nisya. Rupanya yang menelpon itu Ryan
Ryan/ "Rindu ya? Cie aku jadi keegeran nih"
Nisya/ "Apaan sih, ga lucu tau"
Ryan/ "udah ah ga usah cemberut seperti itu, jelek tau. Makan siang yuk"
Ryan lalu berjalan menghampiri meja Nisya yang masih memanyunkan bibirnya dan terkejut melihat Ryan sudah ada didepan matanya membuatnya jadi salah tingkah.
Nisya/ "Ih apaan sih, muncul tiba2 kaya gitu" protes Nisya. Ryan hanya tersenyum lalu menarik tangan Nisya berjalan ke luar kantor. Nisya hanya mengikut dari belakang tanpa mereka sadari ada sesosok mata tajam yang memperhatikan mereka.
Ryan lalu membawa Nisya ke restoran dan mereka makan siang bersama.
"Kamu tibanya kapan? Kok ga bilang2 sih? Dari semalam juga hp kamu ga bisa dihubungi" Ucap Nisya sambil menyendok makanan yang sudah tersedia dimeja mereka
"Kan suprise" Ucap Ryan singkat sambil tersenyum manis kepada pujaan hati.
Nisya jadi salah tingkah terus terusan dipandangi oleh Ryan. Hatinya goyah. Debaran jantungnya sangat kuat. Ya Allah bagaimana ini. Batinnya.
Selesai makan Ryan kembali mengantar Nisya ke kantor.
Ryan/ "Aku antar sampai disini aja ya, masih ada urusan dulu. Kamu jangan lupa sholat. Sore aku jemput"
Nisya/ "Siap bos, nanti aku kabarin kalau udah mau pulang ya. Hati2. Dada" Nisya turun dari mobil dan melambai kearah Ryan. Melihat mobil Ryan sudah hilang dari pelupuk mata Nisya lalu melangkahkan kakinya berjalan masuk kearah kantor tapi tiba2 tangannya ditarik sama seseorang yang membuatnya menghentikan langkah kakinya.
"DION" Ucapnya kaget
__ADS_1