
Di salam sebuah goa yang berada di suatu hutan, pertarungan antara Hesa melawan si iblis ular sekarang sudah mencapai babak akhir. Keduanya saling berhadapan dengan napas yang sudah terengah - engah engah karena kelelahan. Terlebih lagi Hesa yang tubuhnya sudah bercucuran darah sepertinya harus menyelesaikan pertarungan ini secepat mungkin karena ia akan kehabisan darah jika pertarungan ini berlangsung lama.
Menyadari bahwa sekarang ia tidak memiliki banyak waktu Hesa bergerak dan menyerang si iblis ular dengan pedang di tangannya. Dengan tubuhnya yang sangat fleksibel si iblis ular dengan lihainya mampu menghindari semua serangan Hesa dan kemudian ia mulai menyerang Hesa dengan cakarnya. Cakar dari si iblis ular dan pedang milik Hesa saling beradu dan menghasilkan suara seperti dua pedang yang sedang bertabrakan.
Sembari menyerang dengan cakarnya, si iblis ular kembali menggunakan rambut ularnya berusaha membelit tubuh Hesa. Tapi Hesa yang sudah sempat terkena belitan dari si iblis ular tidak ingin masuk ke lubang yang sama untuk yang kedua kalinya. Dengan cepat Hesa menghindari cakaran yang di layangkan si iblis ular dan menebas rambut ular dengan pedangnnya.
Tapi dengan sangat sepat si iblis ular mampu meregenerasi rambut ularnya yang sudah terpotong dengan sangat cepat. Ia kemudian kembali menerjang Hesa dan menyerang menggunakan kuku panjang di tangannya. Sembari menyerang ekspresinya terlihat sangat senang pertanda bahwa ia menyukai pertarungan ini. Begitu juga wajah Hesa yang terlihat sangat menyukai pertarungan ini, dengan senyum di wajahnya Hesa berkata.
“Apakah kamu ingin mengetahui sesuatu yang sangat lucu.” Ucap Hesa sembari menangkis kuku panjang milik si ular menggunakan pedang di tangannya.
“Apa itu?” Jawab si iblis ular juga dengan senyum di wajahnya.
Saat si iblis ular menyerang ke arah Hesa menggunakan kuku panjangnya, Hesa menghindari serangan itu dengan sangat tepat. Kemudian di saat yang bersamaan Hesa melempar pedang yang ada di tangan kanannya ke tangan kiri dan menyerang titik buta si iblis ular. Sebuah tebasan telak mengenai tubuh kanan si ular dan membuat darahnya bercucuran.
“Lucu bukan?” Ucap Hesa dengan senyum di wajahnya.
“Sialan.” Jawab si iblis ular sembari mengusap luka yang ada di tubuhnya.
Saat si iblis ular mengusap luka yanga ada di tubuhnya itu, luka itu sembuh dengan sekejap tanpa meninggalkan bekas apapun. Si iblis ular kemudian kembali menyerang Hesa dengan kuku kukunya yang semakin memanjang. Sembari menyerang dengan kuku panjang miliknya, si iblis ular menatap tajam ke arah Hesa dan berkata.
__ADS_1
“Itu juga lucu bukan.” Ucap si iblis ular dengan tersenyum.
“Sialan.”
Mereka kembali bertarung dengan sekuat tenaga, pedang milik Hesa dan kuku panjang milik si iblis ular yang bertabrakan menggema di seisi goa. Tiba tiba saja racun yang ada di tubuh Hesa sepertinya sudah kembali menyebar karena luka cakaran yang ia terima membuat darah di tubuhnya bercucuran. Dengan cepat Hesa mundur beberapa langkah menghindari serangan dari si iblis ular.
“Bagaimana apakah racun ku sudah mulai terasa.” Ucap si iblis ular dengan senyuman lebar di wajahnya.
Hesa kembali mundur beberapa langkah dari tempat ia berdiri dengan maksud memperpendek jarak antara dia dan si iblis ular. Setelah jarak yang ia buat sudah cukup jauh, ia mengeluarkan busurnya dan satu anak panah yang tersisa. Dengan berjongkok Hesa mulai membidik si iblis ular dengan busurnya itu, Si iblis ular yang melihat hal itu tertawa terbahak bahak dan berkata.
“Apa yang kamu lakukan dengan busur di tanganmu itu, apakah kamu yakin ingin menggunakan busur itu di ruang sempit seperti ini.” Ucap si iblis ular.
“Aku mendapatkan Teknik ini dari seorang teman yang cukup pintar dalam memanah, mungkin saja teknik yang kamu tertawakan ini akan membunuhmu.” Jawab Hesa sembari fokus membidik ke arah si iblis ular.
Di sisi lain Hesa juga sudah bersiap dengan pedang di tangan kananya dan menyerang si iblis ular dengan sekuat tenaga. Serangan mereka sama kuatnya hingga mementalkan keduanya ke arah yang berlawanan. Tapi tiba tiba sebuah batu runcing yang cukup besar jatuh tepat di tubuh si iblis ular, menembus tubuhnya hingga ke tanah dan membuatnya tidak bisa bergerak. Batu runcing itu jatuh dari langit langit setelah setelah anak panah Hesa mengenai celah yang tepat dari batu itu. Dengan tubuh yang sudah sempoyongan Hesa berjalan ke arah si iblis ular dan berkata:
“Apakah kamu tidak pernah belajar dari kesalahan.”
Perlahan namun pasti Hesa melangkah ke arah si iblis ular yang sudah tidak bisa bergerak. Dengan minyak tanah di sebuah botol dan sebuah korek yang ia pegang. Hesa menyiram tubuh si iblis ular dengan minyak tanah itu dan membakarnya hidup hidup.
__ADS_1
Iblis ular itu menjerit kesakitan karena panasnya api yang perlahan membakar sekujur tubuhnya. Tubuhnya itu kembali beregenerasi setiap kali api membakar tubuhnya itu, menyebabkan rasa sakit yang ia terima terus berulang. Dengan menatap tajam ke arah si iblis ular Hesa berkata:
“Itu adalah bayaran untuk kematian teman temanku, jika kamu ingin mati memohon lah kepadaku.”
“Kumohon bunuh aku.” Ucap si iblis ular memohon agar Hesa membunuhnya sehingga rasa sakit yang ia terima segera hilang.
“Apa yang kamu katakan, aku tidak dengar.” Bentak Hesa dengan suara lantang.
“Kumohon bunuh aku, kumohon bunuh aku, tolong bunuh saja aku.” Teriak si iblis ular sembari menerima rasa sakit yang ia terima.
“Baiklah kalau begitu.” Ucap Hesa bersiap dengan pedang di tangannya.
Hesa menebas leher si iblis ular dengan pedangnya hingga kepala si iblis ular terpenggal. Tubuh dari iblis ular itu terbakar dan tidak bisa beregenerasi lagi karena ia mati saat itu juga. Hesa kembali mengayunkan pedangnya dan membelah kepala si iblis ular menjadi dua. Dari dalam kepala si ular keluar sebuah kecil hitam yang di sebut sebagai mutiara ular. Tanpa pikir panjang Hesa mengambil mutiara ular itu dan menelannya untuk menghilangkan racun yang ada di dalam tubuhnya.
Dengan tubuh yang penuh luka Hesa memasukan pedangnya kedalam sarung pedang dan kemudian ia berjalan kea nak kecil yang sedang bersembunyi di balik bebatuan. Hesa mendekat ke anak kecil itu dan berkata.
“Sekarang sudah aman, ayo kita pulang ke desa.” Ucap Hesa bersamaan dengan menggendong si anak kecil dan berjalan keluar dari goa.
Di luar goa Hari sudah mulai gelap tapi Hesa tetap berjalan ke arah kudanya yang ia ikat di pohon yang ada di hutan itu. Setelah berjalan beberapa saat ia melihat kudanya masih berada di tempat terakhir kali Hesa meninggalkannya. Dengan cepat Hesa menaiki kuda itu bersama dengan menggendong si anak kecil di tangan kirinya.
__ADS_1
Hari yang sudah gelap membuat Hesa tidak berani memacu kudanya dengan cepat karena jalan yang ia lihat kurang begitu jelas. Tapi meski begitu tidak membutuhkan waktu yang terlalu lama untuk mereka sampai di desa. Para warga yang sudah menunggu kehadiran Hesa bersorak melihat Hesa yang sudah kembali ke desa mereka. Tapi para warga sedikit kaget karena Hesa membawa anak kecil yang di bawa oleh si Ular raksasa beberapa hari yang lalu.
Tapi ke kagetan para warga itu hilang setelah Hesa mengatakan bahwa ia telah berhasil mengalahkan si ular raksasa. Hesa turun dari kudanya dan menurunkan si anak kecil dari gendongannya, si anak kecil yang merasa sangat senang, dengan cepat berlari ke pelukan ibunya. Tapi setelah itu, tiba tiba Hesa terjatuh ke tanah dan tidak sadarkan diri membuat panik para warga yang ada di sana.