Crazy Woman

Crazy Woman
Rencana Gagal?


__ADS_3

Seolah tak terjadi apa apa, keesokan harinya Samudera masih tetap mengajar bahasa Indonesia.


"Jadi sebelum mengenal kalimat majemuk setara, terlebih dahulu kita akan belajar apa itu klausa"


Jari jemari lelaki itu menulis di papan tulis. Ibu memasak di dapur.


"Manakah subjek dan predikat dalam kalimat di atas"


Tak ada jawaban, siswa siswi sedang menulis di depan. Tak mau diacuhkan anak didiknya, ia pun segera memberikan sebuah spidol pada seorang anak lelaki.


"Coba tunjukkan mana subjek dan predikat pada kalimat di atas


Anak itu dengan sigap mengerjakan tugas itu.


"Yap betul, ibu sebagai subjek, memasak sebagai predikat"


"Ada yang tahu mengapa ibu disini menjadi subjek dan bukan predikat"


Tak ada jawaban, beberapa siswa nampak sibuk menulis, yang lain melihat papan tulis dengan tatapan penuh tanda tanya.


Ini tak bisa dibiarkan.


"Semuanya mohon berhenti mencatat,dan perhatikan bapak ke depan sebentar"


Serentak pandangan mereka semua terarah pada seorang lelaki memakai seragam cokelat.


"Ternyata di kelas ini masih banyak teman kalian yang belum mengerti apa itu subjek dan apa itu predikat. Jadi subjek adalah kata benda yang melakukan pekerjaan. Contoh"


Belum sempat Samudera menyelesaikan ucapannya, bel istirahat telah berbunyi. Sejenak lelaki itu termangu menatap kelas yang kosong.


Ah ternyata aku masih belum bisa menjadi guru profesional.


Suara perut yang kemerucuk membuat lelaki itu melangkahkan kaki ke kantin. Puas dengan urusan perut ia berniat ke perpustakaan.


Selintas ide gila melintasi kepalanya saat dia berpapasan dengan seorang siswa berseragam putih-biru yang tengah bermain smartphone di loteng perpustakaan, ekor mata Samudera sempat melirik badge nama yang terpasang di baju anak itu. Ronald Herdiansyah, cepat ia berbalik ke ruang guru dan kembali lagi ke perpustakaan.


"Nald, tolong bawakan amplop cokelat ini di ruang guru, tepatnya di laci saya, meja nomor C sebelah kiri ya"


Tanpa banyak cakap anak remaja itu langsung menyambar perintah itu.


Saat itu kondisi ruang guru sedang sepi, hanya diisi seorang guru muda memakai jilbab berwarna cokelat yang sedang mengetik menggunakan mesin tik. Tanpa mengucap salam anak itu buru buru ke ke meja nomor C, membuka laci dan meletakkan amplop itu begitu saja.


Selama materi pelajaran kedua berlangsung, tak ada gangguan yang berarti. Namun pada jam terakhir, ada seorang guru yang mendadak menemui Ronald di kelas.


"Nald kamu dipanggil pak Samudera di ruang guru"


Ruangan itu kini telah penuh sesak, meja meja yang ditata berjajar mulai ditempati. Seorang guru berperawakan besar memakai pakaian cokelat muda menatap tajam dirinya, sementara guru yang lain berpura pura tidak peduli, orang tua itu dengan santainya menyalakan laptop, dan mulai mengetik.


"Kok uang saya di amplop hanya satu juta, yang lima ratus ribu mana"


"Sumpah demi Allah pak, saya gak tahu,saya tadi cuma mengembalikan amplop itu ke laci meja bapak"


Lelaki itu memperhatikan remaja berbaju seragam biru-putih itu,anak itu terlihat ketakutan. Dia menundukkan kepala dalam dalam.


"Memangnya saat kamu masuk kemari,kamu tak mengucap salam terlebih dahulu"


"Tidak pak,saya cuman masuk begitu saja lalu meletakkan amplop itu ke laci meja bapak"


"Nah itulah kesalahanmu, masuk ke ruangan tanpa minta ijin, giliran ada yang kemalingan kamu yang langsung dituduh"

__ADS_1


Anak itu hanya menunduk saja.


"Lalu sekarang saya harus bagaimana pak"


"Ya kalau sudah begini terpaksa bapak panggil polisi"


Wajahnya langsung memucat. Sorot matanya seakan tak memohon pengertian pada lelaki muda itu, dengan terbata bata dia langsung berkata


"Ja... jangan pak, saya mohon jangan pak, tolong pak beri saya hukuman lain, tapi jangan lapor polisi"


"Baik tapi kamu jawab jujur semua pertanyaan saya"


"Pe... pertanyaan apa"


"Ikut saya"


Anak itu mengikuti langkah pak Samudera. Lelaki itu berjalan menuju tempat parkiran mobil, setelah sampai pada mobil hitam barulah dia berhenti


"Sekarang jawab pertanyaan saya dengan jujur, kamu tahu legenda Chucapraba itu dari mana"


Anak itu menundukkan kepala


"Dari kakak kelas tiga. Kata mereka hati hati pas persami kalau tak mau disantap Chuchapraba. Waktu kutanya apa itu, kata mereka itu adalah hewan jejadian yang akan menerkam anak nakal yang tidak menuruti perintah pembina Pramuka "


"Memang pernah ada korban"


"Denger denger sudah pak, katanya sih kakak kelas bernama kak Hari yang menjadi korban, katanya sih, dia itu siswa bandel pak, saking bandelnya dia pernah naroh semua buku paket di kelas. Kan meja ruang kelas 7 itu ada lacinya, dia naruh disitu. Nah pas persami itu dia diteror si Chucapraba, sampai jadi parno, kalau lihat warna merah langsung pingsan"


"Di malam kamu melihat Chucapraba itu gimana sih kondisi tendamu"


"Acak acakan, botol minuman yang saya bawa bahkan sampai pecah, kotak bekal isinya berhamburan kemana mana, bulu bulu singa juga ada dimana mana"


"Nggak ada pak, palingan cuma beberapa helai daun yang jatuh di atas bantal"


Daun, ah pastilah ada orang yang berpura pura menjadi Chuchapraba, lalu menakut nakuti anak ini. Pasti begitu ceritanya.


"Ya sudah sekarang kamu boleh pulang"


"Lah, masalah uangnya"


"Lupakan, pulang sana"


***


Tok ... tok... tok..


Seorang lelaki paruh baya memakai jas hitam mengetuk pintu rumah bercat hijau itu.


"Mencari siapa pak"


"Mencari pak Samudera,guru bahasa Indonesia ponpes Riyadul Jannah"


"Ya, saya sendiri,ada apa ya"


"Anda yang menuduh anak saya mencuri uang"


"Anak,anak siapa ya pak"


Lelaki itu terlihat semakin marah, kedua alisnya mengkerut, giginya gemelutuk menahan marah.

__ADS_1


"Anda itu tidak usah pura pura,anda kan yang memfitnah anak saya Ronald Herdiansyah mencuri uang di sekolah tadi siang "


Dahi Samudera itu langsung meneteskan keringat. Dia sadar, dirinya dalam bahaya besar.


"Sebentar pak, saya jelaskan dulu letak kesalahpahamannya, memang benar saya melakukan hal itu. Itu semua saya lakukan untuk mendidik anak itu"


Plak sebuah tamparan hinggap ke wajahnya, tak puas sampai disitu, pria itu mencengkeram kerah Samudera.


"Gara gara kamu anak saya setress dan gak mau makan. Kamu tahu gak, di rumah Ronald terus terusan nanya, pah kalau ada orang yang mengambil keuntungan dari kesalahan yang kita lakukan, gimana cara membela diri"


Pria yang tak ia kenal itu menggelandang tubuh Samudera seperti seekor anjing. Namun takdir berbalik, Pria itu melihat sesuatu yang bisa menyelamatkan dirinya.


"Anda itu siapa anda bukan orang tua kandung Ronald Herdiansyah"


Perkataan itu membuat pria paruh baya itu terkejut, beberapa saat lamanya ia terpaku.


"Apa maksud anda"


"Anda bukan orang tua kandung Ronald Herdiansyah"


"Jangan asal nuduh ya, apa buktinya"


"Potongan wajah anda tidak mirip sama sekali dengan wajah Ronald"


"Apa itu penting, berapa banyak anak yang wajahnya tidak mirip sama sekali dengan bapaknya. JAWAB"


"Begini pak,yang namanya wajah anak itu kan biasanya mirip ayah atau ibunya, lalu saya perhatikan wajah anda itu tidak mirip Ronald sama sekali. Dahi Ronald itu agak 'cembung' kalau bapak saya perhatikan kok tidak ya"


Pria itu langsung berkacak pinggang.


"Emang itu penting, sebagai mantan jurnalis seharusnya anda tahu kalau tak semua wajahnya mirip dengan orang tuanya, itu semua hanya karena pengaruh gen"


"Oke baik, kalau begitu bolehkah saya bertanya, kapan ulang tahun Ronald,sebagai seorang ayah, anda harusnya masih ingat hari lahir anak anda sedetail detailnya"


Orang tua itu tak langsung menjawab, ia terlihat ragu ragu, dan hanya mematung seperti patung bisu.


"Ayo jawab,kapan Ronald berulang tahun.


"Du.. dua belas Desember" ujarnya gugup.


"Tahunnya"


"Seribu sembilan ratus sembilan puluh"


"Salah, yang benar Seribu sembilan ratus sembilan puluh tiga"


"Masak sebagai orang tuanya,anda tak hafal sama sekali hari ulang tahun anaknya,bagaimana logikanya pak"


Kondisi telah berbalik seratus delapan puluh derajat. Pria yang tadinya marah marah kini hanya bisa diam membisu. Kesempatan itu tidak disia siakan Samudera.


"Sudahlah pak, sebaiknya bapak pergi dari sini,eneg saya lihat muka situ"


Ada pemancar yang diam diam merekam kejadian itu, seorang pria memakai songkok nampak sangat kecewa. Dia duduk di atas kursi malas sambil menghela nafas panjang, seolah olah ini adalah pukulan terhebat baginya.


Mengetahui hal itu, seorang perempuan tua langsung memeluknya dan berkata .


"Tenanglah tak lama lagi Samudera akan terdepak dari rumah tangga Blomington dan Sunandar, percayalah padaku"


Lampu penerangan yang terpasang di bufet, Ia seorang wanita tua berusia empat puluh tahun, memakai jilbab putih. Tak salah lagi, ia ibu Astuti!!!

__ADS_1


__ADS_2