Cowok itu bernama Ryan

Cowok itu bernama Ryan
Bab 27


__ADS_3

Dion POV


Sialan banget nih cewek, gara2 dia Nisya pergi ga tau kemana padahal aku baru lagi mau ketemu dia. Walau sudah puluhan perempuan yang hadir dihidupku tapi mengapa sosok Nisya ga bisa hilang dari pikiranku. Perempuan2 yang datang hanya sekedar memuaskan nafsuku saja setelah itu aku ga peduli lagi dengan mereka.


"Mau kemana kamu?" Teriak Anggita cewek yang saat ini lagi dekat denganku


"Pulang, udah ga mood" Kataku lalu menuju ke parkiran mobil


"Tunggu, sayang tungguin" rengeknya manja


"Lu pulang naik taksi saja deh, nih ongkosnya" aku cukup malas untuk meladeni sikap manjanya hari ini. Aku ingin mencari Nisya mungkin saja dia belum jauh.


Anggita terus teriak tapi aku tak mempedulikannya, kulajukan mobilku mencari sosok Nisya disetiap jalan kutelusuri dengan teliti. Bingo, itu Dia. Aku menemukannya. Ku segera parkir mobilku dipinggir jalan, da bergegas berlari mengikutinya dari belakang.


"Nisya" Teriakku. Dia tak menoleh, malah dia berlari semakin cepat. Kususul Lani, Tian dan Lauren yang sudah ngosngosan mengejar Nisya. Akhirnya berhasil juga aku mengejarnya


"Apaan sih, lepasin tau ga" Berontaknya ketika aku berhasil menggapai tangannya dan menggenggamnya dengan cukup kuat


"Ga akan aku lepasin, kalau aku lepasin kamu pasti bakalan kabur lagi"


"Sakit, tolong lepasin dulu. Gue ga akan lari kok, mau ngomong apa lagi sih" Ucap Nisya denga ketus


"Kok gue? Aku dan kamu." Ucapku lagi sambil melepaskan genggaman tanganku


"Ya udah mau ngomong apa, kita duduk disana saja" ajaknya sambil menunjuk trotoar yang tidak jauh dari tempatku parkir mobil. Kuikuti dia dari belakang.


"Eh mau kemana kalian?" Teriak Tian dengan tatapan tak suka kepadaku, aku tidak peduli, toh aku tak perlu izin dari mereka.


"Gue mau bicara dulu dengan Dion, kalian balik aja duluan ya" Kata Nisya pada sahabat2nya. Diikuti anggukan dari mereka, merekapun pergi meninggalkan kami berdua.


"Teru mau ngomong apa?" Tanyanya to the point


"Kok ketus sih?"


"Emang kenapa?"


"Rasanya aku ingin melahap bibirmu kalau kamu marah2 begitu" ucapku sontak membuat Nisya kaget dan berdiri hendak menampar wajahku dengan cepat aku meraih tangannya memeluknya. Ya Tuhan sungguh kumerindukannya.


Dia terus memberontak, memukulku, aku tak peduli aku terus mengencangkan pelukanku. Rasanya aku tak ingin berpisah darinya. Rasa rindu ini begitu menyiksaku. Entah mengapa tak bisa kupungkiri aku merindukan aroma tubuhnya. Sejak hari itu aku tak bisa melupakan bagaimana caraku melahapnya walau dia tak melawan sedikitpun. Banyak Perempuan yang tidur denganku tapi tak ada yang bisa membuatku tak berdaya seperti yang dilakukan Nisya. Aku benar2 terpesona oleh tubuhnya. Aku tidak munafik aku laki2 normal.


"Udah puas?" Kataku setelah membiarkan dia memukulku meluapkan perasaannya. Ketika aku lihat dia mulai melunak aku mengajaknya ke dalam mobil tanpa perlawanan dia mengikutiku yang menariknya kearah mobil.


"Kalau mau nangis, nangis aja, ga perlu ditahan" Kataku padanya ketika kami sudah didalam mobil. Benar saja dia menangis cukup lama, sambil sesekali mencaciku dengan kata2nya, memukuli lenganku berkalikali. Aku hanya diam memperhatikannya.


-------- Dion POV end-----


"Kamu jahat, aku benci sama kamu, aku ga suka sama kamu, aku benci, benci benci" Ucap Nisya sambil terus memukul lengan Dion. Dion sudah mulai merasa kesakitan, raut wajahnya mulai menahan rasa sakit karena pukulan bertubitubi dari Nisya.

__ADS_1


"Ha hah hah" Nisya tampak kelelahan meluapakn segala emosinya pada Dion. Dia sudah berhenti menangis, dia sudah berhenti memukuli Dion. Nisya sudah mulai tenang. Tanpa menunggu Dion lalu melajukan mobilnya dan tibalah mereka di rumah Dion ternyata Nisya sudah ketiduran karena terlalu lelah menangis. Dion tak tega membangunkan Nisya. Wajahnya begitu teduh bahkan ketika dia tidur.


Dion lalu mengangkat Nisya masuk kedalam rumah dan dibaringkan ditempat tidurnya.


Dion baring disamping Nisya, tangannya mengeluselus dengan lembut setiap inci diwajah Nisya. Cup Dion mengecup Kilas bibir Nisya. Nisya masih saja nyenyak dengan tidurnya. Dionpun ikut tertidur disamping Nisya.


🎵 Man ana man ana, man ana laulaakum


Kaifa maa hubbukum kaifa maa ahwaakum


Man ana man ana, man ana laulaakum


Kaifa maa hubbukum kaifa maa ahwaakum🎵


Nada dering HP Nisya mengagetkannya yang sedang tertidur pulas. Dan yang lebih mengagetkan lagi Dion ada disampingnya sambil memeluknya. Nisya menyingkirkan tangan Dion dan mengantur nafasnya.


"Assalamualaikum" Salamnya


"Waalaikumsalam, kamu belum mau pulang sayang" Tanya Bunda pada Nisya


"Bentar lagi Bun, Nisya baru bangun, tadi bangun jam 2 terus lanjut jogging jadinya ngantuk banget" kata Nisya


"Emang kenapa Bun?" Tanya Nisya lagi


"Ga apa2, tapi Ari katanya ada yang mau diomongin serius. Minta kita kumpul lengkap dulu baru dia mau bilang, makanya Bunda tanyain kamu, kamu mau pulang jam berapa?"


Nisya melihat jam ditangannya pukul 09.50


"Oh Ya udah Bunda masak dulu kalau gitu, sekalian kita makan siang bareng juga, assalamualaikum"


"Waalaikumsalam"


"Siapa yang nelpon"


"Eh kaget, kamu mau aku jantungan ya?" Ucap Nisya kaget yang tiba2 saja Dion sudah ada dan memeluknnya dari belakang.


"Bunda, katanya Kak Ari ada yang mau diomongin" Jelasnya


"Oh, terus udah mau pulang?" Dion menarik Nisya duduk dipangkuannya sambil mencium pundak Nisya dan Membalik badan Nisya yang membuat muka mereka kembali berdekatan hanya sepersekian senti saja.


Deg


Deg


Deg


Jantung Nisya kembali berdetak, dia masih belum bisa menahan godaan. Ya Allah tolong hambamu ini. Batinnya.

__ADS_1


Nisya/ "Iya, aku bilang sama Bunda mau pulang jam 11"


Dion/ "Masih ada sejam, kamu ga rindu sama aku?"


Nisya/ "buat apa rindu. Kamu juga udah punya yang barukan"


Dion/ "mereka hanya pelarianku, ga ada yang aku cinta hanya kamu" Dion lalu mencium kening Nisya


Nisya mencoba berdiri, dia sudah tak nyaman dengan posisi duduknya.


Dion/ "mau kemana?"


"ga nyaman duduk seperti itu" ucap Nisya dengan pipi yang merona


Dion kembali menarik tangan Nisya kali ini posisi mereka tiduran sambil berhadap-hadapan. Dijadikannya lengan Dion sebagai bantal.


"Aku rindu banget sama kamu sayang, biarkan ini sebentar saja" Ucap Dion sambil mencium kening Nisya lagi


Nisy hanya diam, dia bingung dengan hatinya. Dia merasa bersalah pada Ryan. Benar Ryan. Nisya tersadar dan segera berdiri.


***


Nisya POV


Ya Allah bagaimana bisa aku melupakan Ryan, Ryan yang selama ini ada disaat aku senang maupun sedih. Menjagaku, Ryan yang selalu mengingatkanku akan ALLAH. Membimbingku untuk selalu berada dijalan yang benar. Tapi mengapa aku lemah sama sosok laki2 disampingku ini. Aku segera bangkit dari posisiku. Aku takut akan khilaf lagi. Aku tau aku lemah, hatiku ternyata masih ada untuknya.


"Mau kemana?" Dion menatapku. Tatapan yang selalu membuat jantungku berdetak, tatapan yang meluluhkan hatiku, yang membuat hatiku goyah. Tidak, Dion yang sekarang sudah begitu jahat. Ku mantapkan diriku.


"Aku mau pulang, bajuku masih di rumah Tian." Kataku dan mencoba berjalan kearah pintu tapi belum saja langkah kakiku sampai Dion sudah kembali memelukku dari belakang, mengecup pundakku dengan lembur. Dia tau aku masih mencintainya.


"Kamu apaan sih" Tolakku mencoba melepaskan tangannya


"Sebentar saja, biarkan sebentar saja. Aku sudah terlalu merindukanmu." Dion menaruh dagunya di pundakku. Mengecup telingaku yang masih dilapisi hijab. Aku merinding. Itu bagian sensitifku. Aku membiarkannya 5menit berada diposisi itu. Aku tau kalau lebih dari itu aku yang akan terbuai dan itu ga boleh terjadi.


Kulepaskan tangannya perlahan. Aku harus mencari ide agar bisa keluar dari sini secepatnya. Bingo!!!


"Mana handphone kamu?" Kataku dan Dion segera memberikan Handphonenya padaku. Handphone sudah bukan yang dulu dia sudah menggantinya dengan Iphone terbaru. Kupencet nomorku dan mensavenya. Lalu kuberikan kembali padanya.


"Nih, aku udah save nomor baruku, jadi izinkan aku pulang sekarang ya?" Kataku lagi dengan gaya memelasku.


"Okeh" Dia setuju tapi kemudian dia mengambil HPnya kembali dan mengambil foto kita berdua yang sontak membuatku memalingkan wajahku kearah wajahnya. Cekrek. Jadilah foto kami berdua yang tampak begitu dekat padahal tidak seperti itu kenyataannya. Aku ga peduli dan membiarkannya menyimpan foto tersebut. Toh pikirku itu bukan foto apa2 juga.


"Aku anterin kamu pulang ya" Katanya lagi. Aku mengangguk.


"Anterin di rumah Tian aja" Aku lalu menjelaskan alamat Tian pada Dion.


Disepanjang jalan Dion terus menggenggam tanganku, sesekali dilepasnya hanya untuk mengoper persenelan. Tanganku sudah basah karena keringat. Kitapun tiba di rumah Tian. Aku lalu pamit pada Dion. Dia menarik kepalaku dan mencium bibirku kilas. Ya Allah mengapa anak ini jadi sering main sosor sosor aja. Batinku.

__ADS_1


"Yaudah, ntar aku telpon ya. Kabarin kalau kamu udah di rumah" aku mengangguk dan Dion juga melajukan mobilnya pergi. Aku lalu berjalan 1 blok dari tempatku turun, aku memang sengaja tidak turun pas di depan rumah Tian. Aku takut mereka akan melihatku dan benar saja mereka sudah menungguku didepan rumah dengan wajah yang tak ramah.


-----Nisya POV end---


__ADS_2