Crazy Woman

Crazy Woman
Keresahan Ny Blomington


__ADS_3

"Saya pak Hadi dari platform king trade ingin mengabarkan kalau uang anda titipkan kini telah berkembang sebanyak lima belas persen menjadi lima puluh juta rupiah. Apa anda ingin melakukan penarikan"


Kegembiraan langsung membuncah disanubari wanita itu. Untuk merayakan keberhasilan ini beliau langsung memesan steak.


"Perayaan dalam rangka apa ini bu" Kata pak Sunandar ketika melihat lauk pauk teramat lezat tertata di meja makan.Ada gulai kambing yang tersaji di mangkok putih itu, disampingnya ada sepuluh tusuk sate, tak ketinggalan seiris belimbing dan juga segelas es jus mangga hadir di tengah tengah meja bulat itu.


"Hari ini aku dapet cuan mas dari king trade"


Ibu Astuti yang mengambil nasi hanya berucap.


"Hati hati memanagement uangnya, jangan sampai nombok terus utang dimana mana"


Apaan sih mau orang ini, aku ini bukan anak kecil lagi tahu.


Begitulah tabiat orang yang sudah merasa pintar. Padahal sejatinya mereka bodoh dan tidak mau menerima kenyataan bahwa sejatinya di dunia ini tiada yang konstan. Semuanya berubah ubah, tak terkecuali dengan pasar modal.


Tapi wanita bernama Blomington itu tak mau menerima fakta itu, lihatlah sekarang ia diterpa kegelisahan yang teramat luar biasa. Setiap sore kerjanya hanya mondar mandir di depan pesawat telepon.


"Maaf, nomor yang anda hubungi sedang tidak aktif, silahkan hubungi kembali, atau tinggalkan pesan setelah nada berikut"


Mata wanita itu menerawang ke atas langit langit kamar.


Dimanakah kau mas Hadi, kenapa panggilanku tak kau jawab.


Ternyata keresahan yang sama juga dirasakan oleh anggota anggota yang lain, ibu Ana yang berbibir ndower dan super ceriwis itu mendadak manyun. Malah wanita itu pernah datang ke rumah nyonya Blomington dengan tergopoh gopoh.


"Bu, bu, saya mau tanya bu, uang yang ibu transfer ke platform king trade,apa sudah menghasilkan return"


"Belum bu, malah dari bulan kemarin saya nggak bisa withdraw, padahal uang yang saya invest itu besar lho sekitar sepuluh juta rupiah kalau nggak salah"


Wanita bersanggul itu duduk menangis tersedu sedu.


"Padahal bu, rencananya uang investasi itu akan saya gunakan untuk biaya kuliah anak, sekarang apa yang harus saya lakukan bu, anak semata wayang saya sudah merengek rengek tapi uangnya tidak ada"


Wanita itu menepuk pundak bu Ana seraya berkata


"Daripada bertanya tanya seperti ini, langsung saja kita samperin perusahaan itu bu, saya juga sudah gemas dengan kejelasan uang saya"


Tapi apa yang didapat...


"Semestinya ibu sadar, sekarang musim corona, banyak perusahaan uang terkena imbasnya, jadi mohon maaf kalau returnnya investasi masih belum masuk rekening"

__ADS_1


Wanita bernama Ana itu langsung menggebrak meja


"Mbak, sampeyan itu nggak usah berkelit deh, bener bisa bayar kagak, dari enam bulan kemarin transferan kok belum masuk juga, padahal saya sudah membawa downline lima orang. Sekarang mereka semua nuntut supaya uangnya dikembalikan, bahkan sudah ada yang nuduh penipuan dan ngancam mau nglaporin saya ke polisi"Ujar bu Ana sambil menggebrak meja.


Pegawai itu berkacak pinggang seraya berkata.


"Kalau sampeyan tidak percaya,saya berikan data data aset perusahaan" Kata pegawai wanita itu tidak mau kalah, dia pergi sebentar kemudian datang dengan langsung memberikan buku rekap data keuangan.


Ah tiba tiba Ny Blomington merasa bodoooh sekali. Mengapa ia tak meneliti kelengkapan surat surat ijin perusahaan, mengapa ia tak bertanya dulu pada orang yang lebih ahli. Sekarang tahu tahu duit lima puluh juta amblas gak bersisa.


Lalu apa, apa yang harus dikatakan saat pak Sunandar nanti meminta uang untuk menghadiri kondangan, tidak tidak itu bukan permasalahan utama, yang utama adalah saat lelaki itu tahu uang belanja habis pada minggu pertama. Ya tuhan,apa yang kulakukan.


****


"Sayang aku butuh..."


Kata kata itu membuat jantung wanita itu berdegup kencang, serta merta ia menoleh pada lelaki tua berkemeja yang temgah memeluknya dari samping


"Apa, uang"


"Bukan, yang kubutuhkan hanyalah kasih sayangmu manisku"


jikalau suaminya tidak ada ingin rasanya ia bersujud syukur.


Untuk menutupi rasa takut, perempuan mencubit mesra pipi pak Sunandar seraya berkata.


"Buat kamu apa sih yang enggak sayang, jangankan kasih sayang, lautanpun akan kuseberangi, untuk membuktikan rasa sayangku"


Keduanya berpelukan bersama, saat itulah pak Sunandar berbisik


"Kalau begitu,apakah kau merasa keberatan pabila kubawa sepupuku kemari"


"Tentu saja tidak apa apa mas,malah aku senang disini ada yang membantu pekerjaanku"


Lalu gadis itupun muncul dikehidupan Blomington, ia seorang gadis bertubuh ramping dengan jilbab kuning dan kacamata silinder yang senantiasa menempel ditubuh. Jikalau kalian meihatnya, pastilah pikiran kalian akan melayang pada sosok mahasiswi muda dengan kacamata minus lantaran terlalu banyak membaca buku. Tapi yah apa mau dikata, memang seperti itulah ia. Muda, cerdas, dan juga pandai memasak.


Tak jarang kedua orang itu saling berdiskusi tentang masa depan. Seperti saat ini.


"Bang,kenapa sih abang kok bangun kost, kenapa nggak bangun restaurant saja" kata gadis itu saat kereka bertiga sarapan di hari Minggu pagi.


Lelaki itu menyesap sedikit kopi susu dan menjawab.

__ADS_1


"Kost kost an kan selain menjadi tempat peristirahatan para turis juga bisa untuk investasi, sekarang kan banyak buruh cari kost yang deket tempat kerja, om bidik peluang itu."


Mahasiswi itu mencebikkan bibir


"Kata siapa, bangun resto lebih menguntungkan om, kalau gak laku ya tinggal dijual aja tempat mangkalnya, pasti laku deh, apalagi kalau tempat mangkalnya strategis"


"Gini ya ndhuk, om bilangin dimana mana yang namanya bisnis itu ada peluang sama kelemahan. Nggak dibisnis resto, atau kost kost an seperti ini. Semuanya sama, emang kamu pikir di dunia ini nggak ada resto yang tutup"


Gadis itu malah berkacak pinggang seraya berkata.


"Om berani taruhan berapa, kira kira aku bisa menghasilkan duit berapa, cuma dari jualan kue kecil kayak kue serabi"


Pak Sunandar buru buru menghisap kopinya sampai tandas dan berdiri.


"Sudah cukup, aku gak mau debat lagi"


Lalu apa yang terjadi enam bulan kemudian...


Gadis itu kembali sambil membawa bingkisan dan meletakkannya ke ruang tamu


"Mas Sunandar, lihat nih mas aku berhasil memperoleh lima ratus ribu dari jualan kue tradisional kayak oncom,lapis, cucur"


Lelaki berkaos putih yang tengah menonton televisi bersama nyonya Blomington langsung berdiri dan memeluknya


"Selamat ya, tapi om gak percaya kalo gak ada barang bukti berupa foto"


"Nih"


Didalam foto itu diperlihatkan seorang mahasiswi cantik memakai jilbab putih dan memakai jaket merah sedang membungkus minuman dengan plastik putih di atas gerobak, sementara dua orang anak kecil sedang mengantri dibelakangnya, ada juga foto dirinya sedang berdiri disebuah aula besar bersama sekelompok mahasiswa. Dibelakang mereka telah terpampang tulisan besar besar entrpreneurship UB.


"Wah hebat, sebelumnya kamu sudah pernah jualan ya"


Gadis berjilbab itu menundukkan kepala sambil tersipu malu


"Semenjak SMP saya sudah membantu ibu, nungguin kios ikan di pasar tradisional, dari situ saya belajar cara melayani pembeli"


Aneh, nyonya Blomington merasa kesepian malam itu. Dia merasa tak dibutuhkan oleh siapapun, ada dirinya atau tidak, kehidupan rumah tangganya tetap berjalan seperti biasa.


"Menjadi wanita karir, berpendidikan tinggi itu memang baik ndhuk, tapi tak ada yang bisa mengalahkan keutamaan istri sholehah" kata ibu Astuti saat mereka berdua berjalan jalan menyusuri kompleks perumahan itu di sore hari.


Ah mungkin ia benar, mungkin tak seharusnya aku menampilkan diriku sebagai seorang perempuan cerdas, independen, dan energik. Mungkin yang dibutuhkan oleh pak Sunandar adalah istri yang bersedia melayani segala kebutuhan dirinya, bukan yang mandiri tapi banyak membantah seperti ini. Mungkin.... mungkin....

__ADS_1


__ADS_2