
"Jadi bagaimana keadaan pasien Nina dok"
Wanita berjas putih itu membuka buku tebal bersampul biru.
"Pasien bernama Nina Bayern, seorang perempuan berumur empat puluh lima tahun. Menderita penyakit skizofrenia paranoid"
"Maaf skizo apa"
wanita itu menutup bukunya.
"Skizofrenia paranoid"
"Maksud anda, pacar saya gila"
Wanita itu menghembuskan nafas panjang.
"Orang Indonesia selalu beranggapan bahwa orang setress sama dengan orang gila yang harus diserahkan ke rumah sakit jiwa. Padahal keduanya berbeda, setress adalah gejala kejiwaan seseorang yang merasa tertekan, sedangkan orang gila berada di titik setress hingga tak sanggup lagi membedakan antara realita dan khayalan.
"Lalu apakah pacar saya harus ke rumah sakit jiwa"
" Sayangnya menurut diagnosis saya, ia harus dirawat di rumah sakit jiwa"
Ada jeda yang terlalu panjang di sini, sepertinya pria itu berusaha mencerna kalimat barusan.
"Baiklah terima kasih atas saran anda"
Pria itu berdiri, psikiater wanita itu memberikan senyum termanis yang dia miliki.
"Saya tahu ini sulit bagi anda, tapi percayalah, ini adalah tindakan terbaik untuk wanita itu.
****⁴
Tiga minggu kemudian di depan paviliun rumah sakit jiwa.
"Bagaimana dok keadaannya"
Wanita berjas putih itu tersenyum.
"Pasien Nina sedang dalam masa pemulihan pak"
Berdua mereka tilik pasien. Gadis berkaos putih itu duduk termenung seorang diri.
Mata Samudera tiba tiba menyipit. Di punggung perempuan seperti terdapat bilur bilur berwarna merah. Apa rumah sakit ini melakukan penyiksaan agar Nina waras kembali.
"Ada apa pak"
"Oh tidak tidak, tidak ada apa apa kok"
Semalaman Samudera tak bisa tidur, bayangan seorang gadis cantik memakai gaun putih dipukuli punggungnya seolah tercetak tebal di pikirannya.
tiga hari kemudian, pria berkemeja biru itu datang kembali ke rumah sakit jiwa dengan membawa bungkusan kecil.
"Permisi bu, bolehkah saya memberi hadiah pada saudara Nina"
"Tentu saja"
Samudera memberikan sebuah jam tangan. Tapi apa, saat dia melihat rekaman video di laptop, tidak nampak apa apa selain tampilan layar berwarna putih.
Apa mereka tahu ada kamera mini pada jam tangan itu.
Samudera menghisap asap rokok dalam dalam, tak ada pilihan lain.
"Dok bisakah saya membawa pasien kembali ke rumah, terus terang saya tidak memiliki biaya lagi"
__ADS_1
Wanita muda berjas putih itu berhenti berjalan, dia menatap lelaki berjaket hitam itu.
"Saya tak menyarankan pak Samudera, penderita skizofrenia paranoid seperti ini mampu membunuh orang yang berusaha menyembuhkannya"
"Tapi saya tak punya biaya lagi"
Wanita itu tersenyum "Kalau keputusan anda sudah bulat saya tak bisa berbuat apa apa lagi"
Hari pertama tidak terjadi masalah apa apa. Dengan telaten Samudera menyuapi Nina, di pagi hari giliran psikiater Lena yang merawatnya.
Seperti sore ini dengan telaten Samudera menyuapi wanita berkaos putih itu, kelopak mata perempuan lurus memandang pepohonan diluar jendela, seolah olah jiwanya lenyap ditelan kuasa jahat.
"Mas Samudera maafkan kesalahan saya mas, saya tidak bisa menolak permintaan ibu bapak"
Ada rasa haru yang tiba tiba datang menghunjam kalbu, dengan serta merta Samudera memeluk gadis itu erat erat.
"Tak apa, yang berlalu biarlah berlalu, sekarang kita mulai dengan lembaran yang baru ya"
Sebuah kilat tetiba membiaskan cahayanya ke daun jendela membuat wajah Nina pucat pasi, serta merta dia berlari ke arah sumur, mengerjakan wudhu, dan shalat, entah shalat apa.
Usai shalat wanita bermukena putih itu mengangkat kedua tangan seraya berdoa
"Ya Allah maafkanlah hambamu ini yang telah berzina dengan orang lain, ya Allah, jikalau hambamu ini boleh meminta, hambamu lebih memilih dihukum di dunia daripada dihukum di akhirat"
Mendengar hal itu, lelaki berkaos hitam itu mendekat seraya berkata
"Sayang, kamu beneran percaya sama surga dan neraka,kalau menurutku nih, surga dan neraka hanya konsep abstrak yang diperkenalkan oramg tua kita agar kita ini nurut sama nasihat mereka"
Perempuan yang sedang melipat mukena putih itu langsung terdiam, matanya menatap tajam lelaki itu.
"Astaghfirullah bang, istighfar bang, nyebut bang, siapa sih yang ngajarin hal itu, missionaris ya bang"
"Ya"
"Siapa yang ngajarin kamu"
"Mas Satria dan ustadz Ahmad"
"Ustadz Ahmad" tanyaku penuh selidik
"Ustadz Ahmad itu guru ngaji di pondok pesantren Riyadul Jannah"
Ustadz Ahmad, Riyadul Jannah dua kata itu menjadi kata kunci penyebab kegilaan Nina, pernah suatu ketika, gadis itu telanjang bulat di depan Samudera meminta agar didera seratus kali.
"Cambuk aku seratus kali Samudera"
Samudera yang duduk di atas kursi kebingungan, ia tak mengerti mengapa sore ini tiba tiba Nina melucuti pakaian di depan dirinya dan menyerahkan sebuah cemeti.
"Cambuk aku Samudera, ini untuk memghapus dosa dosaku, aku selama ini telah berdosa, tinggal di rumah lelaki yang bukan muhrimku tanpa sepengetahuan mas Satriyo"
Lelaki itu meletakkan cemeti dan berkata dengan lembut.
"Kalau begitu kenapa kau tidak menelpon langsung Satria dan bilang tinggal bersamaku"
Raut wajah wanita berubah menjadi sendu, kedua alisnya turun kebawah.
"Tidak bisa, karena dia.... dia.."
Nina tak bisa berbicara, tangisnya pecah seketika, kurengkuh tubuh kurus itu, sambil terisak dia berkata
"Dia telah mati, dan aku yang membunuhnya"
Samudera mendekap erat gadis itu seolah ingin mengalirkan kehangatan padanya.
__ADS_1
"Sebelum mas Satria mati, dia berpesan, tak apa apa aku mati ditanganmu dik, asal kita nanti berkumpul di jannah bersama sama, jadi maukah kau menjadi gadis solehah" ujar Nina sambil menyerahkan cemeti.
"Tidak Nin, masih ada cara lain selain ini"
Gadis itu meletakkan kedua jemarinya ke bibir lelaki itu.
"Lakukan mas, aku rela menderita di dunia ini asal, diakhirat kelak aku bisa masuk surga bersama Satria.
Setiap kali gadis itu meringis kesakitan, hati Satria seperti tercabik cabik, kalau boleh dia memilih, Samudera rela rasa sakit itu berpindah ke dirinya, asal gadis itu tersenyum kembali. tapi apa dia mampu.
Kegalauan itu ia ungkapkan pada psikiater Veronica yang dahulu merawat Nina.
"Kondisi pasien yang bersedia menceritakan masa lalunya itu baik sekali, tapi kau harus hati hati Sam"
"Hati hati untuk" kata lelaki itu sambil menghirup segelas kopi
"Dalam masa lalu pasien RSJ seperti itu biasanya ada trauma masa lalu yang sewaktu waktu bisa meledak dan membuat pasien menjadi beringas"
"Apa yang biasanya anda lakukan kalau berada di posisi seperti itu"Ujar Samudera, matanya tajam memandang wanita berjas putih itu, disamping mereka duduk berhadapan di bangku panjang berwarna putih, tumbuh aneka macam Anggrek berwarna ungu.
"Kami para psikiater biasanya dibekali dengan keahlian beladiri serta stun gun untuk menjaga diri"
"Sepertinya saya akan membeli benda itu" kata Samudera sambil berdiri
"Belilah, alat itu biasanya dijual di tokopedia"
"Anda tak perlu khawatir, saya bukan anak kecil yang tak bisa menjaga diri"
Entah karena terlalu percaya diri atau apa, benda itu terlupakan dibenak Samudera. Untung tak terjadi apa apa.
"Mari bang makan"
Samudera seakan tak bisa mempercayai penglihatannya, di meja makan tersedia sayur bayam lengkap dengan tempe goreng plus sambal kemangi.
"Ini kamu sendiri yang membuat"
Gadis berkemeja putih itu tersenyum, lelaki itu makan dengan lahap. Lalu apa, sekonyong konyong kantuk datang menyerang. sedemikian dahsyat rasa kantuk itu sampai dia tidak ingat apa apa lagi.
Ada rasa dingin yang mencubit kulit, saat dia membuka mata, lelaki itu menyadari kedua pergelangangan tangannya telah terikat kuat di kursi,sementara itu Nina berdiri dengan mengayun ayunkan sebilah pisau
"Maafkan aku mas, aku terpaksa membunuhmu lantaran roh mas Satria berpesan seperti itu"
"Roh"
Belum sempat Samudera bertanya,gadis itu menghunjamkan pisaunya ke perutnya, ada rasa nyeri yang teramat sangat menyebar hingga ke ulu hati.
Kriet, lelaki itu mencoba melepaskan diri, sial ternyata ikatan yang dibuat Nina teramat sangat kuat, sementara itu gadis itu mencoba menusuknya lagi.
Ces. tusukan kedua tiba, membuat rasa nyeri itu datang berlipat ganda.
Satu, dua, tiga, pada sentakan yang ketiga Samudera berhasil lepas, tepat saat Nina akan menusuknya. Dengan cepat dia mensepak wanita itu hinga terjatuh, lalu mengunci pergelangan tangan dan kaki wanita itu.
"Apa maksudmu mas Satria menyuruhmu berbuat demikian"
Nina yang tengah dalam posisi tengkurap dan kedua tangannya dikunci oleh lelaki berkaos hitam itu menjawab
"Tadi mas Satria menjengukku lewat jendela dan menyuruh seperti itu"
penyesalan muncul di hati lelaki itu, memang beberapa hari ini dia tidak membuka jendela kamar, ah pastilah kelebatan angin yang bertiup disangka sebagai roh yang datang menjenguk.
Masalahnya saat pria itu membersihkan rumput di halaman belakang, dia menemukan jejak jejak sepatu boot yang berceceran di samping jendela kamar Nina
Adakah orang lain yang terlibat dan apa. motivasi mereka
__ADS_1