
SMA Frosty Stone, hari ini mengadakan acara 𝘤𝘢𝘮𝘱 di hutan secara serentak. Lia tampak membawa tas yang sangat sangat berat. Lia yang masih di suruh berbaris rapi bersama teman sekelasnya itu meletakkan tas nya yang berat di samping nya. Rasanya bahu Lia semakin pegal dengan membawa tas itu.
" Setiap sekolah biasa nya bawa tas yang isinya cuma buku pelajaran, buku tulis, kotak pensil, botol minum dan bekal aja rasanya berat. Apalagi sekarang ya... " batin Lia yang sekarang sampai membawa mie instan, korek dan yang lain sebagainya untuk camping.
Setelah duduk di bis, Lia langsung merebahkan tubuhnya di kursi sembari melepas tas nya. Hah, berat sekali. Untung saja ia dapat tempat duduk, jika tidak apalagi sudah di rebut oleh cowok-cowok di kelasnya bisa jadi badannya lebih terasa pegal.
Perjalanan berlalu selama 3 jam hingga bis berhenti di hutan Frosty.
" Oh c'mon!! Kenapa harus mendaki terlebih dulu!! " Batin Lia yang dengan sedikit terpaksa menggendong tas beratnya itu ketika melihat guru-guru dan teman-temannya mulai berjalan ke atas.
Tenda didirikan, beberapa murid mencari kayu bakar, dan sisanya memasak makanan menggunakan kayu bakar yang beberapa murid bawa. Lia? Lia berada di pinggir sungai dekat tenda nya, dia hanya menatap kosong air sungai yang mengalir itu.
" Oi! Jangan bengong dong! " Wave, sahabatnya di sekolah dan juga ketua OSIS itu menepuk bahu Lia yang terlalu lebar di banding dengan bahu cewek lainnya.
" Siapa yang bengong? Enggak tuh. " Lia menyiram wajah Wave dengan air sungai secara tiba-tiba. Dan di balas dengan Wave. Mungkin kegiatan mereka berdua tidak akan berhenti jika guru tidak memanggil Wave untuk mengurus anak anak kelas nya yang bandel.
•••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••
Malam berlalu, api unggun di nyalakan dan seluruh murid mengelilingi api unggun itu kecuali Lia yang memilih untuk berjalan menyusuri hutan.
Lia memang pemberontak. Wave sudah melarang Lia untuk masuk ke hutan, tapi ia malah semakin masuk ke hutan hingga ia menemukan sebuah rumah bernuansa putih di tengah hutan.
" Rumah siapa ini? Orang mana yang mau tinggal di hutan begini? " Walaupun Lia bergumam seperti itu, ia berjalan mendekati rumah itu. Pintu rumah itu tak terkunci, Lia otomatis mendorong pintu kayu berwarna putih itu dan berjalan masuk ke dalam.
__ADS_1
Rumah itu benar-benar gelap. Hanya cahaya bulan yang masuk dari pintu dan menerangi sedikit bagian dalam rumah itu.
Tampak di ruang tengah itu sebuah piano berwarna hitam berada di antara dua tangga yang mengantarkan ke lantai atas. Beberapa sofa yang lembut dan empuk disusun di ruang tengah dengan menghadap ke arah televisi.
Lia menatap sekeliling, hingga suara langkah kaki terdengar menggelegar di lantai atas. Terlihat lima orang berdiri di lantai atas, tubuh mereka terkena sinar malam bulan tetapi tidak dengan wajah mereka.
Lia menatap kelima orang di lantai atas itu. Seketika ia merinding sekaligus bahagia. Bahagia? Karena ia merasa kalau kelima orang itu adalah sahabat-sahabatnya dulu. Merinding? Karena mata mereka berwarna merah terang dan kuku mereka berubah menjadi semakin tajam.
Lia terpaku di tempatnya. Mungkin jika bukan karena suara seseorang yang menyuruh ia lari, maka ia tak akan lari.
" Cepat lari!! " Terdengar bisikan seseorang di sebelah kanan Lia. Tanpa melihat siapa yang membisikkan kata itu, ataupun melihat kelima orang di depannya, ia otomatis lari keluar dari rumah itu.
" Apa itu? Gak!! Jangan pikirin dulu sekarang... Pokoknya aku harus sampai ke tenda!! "
Bruk!!
" Ouch!! " Wave terduduk sembari memegang tangannya yang terasa sakit setelah di tabrak cewek berambut panjang di hadapannya.
" Eh Wave?! Maaf aku gak sengaja... Sakit ya? Maaf aku gak liat!! " Lia menarik Wave supaya kembali berdiri sembari membersihkan sedikit debu di pakaiannya.
" Gak apa. Udah sana tidur, besok aja jalan-jalan lagi. Kayaknya kamu menikmati banget ya suasana hutannya sampai lupa sudah jam berapa ini. " Wave menunjuk jam tangan berwarna hitam dengan garis biru di tangannya. Jam menunjukkan pukul 20.30 tak terasa sudah malam.
•••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••
__ADS_1
Keesokan harinya, semuanya berjalan-jalan di hutan bersama. Lagi-lagi tanpa Lia yang ingin jalan-jalan di hutan sendiri. Dan lagi lagi ia masuk ke dalam rumah yang kemarin malam ia masuki.
Ruangan nya kini terang dengan cahaya matahari yang masuk dari tiap jendela dan juga pintu depan. Lia berjalan kearah piano dan mencoba memainkannya sembari menyanyikan lagu yang pernah dan sering ia dengar dari kelima temannya.
" It's tearin' up my heart when I'm with you,
But when we are apart, I feel it too " Lia tampak berusaha menyamakan lagu nya dengan nada yang ia mainkan di piano.
" And no matter what I do, I feel the pain...
With or without you... " Lia pun menghentikan nyanyian dan jari nya yang masih menekan tuts piano.
Bukan karena tak hafal dengan lagunya, tak mungkin cewek itu tak hafal dengan lagunya kalau selama dua minggu kelima temannya menyanyikan lagu itu terus menerus. Tapi karena suara langkah kaki dari lantai atas yang membuatnya berhenti melakukan aktivitas nya.
Lia menatap kearah tangga, dan terlihat lima cowok menuruni anak tangga. Lima cowok yang telah mewarnai hidupnya walau hanya dua minggu.
Itu mereka. Justin, Joshua, Lance, Joey dan Chris.
" Kalian... " Lia menatap tak percaya kelima cowok itu kini berdiri di atas tangga yang tak jauh dari tangga di depannya.
" Kamu... " Bukan hanya Lia, kelima cowok itu lebih terkejut melihat cewek di depan mereka itu sedang duduk di kursi piano milik Lance.
Cewek yang dulu mereka berlima jaga selama dua minggu, cewek yang dulu masih sangat kecil dan pendek kini tumbuh menjadi cewek tinggi dengan rambut panjang terurai. Terlebih mereka tak menduga cewek itu kembali lagi kesini..
__ADS_1
" Verolia Charlotte? "