Cursed Moon

Cursed Moon
Episode 16 : Hellen's House


__ADS_3

Tiga buah peluru perak di tembakkan Wave kearah vampir itu. Peluru perak saja tak bisa mengalahkan vampir itu..


Vampir itu melemparkan balik peluru perak itu kearah Wave, beruntung ia bisa menghindarinya.


" Bagaimana mungkin, dia melempar balik peluru nya?! "


Vampir itu seketika langsung menyerang dan menghisap energi Wave, membuat laki-laki itu lemas.


Es seketika menjalari sekitar vampir itu, membuat vampir itu kesulitan bergerak.


" Wave!! Kamu tak apa? " Lia kini berlutut di dekat Wave yang lemas.


" Lia, awas!! " seru Carl seraya berlari menuju Lia. Vampir itu menerjang kearah Lia secepat kilat.


Sedikit goresan dari kuku vampir itu melukai Lia, Carl yang sudah datang langsung membanting vampir itu dan mendorong vampir itu menjauh dari Lia.


Seketika vampir itu pergi, menghilang bagaikan asap di terang nya bulan purnama di langit malam. Meninggalkan keluarga Hellen, Lia dan juga Wave.


" Makan ini, kau akan membaik. " ucap Carl seraya memberikan beberapa dedaunan herbal untuk Wave.


Sedangkan Lia yang duduk sedikit jauh dari yang lain, di hampiri Justin. Justin menatap luka goresan di tangan cewek itu.


" Ayo, Carl bisa menyembuhkan mu. " ucap Justin sembari menarik tangan Lia. Hingga langkah Justin terhenti karena terkejut.


Luka gores di tangan Lia perlahan menghilang, entah mengapa. Lia saja heran mengapa bisa seperti itu.


Carl dan para keluarga Hellen akhirnya membawa Lia dan Wave ke rumah mereka.


•••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••


Malam harinya, Wave yang sudah sedikit membaik dan Lia, kini berkeliling rumah putih itu. Mereka tak menduga jika keluarga Hellen memiliki rumah sebesar ini.


" Kau tak pernah berkeliling di rumah ini kah? " Wave bertanya heran, pasalnya Lia juga menatap takjub isi rumah ini. Seolah-olah pertama kalinya ia melihat isi rumah ini.


" Dulu pernah, setelah itu enggak. Mungkin karena itu, jadi aku takjub lagi.. " Lia cengengesan sembari berjalan pelan hingga berhenti di lorong yang cukup panjang.


Lorong itu cukup terang, terdapat banyak sekali lukisan di lorong itu. Hingga perhatian Lia tertuju ke sebuah lukisan.

__ADS_1


Di dalam lukisan itu, terdapat Carl tengah berdiri bersama vampir Enchantress, yaitu Blaise, Zenith, dan Aaron.


" Kamu bingung ya, Lia? "


Lia dan Wave sontak menoleh, nampak Carl tengah berjalan pelan menghampiri Lia dan Wave.


" Dulu kami berteman, jadi jangan terlalu pusing dengan lukisan itu. " ucap Carl sembari tersenyum menatap lukisan itu. Tangannya yang lembut kini mengelus pelan rambut Lia.


" Kalau begitu, kenapa ini terjadi? Maksudku, ketiga teman mu jadi- "


" Cukup panjang ceritanya, kurasa kamu tak terlalu suka cerita kuno yang panjang ini. " Carl tertawa pelan sembari berjalan menjauhi Lia dan Wave. Menuju ke sebuah ruangan.


" Dorr!! "


Lia sontak berteriak, kemudian memukul bahu Justin ketika melihat cowok berambut ikal itu mengagetkannya.


" Haha, ayo ikut! Lance dan Joshua sedang tanding. " ucap Justin sembari menarik tangan Lia, meninggalkan Wave yang masih penasaran dengan Carl dan memilih menyusul Carl ke ruangan itu.


" Tak kusangka, kamu datang kesini, Wave. "


" Yeah, Lia pergi dengan Justin untuk melihat Joshua dan Lance bertanding. " ucap Wave sembari menatap sekitar.


" Aku pernah mendengar tentang tiga orang yang tadi ada di lukisan bersama mu. Mereka Enchantress kan? Bagaimana kau bisa berteman dengan mereka, dan apa yang terjadi? "


Carl tersenyum pelan sembari meletakkan buku nya, Wave duduk di salah satu kursi seraya menatap Carl yang duduk di hadapannya.


" Aku berteman dengan mereka pada tahun 1870, saat itu kami menjalin hubungan baik satu sama lain. Mereka merupakan vampir terkuat yang aku kenal, hingga kami terpisah satu sama lain karena berbeda sekolah. "


" Kami bertemu lagi pada tahun 1920, saat itu aku sudah bersama istri ku, Clara. Mereka memilih menjauhiku karena saat itu Clara masih seorang manusia. Dan, setelah wabah penyakit merajalela di sana, Clara di rawat di rumah sakit tempat aku bekerja. "


" Yeah aku menggigitnya, mau tidak mau. Dan, saat itu juga aku bertemu dengan kelima anakku yang sekarang. "


" Lalu pada tahun 1950, kami bertemu lagi. Bedanya mereka sudah membentuk Enchantress. Jujur mereka pernah mengajakku untuk menjadi bagian dari Enchantress. Tapi aku menolaknya, dan sampai sekarang kami tak pernah saling berkomunikasi lagi. "


Carl menatap Wave yang nampaknya sedang berusaha mencerna cerita yang Carl ceritakan.


" Dan mereka mengincar kalian, karena kalian berteman dengan Lia? " Wave bergumam pelan, Carl tersenyum sembari berjalan kesana kemari.

__ADS_1


" Yeah, tapi tak apa. Lia, dan kau sudah aku anggap sebagai keluarga ku. Jadi, aku tak akan membiarkan kalian kenapa-napa. "


•••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••


Sementara itu, Lia dan Justin sedang berada di halaman belakang, Joshua dan Lance nampak saling tatap satu sama lain.


" Kau akan kalah, Lance. " Joshua berseru, mempersiapkan untuk berlari sekencang kencangnya.


Lomba lari, itulah yang mereka tandingkan. Joshua dan Lance, mereka yang paling cepat diantara berlima, membuat pertandingan ini menjadi seru.


" Ayo Lance!! Ayo Joshua!! " Seru Lia ketika Joey sudah melempar batu sebagai tanda pertandingan kecil mereka dimulai.


Beberapa menit kemudian, nampak Joshua dan Lance berlari kembali. Kedudukan mereka sejajar, mempercepat lari mereka supaya duluan mencapai garis finish.


" Aku menang!! " Seru Lance ketika Chris bilang bahwa Lance yang menang.


" Haah... Sudah kuduga kau yang akan menang, Lance. " ucap Joshua singkat, Lance hanya terkekeh pelan.


Seorang perempuan tiba-tiba datang menghampiri mereka. Cewek itu berambut coklat panjang sebahu, wajahnya pucat seperti Justin dan yang lain.


" Aku pulang, maaf terlambat.. " ucap cewek itu. Sontak keenam orang itu menoleh, Lia menatap cewek itu. Apakah dia adalah ibu nya Justin dan yang lain?


" Clara, kapan sampai? " ucap Carl yang tiba-tiba muncul di belakang Lia, entah sejak kapan Carl ada di sana.


" Lia, ini istri ku Clara Hellen. Clara, ini temannya Justin, Verolia Charlotte. " Carl memperkenalkan singkat, Clara dan Lia saling berpelukan, membuat Lia sedikit terkejut.


" You're so beautiful, Lia... " ucap Clara sembari terus memeluk Lia.


" Thank you, ma'am.. " gumam Lia. Awalnya ia menduga Carl dan istrinya tak akan menerimanya, apalagi istrinya. Tak dia sangka, ia di sambut baik disini.


" Panggil aja Clara, tak usah terlalu sopan begitu... " ucap Clara sembari bergantian memeluk Justin dan yang lain.


•••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••


Malam harinya, Lia sudah tertidur lelap. Sedangkan Justin, Joshua dan yang lain nampak berada di perpustakaan, ruangan Carl.


" Maaf mengganggu waktu malam kalian ya.. " ucap Carl sembari menatap jam yang menunjukkan pukul 12 malam.

__ADS_1


" Ada apa, Carl? Kurasa panggilan mu kali ini penting. "


" Aku khawatir dengan Lia. Aku juga khawatir 𝘊𝘶𝘳𝘴𝘦𝘥 𝘔𝘰𝘰𝘯 akan terjadi lagi... "


__ADS_2