Crazy Woman

Crazy Woman
Motif Penipuan


__ADS_3

Hari itu tak ada angin, tak ada hujan Samudera mengetuk pintu ruang kerja pak Sunandar.


Tok... tok... tok...


Pria yang tengah membaca laporan keuangan itu serta merta berkata


"Masuk"


Lelaki berkaos merah bergambar candi borobudur itu masuk ke ruangan itu, dilihatnya seorang lelaki tua memakai jas abu abu menatap ke arahnya.


"Begini pak, kalau bapak tak keberatan, saya ingin mengajak bapak berjalan jalan sebentar sore ini"


"Ke..."


"Perumahan kumuh..."


"Kau ini ada ada saja, buat apa pergi ke sana"


Samudera menggeser bangku, diberikannya album foto pada pak Sunandar, isinya: seorang backpacker memakai kacamata hitam sedang makan bersama seorang anak laki laki dalam sebuah ruangan beralaskan tanah, lelaki itu tampak bahagia meski dia makan di atas seng biskuit berbentuk bulat.


Foto kedua menunjukkan backpacker perempuan memakai sweater putih tengah menggendong seorang bayi di halaman sebuah rumah berdinding jerami.


"Apa maumu"


"Jadi begini pak, ini opini saya pribadi lho ya, bapak ini memerlukan sebuah refreshing pribadi, setelah bertengkar dengan ibu, saya sarankan untuk refreshing ketempat yang lain. Tempat yang bisa mengasah empati bapak, yaitu di perumahan kumuh ini"


Lelaki itu pergi tanpa sepatah katapun tetapi kau tahu apa yang terjadi pada malam harinya....


Sebuah mobil SUV berwarna merah datang. Dari dalam keluar seorang gadis memakai rok biru.


"Kakek"


Mereka berdua berpelukan, saat makan malam gadis itu menyebutkan maksud dan tujuannya kemari.


"Kek sekarang kan liburan, aku pengen keluarga kita berlibur bersama"


Lelaki itu minum seteguk air dan berkata


"Boleh, kita bisa piknik ke pantai Songgoriti, atau ke Pelang, lalu sorenya pergi ke mall"


"Tidak mau, Vanya cuman pengen kita sekeluarga piknik di daerah perkampungan kumuh, kayak di bantar gebang"


"Kok kamu mau piknik ke sana, emang ada apa"


"Vanya pengen ngerasain jadi orang miskin kek, supaya nanti kalau keluarga Vanya jatuh miskin, Vanya nggak kaget lagi"


Nyonya Blomington yang sedang menuangkan jus jeruk, langsung berkata


"Kalau cuman mau merasakan hidup miskin, kenapa tidak nyoba ikut reality show tukar. nasib saja"


"Betul itu"pak Sunandar menimpali.


"Nggak mau, reality show kayak gitu, banyak settingannya"


"Gimana kek, boleh apa enggak"


Lelaki itu tidak menjawab, melihat hal itu gadis itu langsung nyeletuk.


"Berarti boleh ya"


Lelaki beruban putih itu tersenyum, Vanya langsung memeluknya.


Siapa yang mencuci otak anak ini


Pertanyaan itu terjawab keesokan harinya, tatkala dari dalam mobil jemputan keluar seorang lelaki berkaos hitam,dengan jenggot lebat menghiasi dagu, siapa lagi kalau bukan Samudera!!!


Disepanjang perjalanan, kedua lelaki itu lebih banyak berdiam diri saja, seolah olah ada dinding penyekat yang mensekat keduanya.

__ADS_1


Mobil itu berjalan melewati pasar tradisional, sekolah dasar, dan bangunan pertokoan, lalu berbelok ke gang sempit. Disepanjang jalan itu terdapat rumah sederhana berdinding anyaman bambu dengan halaman luas ditumbuhi pohon mangga, tak ketinggalan tiang kawat jemuran bersliweran disepanjang perjalanan lengkap dengan kibaran baju berwarna warni menambah semarak suasana.


Ckiiit. Mobil itu berhenti disebuah rumah, berhalaman luas, seorang perempuan kecil memakai rok putih berlari menyambut mereka.


"Diva pak" katanya sambil bersalaman.


Ada rasa tergugu haru pada diri lelaki itu saat menyaksikan gadis kecil dengan tangannya yang kecil menenteng koper hitam keluarga yang berat.


Ruangan kamar itu hanyalah sebuah dipan beralaskan kasur, setidaknya itu adalah ruangan terbaik yang mereka punyai untuk menyambut tamu yang menginap. Sedangkan dua dipan dibelakang adalah untuk tuan rumah.


Teringatlah pak Sunandar kenangan akan masa kecilnya, bagaimana dia dulu sewaktu kecil belajar ditemani obor. Api yang menjilat jilat keluar seakan memberikan semangat berlipat.


"Mari pak kita makan, anda pasti lapar"


Aneh, masakan sederhana tumis daun kangkung itu sangat lezat, sedemikian lezat hingga anak itu mempersilahkan pak Sunandar tambah.


"Tambah pak"


Pak Sunandar yang makan menggunakan tangan tak kuasa menolak manakala gadis kecil itu menyorongkan sesuap nasi.


"Terima kasih nak, ibumu kemana"


Raut wajah anak itu berubah menjadi pilu, kedua alisnya turun ke bawah, matanyapun berkaca kaca, seorang lelaki tua langsung berkata


"Ibunya Amel tengah dirawat di rumah sakit"


"Sakit apa pak"


"Kanker payudara"


"Oh"


Kenapa hanya kata oh saja yang terucap dibibir ini, kenapa disaat saat seperti ini aku malah terpuruk, tak bisa membantu gadis cilik ini tuhan


Rasa haru makin menjadi tatkala dia melihat gadis kecil itu tengah menjajakan kue disebuah bus tua.


"Donat pak"


Dipandangnya gadis kecil itu. Roknya yang berwarna hitam itu tak bisa menyembunyikan noda luka


"Kenapa kakimu kok bisa luka seperti itu"


"Tadi saya terjatuh saat berjualan di angkot, kan tadi penumpangnya jejel riyel hingga saya terjatuh pas mau berganti angkutan"


Pak tua itu meletakkan gadis kecil itu ke pangkuannya, diobati luka itu.


"Terima kasih pak"


"Sama sama, beli donat mbak"


"Berapa"


"Lima biji"


Dengan cepat dia memberikan sekotak donat.


"Sisanya dua puluh lima ribu kak"


Lelaki beruban putih itu memberikan lima puluh ribu rupiah.


"Saya carikan kembalian dulu ya pak"


"Tidak usah buat kamu saja"


"Kata ibu, meskipun kita ini orang miskin tapi pantang dikasihani orang lain karena masih punya harga diri"


Ah anak sekecil ini sudah memiliki pendirian, andai semua anak Indonesia seperti ini.

__ADS_1


Dari pertemuan itu terjalinlah persahabatan diantara mereka berdua. Setiap sore, lelaki tua itu selalu berdiri di halte bus yang sama, membeli dagangan gadis kecil berkaos putih itu, sambil bercengkrama melepas penat bekerja.


Seperti sore ini, lelaki tua itu sudah duduk di depan halte, sesekali dia melihat jam tangan. Sudah pukul empat sore, dan gadis itu belum datang juga, kemana dia, apa sakit.


Sampai maghrib menjelang Diva belum datang juga. Akhirnya lelaki itu pergi dengan gundah gulana. Mungkin dia besok akan kembali lagi.


Keesokan harinya gadis itu tak datang lagi, membuat kesabaran pak Sunandar habis, dengan cepat dia memacu kendaraan ke rumah anak itu.


Pak Sunandar merasa pangling bagaimana tidak, lantainya sudah diplester ubin , dindingnya sudah ditembok. Berulang kali dia mencocokkan foto dalam inbox kamera hp dengan rumah yang kini terpampang di hadapannya.


Tok... tok...tok...


Dari situ keluar seorang perempuan kecil memakai rok kuning,


"Oh pak Sunandar, tumben menjenguk mari pak masuk"


Ruang tamu itu sudah dipercantik dengan kursi busa. Tak ketinggalan bunga mawar merah telah tersemat di dalam vas bunga berhentuk oval.


"Kok kamu tidak jualan donat lagi ada apa"


Gadis cilik itu tersenyum dia berkata


"Habis abah dapat uang buanyuaaak"


"Oh pak Sunandar, bagaimana kabarnya"


Seorang pria tua berkaos putih tiba datang dan menyalami beliau.


"Kabar baik pak"


Keduanya saling berpelukan.


" Oh ya pak, Diva tadi berkata bahwa anda baru saja dapat uang dari bisnis, bisnis apa"


"Oh itu, cuman bisnis pengeleman teh celup, barangkali pak Sunandar berminat, saya baru saja memulai usaha pengeleman teh celup, bapak cukup bayar dua ratus lima puluh ribu saja, lalu akan ada orang yang mengirimi sampeyan lima dos teh celup yang masing masing berisi dua puluh benang, dari situ kita akan dapat komisi sepuluh juta rupiah yang dibayar secara bertahap"


Lelaki yang sedari tadi mendengarkan cerita bapaknya Diva merasa kalau ini adalah penipuan, ternyata dugaannya tak meleset, tiga bulan kemudian, tepatnya di hari Minggu pak Burhan mendatangi rumahnya.


Dok... dok... dok


"Pak,... pak Sunandar saya bisa utang sepuluh juta rupiah pak, saya mohon" ujar lelaki itu sambil terengah engah.


"Bapak tenang dulu ya, minum air dulu"


Setelah meneguk segelas air, lelaki itu terlihat tenang,


"Jadi begini pak ceritanya, nyambung cerita bisnis yang kemarin itu, saya berhasil mendapatkan lima orang downline, yang masing masing nyetor dua ratus lima puluh ribu, tapi sampai sekarang uang pembayarannya masih belum datang juga, padahal saya sudah menjanjikan keuntungan sepuluh juta rupiah pada tiap tiap orang"


"Sebentar sebentar, ini kok tiba tiba ada cari downline segala gimana to pak"


Lelaki itu menyesap air putih lagi.


"Jadi begini pak, sebetulnya selain diberi tugas mengelem teh, kami ini juga diharuskan mencari downline, malah manager bilang gaji yang sepuluh juta itu tidak bisa cair kalau kami tidak mencari downline, paling cairnya cuman lima ratus ribu kalau kami cuman ngelem teh"


"Lha terus masalahnya"


"Itulah pak, dua tiga hari ini manager itu tidak bisa dihubungi"


"Bapak punya kwitansi pembayaran selama jadi member"


"Ada"


"Ciri ciri managernya seperti apa pak"


"Dia seorang lelaki berkulit sawo matang, dengan tahi lalat di dahi, dia suka memakai kaos berwarna hitam"


Pak Sunandar terbelalak mendengar penuturan pria itu. Tak salah lagi itu adalah Samudera, kenapa dia menjadi penipu

__ADS_1


__ADS_2