Crazy Woman

Crazy Woman
Kasus Satu:Mayat di toko


__ADS_3

Kerumunan orang-orang di emperan toko menarik minat lelaki memakai topi ala koboi yang tengah membersihkan gigi dengan tusuk gigi.


Segera disibaknya kerumunan itu, pandangannya tertuju pada seorang wanita yang tengah menangis, disampingnya ada seorang lelaki gemuk memakai mantel cokelat.


"Tuan, bukan saya yang membunuhnya tapi dia" ucapnya sambil menunjuk seorang wanita memakai gaun hijau.


Orang yang dituduh langsung berkacak pinggang, pandangan matanya mendelik seraya berkata lantang


"Enak saja, aku ini baru kembali dari sini jam setengah dua belas, waktu itu aku memang bertemu dengan bang Johan,dia bahkan menyapaku, tapi aku tak pernah sedikitpun memiliki niat untuk membunuhnya"


Gadis muda itu tak mau kalah, dia berdiri disamping lelaki gendut itu seraya berkata


"Kalau begitu apa alasannya, aku harus membunuhnya,seharusnya yang layak menjadi pembunuhnya adalah kau, kau kan pemilik pertokoan ini, dan pula semua orang di kota ini tahu kau wanita simpanan orang ini, bukan begitu"


pipi wanita itu memerah, sementara pria yang memakai topi koboi berbisik pada pria tua disebelahnya.


"Apa yang terjadi"


"Pembantu nyonya Blomington menemukan bang Johan terkapar di lantai dengan kepala tertancap pisau, menurut kepolisian ini adalah pembunuhan yang tak disengaja dilakukan oleh nyonya Blomington karena ceroboh mengepel lantai asal asalan hingga membuat pak Johan terpeleset lalu pisau itu terjatuh menancap dikepalanya"


Lelaki itu ingin pergi, namun sesuatu menarik perhatiannya. Ada plastik yang menyembul disaku celananya . Lelaki itu menarik plastik celana si korban, ada selembar susu bubuk . Dia lalu mengedarkan pandangan mengamati keadaan sekitar.


Deretan kotak sereal berjajar di rak bagian atas, dibagian tengah ada beragam susu bubuk. deretan seperti itu memanjang dan berkelok ke belakang,dibelakang nampak deretan perkakas peralatan rumah seperti obeng, tang dan catut. Rupanya selain menjual kebutuhan sehari hari, toko ini juga menjual perkakas dapur.


"Permisi, numpang tanya apa si korban memiliki kebiasaan buruk, tukang nyuri susu"


Pertanyaan itu membuat dua wanita itu menoleh, seorang polisi serta merta langsung menyapanya


"Kamu disini rupanya Samudera"


Pria koboi itu tersenyum dan menjabat tangan polisi itu.


"Iya pak, eh anda belum menjawab pertanyaan itu"


Mata polisi itu mengerling kearah dua wanita itu, dengan sigap nyonya Blomington menjawab pertanyaan itu.


"Iya benar, malah sebelumnya pria itu bekerja jadi tukang kebun saya, tapi saya pecat karena sering nyuri susu sachet di toko saya"


"Kalau begitu sudah jelas pelakunya bukan anda melainkan wanita yang didekat anda,


itu"


wanita berambut pirang nampak tersinggung, matanya menatap tajam pria itu, bibirnya menerucut, seperti mewakili suasana hatinya yang acapkali tak bersyukur pada tuhan.


"Jangan pernah memfitnah orang pak, fitnah itu lebih kejam daripada pembunuhan"


"Siapa bilang saya memfitnah anda, andalah yang membunuh bang Johan kan, pertama tama anda meletakkan susu sachet di tempat biasa, kemudian anda berpura pura mengatakan bahwa nyonya menyuruhnya membeli pisau tentunya setelah beliau mengepel lantai."


"Bang Johan yang tak curiga langsung menyanggupi perintah itu, dia lalu melihat susu sachet itu dan mencurinya, saat itulah pijakannya terjatuh dan badannya menimpa tumpukan pisau, hingga benda itu menancap di keningnya"

__ADS_1


Mendengar hal itu si perempuan berambut pirang itu langsung terbelalak. Alisnya berkerut menatap pemuda itu.


"Jangan asal nuduh ya, apa buktinya kalau saya menjadi pembunuhnya"


"Buktinya adalah adanya adanya sidik jari anda di pisau yang menancap di kening korban, jumlah pisau yang ada di rak itu ada tiga,anda pasti merubah letak posisi pisau ditempat yang mudah jatuh seperti di pinggir rak, pak polisi silahkan teliti pisau yang ada di kening dan di rak, apakah disana ada sidik jari wanita itu"


Seorang petugas forensik memakai seragam biru tua berjalan menghampiri polisi itu dan berkata.


"Apa yang dikatakan pemuda itu benar pak, team saya menemukan sidik jari nona Karen di pisau pisau itu"


"Bisakah anda menjelaskan hal itu di kantor polisi nona Karen" kata pak polisi sambil memborgol wanita itu


"Tidak perlu,karena sayalah yang membunuhnya, karena.... karena..."


Wanita bernama Karen itu tidak sanggup meneruskan kata katanya, air mata tampak menggenangi pelupuk mata


"Saya mencintai pemuda itu,tapi dia tak pernah menganggap serius perasaan itu, dia malah jatuh cinta pada nyonya Blomington, yang sudah dianggap seperti ibu kandungnya"


Wanita itu berhenti berucap, disaputnya air mata yang menetes dipipi dengan tisu.


"Saking cemburunya saya, saya pernah mencoba membunuh nyonya dengan memberikan racun sianida di kopi yang akan dia minum, tapi malah diketahui bang Johan, dia ngamuk ngamuk dan mengancam, akan melaporkan saya ke polisi, paginya saya ingin mengatakan cinta tapi malah terjadi adu mulut dan berakhir dengan kematiannya, saya... saya..."


isak tangis wanita itu makin keras, selang berapa lama tangis itupun terhenti.


"Saya cemburu dengan nyonya Blomington, dia dikaruniai harta yang berlimpah dan orang orang yang mencintainya, bahkan orang miskin papa macam bang Johan pun mencintainya, sedangkan saya, sedari kecil saya tidak pernah merasakan hal yang sama, sedari kecil saya hidup kekurangan, mengapa tuhan tidak adil begini"


"Tuhan itu maha adil nak, kamu tak tahu, sejatinya aku rindu dengan kehidupan kalian yang serba bebas"


Kata kata itu membuat Karen terpana, Beliau lalu lalu berkata


"Sedari kecil aku selalu dikasihani, apa apa harus diawasi, aku iri denganmu yang bebas memancing ikan di sungai, mengendarai sepeda montor, kalau itu kulakukan, Wiliam, kakek Henry akan melecutku dan menyuruh tidur di kandang kuda"


Benarkah, benarkah wanita ini pernah mengalami kesedihan. Seakan bisa menerka pikiran Karen, ia melanjutkan ceritanya


"Bahkan,aku dipaksa kawin dengan Sunandar,pria yang tak kuketahui asal usulnya, jika kamu menjadi diriku, maukah kamu menerimanya"


Pertanyaan itu mengoyak kesadaran Karen, bahwa setiap orang memiliki masalahnya sendiri sendiri, tapi apalah arti kesadaran ini, toh sebentar lagi ia akan dipenjara.


"Jikalau kamu muak dengan kepahitan hidupmu, berbagilah dengan orang lain, pandanglah senyum mereka saat mengucapkan terima kasih, niscaya kebahagiaan akan menyelimuti hatimu"


Alangkah teduh nasihat wanita itu, ingin rasanya Karen memeluknya dan berkata terima kasih ibu, tapi itu tak mungkin karena polisi Susanto telah menyeret tangannya kedalam sel penjara.


Nyonya Blomington berpaling pada Samudera dan berkata


"Sebagai ucapan terima kasih maukah kamu minum teh di rumahku nanti sore?"


"Terima kasih bu, tapi setiap sore saya ada acara badminton"


"Saya tidak memaksa, kalau mau silahkan, tidak ya tidak apa apa" kata nyonya Blomington sambil pergi berlalu.

__ADS_1


Samudera sebenarnya hanya menganggap itu sebagai hal yang biasa, tetapi tidak bagi sang nyonya, segera saja beliau menghujani pahlawan kita ini dengan beragam hadiah, hingga membuat ia tak enak hati.


"Samudera, ada sekotak tart untukmu"


Pemuda itu melongok keluar, di tangan kanannya tergenggam telephon rumah.


"Dari"


"Nyonya Blomington"


Seorang pria berjaket hitam menepuk bahunya


"Enak ya, elu punya penggemar rahasia"


Samudera menggedikkan bahu, dia lalu membawa kue tart itu ke kantin diikuti oleh pria berjaket hitam.


"Menurut lo apa yang harus lu lakuin kalau lu jadi gue Nald, tiap hari dikirim hadiah sama penggemar"


Lelaki itu mencomot seiris kue tart, lalu meneguk segelas teh hangat dan berucap.


"Kalau menurut gue sih, sebaiknya lu samperin tuh janda, biasanya orang yang kayak gini, hatinya kesepian, dia butuh teman"


Nasihat pria itu betul, saat Samudera datang ke rumah perempuan itu, beliau sangat bahagia,langsung saja ditumpah beraneka ragam kue kering di meja tamu, mulai dari cookies sampai kue tradisional macam kue sus semua ada.


"Jadi bagaimana ceritanya kau bisa menjadi wartawan Jawa pos Samudera"


Samudera menggigit sebutir kue kismis, pandangan matanya tertuju pada wanita berbibir merah kesumba itu, bibir itu amat serasi dengan gaun hitam yang dia kenakan.


"Orang tua saya bukan orang berada bu, selepas SMA saya coba coba ngelamar jadi cleaning service lewat gojek, hanya bertahan dua tahun bu, karena pemilik kost suka memberikan beban kerja tambahan tanpa tip, setahun nganggur saya mencoba melamar, alhamdulilah ketrima"


"Kalau ada orang yang memberikan pekerjaan tambahan dengan gaji sepuluh juta perbulan, kamu mau tidak"


"Pekerjaannya apa bu"


"Menjadi tukang kebun saya, cuman membersihkan kebun sama menyiram bunga saja sih"


"Kalau cuman menyiram bunga dan membersihkan pekarangan sih, saya mau bu"


"Ya sudah, kalau begitu pekerjaan itu buatmu"


Perkataan itu membuat Samudera terpana


"Ibu serius, ibu kan belum kenal siapa saya"


Nyonya Blomington tersenyum,


"Saya memang belum kenal siapa kamu, tapi pertolonganmu membuat saya yakin kamu orang baik, bagaimana kamu terima"


Lelaki itu ingin menolak, tapi bayang bayang hidup miskin, berpindah pindah tempat kost hingga bon di warung yang kian membengkak membuat lelaki itu tak kuasa menolak ajakan wanita itu.

__ADS_1


__ADS_2