
Aku profesor Dahlan Sunandar suami dari Ny Blomington tak habis pikir, kenapa Samudera bisa menipu orang lain. Kalian mungkin akan beranggapan kalau aku ini pria paling munafik, tapi jujur aku katakan, aku masih menyimpan sedikit simpati pada lelaki itu. Biar begini begini aku dulu pernah merasakan hidup susah, saking susahnya aku pernah mencuri,
Hah mencuri, lelaki yang menjadi direktur perusahan bisa mencuri, kau bercanda kan, kalau kau tak percaya, baiklah akan kuceritakan ceritanya.
Pagi itu aku disuruh emak untuk membeli jamur, tapi malang tak dapat ditolak,mujur tak dapat diraih, uang itu hilang!!!
Aku tidak bisa pulang dengan tangan hampa. Jamur itu satu satunya lauk pauk kami sekeluarga. Sudah cukup, tak sudi rasanya aku hanya makan berlauk garam saja!
Mentari semakin beranjak naik ke sepenggalah timur, memberikan kesadaran bahwa waktu mulai beranjak naik, mau tak mau aku harus menuntaskan masalah ini.
Mataku menatap kerumunan orang orang yang berbelanja di pasar tradisional. Penjual jamur mangkal ditempat paling ujung. Para perempuan desa dengan rok hitam tampak mengantri di salah sudut pasar. Di sudut itu tampak jamur yang diikat menggantung, disampingnya ada penjual ikan yang menggelar ikan di atas piring lebar. Sesekali seorang hansip berjalan mondar mandir. Mengawasi barangkali ada yang curang.
Aku menyelinap diantara kerumunan ibu ibu, saat penjual itu lengah langsung kucaruk dua bungkus jamur. Tapi sial belum sempat aku berjalan jauh tiba tiba saja, penjual itu berteriak...
"Maliiing, maling"
sontak ratusan pria mengejarku, beruntung hansip itu melindungiku disaat mereka main hakim sendiri.
Dia membawaku ke kantor pak camat, disana sudah ada wanita berhijab putih, kiranya dialah penjual jamur itu.
"Kenapa kau mencuri"
"Anu bu,uang pemberian emak hilang"
"Ambillah" kata perempuan itu sambil memberikan dua bungkus jamur tiram.
"Kenapa ibu menolong saya"
"Aku ingin mengajarimu nak, semua masalah bisa diselesaikan apabila kau mau berterus terang"
Aku langsung memeluk wanita itu, darinya aku belajar cara paling elegan menyelesaikan masalah.
"Dar, gimana proyekmu lancar"
Kata kata itu laksana petir yang menyambar telingaku, untuk beberapa saat aku tergeragap.
"Oh kamu Mad , tumben kemari ada urusan apa"
"Enggak, aku cuman mau bersilaturahmi saja kok"
Kupandangi orang berbaju koko itu. Ah dia makin tambun saja.
"Kamu mikirin apa sih mad"
"Aku cuman gak habis mikir, kok ada ya orang yang tega menipu keluarga miskin macam pak Burhan"
"Ya itulah manusia Dar, manusia itu kalau sudah kejam, mereka akan menjadi homo homini lupus , serigala bagi serigala lainnya.
" Bukannya manusia sudah punya hati nurani mas"
__ADS_1
"Kamu ini Dar, dijaman matrealistis seperti sekarang mana ada manusia kayak gitu"
"Mas Ahmad, sampeyan itu muslim lho mas, mbok ya positif thinking gitu"
"Maaf ya, aku ini dah merasakan asam garam kehidupan, gak kayak kamu yang sedari kecil udah dimanja"
"Dimanja, asal kakak tahu ya, aku ini sedari remaja sudah diberi kepercayaan mengelola warung oleh abah"
"Iya deh iya, ya udah ya, aku mau keluar dulu, ada urusan bisnis yang mesti kulakukan"
Lelaki itu keluar, aku hanya menghembuskan nafas panjang. Kesunyian kembali tercipta, hanya detak jarum jam yang memberitahu, sudah waktunya makan siang.
Langkahku menuju kantin berhenti seketika. Didepan sana ada seorang lelaki berkulit sawo matang memakai topi hitam. Tidak salah lagi itu Samudera. Mau apa dia.
Rasa penasaran membuatku membuntuti pria itu. Dia masuk gang sempit,sesekali pedagang bakso berjalan menyusuri jalanan, di kanan jalan ada anak anak yang sedang bermain sepak bola.
Samudera memang ceroboh, masak dia tidak mengunci pintu ruang tamu.
Wajahnya pucat pasi saat terpergok sedang menyuapi seorang wanita.
"Itu ibumu"
"Ti... tidak... pak"
"Lalu siapa"
"Tak usah takut, mari duduk disampingku"
Kami berdua duduk di dipan disamping wanita itu. Matanya bergantian melirik kami berdua, kedua tangannya diborgol.
"Dia sebenarnya adalah kekasih saya pak, dulu saya berencana mau menikahinya, tetapi dia menikah dengan pria lain. Hingga tiga minggu lalu saya temukan dia di emperan toko,sudah seperti ini"
"Karena itu kau menjadi penipu"
Lelaki itu terpekur menatap lantai.
"Iya pak"
"Gini ya nak, kuberitahu kau satu hal, niatmu itu baik tapi caramu itu keliru, tak tahukah kau, dijaman yang serba digital seperti ini ada ratusan reseller yang bisa memberikan kekayaan hingga jutaan rupiah kenapa tak kau coba"
Dia tak menjawab.
"Sekarang usiamu berapa"
"Dua puluh sembilan pak"
"Sudah pernah mencoba jadi resseler"
"Belum pak"
__ADS_1
"Cobalah, dan ingat tuhan tidak akan pernah menerima amal ibadah yang tidak sesuai tuntunanNya, meski kau sudah niatkan ikhlas semata mata untuk Dia"
Pemuda itu beranjak pergi, dia kembali membawa sebuah koper besar.
"Bukalah pak"
Aku membuka koper hitam itu,didalamnya bertumpuk uang puluhan juta rupiah.
"Darimana kau dapatkan uang ini"
"Itu uang nasabah pak,jujur, saya masih takut akan siksa api neraka, jadi saya belum menggunakannya"
Kupeluk erat erat anak itu.
"Tak apa apa,kau masih punya kesempatan untuk bertaubat nak"
"Terima kasih pak, tapi seandainya ada seseorang yang menggunakan kecerdasannya untuk mengajarkan perempuan untuk taat pada suaminya dengan cara kasar , apa bapak akan diam saja"
"Siapa yang kau maksud"
Jantungku seolah copot mendengar suara itu. didepan sana sudah berdiri seorang pria dengan surban putih.
Sejak kapan Ahmad tiba,kenapa aku tak bisa mendengarkan deru knalpot mobilnya"
"Kalau anda sangat penasaran,kenapa kita tidak ngobrol berdua saja"
Rasa ingin tahuku, membuatku memutuskan membuntuti mereka berdua.
"Saya hanya ingin tahu apa yang anda lakukan pada mantan pacar saya"
"Saya ini hanya seorang ustadz, ustadz kegiatannya ya berdakwah"
Mendengar hal itu Samudera yang berdiri di spion mobil mencibir.
"Berdakwah, berdakwah hingga menimbulkan trauma, itu namanya berdakwah"
"Terkadang seorang guru haruslah mencubit siswanya yang keterlaluan, apakah kau akan diam saja, saat ada anak nakal yang tak mau diatur"
"Itu semua hanya teori saja"
Apa yang mereka bicarakan.
Kedua pria itu kemudian memutar video. Aku menengok ke arah Samudera, lelaki itu amat serius memperhatikan video itu, kedua matanya tegak lurus ke arah tabung televisi, kebalikannya dengan Ahmad, dia sangatlah santai, sesekali pria itu melirik jam tangan yang melingkar di tangan.
Layar televisi menampilkan warna buram. Tak lama kemudian kotak tabung itu menampilkan seorang lelaki dan perempuan yang sedang beradu argumen.
Sang pria memakai daster kotak kotak, berkumis tipis dan bertubuh gemuk tengah menatap tajam seorang wanita berkulit putih dan berhidung putih.
Wanita itu berdagu runcing itu tak gentar, dia berkacak pinggang menatap lelaki itu. Mata itu seolah olah siap memuntahkan gemuruh amarah yang ada di dada
__ADS_1