
Ternyata Ibu Blomington serius dengan ucapannya, beliau bahkan menyuruh sopirnya khusus untuk menjemput Samudera dan membawanya ke restaurant ternama
"Saya serius dengan ucapan saya, kamu bersedia atau tidak"
Lelaki itu menyesap kopi, matanya menatap jendela cafe yang membiaskan cahaya sore hari. Sebuah mobil klasik bentley berwarna hitam melintasi pertigaan lampu lalu lintas, di kanan jalan ada pedagang duren dengan mobil pick up tengah menggelar dagangan.
"Kalau ibu memaksa apa boleh buat"
"Kalau begitu, barang barang yang harus kau siapkan adalah ..."
Kata kata itu lindap ditelan angin. Pandangan matanya menatap seorang perempuan berbaju hitam, dengan jepit rambut berwarna merah. Dia datang ke pertigaan dengan lagak sedang menari. Sekelompok anak anak melemparinya dengan batu kecil , tapi dia tidak peduli.
"Ada apa"
Lelaki itu tetiba saja terkejut, matanya beberapa kali berkerjap kerjap.
"Tidak, tidak, tidak apa apa"
Meski berkata demikian, malamnya Samudera tidak bisa memejamkan mata. Bayangan wanita itu yang tengah menari senantiasa terbayang di pelupuk matanya. Malam itu adegan demi adegan percintaannya dengan Nina seperti diputar ulang.
***
Hujan rintik rintik membasahi bumi, seorang wanita berjaket merah muda duduk bertopang dagu, matanya menatap lurus kedepan, tampak jejeran mobil yang berderet mengelilingi pelataran restaurant itu.
"Boleh saya duduk di sini" sapa seorang lelaki berbaju hitam
Dia hanya menggeser tempat duduk.
"Menungggu seseorang"
menggelengkan kepala.
Pertemuan kedua pun terjadi lagi, sama seperti kemarin, hanya ada sepatah dua patah kata namun kali ini perempuan itu meninggalkan sebuah buku bersampul biru bertuliskan Nina Bayern lengkap dengan alamat fakultas dan jurusan.
Keesokan harinya pemuda itu mengelilingi satu kompleks universitas, semua orang dia tanyai, perempuan itu hanya melihat dari jauh. Entah apa yang dia pikirkan
Keesokan harinya, dia mengulang kembali kegiatan itu, sama seperti kemarin, wanita itu melihat dari jauh hingga suatu sore..
Hujan rintik rintik membasahi bumi, seorang pemuda berkaos hitam tampak berlarian ke pelataran kampus, wanita itu tak tahan lagi, dia turun dari eskalator....
"Mencari Nina"
" Iya"
Gadis itu diam, matanya memandang tajam buku bersampul biru yang dipegang olehnya
"Apa kamu yang bernama Nina"
Dia mengangguk, tak lama kemudian percakapan itu berlanjut dengan hal hal formal seperti nama dan fakultas, ternyata lelaki itu satu fakultas dengannya hanya terpaut beda jurusan.
"Sudah punya pacar"
Ah pertanyaan itu mengguratkan kesedihan yang mendalam pada gadis itu, sejenak ia menundukkan, air mata mengembang dipelupuk mata.
"Maaf saya tidak bermaksud untuk"
"Tidak apa apa"Jawab wanita itu sambil menyeka air mata dengan tisu.
Tindakan itu membuat keduanya merasa canggung, adzan membuat kedua berpisah untuk beberapa saat kemudian bertemu kembali.
Pertemuan kedua terjadi tanpa kesengajaan.
Mula mula wanita bernama Nina diajak untuk menyelinap ke ruang dekan.
"Pokoknya gue nggak mau"
"Ayolah Nin, kapan lagi kita bisa ngeliat kayak apa soal sial sintaksis pak Johan kalau bukan sekarang"kata seorang wanita berjilbab cokelat.
__ADS_1
"Ya, harusnya elu tahu, nyontek diam diam kayak gini berarti elu korupsi"
"Elu sih bisa ngomong kayak gitu karena punya otak encer, kalau lu jadi gue, apa lu tega melihat seorang petani tua memakai capil hijau tertegun sedih karena nilai sintaksis putrinya dapet nilai E"
Inilah kelemahan Nina, nggak tegaan sama orang jadilah keduanya menyelinap ke ruang kajur.
Tumpukan buku buku berjejer di sebuah meja hitam, dengan cepat gadis berkerudung kuning itu mengambil sebuah buku tulis, lantas membuka halaman dan menjepretnya dengan handphone, sementara si kerudung kuning mengamati keadaan luar ruangan.
Sebuah siluet bayangan lelaki gemuk berkemeja hitam terpantul di jendela kaca, membuat keringat dingin Nina keluar.
"Ayo keluar, pak Hari sudah datang"
"Tinggal sedikit lagi"Kata si kerudung kuning sambil memotret isi buku, sementara sang dosen sudah semakin dekat.
"Kalau begitu kamu kutinggal"
Mau tak mau dia meninggalkan temannya, tiba tiba.... srek....
Gadis itu menengok ke belakang, si hijab kuning berdiri ketakutan, halaman buku itu telah sobek. tiba tiba
ceklek, lelaki itu membuka pintu kajur, matanya menatap buku yang terbuka dan merapikannya, lalu keluar ruangan.
Dua mahasiswi yang tengah bersembunyi dibalik pintu menarik nafas lega, tapi apa benar mereka berdua sudah selamat...
keesokan harinya ...
"Siapa yang merobek buku ini" kata lelaki tua itu sambil mengacungkan buku bersampul merah.
Tak ada yang menjawab, terpaksa beliau menggunakan sedikit ancaman.
"Kalau tidak ada yang mengaku, ulangan bapak batalkan dan kalian semua dapat nilai E untuk mata kuliah sintaksis"
Tak ada jawaban, para mahasiswa saling melirik, merasa dianggap hanya gertakan sambal, dosen itu mulai membuka buku absensi panjang berwarna abu abu.
"Saya pak" seorang pria berkemeja hitam mengacungkan tangan.
Tumpukan rasa iba membuatnya membuntuti lelaki itu saat kuliah usai.
"Maaf ya, gara gara kesalahan temen gua,elu harus mengulang sintaksis"
Dia hanya menghisap teh kotak, halaman belakang kampus tampak sepi, beberapa mahasiswa duduk duduk sambil menatap layar laptop.
"Gak apa apa"
Tumpukan rasa bersalah membuat dia menceritakan kisah asmaranya. Mungkin dengan membagi kisah pedih itu, beban yang ada di sanubari sedikit berkurang.
"Gua menjalin hubungan dengan Dedi tiga tahun yang lalu,semua berjalan baik baik saja hingga dia bertemu bokap gua.
"Setelah pertemuan itu, dia mulai menghindar. Ada aja alasannya. Yang sibuk kursuslah, pekerjaan lah, kuliah padatlah"
"Menghadapi tingkahnya, gua mencoba bersabar dengan selalu memberinya perhatian, yah minimal say hello lewat watts app. Hingga suatu saat, anak jatuh pingsan di pas kerja jadi kuli bangunan"
" Dengan sabar gue membawanya ke rumah sakit dan membiayai pengobatannya "
"Tapi apa yang terjadi..."
Nina berhenti berbicara, air matanya menetes, membuat Samudera mengurut pundaknya, sekedar untuk memberikan support pada gadis itu.
"Selang beberapa waktu kemudian dia memutuskan hubungan, anak itu merasa dirinya tak pantas bersanding dengan putri seorang direktur, dan sebagai kenang kenangan dia memberikan ini"
Gadis itu meletakkan sebuah liontin, kepalanya menunduk ke bawah, tangisnya tumpah ruah membasahi bumi
" Selama gue pacaran, gue gak pernah nuntut macam macam, tapi kenapa setiap lelaki yang gue taksir selalu mundur teratur saat tahu gue anak seorang direktur, ada lagi tipe cowok yang agresif tapi cuman ngarep harta doang"
"Mungkin Allah ingin memberikan jodoh yang terbaik untukmu" itulah jawaban yang dia berikan pada gadis itu, untuk melipur lara hatinya.
Tak lama kemudian pertemuan demi pertemuan terjadi, seolah lelaki itu menjadi obat pelipur lara Nina, meski demikian dia tetap menjaga jarak, hingga...
__ADS_1
"Mengapa kau tak hadir di pesta ulang tahunku kemarin" kata Nina saat berada di gazebo kampus.
"Karena aku ingin memberikan ini" kata Samudera sambil memberikan sebuket bunga, Gadis itu berpura pura membuangnya tapi saat itu keluarlah burung merpati dari tangan Samudera, gadis itu tertegun.
"Apakah kau merasa bahagia"
"Tidak"
Nina pura pura marah, gadis manis berhijab putih itu memalingkan wajah ke belakang.
"Kalau begitu kau akan kubawa ke tempat yang bisa membuatmu bahagia" Kata Samudera sambil membopong gadis itu.
"Tolooong aku diculik"
Beberapa mahasiswa yang sedang duduk duduk di depan kolam depan kampus menengok ke arah mereka berdua.
Samudera melepaskan gadis itu. Wajahnya bertautan dengan lesung pipit gadis berhijab putih itu, dia baru sadar, dirinya yang miskin papa tak seharusnya menabrak norma kesopanan seperti barusan. Apakah ini berarti dia telah jatuh cinta.
Usai kejadian itu, hari hari terasa hambar lantaran gadis itu menghilang entah kemana. Apakah aku hanya dijadikan tempat pelarian.
Ah mungkin benar, buktinya lelaki itu melihat sang gadis tengah bersama seorang lelaki berjas putih. Keyakinan itu makin menguat manakala sepucuk surat undangan pernikahan tiba di kost an Samudera.
Buat apa ditangisi, bukankah semua wanita ningrat seperti itu, lebih baik ia menghilang dari dunia ini, toh dia tak dibutuhkan lagi. Tapi apa yang terjadi, baru saja melangkahkan kaki , seorang lelaki tua memaksanya untuk menjadi fotografer di acara itu.
"Tapi pak, saya masih ada tugas kampus ini"
"Tapi kamu butuh duit kan"
Tuhan kenapa engkau mengirimkan lelaki ini disaat hatiku remuk redam seperti ini.
"Kuberi kau sepuluh detik untuk berpikir, satu, dua, tiga..."
"Baiklah pak"
Para undangan sudah hadir saat dia datang dan pada saat Nina mengucapkan ijab qabul, lelaki itu ingin bumi menelan dirinya.
"Pak Samudera, ditunggu neng Nina di kamar"ujar perempuan tua beruban putih yang datang setelah pernikahan usai.
"Dimana kamarnya bi"
"Mari ikut saya"
Saat pintu kamar dibuka, seorang perempuan bergaun putih menatap dirinya, mata Nina memerah karena terlalu banyak menangis.
"Bawa aku pergi dari sini Samudera"
"Bukankah kau sudah menikah"
Dia memeluk Samudera erat erat, air matanya berhamburan keluar.
"Aku dijodohkan dengan Satriyo untuk melunasi hutang papa, bawa aku pergi dari sini Samudera"
Kalau punya sayap, ingin rasanya Samudera membawa Nina keluar dari tempat itu, tapi dia adalah manusia biasa, manusia yang tunduk pada nilai dan norma, maka dia pun merelakan kepergian belahan jiwanya menikah dengan orang lain.
Apa dia masih berada di pertigaan jalan itu. Kenapa Nina menjadi gila seperti itu.
Perempuan gila itu mengorek orek tumpukan sampah, bajunya yang yang telah sobek, dan rambutnya yang gimbal, sejenak ia terpaku menyaksikan sesosok pria berpayung biru berdiri disampingnya
"Sa... samudera"
Kilatan cahaya putih di langit dan bunyi guntur yang memekakkan telinga membuat perempuan itu terjaga, secepat kilat dia berlari meninggalkan Samudera.
Kemana dia akan pergi.
Di sebuah masjid besar, Samudera menyaksikan wanita gila itu melakukan gerakan solat tanpa memakai mukena, hanya beralaskan baju hitam yang menempel di badan. Dia memohon ampun pada rabb semesta alam.
Dorongan rasa iba, membuat lelaki itu memeriksakan kejiwaan wanita itu ke rumah sakit jiwa, tanpa menyadari langkahnya itu akan menyeret pria itu kedalam pusaran konspirasi berbahaya
__ADS_1