Crazy Woman

Crazy Woman
Drama


__ADS_3

Diatas panggung nampak seorang lelaki memakai jas hitam diikuti dengan seorang perempuan bergaun hijau.


Pria itu memegang mic seraya berkata


"Dari lima kontestan berikut ini siapakah yang harus tereliminasi"


Lampu layar panggung berkedap kedip beberapa kali, hingga akhirnya menampilkan dua orang perempuan. Satu orang perempuan berhijab putih, dan satu orang perempuan berhijab hijau.


Pembawa acara kemudian berkata


"Bagi dewan juri kami persilahkan komentarnya


Seorang lelaki memakai peci hitam kemudian memegang microphone kemudian berkata pada salah satu


"Ezra, penampilanmu melantunkan ayat ayat suci alqur'an kurang merdu. Seharusnya kata lahabiw watab dibaca dengung. Karena ada tanwin bertemu dengan ya, nun, mim,wawu. Coba kau ulangi bacaan surat surat pendeknya"


Perempuan berhijab hijau itu kemudian memegang microphone lalu melantunkan ayat ayat suci al Qur'an


" tabbat yada abi lahabiiiw watab,


Ma agna an-hu ma luhu wa ma kasab


sayasla naran zata lahab


wamra 'atuh. hammalatal - hatab


Fi jidiha hablum mim masad"


Pembawa acara perempuan berseru


"Kepada dewan juri ibu Nina saya persilahkan komentarnya


"Menurut saya wajar apabila manusia melakukan kesalahan, namun alangkah baiknya apabila kita terpacu untuk menjadi muslimah yang lebih cerdas dalam bertindak maupun bertutur kata daripada kemarin kemarin, bukan begitu ibu Blomington"


"Berbicara cerdas saya saya memiliki definisi kecerdasan yang berbeda dengan anda, ibu Nina


Perempuan yang berusia empat puluh tahun berkerut keningnya.


"Maksud anda"


"Untuk memperjelas maksud saya, saya persilahkan semua dewan juri menyaksikan film ini"


Kamera televisi kemudian menyorot gerbong kereta yang penuh sesak. Nampak perempuan memakai batik cokelat duduk bersama dengan seorang keluarga yang terdiri dari ayah, seorang ibu yang memakai kain sari khas Hindu serta seorang anak kecil.


"Mau kue nak"


Perempuan itu menawarkan kue donat, tindakan itu membuat lelaki berkulit putih dan memiliki tahi lalat di kening tersenyum.


"Terima kasih bu, anda mau kemana"


"Surakarta dan bapak"


"Sama, dalam rangka apa kesana"


"Ah tidak, sebenarnya saya seorang guru , yang hanya ditugaskan untuk memberikan les privat pada anak bernama Leo"


"Itu anaknya"


"Oh"


Perempuan itu tidak bisa melepaskan keterkejutannya. Pandangan mata terpaut pada seorang pemuda berkaos putih yang sedari tadi asyik menggambar.


"Leo ayo berkenalan nak"


Basa basipun terjalin dengan rapi. Lelaki itu bernama Gery, istrinya seorang perempuan memakai kain sari laiknya perempuan India bernama Hisako dan juga anak semata wayangnya yang tadi sudah disebutkan.

__ADS_1


Kesunyian pun merambati malam, kereta api itu merambat di atas rel dengan cepat, ditingkahi suara kodok dan belalang menjadikan suasana bertambah hening. Satu persatu penumpang tertidur di atas gerbong kereta tapi tidak dengan pemuda itu. Sedari tadi dia asyik menggambar.


"Lagi menggambar apa Leo, boleh tante lihat" kata


Amazing!!! hanya itu kata yang terucap dibatin wanita itu saat melihat lukisan Leo.


Bagaimana tidak, anak itu mampu melukis melukis wajah seorang perempuan dengan balutan kerudung hijau lengkap dengan kacamata putih yang bertengger di pelupuk mata. Lukisan itu makin artistik dengan bibir perempuan itu yang berhiaskan merah merona.


"Kau nanti kalau besar mau jadi apa nak"


"Entahlah bu, saya belum kepikiran"


Ah tiba tiba wanita itu merasa sayang apabila bakat anak itu tersia siakan.


Rasa kasihan itu makin menjadi jadi manakala ia melihat sendiri bagaimana anak itu tertatih tatih mengerjakan soal matematika.


"Ayo berapa Leo minus enam ditambah lima"


Jari tangannya memblegar, tak lama kemudian tangan kanan menggenggam ibu jari hingga membentuk angka enam, mulutnya berkomat kamit menghitung. Enam, tujuh, delapan,...


"Sebelas bu"


Bibir itu tak menyunggingkan senyum, pandangannya sayu menatap anak itu.


"Jadi begini Leo minus enam itu artinya Leo memiliki hutang enam ringgit ditambah itu artinya dibayar lima. Angka lima disini artinya adalah lima ringgit berarti sisa berapa"


"Satu ringgit bu, eh"


"Betul, tapi ditulis satu dibuku tulis"


"Nah sekarang kita akan artikan minus tujuh ditambah lima "


"Hutang tujuh ringgit dibayar lima ringgit"


Dia terdiam sebentar, pensil ditangannya bergerak gerak, dia menatap wanita itu dengan tegang


"Mendapat lima ringgit ditambah hutang tiga ringgit,eh"


"Benar"


Saat melakukan pembelajaran, muncullah seorang lelaki berbaju batik membawa plastik putih


"Lagi belajar apa "


Ibu Ningsih tersenyum seraya berkata


"Perhitungan bilangan bulat pak"


"Bagus bu Ningsih , teruslah latih anak saya agar dia bisa menjadi dokter"


Ah rongga rongga dada ibu Ningsih terasa sesak, ia tak rela bakat melukis anak ini tersia siakan, masih terekam jelas diingatan wanita itu betapa semaraknya lukisan kamar Leo.


"Siapa yang menggambar dinding. kamarmu Leo" kata perempuan itu saat bertandang ke rumah Leo untuk memberikan les.


"Saya sendiri bu" kata anak itu sambil bergelung di atas selimut tebal berwarna biru.


Ibu Ningsih pantas merasa kagum. Dinding kamar Leo dicat putih dihiasi dengan gambar istana walt disney berwarna merah muda. Di depan istana itu berkumpul tokoh tokoh walt disney yang lain seperti mickey mouse, donald bebek lengkap dengan kwak ,kwik,kwek.


"Saat melukis tembok ini, kamu dimarahi ayah tidak"


Anak kecil itu nyengir "Saya melakukannya diam diam sama ibu, tante"


Kenapa orang tuanya mengacuhkan bakat anak ini dan menyuruhnya jadi dokter.


Pertanyaan itu terjawab saat ia bertemu dengan Hisako

__ADS_1


"Pak Gery dulunya adalah seorang anak yatim yang dipungut oleh keluarga Suhardini. Untuk membalas jasanya, beliau belajar dengan giat hingga memperoleh juara satu dari sekolah dasar hingga SMA. Mungkin karena hal itu, keluarga Suhardini mendorongnya menjadi dokter, meski ia merasa bakatnya adalah menggambar. Puncaknya adalah saat semester lima, Pak Suhardini murka besar lantaran IPK pak Gery hanya didominasi nilai B+, sampai sampai lelaki itu masuk ruang UGD karena memarahi pak Gery. istrinya tidak bisa menerima kematian keluarganya. Ia menyalahkan pak Gery atas insiden itu, mungkin tumpukan rasa bersalah yang membuat lelaki itu memaksa Leo untuk belajar matematika terlalu keras"


Scene kamera televisi kemudian berpindah pada seorang anak kecil yang berlari ke arah seorang perempuan yang memakai batik


"Ibu ibu lihat deh, gambar saya bagus kan bu"


Gambar itu adalah sebuah gambar seorang perempuan sedang dipeluk oleh seorang lelaki di sebuah kapal yang berlayar di atas lautan lepas.


Wanita itu memeluk anak itu kuat kuat


"Bagus nak, bagus sekali"


Rasa belas kasihan yang teramat dalam memaksa perempuan itu menemui pak Gery di kantor.


"Selamat sore bu, ada yang bisa saya bantu"


"Bapak ada waktu, saya ingin mengajak bapak mengikuti acara lomba menggambar di SDN 2 Sawojajar


"Kapan"


"Sekarang pak, soalnya saya juga ingatnya baru sekarang"


"Aduh bu saya sedang sibuk sekarang"


Wanita itu terlihat kecewa, dia sampai sampai mengatupkan kedua tangan memohon pada pria itu.


"Tolonglah pak, saya tidak mau anak saya kecewa karena ibunya tidak hadir"


Lelaki gemuk memakai jas putih itu terdiam beberapa saat, hingga akhirnya berkata


"Baik, saya ikut"


Mobil yang mereka tumpangi telah sampai di sebuah gedung sekolah dasar, setelah melewati pemeriksaan mereka berjalan dengan terburu buru ke selasar ruang sekolah dan lenyap begitu saja.


Ruangan itu penuh dengan anak anak. Pak Gery dan ibu Ningsih terlihat tengah duduk dibangku belakang, sedangkan Leo sudah diapit oleh mereka berdua.


"Untuk acara selanjutnya, marilah kita dengarkan sambutan kak Bima" ujar seorang gadis kecil memakai seragam merah putih, disamping gadis itu nampak guru guru yang memakai seragam abu abu. Mereka semua duduk di meja panjang, di depannya ada panggung lengkap dengan microphone, tak ketinggalan orang tua siswa mengapit anaknya masing masing di bangku yang sudah disediakan.


Seorang lelaki memakai kaos putih memandang seluruh pengunjung yang ada di ruangan itu, ta lama selang lama lelaki itu berkata


"Perkenalkan nama saya Bimo, saya adalah alumni SDN Dua Surabaya, kedatangan saya kemari, selain diminta oleh bu Ningsih untuk memberikan sepatah dua patah kata sambutan hari ulang tahun SDN Dua Surabaya yang ke tujuh puluh dua, juga untuk memberikan ucapan terima kasih pada beliau"


Pemuda itu tak bisa meneruskan kata katanya, air matanya berkaca kaca.


"Saya berterima kasih pada beliau, karena beliaulah guru pertama yang mengajarkan pada saya bahwa kecerdasan tak hanya sebatas kecerdasan eksakta namun juga kecerdasan spasial, berkat beliaulah saya bisa menjadi diri saya sendiri, serta menafkahi keluarga saya dengan hal yang amat saya sukai sedai kecil, yakni menggambar"


Seolah ingin menggambarkan betapa berjasanya perempuan itu sampai sampai pemuda itu berkata dengan nada keras


"Dengan menggambar, saya bisa berkeliling Indonesia hingga ke mancanegara, mungkin anda semua berkata, apalah arti seniman pabila dibandingkan dengan Insinyur, dokter, dan pilot. Perlu anda ketahui, tanpa seniman tak kan pernah tercetak anatomi tubuh manusia, tak kan pernah ada pertunjukan seni ballet. Jiwa manusia kan layu dan akhirnya mereka semua akan hidup tanpa pernah merasakan asam, manis, perih dan bahagianya kehidupan. Dan alangkah menyedihkan hal itu, kita hidup laiknya zombie yang tak mengenal warna warni dunia"


Semua orang yang menyaksikan tayangan itu hanya bisa terdiam. Terlebih saat mereka mendengarkan ibu Blomington berkata dengan lantang.


"Kita semua yang ada di sini maupun di luar sana seringkali bertindak sama seperti Pak Gery yang menghakimi kecerdasan orang anak hanyalah sebatas kecerdasan. logis dan matematis, padahal di luar ada kecerdasan lain seperti visual-spasial, intrapersonal dan juga enterpersonal yang juga sama sama penting. Tapi karena kalah pamor dengan profesi yang dianggap mentereng seperti dokter,insinyur dan juga ilmuwan. Tolong kalian semua jawa,apalah arti dunia ini tanpa senyum dan canda tawa yang dipersembahkan oleh musisi dan seniman, apa artinya penemuan penemuan hebat tanpa rasa bahagia yang terwujud di dada sanubari tiap insan"


Janggut janggut itu kian basah oleh air mata lantaran menyimak perkataan yang dilontarkan oleh perempuan itu.Kesadaran itu me


"Pun demikian dibidang keagamaan kita melabeli kesolehan seseorang dengan nada suaranya yang lemah lembut, gaya berjalan yang anggun gemulai, dan sebagainya . Bagi orang yang berpikir bahwa image istri sholihah haruslah perempuan yang lemah lembut perangainya, saya ingin bertanya, Beranikah kalian melabeli Aisyah istri rasulullah sebagai wanita kafir, bukankah menurut hadits shahih diceritakan bahwa Aisyah adalah sosok wanita yang aktif dan energik"


Lidah lidah itu terasa kelu untuk membela diri, hingga sebuah suara memotong pembicaraan itu.


"Apa yang kau katakan itu sesat nalar, perbandingan yang kau buat tidak sebanding"


Semua orang yang ada disana melihat ke arah sumber suara. Seorang pria memakai surban putih dan baju koko nampak berdiri di depan pintu


"Pak Ahmad" desis ibu Nina

__ADS_1


__ADS_2