
Acara itu sangatlah biasa menurutku, tapi aku tak pernah menyadari dari sana aku mendapat teror yang tak pernah kulupa.
****
"Mana salam hangatnya" kata pembawa acara, ia seorang lelaki berusia empat puluh tahun memakai jas berwarna kuning berdiri di atas panggung.
"Selamaat pagiii" seru semua pengunjung sambil berdiri.
" Dimalam hari ini akan diadakan acara Road to Success. Dalam acara ini akan dikulik resep menuju kesuksesan langsung dari orang orang yang telah mendapat predikat diamond director pada MLM XYZ ini. Daripada berlama lama kita sambut inilah dia pak Julian dan ibu Siwi"
Lampu panggung langsung menyorot seorang pria berusia empat puluh tahun memakai jas abu abu tengah berjalan menuju atas panggung bersama dengan seorang wanita memakai maxi dress ( gaun berlengan panjang) berwarna hitam.
"Alhamdulilah segala puji hanya bagi Allah , penguasa alam semesta, pada malam ini ijinkanlah saya, Julian Purnomo menceritakan kisah sukses yang saya alami bersama perusahaan multi level marketing XYZ"
"Pada mulanya saya hanyalah seorang petani di desa. Hingga suatu hari saya bertemu dengan kawan lama saya sebut saja Ridwan.
"Pertama kali bertemu saya langsung merasa heran. Bagaimana tidak, Ridwan yang pas esde umbelen dan plonga plongo sekarang kok sudah jadi orang sukses, bisa membeli mobil, dan punya sawah berhektar hektar"
"Pas ditanya, ia tidak menjawab, hanya memberikan kartu nama perusahaan XYZ, saat tiba disana alangkah kecewanya saya, saya diprospek habis habisan, dalam hati saya berjanji tak akan menginjakkan kaki ke gedung itu lagi"
"Malang tak dapat ditolak, mujur tak dapat diraih, sepulangnya dari sana, istri saya melahirkan dan harus operasi caesar. Disaat bingung memikirkan biaya, Ridwan datang melunasi semuanya.
"Istri saya yang melihat hal itu berbisik, udah bang ikut saja, itung itung kita balas budi"
"Akhirnya saya nekat, apa yang Ridwan katakan saya turuti, puji tuhan setelah mengikuti segala perkataan pak Ridwan saya berhasil berdiri disini sebagai diamond director"
Tepuk tangan bergemuruh diseluruh ruangan itu.
Dengan microphone yang ada ditangan pembawa acara bertanya pada pria itu.
"Mas menurut mas, istri yang shalihah itu penting tidak untuk menunjang karir mas"
Mata pria itu berkaca kaca "Penting mas,penting sekali, tanpa support istri yang shalihah saya tidak mungkin bisa seperti ini'
"Pak beritahukan pada saya, istri yang sholihah itu seperti apa sih"
"Istri yang sholihah itu adalah istri yang memberi support pada usaha suami tanpa kehilangan hubungan dengan tuhan robbul izzati"
Pembawa acara laki laki itu mendekati narasumber itu.
"Pak, sulit apa tidak mendapat istri seperti itu"
Dia menengadahkan kepala ke atas
"Istri seperti itu bukan dicari pak tapi dibentuk"
Pria itu menempelkan telinganya
"Apa pak, dibentuk, emang dijaman yang serba bebas seperti sekarang ini, membentuk istri yang sholihah masih mungkin ya pak?"
"Mungkin, kan di perusahaan XYZ ada support system bernama Jutawan yang akan membina distributor XYZ menuju kesuksesan. Anda cukup ikuti support systemnya, praktek, lalu rasakan hasilnya"
Kening pembawa acara itu berkerut
"Mas, kalau di perusahaan ini ada support system yang menjamin kesuksesan kenapa masih ada orang orang yang gagal menjalankan bisnis ini"
Pria berkemeja merah itu tersenyum seraya berkata
"Mau tahu alasannya, tonton video berikut ini"
Layar kemudian menampilkan seorang perempuan dengan mahkota diatas kepala, ia berdiri di atas panggung sambil melambaikan tangan,disampingnya ada sebuah mobil berwarna merah.
"Selamat pagi semuanya, perkenalkan nama saya Desi, sebelum menjadi diamond director saya dahulunya adalah seorang wanita karir dengan tiga orang anak. Permasalahan muncul manakala suami saya mas Ibra menyuruh untuk resign dari perusahaan dan menjadi ibu rumah tangga. Saat itu barulah ketahuan selama ini anak saya yang masih SMU sekolahnya asal asalan, semua buku paket selalu ia tinggal di kelas, ditambah lagi dengan saya yang tidak bisa memasak plus mertua yang hadir dikehidupan keluarga kami telah sukses membuat keluarga saya berada di neraka.
Perempuan itu berkaca kaca air matanya , sejurus kemudian barulah ia berkata.
__ADS_1
"Beruntung disaat saat seperti itu, salah seorang teman lama menawarkan bisnis MLM XYZ, perusahaan ini sungguh hebat, ia tak hanya memberikan pendapatan yang melimpah namun juga membentuk kepribadian saya. "
Ada ribuan kata kata simpati yang meluncur dibibir wanita itu, tapi aku tak peduli. Sudah menjadi tabiatku untuk tak begitu percaya apa kata orang.
Acara dilanjutkan dengan menginap di sebuah hotel, disaat itulah aku, nyonya Blomington menemukan secarik kertas bertuliskan
Apa kau pernah merasakan sakratul maut.
Kuhembuskan nafas panjang.
Siapa sih orang usil yang membuat catatan seperti ini.
Tak mau meladeni orang iseng aku melanjutkan makan malam dan beristirahat.
Kamar hotel yang kutempati hanyalah sebuah kamar sederhana dengan bantal dan guling serta lampu yang didesain antik.
Lampu itu memiliki kap berbentuk kubus dengan renda renda aksara jawa disekelilingnya, saat aku menyalakan benda itu, semburat sinar kuning langsung keluar. Amat pas dengan kasur dan guling yang juga berwarna senada.
Rasa kantuk langsung mendera,sebentar saja aku langsung terbuai ke alam mimpi.
Suara cericit tikus masih aku dengar saat aku terlelap,pun demikian dengan suara berisik televisi yang ada di lobi hotel. Hingga....
"Apa kau pernah merasakan sakratul maut"
Kata itu mendesau ditelingaku, Aku ingin terjaga tapi egoku bilang
Bagaimana bila itu hanya halusinasi.
"Apa kau pernah merasakan sakratul maut"
Sudah cukup, aku harus mengakhiri ini semua.
Aku ingin terjaga, tapi kenapa mata ini tidak bisa terbuka, bukan hanya itu detak nafaskupun terasa beraat sekali. Sementara diluar kudengar ada orang yang sedang mencangkul
Apa itu... tanah.....apa aku akan mati...
Kucoba untuk membuka mata tapi tak bisa, tak hanya itu nafaskupun terasa berat.
Pluk... pluk...pluk...
lagi lagi butiran tanah menghunjami kepala, telingaku mendengar suara suara ....
Yasin
Walkur anil hakim
Innaka laminal mursalin
"Blomington, kenapa kau begitu cepat meninggalkan aku, kenapa...
I... itu suara suamiku... mas, aku masih hidup... mas Sunandar... mas Sunandar...
Kulafalkan ayat ayat kursi, air mata membasahi pipi
Apa aku benar benar sudah mati.
Sedikit demi sedikit nafasku kembali teratur, sesak nafas yang kembali menghimpit terasa hilang.
Saat kubuka mata, kondisi kamar masih seperti semula. Selimut masih berserakan dimana mana.
Apa aku hanya bermimpi.
Usai sarapan acara dilanjutkan dengan bedah buku.
"Selamat pagi para hadirin yang dimuliakan Allah, daripada nembuang banyak waktu langsung saja kita sambut pemateri kita, inilah dia Ibu Tri Handayani"
__ADS_1
Seorang wanita tua memakai jilbab kuning dengan baju batik berdiri di atas panggung,disampingnya sudah ada seorang lelaki memakai kaos putih. Mereka berdua duduk disamping sebuah meja kecil.
"Assalamualaikum mbk Tri"
"Waalaikum Salam mas Tirta" kata beliau sambil tersenyum.
"Beliau ini adalah seorang dosen Bahasa Indonesia sekaligus penulis buku. Tujuh novelnya sudah terbit dan menjadi best seller. Salah satu novelnya yang berjudul Baiti Jannati diangkat ke layar lebar dan menduduki box office seminggu berturut turut.
Sontak semua orang di ruangan itu bertepuk tangan.
"Mbak Tri, apa kesibukan anda setelah novel anda diangkat ke layar lebar"
"Sekarang saya sedang menyiapkan novel saya yang kedua berjudul, terima kasih suamiku"
"Kenapa kok novel itu berjudul terima kasih suamiku"
Mata perempuan itu berkaca kaca
"Saya merasa berdosa sekali mas, dahulu sebelum saya menjadi ibu rumah tangga saya adalah kepala direktur di suatu perusahaan ternama. Membentak suami,cekcok perkara uang, hingga tidak memperdulikannya sudah jamak saya lakukan. Hingga suatu hari tuhan menyadarkan saya, mobil yang saya tumpangi mengalami kecelakaan hingga akhirnya saya mengalami lumpuh separuh badan. Selama itulah suami saya menyuapi saya, memandikan saya, hingga..."
Narasumber itu menghentikan perkataannya. Ia meneteskan mata
"Satu tahun kemudian beliau kembali kehadirat ilahi, sebelum saya sempat mengucapkan terima kasih"
Berdentum dentum jiwaku mendengar cerita itu, aku teringat jasa jasa Mas Sunandar
Mas Sunandar yang memberinya semangat, mas Sunandar yang selalu memberi segelas kopi pahit di saat pagi hari hingga membuatnya fresh. Mas Sunandar yang....
Ah rasanya jasa jasa mas Sunandar sangat teramat besar, apa aku masih punya kesempatan untuk berbakti...
Acara dilanjutkan dengan kegiatan outdoor.
"Selamat pagi semua, perkenalkan semuanya nama saya pak Arif, pekerjaan saya sebagai instruktur outbound, langsung saja bentuk lima grup serta kalian harus duduk melingkar"Kata seorang pria memakai topi putih.
Para peserta pun langsung membentuk lima team. Aku berada di team nomor tiga dengan dua orang perempuan memakai celana training biru dan seorang laki laki memakai kaos kuning. Kami duduk dipelataran tanah lapang. Didepan kami sudah ada plastik berbentuk bundar dengan bola berwarna kuning terapung di tengahnya.
"Tugas kalian adalah meniup bola yang ada di plastik bundar itu dengan tengkurap, berhati hatilah jangan sampai bola itu terjatuh. Kalau jatuh maka harus mengulang dari awal"
Begitu serunya peristiwa itu, banyak dari peserta yang tersenyum lebar saat melakukan aktivitas itu. Bagaimana tidak, ada seorang bapak bapak yang beringsut dari satu sisi ke sisi lain sambil meniup bola. Saat benda kecil berwarna kuning itu terjatuh dia harus mengulang lagi dari awal. Pun demikian dengan peserta, syukur alhamdulilah kelompok saya tak kurang suatu apapun"
Tantangan kedua dimulai, satu persatu peserta diberi headset, kami harus mencari orang yang kami sayangi disebuah ruangan gelap gulita.
Hatiku berdegup kencang. Apa aku akan menemukan mas Sunandar, apa dia masih mencintaiku"
" Ibu Blomington"
Hatiku berdegup kencang saat menerima headset berwarna hitam, Ruangan itu gelap gulita, berkali kali pula aku terjatuh karena menyenggol seseorang.
Berjalan lurus lima langkah, belok kanan tiga langkah. itu adalah petunjuk yang ia berikan via alat elektronik itu.
Lalu seterusnya apa.
Sebuah tepukan halus hinggap dibahuku, diiringi dengan sebuah suara yang mendesah lirih
"Apa kau bersedia menjadi istri shalihah"
Itu... itu suara mas Sunandar, tak salah lagi itu suara beliau. Aku kenal betul intonasi ini.
"Ya mas aku bersedia"
Tangan yang kekar dan kokoh itu menarik lenganku dari kerumunan itu, membukakan pintu tersembunyi yang terletak entah dimana.
Di ruangan itu sudah duduk seorang perempuan memakai pakaian ala gusti kanjeng ratu Hemas. Baju batik berwarna cokelat lengkap dengan sanggul, disamping beliau sudah ada dua orang lelaki memakai beskap dan blangkon hitam dipadupadankan sarung berwarna senada.
"Selamat datang di acara reality show ratu sehari, perkenalkan nama saya Nyonya Belinda. Di acara reality show ini setiap kontestan akan tinggal di kediaman raja. Disana anda dituntut untuk melakukan tugas laiknya putri raja lengkap dengan segala protokol kerajaan. Bagi yang sanggup beradaptasi akan mendapat hadiah sebesar seratus juta rupiah"
__ADS_1