
β’ πΎπͺπ§π¨ππ ππ€π€π£ β’
β’ πππ§π₯ππ¨ππππ£ πππππ‘
" Ah, aku ada ide! " Justin otomatis berdiri dengan menatap Joshua. Joshua yang heran hanya bisa menatap bingung temannya itu.
" Ide apa? "
" Berinteraksi! "
β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’
" Lia gambar apa tuh? " Justin melihat gambar buatan Lia yang sedikit berantakan. Well, beruntung waktu itu ayah mereka mengatakan untuk memaklumi sesuatu yang anak kecil perbuat. Jika tidak, mungkin ia tidak akan membiarkan buku bekas miliknya di corat-coret.
" Gambar Lia, Kak Justin sama Kak Joshua. " Lia nampak fokus menggambar. Tanpa di duga senyum merekah di bibir Justin dan Joshua, ia tersenyum melihat kelakuan anak kecil di samping nya ini.
Tak lama, Lance, Joey, dan Chris datang sembari membawa kentang goreng dan juga beberapa buah dan sayuran.
" Wow!! Lia mau!! " Lia berlari kearah Lance yang sedang meletakkan makanan di meja makan.
" Haha sabar, di taruh dulu... " Lance masih fokus meletakkan makanan makanan yang ia bawa. Sedangkan Joey dan Chris berdiri di samping Justin.
" Kalian dapat bahan-bahan itu dari mana? " Justin bertanya pelan, perhatiannya tak lepas dari Lia. Kelihatannya ia benar-benar menjaga ketat Lia.
" Yeah, aku masih ingat kalau Carl pernah menyimpan beberapa makanan di ruang bawah tanah. Buah dan sayurnya juga ada di ruang bawah tanah. " ucap Joey seraya meletakkan makanan yang ia bawa.
" Kak Justin, Kak Joshua, Kak Joey, Kak Chris, Kak Lance, ayo makan!! " Lia berseru, Lance hanya tersenyum dan duduk di kursinya.
β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’
Kini Lia, Justin, Joshua, Joey, Chris dan Lance berada di halaman belakang rumah yang sangat luas. Terlihat Lia kini sedang melemparkan batu ke kolam kecil yang ada di dekatnya.
" Lance, kamu sudah tau siapa orang tua nya dia? " Justin ikutan melemparkan batu, tapi bedanya ia melempar batu kearah hutan.
" Tau, ibunya bernama Abigail Charlotte dan ayahnya Frank Charleston. "
" Ingatkan aku jika sudah dua minggu berlalu, ya. " Justin hanya membisikkan kata itu sebelum ia berjalan ke arah Lia.
__ADS_1
" Kak!! Lia mau keliling tempat ini! Boleh ya? " Lia menatap Justin penuh harap. Hanya Justin yang bisa dan mau di mintai tolong begini.
Justin menatap sekilas kawan-kawannya. Setelah keempat kawannya mengangguk, Justin menatap Lia lagi.
" Boleh, tapi kalo lagi jalan-jalan begini kamu harus tutup mata ya! Takutnya kamu bakal pusing nanti. "
" Hmm.... Oke Kak!! Yeay jalan-jalan!! "
Justin pun menggendong Lia yang kini merangkul erat leher Justin. Tangan Justin berusaha menahan Lia supaya tidak terjatuh, sedangkan Joey dan Chris berada di belakang Justin. Khawatir Justin tidak tau kalau-kalau Lia nanti terjatuh.
" Tutup mata ya. "
" Oke kak!! " Lia memejamkan matanya. Sesaat setelah Lia memejamkan matanya, seketika rambutnya terasa tertiup angin ke belakang. Rasanya, seolah-olah ia mengendarai sesuatu yang sangat cepat. Beberapa saat kemudian, rambut Verolia yang tertiup angin itu kini berhenti tertiup.
" Sekarang kamu boleh buka mata kamu. " Suara lembut milik Justin terdengar. Lia membuka mata, dan terlihat tempat pertama kali ia melihat Justin dan yang lain sedang bernyanyi disini.
Cahaya menyinari tempat itu, Justin menurunkan Lia sembari merapikan rambut Lia.
" And I will take you in my arms,
And hold you right where you belong,
This I promise you,
This I promise you... "
Mereka berlima mulai bernyanyi pelan. Lia menatap takjub kelima orang yang ia baru saja ia kenal itu.
" Just close your eyes, each loving day...
And know this feeling won't go away... "
" 'Til the day my life is through...
This I promise you... "
Mereka berlima mengakhiri nyanyian mereka kemudian menatap Lia yang masih terpaku menatap mereka berlima.
__ADS_1
" Keren!! " Lia bertepuk tangan, membuat kelima cowok itu terkejut. Ini pertama kalinya ada yang bertepuk tangan setelah mereka bersenandung selain ayah dan ibu mereka.
" Benarkah? " Kompak mereka berlima bertanya dan dijawab dengan anggukan antusias dari Lia.
" Sepertinya, sampai hari terakhir, kita tak akan bisa dan tak akan mau lepas darinya... " Hanya itu yang terlintas di pikiran mereka berlima di saat ini.
β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’
Dua minggu berlalu, kini Justin, Joshua, Lance, Joey dan Chris sudah berada di depan sebuah rumah bersama dengan Verolia.
Justin mengetuk pintu, terlihat seorang wanita membukakan pintu nya dan terkejut melihat Lia.
" Lia!!! " Wanita itu langsung memeluk Lia, pria yang baru saja berada di samping wanita itu pun ikut memeluk Lia.
" Ayah!! Ibu!! " Lia berteriak kegirangan sembari memeluk kedua orang tua nya itu. Setelah kedua orang tua Lia memeluk anak nya itu, ibu Lia menatap Justin dan yang lain.
" Terima kasih... Terima kasih... " Terlihat air mata turun membasahi pipi ibu nya Lia. Ayah Lia pun berterima kasih juga pada Justin dan yang lain.
" Ah, tidak apa. Kami senang bisa membantu. Kami juga senang bisa kenal dengan Lia. " Justin tersenyum setelah Lia memegang tangannya.
" Kalau kayak gini, Lia gak bisa ketemu Kak Justin dan yang lain lagi dong? " Perlahan air mata turun membasahi pipi π€π©πΆπ£π£πΊ Lia. Orang tua nya bingung, apa yang harus mereka lakukan.
Lia menangis sembari memegang erat tangan Justin dan Joshua. Kedekatan mereka berlima dengan Lia selama dua minggu ini benar-benar sudah jauh.
Kini bukan hanya Lia yang merasa tak mau ditinggalkan oleh kelima cowok yang sudah ia anggap kakaknya. Tapi kelima cowok itu juga merasa tak ingin terpisah oleh cewek itu.
Justin dan yang lain hanya bisa menatap Lia yang masih menangis, hingga Justin berlutut dan menghapus air mata Lia dan mengeluarkan sesuatu dari kantung celana nya.
" Lia, jangan nangis lagi. Mungkin kita bakal gak ketemu lagi, tapi tenang. Aku yakin suatu hari nanti kita bakal ketemu lagi. " Justin menghapus air mata yang membasahi pipi sahabatnya kecilnya itu.
" Tapi Lia takut gak ketemu sama Kak Justin, Kak Joshua, Kak Joey, Kak Lance, dan Kak Chris... Kalau ketemu, Lia takut Kak Justin dan yang lain gak inget Lia, atau Lia yang gak inget kakak... " Lia semakin nangis menjadi-jadi. Akhirnya kelima cowok itu berlutut dan memeluk Lia.
" Makasih ya udah mau main bareng sama kita. Oh iya, ini. Di pakai ya, jadi kalau suatu saat kita ketemu tapi kamu lupa sama kami, liat aja dari gelang nya. Oke? " Kelima cowok itu serentak berkata dan memeluk Lia.
Justin pun memberikan sebuah gelang dan memakaikannya ke tangan Lia. Setelah itu, ia dan kawan-kawannya menunjukkan gelang yang mereka berlima pakai.
" Iya, kalau kamu lupa sama kami tinggal liat aja gelang nya. Jadi kita berenam pakai gelang ini. Jangan nangis lagi ya... " Joshua mengelus rambut Lia kemudian menunjukkan gelang yang ia pakai juga.
__ADS_1
Setelah kelima cowok itu pamit, mereka pun pergi meninggalkan Verolia yang kini hanya bisa menatap sendu kearah hutan di dekat rumahnya.
" Kami harap, kita akan bertemu lagi Verolia. " Batin kelima cowok itu yang kini sudah menghilang ke dalam hutan.