
" Tentu saja.. Aku tak akan memberi tau yang lain. " Lia menjawab antusias. Berusaha membuat dirinya di percaya oleh cowok berambut ikal itu.
" Yeah that's true. "
Mata Lia terbelalak. Apa yang baru saja Justin katakan?!
" Eh?! Aku... Gak salah dengar? " Lia menatap tak percaya.
Semuanya menarik nafas panjang kemudian menjawab.
" Yeah, semua perspektif yang kamu bilang bener. Kita semua... Vampir. Kami bukan manusia. " Lance menjawab sembari menatap kearah jendela.
" Aku tak menyangka... Perspektif aku, beneran?! Really?! " Lia masih tak percaya, akhirnya Justin memegang tangan Lia dan mengarahkan nya ke pipi nya yang pucat itu.
" Dingin, kan? Vampir selain pucat, badannya dingin semua... Selain itu... " Justin kini memegang sebelah tangan Lia dan mengarahkan nya ke dada Justin.
" Tak ada, detak jantung kan? Jantung kami udah mati dari lama. " Justin masih memegang erat kedua tangan Lia yang masih menempel pada dirinya.
Lia kini merasakan. Benar kata Justin, tak ada detak jantung sekecil apapun detakan nya. Wajah Justin yang pucat itu teraba dingin. Ia tak menduga perspektif nya benar.
" Congrats ya!! Tebakanmu benar!! " Joshua, Chris dan Joey bertepuk tangan. Mereka benar-benar konyol, apa-apaan. Tak ada yang perlu di banggakan bagi Lia. Tapi ia senang, setidaknya ia tak menyinggung mereka.
Tiba-tiba Lance langsung berlari dan mendorong Lia hingga Lia terjatuh.
" Lance! Apa-apaan kau... " Justin hendak marah pada Lance yang mendorong Lia hingga jatuh ke lantai. Tiba-tiba sebuah busur panah melesat ke dalam rumah dan tertancap di dinding.
" Sial, cepat masuk!! " Justin menggendong Lia ala bridal style dan langsung berlari bersama teman-temannya ke sebuah ruangan tak terlihat di lantai paling bawah.
Justin mengunci pintu ruangan itu, terdengar derap langkah kaki menuju ruangan tempat mereka sembunyi. Seseorang dengan jubah coklat tua berjalan sembari mengeluarkan sebuah pisau.
" Di mana kalian, hah?! Apa-apaan kalian menjadikan seorang perempuan sebagai tahanan kalian?! Bahkan jadi perisai kalian.. " Oceh orang itu, dan yap benar. Bahu Lia terluka hingga meneteskan sedikit darah akibat busur panah tadi.
Lia yang sudah tau kebenaran tentang kawan-kawannya seketika langsung menutupi luka nya dan melarang mereka untuk melihat luka nya. Khawatir mereka tiba-tiba terangsang dan menggigitnya.
Tanpa Lia duga, Justin kini berdiri di hadapan Lia. Tatapan matanya tajam, lebih tajam di bandingkan biasanya.
__ADS_1
" Eh? Kak Justin? "
" Sebentar ya, aku takutnya kamu bakal kena pengaruh nya. " Justin tersenyum manis, kemudian menoleh kearah Joshua, Lance, Joey dan Chris. Tatapan matanya yang tadi hangat kini menatap tajam kawan-kawannya.
" Let's start the party guys. " Justin tersenyum sinis. Jujur, kali ini Lia merinding bukan main. Ini pertama kalinya ia melihat Justin tersenyum sinis. Dan juga, aura sekeliling Justin seketika berubah.
Perlahan lantai ubin itu dijalari oleh es yang menuju keluar. Joshua menatap tajam sembari tersenyum sinis dan mengendalikan es yang kini menjalari ubin di bawah. Hingga terdengar teriakan seseorang yang barusan di depan.
" Akhhh!! " Jerit orang itu begitu es tersebut menusuk perutnya dalam-dalam.
" Lance. " Gumam Justin, sedangkan dia kini langsung maju dengan membawa sebilah pisau.
Terdengar lagi jeritan orang itu, suara sayatan terdengar. Beberapa menit kemudian Lance kembali.
Setelah itu, air membungkus orang misterius itu. Orang itu kesulitan bernafas? Jelas. Bahkan air itu kini diberi aliran listrik dan membuat nya tersiksa.
Lia yang hanya menatap kejadian itu makin merinding. Apakah mereka berlima yang di depan nya adalah kawan-kawannya sewaktu di rumah? Mereka seolah-olah orang yang berbeda.
" Let's end the game. " Justin bergumam pelan sebelum berjalan ke depan orang misterius itu yang kini sudah lemah tak berdaya. Justin menatap mata orang itu, dan tiba-tiba api datang entah dari mana dan membakar hidup-hidup orang itu hingga hanya menjadi abu.
Cipratan darah menempel di wajah mereka. Warna mata mereka berwarna merah terang, aura mereka bahkan berbeda.
•••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••
" Kamu gak apa-apa, Lia? " Justin mengusap pelan bahu Lia yang terluka menggunakan lap dengan air dingin.
" Akh... Perih kak... " Lia meringis, Justin tersenyum pelan sembari memberitahu Lia bahwa sebentar lagi akan berhenti sembari tetap mengusap luka Lia.
Setelah selesai, Lia masih terdiam. Justin, Joshua, Lance, Joey, dan Chris yang peka dengan Lia langsung mengusap rambut Lia.
" Kami minta maaf, mungkin hal tadi membuatmu sedikit shock. Kami gak bermaksud membuat mu shock apalagi pamer. Kalau kami tak melakukan itu, mungkin kita yang akan kenapa-napa. " Mereka berlima mengusap rambut Lia, Lia hanya mengangguk. Masih terlihat shock.
" Aku gak apa kak... Cuma... " Lia menatap lesu, kelihatannya kawan-kawannya itu menunggu lanjutan kata-kata Lia.
" ITU KEREN BANGET!!! " Lia berseru dengan semangat. Membuat kelima cowok itu sedikit heran. Keren? Ini pertama kali nya seorang manusia bilang kekuatan mereka keren.
__ADS_1
Bahkan mereka sudah membunuh orang lain di depan manusia itu, darah bahkan menempel di wajah mereka dan manusia itu berkata bahwa itu keren?
Kelima cowok itu jujur, tak percaya ada yang menganggap hal itu keren. Bagi mereka, walaupun hanya seorang manusia yang bilang itu keren, rasanya benar-benar wow.
" Really? Are you not afraid of us? " Justin dan Joshua berbicara bersamaan. Membuat Lia menjawab cepat sembari mengangguk.
" Aku yakin kok kalian gak bakal begitu padaku, hehe... " Lia tersenyum, nampak gigi putih berderet nya. Angin berhembus pelan, membuat rambut Lia yang panjang terurai itu beterbangan.
" Hehe... Terima kasih ya, sudah mau menerima kami. " Justin, Joshua, Lance, Joey dan Chris berseru secara bersamaan.
•••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••
Malam harinya, Lia tampak mencari-cari Justin, Joshua dan yang lain. Hingga Justin tiba-tiba muncul mengagetkan Lia.
" Dorr!! " Justin menepuk kencang bahu Lia, Lia hampir terjungkal. Beruntung Justin menangkap Lia dengan cekatan.
" Justin!!! " Lia memukul pelan tubuh Justin, sedangkan yang dipukul malah tertawa-tawa.
" Hahaha kaget ya? Sorry, gak sengaja. " Justin masih tertawa sembari menggendong Lia.
" Eh?! Kak, turunin aku!! " Lia berontak, tapi Justin tetap berjalan hingga ke rooftop rumah mereka.
Setelah Justin menurunkan Lia dan berdiri di dekat teman-temannya yang lain, terlihat bintang di langit yang kelap kelip. Lia menatap takjub, sesekali menunjuk nunjuk bintang di langit.
Lia yang dari dulu tak pernah diajak keluar rumah malam-malam, ia tak pernah melihat bintang yang banyak dan menghiasi langit malam. Mungkin karena tak pernah diajak keluar oleh orang tua nya juga, jadi setiap camp atau acara sekolah yang bakal sampai malam, Lia tak pernah melihat langit.
" Cantik... " Lia bergumam pelan, Justin dan yang lain hanya menatap cewek yang kini seperti anak kecil di depan mereka itu.
" Walaupun bintang cantik, tapi bagiku lebih cantik ini deh. " Joshua dan Justin bersamaan mengatakan hal yang sama dan menunjuk Lia.
Seketika Lia seolah pingsan. Ia tak sadar, wajahnya memerah membuatnya di tertawakan oleh Justin dan yang lain.
" Ih kak!!! " Lia menggerutu sebal, walaupun begitu dalam hati nya Lia berteriak kencang. Karena tak ada yang pernah mengatakan hal itu padanya.
Lia tersenyum, sepertinya ia mulai merasa kalau ia menyukai Justin. Tapi, mungkin terlalu cepat untuk mengatakan nya pada Justin.
__ADS_1