
seminggu berlalu vivi sudah terbiasa dengan kerjaanya walaupun sedikit lelah tapi dia merasa nyaman karna tidak ada yang mengusik pekerjaan baru nya itu
dan selama seminggu itu lah vivi tidak pernah melihat revan di rumah besar itu karna seperti biasanya revan akan selalu pulang tengah malam di jam itu vivi sudah kembali kerumah nya karna batas kerja nya hanya sampai pukul 11 dan paginya revan akan pergi lagi
karna hari ini hari libur jadi vivi masuk pagi dan akan pulang petang nantinya seperti biasa dia melakukan pekerjaan nya dengan baik karan asik menyapu halaman sambil menyanyi dia sampai tak mendengar revan yang sudah berkali kali memanggilnya
revan merasa geram karna vivi tidak mendengar panggilan nya dengan terpaksa dia harus menghampiri vivi
"eeh cewek kampung lho itu pekak atau emang sengaja apa"
"hmn maaf kak ada apa ya kok tiba tiba bilang aku pekak dan meksudnya aku sengaja itu gimana ya kak aku nggak ngerti
vivi bukan lah perempuan yang mau dihina begitu saja karna prinsipnya dia mencari uang dengan bekerja bukan mengemis meskipun jadi hanya jadi seorang pembanti bagi nya dia tetap lah manusia yang tidak harus selamanya dihina
__ADS_1
"gue itu udah manggil lu ratusan kali kalau elu nya nggak dengar apa namanya kalau bukan pekak atau mungkin lu tuli"
"hmm maaf kak mungkin kak revan kurang power kali manggil aku jadi akunya nggak dengar kan jarak nya jauh kak jadi bukan salah aku dong kalau aku nggak dengar enak aja orang cantik kayak gini di bilang tuli"
vivi menjawab seolah olah Revan bukan lah majikannya melainkan temannya karna memang bagi vivi jika majikan nya kasar maka dia siap untuk berhenti dari sana dan mencari pekerjaan lain meski terlihat sedikit berlagak tapi dia tidak ingin di rendahkan begitu saja
"ooo jadi gue harus pakai microvon gitu buat manggil lho udah salah berani jawab lagi"
"kepala gue masih pusing karna mabuk semalam pergi buatkan gue jus dan antar ke kamar gue.. dan tunggu tadi lho panggil gue kak revan emang lho pikir gue kakak lu apa"
"trus aku harus manggil apa kalau manggil kakak nggak boleh manggil mas gitu"
"enak aja mau manggil gue mas emang lho pikir gue udah tua apa"
__ADS_1
"kata siapa panggilan mas itu untuk orang tua... ya sudah kalau gitu aku panggil tuan aja atau nggak abang atau mungkin maunya aku panggil PangeranTampan aja"
revan begitu kesal dengan celotehan vivi belum sempat dia menjawab vivi sudah berlalu meninggalkan nya untuk membuat kan jus pesanannya tadi
"dasar pembantu kurang ajar dia pikir dia itu siapa masih untung temanya Brian kalau enggak udah gue tendang dari rumah ini hari ini juga"
karna kesal revan pun memberantaka kembali sampah dedaunan yang baru di bersihkan vivi dengan senyum kemenangan dia berjalan santai menuju kamarnya
"rasain lho makanya jadi pembantu itu nggak usah belagu"
revan merasa puas karna mampu membalas vivi
sebenarnya kelakuan revan sangat lah berbanding terbalik dengan umurnya karna wajah nya yang tampan dan kelihatan imut seperti oppa oppa korea membuat orang tidak akan menyangka bahwa umurnya sudah akan memasuki kepala tiga
__ADS_1