
Mungkin kalian berpikir aku Astuti Pujiningrum adalah seorang ibu yang kejam lantaran berkarib macam orang ustad Ahmad, begitu kan, aku juga kalian nilai sebagai orang tua kolot,otoriter, ya kan.
Terserah kalian berpikir apa tentangku, satu hal yang kalian tahu,aku melakukan hal ini lantaran cinta pada anak semata wayangku Sunandar.
Cinta, cinta apa yang membuat seorang ibu rela menjerumuskan anaknya pada MLM busuk yang dipimpin oleh Ahmad. Ibu macam apa yang tega merongrong rumah tangga anaknya sendiri. Ibu macam apa....
Diam, kalian tak berhak menghakimiku, kalian tak pernah merasakan bagaimana rasanya kehilangan seorang anak. Aku masih ingat bagaimana nenek Sunandar yang bernama Sumirah mengeluarkan kata katat kasar Tiap kali mengungkit ungkit hal yang sama pada waktu hari raya
Tak hanya itu, perempuan tua itu bahkan tega menjodohkan putranya dengan Zainab, anak semata wayangnya haji Romli.
Wanita mana yang tidak sakit hati melihat suaminya beradegan mesra dengan perempuan lain. Jawab nak, jawab. Dan kau tahu apa jawaban Sumirah saat kuutarakan sakit hatiku.
"Cah wadon gabuk tur kere koyok awakmu kuwi apa ngerti perkara bobot,bibit, bebet kanggone keluarga menak Suwadipa, heh"
Tuhan penguasa langit dan bumi, hamba berilah sekiranya hambamu ini anak keturunan untuk menyumpal mulut perempuan jahanam ini.
Puji tuhan, satu bulan kemudian lahirlah seorang bayi laki laki yang kuberi nama Sunandar. Kurawat dan kujaga laiknya menjaga intan berlian permata.
Waktu berjalan dengan cepat,anak itu tumbuh dewasa. Hingga suatu hari.....
"Bu,saya akan belajar UI, boleh ya bu"
Aku yang saat itu tengah menyulam boneka terhenyak seketika. Tapi apalah arti sebuah perpisahan, bukankah dimana mana kebahagiaan anak adalah kebahagiaan yang nomor satu ya kan, jadi tak seharusnya aku menangisi kepergian anakku.
Aku seharusnya bangga karena anakku adalah satu satunya pemuda yang terpilih beasiswa, terlebih dia datang sambil membawa seorang putri cantik jelita kedalam gubuk sederhana kami.
Perempuan itu kuakui ia cantik, pintar memasak, cerdas, dan memiliki segudang kelebihan. Tapi sayang minus ahklak.
Mungkin bagi kalian kawula muda, melihat seorang perempuan bersimpuh di kaki suami adalah sebuah kemunduran. Mungkin bagi kalian melihat seorang perempuan menghidangkan makanan untuk suami tercinta adalah lambang perbudakan. Tapi tidak bagi kami bangsa timur.
Kami bangsa timur menganggap perempuan sebagai madrasah untuk generasi yang akan datang, kami bangsa timur menganggap perempuan sebagai penopang keberlangsungan hidup lelaki. Ia adalah pasak yang menopang balai rumah, Ia adalah atap tempat anak anak berlindung dari kejamnya dunia sekaligus tempat menimba ilmu dari alam semesta.
__ADS_1
Dan kau tahu apa perkataan dia saat kunasehati perkara adab berumah tangga.
"Kata bapak, islam itu moderat, wanita itu berhak meniti karir asal dia tidak bisa mengurus suami, selama ini mas Sunandar baik baik saja kok bu, dia sehat sehat saja"
"Kata bapak, perempuan itu berhak keluar rumah malam malam, asal dia ditemani oleh saudaranya"
"Kata bapak...."
Kata bapak - kata bapak,apa apa kok bapak, mentang mentang bapakmu seorang wedana, lalu aku hanyalah rakyat jelata jadi kau anggap aku tidak selevel begitu.
Sakit hati ini mendengar ocehan perempuan itu, lebih sakit lagi saat aku menyaksikan anakku Sunandar yang lebih memilih istrinya ketimbang diriku. Aku tahu seorang anak sepatutnya mengutamakan istri daripada ibunya. Tapi bukan berarti ibu tidak memiliki hak yang harus kau tunaikan bukan.
Aku berusaha memahami dunia kalian yang berbeda. Kucoba mendengarkan musik jazz yang sering diputar oleh istrimu,meski musik itu membuatku mengantuk aku tetap mencoba. Tapi sayang itu tak berhasil, kami lebih sering b memendam kesalahpahaman dalam diam hingga akhirnya ada sekat pembatas yang kian kian hari kian tebal
Apa mungkin ini pertanda pernikahanmu tak direstui tuhan anakku.
Disaat saat seperti itu muncul Mukhlis dengan segala keluguannya,
kagum, haru, bahagia itulah yang kurasakan saat ia menceritakan lika liku hidupnya. Bagaimana tidak, sedari kecil ia sudah mengerjakan pekerjaan orang dewasa. Membajak sawah, menggembala kambing sudah menjadi rutinitasnya.
Apakah orang tuanya sudah tiada. Ah pastilah ini disebabkan oleh kemiskinan.
Untunglah tuhan maha adil, tak berapa lama kemudian ada seorang saudagar yang mengangkatnya sebagai anak.
Saudagar itu semakin lemah, sebelum ia kembali kehadirat ilahi. Orang tua berambut putih itu berpesan agar ia menikahi putrinya.
Tahun tahun pertama pernikahan mereka ia sering cekcok dengan istrinya, masalahnya juga sama. Minus adat istiadat pada suami. Jika dinasehati selalu saja marah marah dan berkata
"Bang, jadi orang itu gak usah kolot kolot deh, sekarang tuh sudah jamannya emansipasi, ngerti"
Ah ternyata aku tak sendiri.
__ADS_1
Titik balik dalam kehidupan rumah tangganya dimulai saat mengenal MLM XYZ. Dengan penuh semangat lelaki itu menceritakan potensi bisnis MLM itu, lengkap dengan seminar seminarnya yang 'wah'
Mungkin sampai disini kalian berpikir aku terjebak oleh rayuan lelaki bernama Mukhlis itu, tidak, aku tak pernah tertarik dengan bisnis seperti itu, bahkan semenjak saat itu aku tak pernah berhubungan lagi dengannya.
Tapi keputusan itu tak bertahan lama. Aku yang berprofesi sebagai pegiat LSM yang mengurusi anak jalanan acapkali tampil sebagai narasumber utama, kau tahu itu kan nak. Salah seorang audiens bertanya, apakah salah pabila seorang anak membenci ibu kandungnya yang telah membuangnya di jalanan sewaktu masih berusia tiga tahun.
Pertanyaan itu melemparkanku ke ruang gelap. Bayang bayang akan memiliki cucu harus kuhapus karena kusadar istrimu tak siap dengan kehadirann anak di mahligai perkawinan kalian.
Tepat disaat terasing dan tidak3 dibutuhkan oleh dunia ini. Mukhlis datang dengan membawa seminar MLM XYZ.
Semula aku menolak, tetapi dengan lelaki itu memaksaku untuk ikut bergabung. Terlebih saat itu katanya ada program pondok pesantren kilat yang bisa merubah perempuan menjadi istri sholihah.
Dengar dulu nak, jangan coba coba menutup pembicaraan , pada awalnya aku juga tak percaya, aku bahkan skeptis dengan hal itu.
Mana ada seminar yang bisa merubah prilaku orang hanya dalam sebulan,batinku.
Tapi lelaki itu terus mendesak, katanya tidak apa apa ikut serta, toh ayah Vanya juga menjadi pengurus perusahaan itu.
Sekali lagi kukatakan aku bukan tipikal ibu yang tak bertanggung jawab dan tukang menjerumuskan anak. Semua yang kuberikan pada Sunandar anakku haruslah yang berkualitas.
Penyiksaan psikis berupa pemberian rasa bersalah pada para peserta, pemberian obat obatan terlarang dari LSD, mariyuana dan ganja juga jamak dilakukan, hingga teror psikologis menjadi santapan para peserta, itu semua dilakukan hingga mereka berpikir menjadi istri shalihah versi islam Wahabi adalah kebenaran tertinggi.
Kau tahu apa alasan Ahmad melakukan ini semua.
"Saya melakukan hal ini untuk menghadirkan surga di bumi. Apakah kau akan menyangkal bahwasanya istri yang sholihah adalah salah satu perhiasan di dunia ini"
Kata katanya menembus sanubariku, menumpulkan logikaku, tak ada pilihan lain selain mengikuti jalan kejahatan yang ia bentangkan padaku.
Nak, saat aku meninggal nanti, kuburkan surat pembelaan ini di makamku, mudah mudahan bisa mengurangi rasa sakit saat di alam kubur nanti.
Usai menulis surat wasiat seperti itu, perempuan tua itu menghubungi seseorang melalui telpon pintar.
__ADS_1
"Pak Hadi, sayabingin bertanya apa saya bisa mengajak adik saya ikut serta"
"Oh tidak apa apa ibu"