
Sang pemeran pria berkata dengan nada tinggi.
"Berapa, berapa uang yang harus kuberikan padamu Esmeralda, apa perlu kujual ginjalku agar kau puas berbelanja"
Pemeran wanita bergaun cokelat itu tidak mau mengalah dengan ketus ia berkata,
"Ini semua tidak akan terjadi kalau gajimu tidak hanya lima juta Lusiano"
Pemeran lelaki itu berjalan menuju ruang tengah, tak lama kemudian dia melemparkan tumpukan struk belanjaan, dengan mata melotot dia berkata
"Lima juta rupiah, uang berapapun tak akan pernah cukup, kalau kebiasaan buruknu berbelanja, tetap kau teruskan"
"Ayah-ibu berhenti, sampai kapan kalian akan bertengkar seperti itu"
Di depan pintu sudah ada seorang anak perempuan berparas laiknya Dulce Maria memakai pakaian seragam TK berwarna biru.
Lelaki itu langsung memeluk anak perempuan itu,sementara perempuan bernama Esmeralda langsung menyingkir dan pergi dengan memakai taksi.
"Haaai" seorang aktris wanita memakai wig biru melambaikan tangan. Esmeralda segera menghampirinya, mereka berdua saling berpelukan dan meluncur ke lantai atas.
"Ada apa kok wajahmu keruh begitu"
"Biasalah Ver, masalah keluarga" ujar pemeran perempuan yang duduk disamping outlet itu, suasana plaza sangat ramai banyak muda mudi lalu lalang,maklum akhir pekan.
"Apa uang belanja Lusiano kurang"
Raut wajah Esmeralda berubah sendu. Kedua alisnya mendekut. Tapi tak berselang lama dia tersenyum.
"Cukup, hanya saja sepertinya aku yang kurang bisa berhemat"
"Ngomong ngomong soal berhemat, aku juga dulu seperti itu, tapi sejak kenal aplikasi ini, aku jadi bisa berhemat"
Matanya berbinar binar,
"Aplikasi apaan tuh Ver"
Tangan wanita itu menunjukkan logo burung Jalak di layar ponselnya
"Nih,setiap struk belanjaan yang diunggah ke sini akan dihargai lima puluh ribu rupiah"
Hanya kekecewaan yang diterima oleh wanita itu, bagaimana tidak, untuk mencairkan dana, paling tidak harus memiliki saldo lima ratus ribu. Sedangkan, kebanyakan struk belanjaan telah raib, hilang entah kemana.
Malampun tiba, keluarga kecil itu tengah makan malam bersama.
"Ma,aku butuh uang lima puluh ribu, untuk kegiatan prakarya"
Mata wanita itu membulat.
"Kenapa tidak dari kemarin kau meminta Maria"
Lelaki yang tengah menyuapkan daging kedalam mulut menggunakan garpu kemudian bertanya
"Memangnya kamu tidak punya uang,sekarang kan masih tanggal sebelas"
"Ada ada"
Esmeralda segera berlari ke kamar tidur, dibukanya pintu almari, dan ditarik keluar sekotak perhiasan.
"Ini"
"Makasih ma"
Usai makan pemeran Esmeralda bergegas ke kamar tidur,ditariknya kotak kecil itu dari almari. Seratus, dua ratus, satu juta lima ratus.
Sejenak mata aktris perempuan itu berkaca kaca, tetapi telinganya kemudian mendengar suara.
Srek... srek... srek...
Cepat cepat wanita itu menghapus air matanya, lalu diletakkannya kotak itu ke tempat semula.
Pemeran aktor pria bernama Lusiano membuka almari, lalu mengganti jas dengan piyama, kemudian membuka laci bufet, dan tenggelam dalam buku bacaan yang ia baca. Sementara, pemeran aktress Esmeralda terlihat berjalan mondar mandir dengan wig yang kini berwarna putih.
"Kurasa kau benar Lusiano,aku terlalu kecanduan berbelanja, lalu aku harus bagaimana"
Pria itu menghentikan bacaannya, dilihatnya perempuan itu duduk di atas kasur dengan wajahnya terlihat gelisah, dada wanita itu sesak matanya sembap memandang langit langit kamar berwarna putih.
"Kenapa kau tidak melamar kerja saja"
Wanita itu terlihat bahagia, cepat cepat dia bangkit dari kasur, lalu memeluk Lusiano yang tengah membaca
"Terima kasih sayang"
Keesokan harinya, datang seorang pria gemuk berkulit cokelat hitam memakai kaos kuning dan topi sombrero, dia langsung saja memeluk Lusiano.
"Bagaimana kabarmu Lusiano"
"Baik Bruno"
__ADS_1
"Apa karyawan baruku sudah siap untuk menjaga toko hari ini"
Wanita memakai wig berwarna biru yang tengah sarapan itu langsung berdiri.
"Aku siap kapanpun kau mau Bruno"
"Kalau begitu, tunggu apa lagi, ayo"
Mobil yang mereka tumpangi singgah di toko besar, disana wanita itu mulai bekerja, ia dengan sigap berjalan mengelilingi etalase Indomaret, ditangan kirinya sudah tergenggam bolpoin dan buku kecil.
Sebuah mobil kecil berhenti, dari dalam keluar seorang lelaki yang memanggul seranjang besar pampers. Benda itu lalu dilempar ke udara dan ditangkap oleh seorang pegawai lelaki lainnya, dan dimasukkan kedalam rak yang masih kosong.
Kring, bel istirahat berbunyi, pria gemuk berkulit hitam itu menghampiri Esmeralda
"Mari semuanya kita makan siang"
Kelima orang itu beranjak pergi ke ruang makan, serta berbaris rapi mengambil makanan di meja panjang cafetaria, disamping meja panjang itu dijual aneka ragam permen.
"Bagaiman, pekerjaannya menyenangkan"
" Menyenangkan" ujar wanita itu sambil tersenyum,disamping meja makan perempuan itu sudah ada permen mentos.
"Disini pekerjaan dihitung perjam, setiap sore akan ada terima gaji"
"Terima kasih"
Sayang beribu sayang, gajinya hanyalah dua puluh lima ribu, untuk pekerjaan pencatatan seperti itu.
Kebahagiaan wanita itu mendadak lenyap. Terlebih saat dia mendapati suaminya bertopang dagu di meja makan
"Ada apa Lusiano"
"Aku dipecat dari pekerjaanku Esmeralda"
Pemeran wanita itu terkesiap,
"Bagaimana mungkin, bukankah kau mendapat gelar karyawan teladan tahun lalu"
"Pekerjaanku sebagai seorang pengantar pos telah digantikan robot"
Seketika tubuh Esmeralda merosot jatuh.
"Lalu kau tak mendapat uang pesangon"
Lelaki memakai jas abu abu itu melungsurkan segepok uang.
"Bagaimana kalau kita membuka toko kue"
Wanita memakai wig biru itu tersenyum, scene memperlihatkan pasangan Lusiano dan Esmeralda sedang berbelanja alat alat dapur disebuah swalayan.
Keesokan harinya...
Pemeran Lusiano terlihat murung, dia bolak bali memencet mixer itu hasilnya nihil.
"Esmeraldaaa"
Seorang perempuan memakai rok biru tua berjalan tergopoh gopoh ke dapur.
"Ada apa"
"Kau lihat ini, kok tidak bisa digunakan"
Perempuan itu mencolokkan mixer ke colokan lalu memijat tombol on beberapa kali. Alat elektronik itu tidak berfungsi.
"Coba kau cari surat garansi, baru kemarin dibeli kok sudah rusak"
Esmeralda kembali dengan membawa kotak kecil berwarna cokelat.
"Ada tidak"
Dengan wajah sendu, ia menjawab
"Tidak ada"
Lusiano menggeram, kedua alisnya bertekuk
"Berapa kali kubilang kalau membeli barang elektronik itu yang ada surat garansinya"
Perempuan itu hanya berkaca kaca, dia menelungkupkan wajahnya ke atas meja
"Memang aku ini perempuan yang bodoh sekali mas,kuakui mas aku belum bisa mengelola uang belanja, mungkin sebaiknya kita berpisah dulu"
Lusiano mengelus pundak wanita itu.
"Bagaimana kalau kita pergi memancing bersama,sudah lama kita tidak pergi keluar"
Scene memperlihatkan kedua pasangan itu melakukan touring dengan montor.
__ADS_1
Jalanan beraspal beserta tanjakannnya mereka lalui bersama, montor itu menepi di sebuah warung kecil. Tengah hari kemudian sampailah mereka disebuah bangunan berbentuk laiknya rumah gadang, lengkap dengan atapnya yang berbentuk limas persegi empat.
Seorang wanita tua dengan kebaya berwarna putih menyambut kedatangan mereka berdua.
"Hai Lus, tumben kau pulang"
"Yes mom, aku ingin memberikan training management keuangan pada Esmeralda" kata Lusiano sambil mengedipkan mata.
scene berikutnya menunjukkan acara ramah tamah, hingga tibalah acara makan malam bersama.
"Hello everybody, tujuanku kemari adalah untuk memberikan training management keuangan pada istriku tercinta"ujar Lusiano sambil menggenggam tangan wanita itu.
Lelaki berkumis tebal yang duduk di samping Lusiano tersenyum lebar, demikian pula dengan anak perempuan yang duduk berhadapan di meja bundar itu. Tak berapa lama pria memakai laiknya uskup yang kini duduk dihadapan Lusiano pun berkata
"Mengapa tak kau bawa istrimu ini ke ruang biliard"
Mereka berdua. pergi ke ruangan itu, ruangan itu luas, selain ada dua buah biliard juga ada papan dash lengkap dengan panah.
"Silahkan kau panah papan dash itu"
Lemparan panah itu dengan tepat menuju angka nomor satu yang terletak tepat di tengah tengah papan dash.
Kriiiing. Tembok yang berada di kiri papan dash terbuka, dari sana keluar sebuah kotak panjang, Lusiano mengambil secarik kertas bertuliskan angka satu.
Hit and run, itulah kata yang bisa dibaca oleh wanita itu, saat kertas itu dibentangkan Lusiano.
Lelaki itu memberikan selembar kertas
"Aturan mainnya sederhana, beli benda yang ada di kertas ini, lalu kalahkan musuh musuhmu"
Dor, sebuah tembakan meluncur ke kening Lusiano, membuat dia terkejut.
"Lusianooo" perempuan menangis dan memeluk tubuh suaminya.
Dor. sebuah tembakan membuatnya tersadar, nyawanya dalam bahaya, ekor matanya melirik kertas itu, jaket,helm, dan senapan.
Scene selanjutnya menyoroti upaya perempuan itu lolos dari game gila itu. Pertama tama dia berlari menuju sebuah minimarket, jaket ada disamping rak soyjoy bar, sejenak perempuan itu ingin membelinya, tapi kilasan kilat teropong senapan musuh membuatnya sadar,kata aman masih jauh darinya.
Dia segera menuju kantor polisi.
"Ada yang bisa saya bantu mam" kata polisi berbadan gemuk itu.
Dor dor, dua buah peluru menembus tengkorak kepala lelaki itu, diapun roboh seketika.
Wanita yang sudah nekat itu kemudian merampas pistol polisi itu, kemudian dia berteriak.
"Kalau kau memang jantan hadapi aku, satu lawan satu"
Scene kemudian memperlihatan lelaki yang dianggap wanita itu sudah meninggal ternyata masih hidup. Dia bangkit, kemudian menembakkan pistol ke arah seorang lelaki yang melepaskan tendangan ke arah Esmeralda.
"Maaf membuatmu takut, ini semua hanya permainan agar kau tahu cara mengelola uang"
Esmeralda terkesiap, tak lama kemudian wanita itu memeluk suaminya erat erat, air mata tumpah di wajahnya.
Mereka berdua masuk ke ruang makan itu, disana sudah ada polisi yang tadi disangka sudah tewas, lelaki yang menendangnya, serta seorang uskup. Lelaki tua itu kemudian mengajak bersulang.
"Mari kita bersulang untuk para pemenang"
Mereka semua mengangkat gelas berisi sampane tinggi tinggi.
"Sebagai hadiahnya, saya selaku kepala keluarga akan memberikan uang tunai sebesar lima puluh juta rupiah pada miss Esmeralda" ujar uskup itu sambil memberikan selembar amplop cokelat.
"Terima kasih ma, tapi aku hanya membutuhkan lima juta rupiah saja untuk modal usahaku"
"Apa kamu yakin atau hanya karena terbawa suasana saja"
Esmeralda tidak menjawab,dia hanya menggenggam erat Lusiano
Sepuluh tahun kemudian...
Disebuah ruangan seminar yang penuh sesak dengan audiens, berdirilah seorang wanita dengan rok berwarna merah tua dan setelan berwarna senada, sebuah kalung putih terlingkar di lehernya.
"Setiap kali ada keinginan untuk menghambur hamburkan uang, saya langsung mengingat kejadian itu, dalam hati saya berterima kasih pada Lusiano yang telah memberikan pengalaman berharga yang membuat saya hampir kehilangan nyawa, berkat kejadian itu saya bisa memanagement uang"
Serentak semua audiens bertepuk tangan.
Pip... Ahmad mematikan video itu dengan remote hitam.
"Setelah melihat film itu, apakah anda masih berpikir bahwa mendidik dengan keras adalah sebuah kesalahan"
Lelaki bernama Samudera itu hanya berdiri dan berkata
"Pak Ahmad, apapun yang bapak katakan pada saya, tidak merubah pendirian saya bahwa tata cara anda mendidik wanita dengan cara mengintimidasi psikisnya itu salah"
Pria itu kemudian menjabat tangan samudera seraya berkata.
"Kalau begitu mari kita lihat teori siapa yang lebih unggul, jadilah ustadz yang mengajar bahasa Indonesia di pondok pesantren saya, kita taruhan nilai ujian akhir nasional siapa yang paling tinggi, kalau anda menang saya akan menjawab rasa penasaran saudara, kalau saudara kalah silahkan angkat kaki dari tempat ini"
__ADS_1
"Boleh, saya terima tantangan bapak"