Cursed Moon

Cursed Moon
Episode 5 : Kejadian


__ADS_3

Dua jam berlalu, kini semua isi kamar Lia kosong. Semuanya sudah masuk ke dalam kotak kardus.


" Haah... Akhirnya selesai... Tapi, gimana bawa nya? Apa aku sewa pickup aja ya? " Lia mengusap keringat nya kemudian mengambil ponselnya, hendak menyewa pickup. Tapi Justin berseru.


" Gimana kalau gini, aku bakal anter kamu duluan sampai ke rumah. Nanti sisa nya bawa kardus nya. " Justin berseru dan dibalas dengan anggukan keempat temannya kecuali Lia.


" Nanti Lia gak bantu bawa kardus nya... Masa kalian aja yang bawa... " Lia menatap kardus kardus di sampingnya. Kalau ia bawa, setidaknya semuanya bawa satu kardus. Tapi kalau tidak, kardus kardus itu masa di bawa oleh kawan-kawannya itu?


Terlebih kardus nya lumayan banyak, tak mungkin mereka bolak-balik karena bisa jadi mereka nanti bakal dikira oleh warga bahwa mereka adalah maling...


" Gak apa Lia, toh kardusnya cuma lima. Kita bisa bawa kok. " Joey mengangkat satu kotak sembari meyakinkan Lia.


" Atau enggak, gini deh. Lia, kamu bawa kardus yang ini. Sisanya sama yang lain. Aku bakal temenin kamu bawa kardus nya. " Justin memberikan sebuah kotak yang ukurannya lebih besar dari yang lain walau isinya sedikit.


Lia mengangguk setuju, yah setidaknya ia senang di beri kerjaan begini.


" Oke, aku bakal antar Lia dulu. Kalian rekatin lagi pakai lakban sana. Nanti barangnya jatuh. Aku duluan ya... " Justin membantu Lia mengangkat kardusnya dan jalan duluan ke rumah mereka, meninggalkan Lance, Joey, Chris dan Joshua di rumah Lia.


" Apa Kak Joshua, Kak Lance, Kak Joey dan Kak Chris gak apa-apa? " Lia bergumam pelan sembari menyeimbangkan tubuhnya yang hampir tumbang karena membawa kardus yang sedikit berat itu.


" Gak apa, santai. Kalau bawa barang, mereka bisa diandalkan. "


Hening sejenak hingga tiba-tiba hujan turun perlahan membasahi mereka berdua. Tiba-tiba Lia terpeleset, seketika Justin menjatuhkan kardus di tangannya dan menangkap Lia.


Kini Lia sudah di tangkap oleh Justin. Lia menatap terpana cowok berambut ikal itu, wajah cowok di hadapannya kini terguyur air hujan membuat penampilan cowok itu terlihat berbeda.


Mata coklat Justin kini menatap Lia dalam-dalam. Rasanya seolah-olah mereka akan tetap seperti itu, kalau Lia tidak bersin tiba-tiba.


Tanpa sepatah kata, Justin langsung memakaikan jaket miliknya menutupi tubuh cewek itu.


" Eh? Aku gak apa-apa kak... Nanti kakak sakit gimana? Aku gak apa kok... " Lia hendak melepas dan mengembalikan jaket milik Justin, tapi tangannya di tahan oleh tangan Justin.


" Nanti malah kamu yang sakit. Gak apa, aku bisa menjaga diriku. " Justin memakaikan lagi jaket nya supaya melekat di tubuh Lia. Hati Lia berteriak tak karuan. Karena ia tak pernah di perlakukan begini oleh cowok manapun.

__ADS_1


Mungkin ia terlihat biasa saja, tapi hati dan pikirannya sedang berteriak heboh. Terlebih melihat Justin kehujanan bersama nya, dan memperlakukan dirinya seperti ini membuat Lia menatap Justin.


Ia khawatir akan jatuh cinta pada cowok yang kini sudah mengangkat kardusnya sembari memegang erat tangannya. Ia tak ingin jatuh cinta dan mengungkapkan perasaan nya pada Justin tapi persahabatan nya dengan Joshua, Joey, Chris, dan Lance hancur.


Bagi seseorang bernama Verolia, persahabatan lebih penting di bandingkan perasaan.


" Lia, kamu gak apa? Jangan bengong hei. " Justin mengguncangkan tubuh Lia pelan. Lia pun tersadar dari lamunan nya.


" Siapa yang bengong? " Lia beralasan, sedangkan kepalanya langsung dipukul pelan oleh Justin.


" Kak!! Sakit tau... "


" Siapa suruh banyak alasan.... "


•••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••


" I'll Never Stop? " Beberapa menit setelah Lia dan Justin sampai di rumah dan duduk di ruang tengah, Lia memegang sebuah kertas yang bertuliskan I'll Never Stop. Sepertinya kertas ini berisi sebuah lirik lagu?


" Kakak suka bikin lagu ya? "


" Lumayan. Kami semua suka buat lagu... Karena bagi kami, lagu itu perantara untuk menyampaikan apa yang di rasa. Gitu sih kira-kira... "


" Oh ya, mereka bentar lagi sampai. Lia, aku boleh minta tolong bantuin aku siapin coklat panas? " Justin memasukkan lagi ponselnya ke dalam saku celana nya, kemudian merangkul Lia yang mengangguk-angguk setuju.


Semuanya kini sudah berkumpul di ruang tengah sembari meminum coklat panas, suasana hangat di rumah itu benar-benar terasa nyaman. Hingga Justin menjatuhkan gelasnya dan menutup wajahnya. Seperti nya Justin berusaha menutupi wajahnya dari Lia.


Semuanya khawatir, termasuk Lia.


" Kak Justin!! Kak Justin gak apa-apa?! " Lia berlutut sembari mengecek apa sahabatnya itu ada luka atau semacamnya. Justin masih menutupi wajahnya dari Lia. Nafas Justin menderu, tangannya kini menggenggam erat karpet di bawahnya.


" Ouch!! Kak... Kakak gak apa-apa kan?! " Lia masih berusaha mendekati Justin. Tapi seketika jari nya terluka saat hendak mendekati Justin.


Darah menetes dari jari Lia. Lia berusaha menutupi darah itu, fokusnya masih terpaku pada Justin. Sementara Joshua dan juga Lance menarik Justin menjauhi Lia.

__ADS_1


" Lepaskan aku!! " Justin berusaha memberontak. Sementara dua orang yang menarik nya supaya menjauhi Lia malah membanting Justin.


" Sadar, Justin!! " Joshua mencengkram kerah baju Justin. Lance berusaha menahan gerakan Justin. Dan yang di tahan semakin memberontak.


" Kak Joey, Kak Chris... Kak Justin kenapa? " Lia menatap terkejut Joey dan Chris. Yang di tatap hanya diam, bingung apa yang harus di jelaskan ke cewek satu ini.


Cukup lama Joshua dan Lance berusaha menyadarkan Justin. Tapi akhirnya Justin tersadar dalam keadaan masih di tahan oleh Lance dan Joshua.


" Lia!! " Justin yang baru saja sadar itu bangun dan menghampiri Lia yang sedang menutup luka nya menggunakan perban kecil.


Tanpa aba-aba Justin memeluk Lia erat, bukan hanya Justin. Justin, Joey, Lance, Joshua dan Chris memeluk Lia.


" Maafkan aku... Maaf... Maafin aku, Lia... " Justin masih memeluk erat Lia yang heran kenapa cowok di hadapannya ini meminta maaf padanya.


" Aku maafin kak... "


•••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••


Lia kini sudah tertidur di kamar mereka, tidur nya lelap sekali. Joshua pun menutup pintu kamar itu dengan rapat sebelum ia kembali ke ruang tengah.


" Ada apa Justin? Tak seperti biasa kamu seperti ini. " ucap Chris yang memilih menyahut lebih dulu. Justin hanya menatap pintu kamar mereka dengan wajah khawatir.


" Aku... Kelepasan... " Justin menatap pintu kamar itu dengan sendu, kemudian berucap lagi.


" Aku... Tidak melukai dia kan? "


" Yeah, kecuali gelas yang kau pecahkan itu. Membuat jari nya berdarah, untungnya dia bisa mengatasi hal itu sendiri. " Joey menjawab. Mata coklat Justin menatap sendu lantai rumah mereka yang berwarna putih itu.


" Syukurlah... Aku, benar-benar tak bisa mengendalikan diriku... "


" Mumpung ia sedang tidur, bagaimana kalau kita lakukan? " Lance menyahut, dan di jawab dengan persetujuan Joshua, Joey dan Chris.


" Ya... Kurasa hal itu lebih baik untuk saat ini... "

__ADS_1


__ADS_2