Crazy Woman

Crazy Woman
Pertengkaran itu


__ADS_3

"Sedikit demi sedikit kamu menjadi lebih baik nduk, aku kemarin melihat kamu sudah tidak mendengarkan lagu, kemana mana sudah memakai jilbab ketat yang melindungi wajahmu hingga seluruh tubuh. Jadi istri itu ya memang harus seperti itu, harus jadi suri tauladan yang baik bagi anak anakmu"


Kata Astuti sambil mengelus elus kepala gadis itu. Angin senja yang berhembus membelai rambut nyonya Blomington, seakan membenarkan pendapat orang tua itu.


Apakah kriteria istri yang shalihah itu harus selalu wanita yang berhijab tebal, menyukai nasyhid dan segala hal berbau arab. Apa seorang wanita muslimah yang menyukai k pop, dan berpakaian santun tidak bisa dikategorikan sebagai istri yang sholehah. Kalau benar begitu alangkah beruntungnya mereka itu, sementara kami , kami harus melepas pernak pernik keunikan diri hanya untuk memperoleh label istri shalihah.


Tak terasa butiran air mata jatuh dipipi Nyonya Blomington, alangkah berat menegakkan dienul islam ini. Ah seandainya bisa memilih, lebih baik menjadi elang yang hidup sendiri daripada menjadi kakaktua yang tinggal di sangkar emas seperti ini.


Lalu salahkah apabila sisi manusiawi perempuan blasteran Jawa-Rusia itu muncul, bukankah dia adalah manusia yang punya rasa,


"Mas, bagaimana kalau kita nanti membangun restaurant di sini" ujar si mahasiswi jari jemarinya menunjuk kertas karton yang terhampar di meja, sementara nyonya Blomington dan Astuti yang baru datang dari jalan jalan sore hanya bisa memandang kemesraan itu.


Bruaaak. tetiba saja pintu kamar dibanting dengan keras hingga membuat kedua insan itu jatuh terperanjat.


Mahasiswi itu tertunduk. Dia menundukkan kepala, bilur air mata menetes dipipi. Selalu ia ingat nasihat sang ibunda.


"Nduk, masiya awake dhewe wong ora nduwe, tapi isih nduwe ajining diri, ora ilok nduk njaluk modal usaha neng wong liya masiya kuwi sedulur dhewe


( nak, meskipun kita ini orang tidak berpunya, tapi masih punya harga diri, memalukan nak, meminta modal usaha ke orang lain, meskipun orang itu kerabat kita sendiri)

__ADS_1


Ah seandainya saja, ayah masih hidup tentu ceritanya takkan seperti ini. seandainya saja beliau masih ada, seandainya,seandainya.


"Sudah puas, kamu sudah puas melihat dia memupus angannya hanya untuk kebahagianmu" ujar pak Sunandar sambil melotot.


Nyonya Blomington langsung mendengus sebal.


"Alah mas, baru dapat duit ratusan ribu saja kok adikmu itu sudah belagu"


Pria berkumis tipis itu berhenti menyuap makanan.


"Daripada kamu, mana hasil investasi untuk bulan ini"


"Oh begitu, mas merasa superior karena memberikan uang belanja begitu, mas lupa siapa yang memasak buat mas selama ini siapa, menurut mas selama ini aku tidak berkontribusi begitu"


Usai berkata seperti itu ia menangis tersedu sedu di kamar tidur. Meninggalkan luka hati bagi keduanya.


Kesunyian menetap di rumah beberapa saat lamanya. Menimbulkan berbagai spekulasi dalam sanubari nyonya Blomington.


Apakah lelaki itu masih mencintainya.

__ADS_1


Apakah ia akan diceraikan.


Bayang bayang perceraian terasa menggigit nadi. Kemiskinan, Kelaparan, dan beragam cobaan lain seakan hadir dipelupuk matanya.


Oh tuhan, kenapa ia selama ini selalu bergantung pada lelaki itu, dan tanyakanlah, siapakah yang bersedia memberi pekerjaan pada perempuan yang menginjak empat puluh lima tahun.


"Ada apa nduk,kulihat kamu akhir ini marah marah saja kerjanya, adakah yang kurang berkenan dihatimu"


Perempuan itu membenamkan kepalanya ke pangkuan wanita itu.


"Oh ibu, aku merasa sifat sifat negatif yang ada dalam diriku telah menghancurkan mahligai rumah tangga ini,aku harus bagaimana ibu"


Perempuan tua memakai kebaya hitam itu mengelus kepala nyonya Blomington.


"Aku tahu nduk, iri pada pencapaian orang lain itu sesuatu hal yang lumrah, akupun dulu juga seperti itu"


"Tak adakah cara untuk memperpendek jalan menuju kebijaksanaan bu"


"Ada, sayangnya jalan itu terjal dan sedikit menakutkan,apa kau bersedia melaluinya"

__ADS_1


"Akan saya lalui bu"


__ADS_2