Crazy Woman

Crazy Woman
kasus Dua: Cincin pernikahan


__ADS_3

Dunia seakan berpihak pada Samudera. Cicilan kost yang membengkak kini dapat ia lunasi, pun demikian "dengan tunggakan di warung.


Kebahagiaan itu makin lengkap manakala pekerjaan yang dilakukannya amatlah sederhana, hanya menyiram bunga dan mencabuti rumput saja. Hanya saja tidak ada kebahagiaan yang sempurna di dunia ini.


Seperti pagi ini, dengan cekatan nyonya Blomington mengoleskan cokelat kedalam roti tawar tuan Sunandar


"Hati hati pap"


Tanpa mengucap sepatah katapun, pria berkacamata itu pergi begitu saja, setelah sebelumnya dia melipat surat kabar yang telah ia baca.


"Samudera, sarapan" kata perempuan itu saat tiba di kebun.


Seorang lelaki memakai capil hijau berjalan ke arah teras rumah, diseruput segelas kopi.


"Bapak tidak berbicara lagi bu"


Wanita itu tersenyum.


"Apa kalian selalu seperti ini"


Beliau duduk disamping Samudera, matanya memandang jejeran bunga Anggrek dalam pot di halaman depan.


"Kakek saya seorang pejabat pertamina, beliau terbiasa dihormati seperti raja. Kebiasaan ini terbawa hingga tua, saya sebagai anak perempuan satu satunya dan sering sakit sakitan, tak berdaya menolak jodoh yang beliau sodorkan, dan begitu masuk kedalam kehidupan kami, mas Sunandar bersikap sopan namun sangat dingin. Mungkin dia adalah salah satu pegawai teladan yang dimiliki oleh kakek"


"Anda tak menanyakan hal itu pada kakek"


"Tidak pernah, saya tipikal orang yang suka menghindari pertengkaran"


Samudera mengunyah sepotong kue bakar


"Saya berdoa semoga keluarga anda menjadi keluarga harmonis"


"Amin"


Tuhan seakan mengijabah doa itu, saat makan malam pak Sunandar berkata


"Ibu akan tinggal di sini bersama kita"


"Kok mendadak amat mas"


Lelaki itu menatap tajam wanita bergaun hijau itu


"Memang tidak boleh, apa semua hal harus kulaporkan padamu,seperti bawahan pada atasannya begitu"


Mas aku tak pernah menganggapmu sebagai bawahan. Mas yang kuinginkan dari dirimu hanyalah kau mau menyapaku dan kita bercengkrama. Apakah itu terlalu sulit bagimu. Kata nyonya Blomington dalam hati, tak terasa air mata perempuan itu menetes ke pipi.


Sepertinya permohonan itu dikabulkan oleh tuhan. Sore harinya lelaki itu memeluk dirinya saat sedang memasak


"Tiga hari lagi ibu akan datang sayang "


Ah harapan akan sebuah keluarga yang harmonis tiba tiba menyeruak kembali, terlebih pak Sunandar mengatakan hal itu sambil menggenggam tangan perempuan itu.


Lantas, hari hari berlalu dengan cepat, secepat degup jantung wanita itu yang ingin mempersembahkan hal yang istimewa bagi ibu mertua suaminya itu.


"Samudera, bawa meja itu ke gudang, Man Man, kamu sama teman temanmu bawa dipan itu ke gudang, ganti dengan spring bed"


"Baik nya"


Dengan cekatan pemuda berkaos cokelat itu memanggul meja, dia diikuti dengan dua orang pemuda berkaos putih dan memakai celana jeans. Dengan sigap mereka berdua mengangkat dipan tidur dan menggantinya dengan spring bed berwarna biru laut.


Spring bed berwarna biru bergambar popeye the sailor itu tampak serasi dengan bantal dan guling berwarna hijau. Kombinasi itu makin sempurna dengan dinding bercat putih yang masih baru. Sejenak Bu Blomington mengulum senyum, menikmati hasil kerja kerasnya.

__ADS_1


Din... Din, suara klakson mobil membuat wanita memakai kebaya cokelat itu berlari ke luar rumah, saat di pintu rumah beliau menyaksikan seorang wanita tua memakai jilbab berwarna putih keluar dari mobil SUV berwarna putih


"Bu, bagaimana kabarnya" ucap Nyonya Blomington sambil menyalami wanita itu, ia tak bergeming, apa orang desa selalu menjaga jarak dengan pejabat seperti ini,batin perempuan itu.


Hari pertama tidak ada apa apa barulah pada hari ketiga muncul banyak komplain.


"Nandar mbok ya istrimu itu diajari tho, nada bicaranya itu yang lemah lembut pas bicara. Simbok ini sampai jantungan dibuatnya"


Padahal kenyataannya nada suara nyonya Blomington dari dulu ya begitu cempreng dan tinggi. Kenapa sih orang ini kok baperan banget.


Atau kalau tidak begitu, mertuanya berkata seperti ini.


"Nandar, mbok ya istrimu kamu nasehati, jadi perempuan muslimah itu musti yang lemah lembut, jangan suka pecicilan. Ibu tadi lihat istrimu itu melatih anak anak karate di teras"


Alllahuakbar, sejak kapan seorang muslimah dilarang berlatih karate. Adakah dalil dalil dalam al qur'an dan as sunah tentang hal itu. Hanya dirumah ini.Sekali lagi kuulangi, hanya di rumah ini selera seseorang diberangus atas nama agama!!!!


Lelaki berkerah putih itu memeluk istrinya kuat kuat, ia seolah olah tahu apa yang dia rasakan.


"Abang, bukannya nggak mau ngebelain kamu sayang, tapi abang tidak mau dicap anak durhaka"


sebentuk air mata membasahi pipinya,


"Ya saya juga akan berusaha menjadi istri yang lebih baik lagi"


Tapi apa, tuntutan untuk menjadi istri yang baik terdengar semakin nyaring ditelinganya, sering ia mendengar lewat telinganya sendiri sang mertua membanding bandingkan dirinya dengan wanita lain, yang lebih sabar lah, yang pintar cari duit lah, pokoknya dimata ibu Astuti dirinya selalu salah.


Apa aku harus menjadi malaikat tanpa setitik dosa untuk menyenangkan hati mama, apa aku harus kehilangan kebebasan untuk menyenangkan hati wanita ini.


Melihat hal itu Pak Sunandar suami nyonya Blomington hanya bisa berkata


"Yang sabar ya sayang, mulai sekarang aku janji berkata tegas pada mama.


Puncaknya saat pak Sunandar berencana memasuki bisnis properti, bisnis yang tak dia kuasai sepenuhnya lantaran paksaan ibunda tercinta


"Sayang, kamu nggak punya pengalaman apa apa dibidang itu"


"Kan ada ibu, ibu yang akan mengajariku sayang, kamu tenang saja sayang, yang penting kau pikirkan baik baik tawaranku tadi plus siapkan modal lima puluh juta kalau sudah siap oke"


Nyonya Blomington langsung mengebut selimut. Bukan modal yang menjadi persoalan di sini, tapi kebebasan yang dipertaruhkan di sini.


Mas, kapan sih kamu bisa lepas dari ibumu,


Hingga di suatu sore...


"Kemarilah nak"


Mereka berdua duduk di sebuah pelataran rumah, ditemani secangkir teh, perempuan tua itu mulai membuka percakapan


"Kau tak ingin punya anak ndhuk" tanya perempuan tua itu.


"Saya merasa belum siap punya anak bu"


"Nak, kesiapan itu didapat setelah kau bertindak,sama seperti orang yang hendak membuka usaha, tidak akan pernah bisa kalau hanya dipikirkan saja"


Lalu aku akan mengalami setress berkepanjangan gara gara kau dan si buah hati, tidak terima kasih.


"Kau tidak memakai cincin perkawinanmu"


Kata kata itu menyentak sanubari wanita itu, hingga membuat kening wanita itu berkerut, keringat dingin mengalir di dahi.


"Ah pastilah kau merasa menyimpan benda itu hanyalah sebuah beban, tahukah kamu nduk..."

__ADS_1


Cukup, yang aku butuhkan saat ini hanyalah ketenangan.


Sesudah berkata panjang lebar, wanita tua berhijab putih itu terdiam. Kesempatan itu tidak disia siakan, nyonya Blomington.


"Sepertinya aku melupakan mie yang kurebus, aku permisi"


Wanita itu langsung berlari, lalu mengaduk aduk laci meja, benda keramat itu tidak ada,dibukanya almari, diangkatnya kotak yang ada dibagian atas dan dibuka. Hanya tersisa tumpukan map dan beraneka ragam kalung. Nyonya Blomington menengadah dan menghirup nafas panjang.


Dimana benda itu


" Mencari apa bu"


Pertanyaan itu membuat jantungnya berhenti, sesaat kemudian dia menoleh menoleh, seorang lelaki berkaos kuning berdiri dibelakang bu Blomington.


"Kau Samudera, menganggetkan ibu saja"


"Ibu sedang mencari siapa"


"Ini ibu mencari cincin pernikahan berwarna merah delima, kamu tahu"


"Siapa saja yang biasanya datang ke kamar ibu"


Wanita itu mengusap usap dagu.


"Biasanya bang Maman yang masuk ke ruangan ini karena dia yang menjadi satpam, kalau bukan dia berarti mbok Jum, soalnya dia yang bertugas membereskan rumah, biasanya kalau bang Maman tidak bekerja dia bakal sms saya, dan saya akan memberi mbok Jum ijin. Tapi biasanya kalau siang begitu bang Maman biasanya masuk ke kamar ini tanpa sepengetahuan saya, selain kedua orang itu , pak Sunandarlah yang sering berada di sini, dia kan suamiku"


"Kira kira kapan anda kehilangan cincin itu"


"Tiga hari yang lalu,tepatnya sepulang pernikahan Mary-Liana saya langsung berganti pakaian dan tidur begitu saja, tahu tahu sorenya cincin itu sudah tidak ada"


"Apakah bang Maman juga bekerja pada bapak"


"Iya"


"Kalau begitu telponlah bapak, tanyakan apakah dia tahu soal cincin itu"


" Tapi, kenapa"


Percakapan itu berhenti saat perempuan itu mendengar srek srek srek. oh tidak itu derap langkah ibu suri.


Dengan cepat dia berbalik badan dan menelpon suaminya.


"Halo pap, oh begitu, ya... ya ... ya, terima kasih pap"


Usai berbalik badan, wanita itu balik badan, wajahnya memancarkan kelegaan


"Terima kasih Samudera, berkat kau akhirnya masalah ini tidak menjadi masalah besar, darimana kau tahu cincin kawin itu ada ditangan bapak"


Lelaki itu tersenyum, "Gampang, setelah ibu menghadiri acara pernikahan itu, ibu pasti ganti pakaian dan tidur pulas, saat itu pasti ibu melepas cincin pernikahan itu, lantas, pak Maman yang bertugas membersihkan tempat ini tahu soal cincin itu, dan memberikannya pada bapak"


Wanita itu tersenyum.


"Terima kasih banyak ya"


"Sama sama"


"Sebagai ucapan terima kasih, saya sekeluarga mengundangmu berlibur ke Belanda bersama sama"


Mata lelaki itu berbinar binar, ia berkata setengah berteriak.


"Ibu serius"

__ADS_1


__ADS_2