
Sinar mentari sudah menyinari wajah Lia yang masih berbaring di ranjang.
Tok... Tok... Tok...
Suara ketukan pintu bahkan tidak bisa membangunkan Lia yang masih terlelap. Seseorang yang mengetuk itu akhirnya langsung membuka pintu dan terkejut melihat cewek itu masih terbaring di ranjang.
" Bangun Lia, udah pagi... " Suara lembut milik Lance menyahut, Lia hanya berguling sembari berbicara. Nada suaranya terdengar masih lelah.
" Masih ngantuk kak... " Lia menjawab lelah dan menutupi wajahnya dengan bantal. Lance langsung menarik bantal yang menutupi wajah Lia sembari berusaha membujuk Lia supaya bangun.
" Ayo bangun, aku sudah menyiapkan sarapan. Setelah sarapan kita jalan-jalan deh, mau gak? " Lance mengguncangkan tubuh Lia, Lia langsung bangun dengan semangat.
" Jalan?! Mau!! Ayo kak!! " Lia langsung memegang tangan Lance dan menarik Lance keluar kamar.
" Dasar, giliran di bilang bakal jalan-jalan langsung bangun... " Batin Lance yang membiarkan Lia menarik-narik tubuhnya.
Setelah selesai makan, Lia kini menatap dengan berharap ke Lance, Justin, Joshua, Joey dan Chris.
" Terkadang dia seperti anak kecil, terkadang juga ia terlihat seperti orang dewasa. " Batin mereka secara bersamaan yang antara gemas, imut, menyebalkan yang jadi satu di cewek di hadapan mereka.
" Ya oke, mau sekarang? Tapi takutnya kamu kaget. " Joshua berbicara, sontak keempat kawannya kaget. Jangan bilang, mau ajak jalan-jalan Lia pakai kekuatan itu?
" Gak apa-apa!! Semua yang kalian punya keren kok!! " Lia tersenyum senang, rambutnya yang setia tergerai sampai menutupi pundak nya itu berhembus menutupi sebagian wajahnya membuatnya gagal untuk terlihat cantik.
" Ih anginnya gak kerja sama!! " Gerutu Lia yang membuat kelima teman cowoknya itu tertawa terbahak-bahak.
" Ayo ke halaman belakang. Kita mau tunjukin sesuatu. " Justin dan Joshua merangkul Lia. Sedangkan Joey, Lance dan Chris berjalan tegap di depan mereka bertiga.
" Berasa kayak tuan putri ih!! " Lia menggerutu, sedangkan kelima teman cowoknya lagi-lagi tertawa sembari merangkul Lia lebih erat.
" Kamu kan sekarang tuan putri disini... "
Kamu kan sekarang tuan putri disini, hanya kata kata sesimple itu, hanya kata-kata biasa seperti itu, tapi bisa membuat jantung nya dag-dig-dug. Hanya kata-kata itu, yang bisa membuat Lia tersenyum setiap hari.
Kata-kata itu, tak pernah terucap di mulut keluarga nya. Lia senyum-senyum sendiri selama jalan ke halaman belakang, membuat Justin dan yang lain ikut tersenyum. Entah mengapa, senyuman Lia seperti mentransfer senyuman nya ke orang-orang di sekitarnya.
" Oke sudah sampai!! Selamat datang di halaman belakang rumah kami!! " Chris berseru, reaksi pertama Lia adalah... Terkejut.
__ADS_1
Halaman belakang nya benar-benar luas, pohon di mana-mana, ada kolam kecil di pinggir dengan beberapa pohon berdiri di dekat kolam itu.
" Ini... Halaman belakang? "
" Heem, menurutmu bagus tidak? "
" Bagus banget!! Oh ya omong-omong apa yang mau kalian tunjukin? Katanya sebelum jalan-jalan ada yang mau ditunjukin? "
" Beneran? Takutnya kamu kaget. "
" Iya! Aku yakin gak bakal kaget!! "
" Oke. " Kata singkat itu keluar dari mulut mereka berlima, kemudian mereka berlima hendak membuka pakaian yang membungkus tubuh mereka.
" Kalian!!! Kenapa buka baju?! " Lia menutup mata nya sembari berteriak-teriak. Justin dan yang lain menatap dengan senyuman jail.
" Kan ini yang mau kita tunjukin. Liat nih... " Mereka berlima berdiri di tempat yang sangat terkena sinar matahari. Lia hampir panik, kalau mereka terbakar bagaimana?!
Tapi Lia terkejut sekaligus senang. Setidaknya teman nya tidak terbakar, sinar matahari yang menyinari tubuh mereka berlima membuat kulit mereka berlima kelap kelip seperti terkena glitter, ah bukan glitter. Lebih tepatnya seperti permata yang terkena cahaya matahari.
Justin menoleh kearah Lia sembari tersenyum.
Lia mematung sesaat, tetapi kembali tersadar saat Justin menggendong Lia dan meletakkan Lia di punggung nya.
" Eh?! "
" Gak apa, kita jalan kayak dulu. Ingat, dulu kamu selalu kita ajak jalan begini. Sekarang lagi, tapi.. Matamu boleh terbuka. " Justin berseru sembari mengalungkan tangan Lia di lehernya.
" Eh nanti Kak Justin tercekik!! Udah gitu, aku lebih berat dari dulu tau!!! Gak ringan kayak dulu!! " Lia memprotes, tapi di tertawai sesaat oleh Joshua dan kawan-kawannya.
" Hahaha kita gak akan mati tercekik kok! Dan lagi mau kamu berat atau enggak, kami masih bisa gendong. Berat kamu gak seberapa kok! Oke udah ya, pegangan!! " Justin mulai menggendong Lia sembari melesat cepat menyusuri hutan.
Pohon-pohon terasa lewat dengan cepat, bahkan burung yang terbang saja terasa lebih lambat dibanding biasanya. Angin berhembus kencang, menerpa wajah Lia dan menerbangkan rambut Lia.
Baru beberapa saat, Justin langsung menurunkan Lia di tanah kembali.
" Eh? Di mana ini? " Lia turun dari punggung Justin sembari melihat sekitar.
__ADS_1
" Ini puncak paling atas bukit di hutan ini. Kami sering duduk dan kumpul disini. " Chris menjelaskan sembari berpegangan di atas batang pohon besar.
Justin dan kawan-kawannya menaiki pohon besar di dekat situ sembari membantu Lia naik sembari melihat langit.
Suasana di sana benar-benar tenang, sunyi, tak ada suara klakson kendaraan yang berisik, hal ini yang Lia inginkan dari lama.
" Oh ya Lia, kita boleh minta tolong gak? " Mata biru Lance kini menatap Lia lembut.
" Boleh!! Minta tolong apa? "
" Kami gak minta yang susah kok, cuma... Bisa gak jangan panggil kami dengan panggilan kak? Walaupun yeah kami lebih tua dari mu, tapi kami kurang nyaman. Bisa kah? " Lance menjelaskan, Lia menatap kelima cowok itu.
" Boleh kah? Aku takutnya kalian risih aku panggil nama... "
" Gak apa! Kami malah nyaman kok kalo kamu manggil nama. "
" Oke Justin... "
Lia, Justin dan kawan-kawan tertawa-tawa bersama dan berbincang hangat.
Sementara itu di suatu tempat yang tak jauh dari tempat Justin dan kawan-kawannya duduk, terlihat seseorang mengamati mereka dengan serius.
" Kenapa Lia bareng mereka? Kalau begini, nyawa nya terancam... " Seseorang itu bergumam pelan dan akhirnya memilih pergi.
Sementara di saat yang sama, Justin yang peka langsung menoleh ke belakang. Tak ada siapapun di sana, tak mungkin ini hanya perasaannya saja.
" Kenapa Justin? " Lia ikut menoleh ke belakang, mencari apa yang dilihat temannya itu.
" Enggak... Kayaknya, aku salah liat... "
•••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••
Malam harinya, Lia kini tertidur lelap di kamarnya. Justin dan kawan-kawannya? Mereka masih terjaga sembari berjalan santai di halaman belakang rumah mereka.
" Keluarlah... Tak usah bersembunyi seperti itu... " Joshua menyahut, tiba-tiba seseorang yang tadi mengamati mereka datang.
" Pemburu ya? Ada perlu apa? " Lance menyahut, tangannya yang ia masukkan ke dalam saku celana itu menggenggam erat batu di saku nya.
__ADS_1
" Aku tak ingin melukai kalian, aku hanya ingin meminta kalian untuk menjauhi Verolia Charlotte. "