
Ruangan itu penuh sesak dengan orang orang yang berlalu lalang, rata rata mereka memakai jas hitam dan yang perempuan memakai gaun. Di seberang ruang makan nampak seorang gadis bergaun biru dengan penjepit rambut berwarna serupa, dia nampak berbincang bincang dengan sesama kaum hawa, tak lama kemudian gadis itu menscroll layar telepon pintar yang dia bawa.
+6285756302224
Kalung yang kamu pakai bagus,apa jenisnya
+6285756302221
Safir
+6285756302224
Kalau gak salah harganya lima juta rupiah
+6285756302221
Kok kamu tahu
+6285756302224
Ayahku pengusaha batu permata, kebetulan gue punya liontin terbuat dari Rubi, minat
+6285756302221
Boleh.
Tak lama kemudian seorang pria berkumis tipis membisikinya. "Kutunggu kau di aula utama"
Perempuan itu meninggalkan teman temannya, di aula utama yang bersebelahan dengan air mancur, dia menemukan pria berkumis dan berjas hitam itu.
Lelaki itu tengah duduk disebuah meja, di atasnya terhampar liontin beraneka rupa warna.
"Liontin yang terbuat dari batu Rubi berwarna hijau ini saya jual seharga lima ratus ribu saja, berminat"
"Murah sekali"
"Ini barang peninggalan pacar saya,sengaja saya jual agar bisa move on"
Wanita itu tersenyum simpul,lalu berkata
"Perhiasannya bagus, tapi saya sudah punya banyak di rumah"
Pria itu terlihat kecewa, ia memejamkan mata dari dalam hidung keluar asap rokok berwarna putih.
"Dari tadi saya belum berkenalan, perkenalkan saya Samudera" kata lelaki itu sambil mengulurkan tangan.
"Vanya"
"Kalau begitu saya permisi"
Pria itu tersenyum "Oh silahkan"
Lima langkah kemudian gadis itu berbalik dan menatap pria itu
"Darimana kamu tahu nomor watss appku"
Pria itu tersenyum. "Apa itu informasi penting"
Ah bodohnya aku, dijaman yang serba digital ini, siapapun pasti mudah mendapatkan nomor kontak pribadi.
Dan kesedihan wanita itu makin mendalam tatkala keesokan harinya tuhan memberi tahu kenyataan akan kisah cinta yang tengah ia rajut bersama sang kekasih.
"Jadi gimana, elu semua sudah siapin uang cash untuk don juan satu ini" kata seorang lelaki berpakaian putih abu abu. Disampingnya ada tiga orang lelaki yang berjalan disamping anak itu. Salah satu berkulit sawo matang dan bermata cemerlang.
"Yaelah baru berhasil ngajak nge date aja sudah memproklamirkan kemenangan, kalau udah upload tukar cincin di facebook baru deh"
Pria berbadan bongsor itu hanya berkata
"Pokoknya elu siapin aja bonus buat gue, oke"
__ADS_1
Ingin rasanya Vanya memukul pria itu dan memutuskan hubungan saat itu juga. Kalau bukan karena Sonya, dia bakal ngelabrak pria itu, sekarang juga.
"Yang sabar ya Van, cowok emang matrealistis katak gitu"
Gadis itu langsung mengetuk ngetuk meja kaca dengan sendok.
"Gue mesti gimana Son, setiap cowok yang gue deketi selalu menghindar, rata rata mereka merasa nggak selevel, cuman ada beberapa yang berani, tapi mereka bajingan semua"
Gadis gendut yang memakai seragam putih abu abu itu hanya menyuapkan sesendok mie.
"Gini aja, gimana kalo lu pura pura pacaran ama seseorang, biar lu aman, kan selama ini mereka ngegangguin lu karena mereka pikir, lu ngejomblo,"
Bener juga, tapi siapa yang bersedia.
Pemikiran membuat dara manis berusia tujuh belas tahun itu menscrol up watts app. Matanya membulat saat membaca wallpaper watts app bertuliskan penawaran batu permata.
"Terima kasih ya om" Itulah kata yang gadis remaja itu berikan pada lelaki berjaket hitam yang kini duduk di sebuah restaurant bersama dirinya.
"Jadi enggak nih beli anting antingnya"
"Jadi, nih uangnya" kata remaja putri itu sambil menyerahkan selembar amplop cokelat.
"Kok banyak banget"
"Itu sekalian bayaran buat lu karena mau jadi pacar sewaan gue"
"Gue, ikhlas kok ngelakuin hal itu"
"Makasih, tapi gue tetep profesional kok"
Asap rokok mengepul dimulut lelaki itu
"Apa yang kamu mau, anak muda biasanya kalau memberikan bantuan ada maunya"
Gadis itu menundukkan kepala, diluar hujan rintik rintik. Segerimis hati Vanya yang tengah menangisi keadaan keluarganya.
Gadis itu berhenti bicara, mata airnya berlinang. Setelah menghisap segelas teh kotak hingga tandas barulah dia melanjutkan bicaranya
"Tapi itu semua berubah saat ayah menerima tawaran MLM XYZ dengan produk utamanya berupa kopi premium seharga ratusan ribu, dalam waktu tiga tahun saja beliau berhasil merekrut ratusan reseller, tapi mengapa saya merasa ayah menjadi tak lagi perhatian lagi dengan saya om"
"Biasanya beliau selalu menyapa saya, bertanya, Vanya apa ada masalah saat di sekolah, ada cowok yang naksir sama kamu, tapi sekarang tidak lagi, yang ada setiap kali ayah datang, beliau langsung pergi tidur"
Keharuan itu tetiba datang,membuat Samudera mengelus elus rambut gadis bermata sipit itu. Apa tuhan sengaja menjadikan dia orang tua pengganti bagi gadis itu.
Entahlah, yang pasti, Samudera makin dekat dengan Vanya, tak terhitung sudah berapa kali gadis remaja itu datang ke rumahnya walau sekedar membawa makanan.
Seperti sore ini, gadis itu membawa sup jamur yang diwadahi dalam rantang, benda itu dia letakkan keatas meja makan.
"Bisnis Om Ahmad banyak, salah satunya adalah MLM ABC, MLM itu punya logo elang botak seperti TNI AU USA, banyak orang yang bergabung dengannya salah satunya pak Jamal"
Lelaki yang tengah menyeruput kopi itu tiba tiba terbelalak.
"Pak Jamal, anggota DPRD Hexagon City itu"
"Yap bener"
"Dia datang bersama istrinya, di salah satu acara MLM ABC, kalau gak salah acara NDO, disana dia cerita betapa dahsyatnya Support system MLM ABC, selain mampu menambah pundi pundi rupiah, tapi juga mampu memperbaiki keharmonisan keluarga"
Lelaki itu memegang bahu gadis bersweater putih itu dengan kedua tangannya.
"Kamu tahu nomor handphone pak Jamal"
"Aku sih gak punya, tapi tanteku punya, soalnya saat itukan aku cuman diprospek, aku mintain ya"
"Ya" kata lelaki itu sambil menghisap cerutu. Sudah ada titik terang nih.
"Ini" kata Vanya sambil mengacungkan smartphone. Dengan sigap lelaki itu mencatat nomor yang tertera di sana.
"Pulanglah"
__ADS_1
Anak itu heran, ada apa gerangan kok tiba tiba Samudera menjadi marah. Matanya tak berkedip memandang lelaki berkaos candi borobudur.
"Om mau gabung jadi anggota ya"
"Kubilang pulang, kamu tuli ya" kata Samudera dengan intonasi berat.
Gadis itu terdiam, matanya berkaca kaca, tak lama kemudian dia berlari meninggalkan Samudera dengan berkaca kaca. Maaf gadis kecilku,aku tak ingin kau terlibat.
Keesokan harinya...
"Selamat pagi pak Jamal, saya Samudera wartawan Malang post"
Lelaki berambut putih yang sedang menulis itu menoleh. Seorang lelaki memakai jaket hitam dengan tanda pengenal wartawan Malang post mengulurkan tangan.
"Ada yang bisa saya bantu"
"Saya ingin mewawancarai bapak selaku distributor sukses PT XYZ,"
Lelaki tua itu terlihat senang, dengan semangatnya menggebu nggebu saat menjelaskan Busines Plan Networking PT XYZ, meski bagi Samudera itu amatlah membosankan.
"Oh ya pak, katanya selain mendapat penghasilan, support system networking PT XYZ, juga dapat menambah keharmonisan keluarga ya"
Lelaki itu mendongak, seuntai senyuman masih tetap tersungging di pipi
"Benar sekali pak"
"Bagaimana itu ceritanya pak"
"Dulu sebelum saya mengenal MLM XYZ, saya sering sekali cekcok gara gara istri saya itu pecinta drakor, sedangkan saya menginginkan istri saya menjadi wanita muslimah yang anggun, lemah lembut , dam taat pada suami'
"Lalu"
" Hingga akhirnya seorang kerabat saya memberitahukan potensi bisnis MLM XYZ yang luar biasa, mulanya saya juga skeptis, hingga dia memaksa keluarga kami menginap di hotel Sherliton, disana pemateri tidak hanya memberikan informasi mengenai potensi bisnis MLM XYZ yang luar biasa, tapi juga konsep keluarga islami yang sangat indah, saat seminar itu mas, pemateri mematikan lampu, dan slide power point menyajikan gambaran tentang siksa neraka dan surga. Sungguh mas, kalau melihat materi itu lagi, saya jadi merinding, di slide itu digambarkan beribu ribu manusia akan berkumpul di gurun pasir, panas membakar bumi, ribuan manusia meneteskan keringat, dislide lain digambarkan bagaimana manusia disiksa di neraka. Tangan mereka diikat disebatang besi, timah panas ditumpahkan ke atas kepala mereka. Jeritan minta tolong mereka bergema diseluruh ruangan. Setelah seminar itu usai, saya dan istri saya berjanji untuk menjadi muslim yang lebih taat lagi"
In**i mah cuci otak, sepertinya gua harus menyelidiki MLM ini.
Senyum lelaki itu lenyap saat berjalan ke Mobil SUV berwarna hitam. Seorang gadis remaja berpakaian putih abu abu mengetuk spion kaca mobilnya
"Ada apa Vanya"
"Om saya tahu alasan om tak mau menemui saya lagi, om sedang menyelidiki MLM XYZ kan"
"Darimana kamu tahu" kata Samudera sambi mendongak ke samping
"Lihat ini" gadis itu memberikan layar ponsel pintarnya, di halaman pencarian internet terpampang ribuan situs yang rata rata menghujat PT XYZ, bahkan diantaranya ada yang terang terangan berkata PT XYZ telah melakukan cuci otak pada masyarakat!!!
"Iya, itu pula yang om lagi selidiki, dan om nggak mau Vanya kenapa kenapa"
"Om, om tahu enggak, Vanya ngerasa cuma om satu satunya orang yang peduli pada Vanya. Papa, Mama, bahkan temen temen Vanya di sekolah pada sibuk dengan dunia mereka sendiri"
Dia memandang kening Vanya seraya berkata
"Kamu tahu ada banyak orang yang sayang sama kamu, papa contohnya, dia rela bekerja keras membanting tulang hanya untuk membiayai biaya sekolahmu apa itu bukan cinta namanya?"
Mata gadis itu berkaca kaca, tanpa sepatah katapun dia meninggalkan pak Samudera
Ah tetiba saja lelaki itu merasa bahwa kehampaan adalah teman yang dia butuhkan saat ini.
Teng... teng ... teng... jam sudah menunjukkan pukul dua belas malam, saat itulah matanya menatap seorang perempuan yang sedang diikat di sebuah kamar.
Berapa banyak lagi orang yang akan ia sakiti hatinya....
"Sayang kalau lelah maka istirahatlah"
Pria itu memeluk wanita itu kuat kuat, suara deru nafasnya terdengar saling menderu,seolah ingin meluapkan emosinya.
Pagipun datang menjelang. Ia bangun dari tempat tidur, sarapan, dan berangkat kerja
Ia sudah memiliki rencana untuk menuntaskan masalah ini
__ADS_1