Crazy Woman

Crazy Woman
Menyingkap Kabut Part 2


__ADS_3

Teng... teng...


Denting jarum jam menunjukkan pukul dua dinihari, aku masih berbaring lemah di kamar tidur. Masih terbayang jelas peristiwa itu,


Apa Islam sekaku itu ya Allah, tapi jikalau memang seperti itu, hamba rela, asalkan suami hamba bahagia.


Dok... dok...


saat pintu kamar terbuka kulihat seorang koki dengan topi putih kebesarannya berdiri di depan pintu kamar


"Silahkan dimakan bu sop ayamnya"


Ups gara gara memikirkan masalah itu sampai sampai aku lupa makan malam"


Sop ayam itu diletakkan dalam sebuah mangkok putih, disampingnya ada rantang hitam berisi nasi dan lauk pauk. Kedua benda itu diletakkan di atas meja dorong.


Saat makan mataku terpicing. Ada selembar kertas di bawah mangkok.


Apa itu


Kuambil kertas itu dan kubaca


"Temui aku di pelataran pendapa"


Terdorong oleh rasa penasaran, aku beranjak ke tempat itu.


Rembulan malam menyorotkan sinarnya pada seorang pria yang memakai beskap dan blangkon berwarna kuning keemasan.


"Selamat malam nyonya Blomington"


Alis mata hitam serta merta mengingatkanku padanya


"Samu..."


Belum sempat aku meneruskan kata kata, ia telah mengarahkan telunjuk jari manisnya ke bibirku


"Kalau anda ingin selamat, lebih baik diam"


"Apa maksudmu"


Kuperhatikan pemuda itu amatlah ketakutan. Matanya memandang ke atas lampu neon,sedetik kemudian pandangan mata itu beralih pada tiang pendapa.


Apa yang kau takutkan


Pemuda itu berjalan meninggalkan diriku seorang diri, menyisakan beribu pertanyaan dihati.


Ada apa ini


Tak ada jawaban, yang ada hanya desau angin yang memberitahu kepergiannya.


Sudah cukup, aku sudah muak dengan tingkah polah kalian yang selalu menjajah kepribadianku.


Segera saja kukemasi koper, langkahku terhenti saat menyaksikan rembulan yang bersinar di atas jendela.


Tapi aku tak bisa ... Aku tak bisa membiarkan mas Sunandar berjuang sendirian disaat bisnisnya oleng, salahkah aku apabila aku mementingkan diriku sendiri, egoiskah apabila sekaliii saja aku memanjakan diriku sendiri"


Tanpa. terasa air matanya menetes, disaat seperti itulah aku merasa ada yang memperhatikan.


"Samudera"


"Menjadi diri sendiri itu memang suatu keharusan, tentu capek apabila terus terusan menjadi orang lain"


"Tapi mereka tidak suka, bahkan mertuaku mencap sebagai istri yang durhaka hanya karena berlatih beladiri"


"Kenapa kau tak mencoba menguji cinta mereka saja"


Apa lelaki ini gila, apa dia mau meletus perang bratayudha di tengah tengah keluargaku


"Apa anda yakin suami anda tak berselingkuh di luar sana. Test ini digunakan untuk melihat seberapa jauh cinta suami anda. Anda tak mau selamanya hidup dalam kebohongan bukan"


Entah setan mana yang merasukiku saat langsung saja kuminum botol yang disodorkan lelaki itu, lalu semuanya menjadi gelap.


****


"Blomington... Blomington... sadarlah Blomington"

__ADS_1


Suara.. suara itu membuatku terjaga, pria memakai kerah putih dan bertubuh gemuk sudah berdiri tepat dihadapanku.


"Dokter tadi berkata bahwa kau kekurangan gula darah hingga pingsan,apa yang kau minum"


Butiran air mata mengerling di pelupuk mata.


Ternyata kau masih mencintaiku mas


"Kok malah nangis"


"Tidak, aku tidak nangis kok mas cuman kelilipan"


Mas Sunandar duduk disampingku.


"Apa yang kau minum sampai seperti ini"


"A.... aku..."


Aku gelagapan menjawab pertanyaannya, haruskah kuceritakan semuanya.


Belum sempat aku menjawab, tetiba saja Samudera masuk ke ruanganku seraya berkata


"Maaf pak, ini semua salah saya, ibu Blomington salah minum jamu , jamunya tertukar dengan salah satu punya rekan saya, sekali lagi saya minta maaf" kata lelaki itu sambil menundukkan kepala.


Plak ... plak suamiku memukul Samudera keras sekali.


"Sudah puas kamu, kemarin kamu mencekoki istri saya agar jadi durhaka, sekarang kamu telah meracuninya"


Lelaki itu diam saja, puas menumpahkan amarah pak Sunandar beranjak pergi.


"Apa yang kamu berikan padaku Samudera"


"Itu adalah obat untuk menurunkan kadar gula darah secara cepat"


Jantungku terasa mau copot mendengar penuturan pria ini. Apa dia mau membunuhku. Cepat cepat aku bangkit dari tempat tidurku.


"Kau mau membunuhku Samudera"


"Tentu saja tidak"


"Lalu kenapa kau memberikan obat seperti itu"


"Baiklah, saya akan ceritakan semua. Semua bermula pada saat ibu mengajak saya ke restaurant untuk berlibur ke negeri Belanda, pada saat itulah saya tanpa sengaja bertemu dengan mantan pacar saya dulu, Nana. Saat itu keadaannya amatlah memprihatinkan, memakai pakaian lusuh, kotor, bau, pula, keadaannya itu sama persis seperti orang gila yang tinggal di trotoar jalan.


Sebenarnya apa sih mau orang ini...


"Jangan berkata bertele tele langsung saja ke intinya"


Pria berkaos hitam yang kini ada dihadapanku mendadak terdiam,dan ini membuatku jengkel dan berkata keras dan lantang


"Lalu apa, kau menuduh suamiku sebagai penyebab mantan kekasihmu menjadi gila bukan, kamu tahu gara gara kamu biduk rumah tanggaku hampir karam"


"Bu, maksud saya"


Kata kata itu malah semakin membuat amarahku menjadi jadi, dengan nada bicara keras aku berkata


"Cukup, kau tak dengar apa kataku, apa telingamu tuli"


Lelaki itu pergi meninggalkan kesunyian yang datang menyergap tiba tiba. Tapi itu lebih baik bagiku, karena yang kuinginkan saat ini hanyalah kedamaian.


Pagi hari menjelang, seorang perawat datang menggantikan selang infus.


"Pagi bu Blomington, sudah merasa lebih enakan bu"


Aku hanya tersenyum menanggapi obrolan itu, tak berapa lama datanglah perawat lain dengan membawa seikat bunga


Ibu Blomington, ini ada seikat bunga dari pak Samudera, mau ditaruh dimana bu"


Aku tak menjawab, berapa kali harus kubilang aku tak mau berurusan dengan orang itu.


Pagipun beranjak pergi, tatkala siang datang menjelang datanglah seorang pria berkaos hitam yang datang dengan membawa jus jambu


"Coba minum jus jambu ini, jus ini baik untuk menambah gula darah"


Aku diam saja, itu membuat pria itu kebingungan, lihatlah lagaknya yang sedang mengusap usap dagu itu.

__ADS_1


"Tolong dengarkan saya sekali saja, mantan kekasih saya Nina Bayern menderita penyakit kejiwaan, Skizofrenia paranoid, orang yang menderita penyakit ini tidak bisa membedakan antara mana realita maupun ilusi. Setelah saya selidiki, sepeninggal putus hubungan dengan saya, wanita itu menikah dengan Satria, entah jarena dianggap bukan istri sholihah dia mengikuti pondok pesantren kilat Riyadul Jannah yang dipimpin oleh pak Ahmad. Selama mengikuti pondok pesantren itu Nina kerapkali mengalami teror, sampai sampai hembusan angin yang ada dibelakang jendela dianggap sebagai roh dari Satria. Ibu Blomington, bolehkah saya bertanya apakah ibu mendapatkan teror saat mengikuti seminar MLM XYZ"


Entah kenapa bibirku langsung berkata


"Ya"


"Bisa tolong ceritakan teror seperti apa yang ibu dapatkan"


Aku menatap pemandangan di luar lewat jendela, rangkaian bunga anggrek putih berkelindan rapi membentuk satu simfoni dengan pot berwarna putih serta lantai rumah sakit yang berwarna abu abu. Kontras, tapi serasi.


"Saat itu saya sedang menghadiri semacam acara seminar, seminar itu menghadirkan seorang lelaki yang bercerita tentang pentingnya peran istri untuk meraih kesuksesan. Acarapun dilanjutkan degan makan malam dan tidur di hotel,saat itulah saya mendapat secarik kertas bertuliskan apa kau ingin merasakan sakratul maut, mulanya hal itu saya anggap sebagai ulah orang iseng, tapi ternyata malam itu saya seperti benar benar merasakan sakratul maut. Dada saya sesak, diluar saya mendengar seseorang sedang menggali tanah, seolah olah itu buat menguburkan jasad saya"


"Lalu"


"Keesokan paginya ada bedah buku, yang berjudul..."


Aku mengingat ingat judulnya, tapi tak ingat"


"Kalau tak salah judulnya terima kasih suamiku, benar"


"Ya, ya, ya, itu dia"


"Kemudian ibu mengikuti outbound dan ujung ujungnya ikut reality show ini, benar kan tebakan saya"


"Ya"


"Satu lagi bu, saat ibu Blomington menginap di hotel itu apa disana ada televisi di lobi hotel"


"Benar,bagaimana kau bisa tahu"tanyaku sambil mendelik.


"Jawab dulu pertanyaan saya, lalu anda mendengar suara suara, apa kau ingin merasakan sakratul maut begitu kan"


"Iya benar"


"Berarti teror yang ibu dapatkan bukan karena adanya hantu, tapi hand made oleh seseorang"


"Caranya"


"Hack televisi dan seluruh alat elektronik di area itu saat peserta tidur, ciptakan suasana horor seperti turun kabut dengan peralatan syuting sederhana semacam waterphone"Jelas Samudera sambil menunjukkan sebuah gambar alat musik berbentuk layaknya angklung. Saat benda itu digesek muncul suara mendengung.


"Satu lagi bu, saudara anda pak Ahmad apa punya pengalaman trauma dimasa kecil"


Aku menghela nafas panjang


"Tak tahu, yang kutahu meski pak Sunandar memiliki seorang saudara bernama Ahmad, dia tak pernah diajak berbisnis mlm seperti ini, kami tak pernah memiliki hubungan akrab meski bersaudara"


Percakapan itu terhenti dengan masuknya seorang pria lain yang memakai jaket hitam.


" Samudera, kurasa aku punya berita penting untukmu"


Dia membentangkan koran edisi lama, ada gambar seorang lelaki yang diapit oleh seorang polisi, adapun headline koran itu berjudul


"Penulis Terkenal Achmad Gordon, Membunuh Seorang Remaja"


Aku memperhatikan wajah Samudera, dia amat serius memperhatikan artikel koran itu.


"Andai saja kau menjadi kekasihku"


Dia melipat surat kabar lama itu.


"Sekarang sudah jelas Ahmad Gordon pernah mendekam di penjara karena mendapat pengalaman traumatik berupa kehilangan anak dan istrinya saat pindah rumah, lima tahun kemudian ia mendekam di penjara karena menganiaya seorang santri, setelah dipenjara ia bertolak ke Amerika Serikat untuk memperdalam ilmu militer dan mendirikan perusahaan MLM XYZ"


"Perusahaan MLM itu yang dia gunakan untuk mencuci otak para muslimah agar memiliki perilaku sama persis seperti almarhumah istrinya yang telah meninggal" imbuh temannya Samudera"


"Sudah pasti, kebanyakan psikopat amat terobsesi dengan orang yang mereka kasihi"


Aku langsung mendesah mendengar kesimpulan itu


"Jadi selama ini aku menjadi obsesi seorang psikopat, itu yang kau ingin katakan"


Samudera menatap wajahku lekat lekat.


"Tenang, sebentar lagi drama penyiksaan ini akan berakhir"


"Caranya"

__ADS_1


Dia membisikkan sesuatu


"


__ADS_2