
Lia terbangun di kamarnya. Rambutnya kini acak-acakan, ia menatap keluar jendela. Terlihat kelima cowok itu sedang bermain di luar.
" Baguslah, setidaknya aku bisa melanjutkan apa yang mau aku cari tau... " gumam Lia yang kini duduk di depan laptop miliknya dan mulai mencari sesuatu.
" Aha, ketemu! Mungkin... Aku bisa mengatakannya pas makan siang.. " Lia bergumam lagi sembari mengetik sesuatu di word.
Sementara itu, Justin yang berada di halaman belakang kini menatap teman-temannya sembari membawa sebuah bola baseball.
" Kalian lagi apa nih? Aku boleh ikut liat? " Lia tiba-tiba datang, membuat mereka berlima tertawa dan menerima Lia untuk melihat hal yang akan mereka lakukan.
" Kalian suka main bola baseball? "
" Yap, suka dan lumayan bisa.. " Lance tersenyum manis sebelum akhirnya melempar bola baseball kearah Joshua.
Semuanya berlangsung seru, hingga tiba-tiba kelima cowok itu berlari ke arah Lia dan berusaha menutupi Lia.
Dari arah seberang, terlihat dua orang datang mendekati mereka berenam.
" Maaf mengganggu, tadi kami hanya lewat. Tapi... Wangi dari sini sulit untuk dibiarkan. Maka dari itu kami kesini... " Cowok berambut panjang dengan warna coklat itu menjelaskan.
Lia yang kebingungan apa yang terjadi hanya diam di belakang Justin dan yang lain.
" Oh maafkan kami juga. Karena segala yang sudah berada di wilayah kami akan menjadi milik kami. " Justin berusaha tetap tenang sembari memegang erat tangan Lia yang kini gemetar.
" Ah begitu ya. Kami tidak tau... Tapi, sepertinya si pembuat wangi itu akan berada di tangan kami... " Cowok berambut pirang di sebelah temannya tadi kini berseru sembari melemparkan potongan tangan, kaki, dan kepala dua orang yang berbeda.
Lia walaupun di belakang, ia tetap melihat dengan jelas. Dua kepala itu benar-benar familiar di ingatannya, bahkan tangan-tangan itu juga. Itu... Potongan tubuh orang tua nya...
Rasanya saat ini juga Lia hendak muntah. Hatinya hancur, setelah orang tua nya di bunuh oleh sesuatu yang di sebut werewolf. Kini potongan tubuh mereka di bawa oleh dua cowok di seberang sana.
Cowok berambut pirang itu mengangkat tangannya dan mengarahkannya padanya, membuat Lia seolah-olah ditarik paksa kearah mereka.
" Apa yang hendak kalian lakukan padanya?! " Justin dan Joshua serentak menatap tajam cowok berambut pirang di hadapan mereka.
__ADS_1
" Sudah lah, lepaskan dia Ace. "
" Heh, oke... " Cowok berambut pirang yang bernama Ace langsung melempar Lia. Beruntung Lia berhasil di tangkap oleh Justin dan lagi-lagi mereka saling bertatapan.
" Maafkan kami mengganggu, ayo Ace kita pergi. " Seketika mereka berdua pun hilang seperti asap.
" Ck, menyebalkan.. " Gumam Justin dan yang lain bersamaan.
•••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••
Di dalam rumah, Lia kini tengah duduk sembari meringis. Ace tadi sempat mencengkram tangannya sampai terasa panas..
" Ouch... " Lia makin meringis setelah Chris mengompres tangan Lia dengan air es.
" Kalau gini perih gak? " Justin mengelap tangan Lia pelan dengan sapu tangan yang sudah ia celupkan ke air es.
" Sedikit, tapi gak apa kak... "
" Lho? Lance sama Joey kemana? " Justin menoleh kanan-kiri, tidak melihat ada Lance dan Joey disini.
" Guys, ayo makan! Aku udah siapin di meja makan!! " Lance tiba-tiba datang dan mengajak Justin, Joshua, Chris dan Lia.
" Ayo Lia! Biar gak kerasa sakit lagi! " Justin merangkul Lia menuju ke ruang makan.
" Aku bilang sekarang aja kali ya? " batin Lia sembari memperhatikan kawan-kawannya menjaga dirinya.
Di meja makan, mereka makan dengan lahap hingga Lia membuka obrolan.
" Eh kak, selama ini aku belom tau nama panjang kakak, kalo boleh tau nama panjang kakak siapa? " Lia menatap antusias, walaupun begitu tangannya bergetar hebat di bawah meja. Karena biasanya Justin atau Joshua yang memulai obrolan.
" Lah iya juga! Kok baru sadar aku? Oh ya, nama panjang ku Justin Hellen! " Justin tersenyum manis pada Lia. Hatinya kini dag-dig-dug melihat Justin tersenyum padanya begitu. Senyuman Justin membuat ia ikut tersenyum.
" Joshua Hellen. " Joshua berseru heboh. Kelihatannya ia senang, entah apa yang membuat cowok itu senang...
__ADS_1
" Lance Hellen. " Lance menjawab sembari mengunyah pelan makanannya.
" Chris Hellen. "
" Joey Hellen. "
" Nah sekarang udah tau kan? Hehe aku lupa kalau kamu belum tau nama panjang kami.. Ya walaupun cuma tambahan Hellen sih.. Sorry ya, hehe... " Justin menggaruk kepalanya sembari menjulurkan lidah.
Setelah sunyi lagi, Lia mulai bicara lagi.
" Kak, aku mau ngomong. Cuma aku takut kalian tersinggung... Tapi aku beneran ingin ngomong tentang ini... "
" Ngomong aja, tak masalah kok. Ada apa? " Justin mengelus pelan rambut panjang Lia. Lia hanya menatap gugup mereka berlima.
" Kalian... Bukan manusia biasa kan? "
Elusan pelan Justin di kepala Lia terhenti, wajah kelima cowok itu nampak terkejut. Senyum Justin sesaat memudar, hingga Joshua menjawab.
" Kalau menurut Lia gimana? " Joshua tersenyum, walaupun begitu senyumannya masih menunjukkan ia tak bisa berkata-kata lagi.
" Ini hanya... Perspektif ku saja... Kalian mungkin salah satunya atau malah perspektif ku yang salah... Aku merasa kalian itu, antara vampir atau werewolf. Aku gak tau mana yang bener... " Lagi-lagi ekspresi shock dari kelima orang itu terpampang di wajah mereka.
" Kenapa Lia bisa dapat perspektif kayak gitu? " Lance menatap Lia tajam, Lia menundukkan kepala kemudian menjawab.
" Ya... Karena aku liat kalian beda... Kulit kalian pucat, dan yang paling keliatan tiap kalian jalan di hutan, kalian pasti berusaha menghindari matahari. Selain itu.... "
" Selain itu? "
" Aku gak tau waktu itu kalian atau bukan, tapi pas malam aku kesini saat masih camp, aku liat bayangan lima orang di sini. Mata mereka merah terang, terus kuku di tangan mereka panjang, seperti cakar. Seolah-olah mereka bisa saja mencabik ku... Aku gak tau itu kalian atau bukan, karena wajah mereka berlima gak kena cahaya bulan waktu itu... "
" Terlebih saat jari ku berdarah karena terkena pecahan gelas, Kak Justin dan yang lain seperti orang yang tak bisa menahan sesuatu. Saat itu juga Kak Justin menutupi wajahnya supaya tak melihat darah di jari ku... " Lia menjelaskan panjang lebar, sepertinya Lia mulai membuat kelima cowok itu merasa mau tak mau menjawab hal itu.
Hal yang selalu mereka berlima usahakan untuk tidak menjawab ataupun membicarakan hal itu, kali ini mereka mau tak mau. Lia di depan mereka tidak sebodoh Lia yang dulu. Tak mudah untuk ditipu.
__ADS_1
" Yah, kurasa kamu juga perlu tau... Toh kita sudah tinggal bersama. " Justin menjawab pelan, mata coklat Justin kini menatap lembut cewek di depannya.
" Sebelum kita semua bilang, kamu mau janji gak? Janji untuk tidak memberi tau siapapun? Bahkan sahabatmu, keluarga mu, dan teman-teman mu? "