
Kembali ke masa sekarang terlihat Hesa sedang duduk di sebuah bukit dengan pemandangan yang langsung mengarah ke laut. Tiba tiba dari belakang seorang perempuan dengan rambut putih menghampirinya. Dengan Menyerahkan sebuah pisau kecil bertali ia berkata:
"Tidak ada tali berwarna hijau disini, jadi aku menggunakan tali berwarna cokelat."
"Tidak apa apa, lagi pula pada awalnya tali pisau ini juga berwarna cokelat." Jawab Hesa bersamaan dengan menggunakan pisau itu sebagai kalungnya yang kemudian ia masukan kedalam baju.
"Ngomong ngomong apa yang sedang kamu lakukan sendirian di tempat ini." Ucap si wanita yang kemudian duduk di samping Hesa.
"Aku sedang mengingat takdir kelam yang sudah aku lewati."
"Ngomong ngomong, Kalista apakah kamu percaya kalau aku mengatakan bahwa aku adalah anak dari seorang raja, dan sebenarnya aku adalah seorang putra mahkota." Lanjut Hesa dengan penuh semangat.
"Ha ha ha ha ha, Jika itu benar maka jadikanlah aku sebagai Ratu ketika kamu sudah menjadi seorang Raja." Jawab Kalista dengan tersenyum.
"Baiklah aku berjanji akan menikahi mu ketika aku sudah menjadi raja." Jawab Hesa yang membuat Kalista tersipu malu.
Karena hari mulai gelap, keduanya memutuskan untuk pulang ke rumah Kalista. Sesampainya di sana merek sudah di sambut oleh ibu Kalista yang sudah menyiapkan makanan. Di sana juga ada ayah Kalista, seorang pengerajin pedang terbaik yang ada di desa ini.
Meskipun penampilannya cukup menyeramkan dengan janggut dan kumis putih serta berrambut botak. Tapi sebenarnya ayah Kalista adalah orang yang baik hati. Dengan sangat lembut ayah Kalista mempersilahkan Hesa untuk makan.
__ADS_1
"Silahkan Hesa, jangan malu malu, anggap saja seperti rumah sendiri."
Hesa yang kelaparan dengan cepat mengambil makanan yang sudah di siapkan dan memakannya. Sesaat kedua orang tua Kalista mengingatkannya kepada ayah dan ibunya, tapi berbeda dari saat ia kecil sekarang ia tidak menangis ketika mengingat kedua orang tuanya. Beberapa waktu berlalu dan sekarang mereka semua sudah selesai makan.
"Paman Jioji ini adalah bayaran untuk perbaikan pedang ku." ucap Hesa sembari menyodorkan sekantung emas hasil memenangkan sayembara pagi tadi.
"Kenapa kamu memberikan itu sekarang, pedang ku baru akan siap besok, jadi besok saja. " Jawab Ayah Kalista.
"Tidak apa apa Paman." Ucap Hesa tetap menyodorkan sekantung emasnya.
Saat ayah Kalista membuka kantung itu, betapa terkejutnya dia setelah melihat di dalam kantung ternyata penuh dengan emas. Ia kemudian mengembalikan kantung itu dengan berkata:
"Tidak apa apa paman lagi pula menurutku ini masih kurang untuk membayar keterampilan paman dalam membuat pedang." Ucap Hesa kembali memberikan sekantung emasnya.
Ayah Kalista akhirnya menerima emas yang Hesa berikan setelah Hesa sedikit memaksanya. Setelah itu mereka saling bertukar cerita hingga larut malam. Dan kemudian keluarga Kalista dan Hesa tidur dengan bulan purnama yang menyinari malam.
Suara ayam berkokok membangunkan Keluarga Kalista dan Hesa. Saat Hesa terbangun ternyata ayah Kalista sudah menyelesaikan pedang yang Hesa pesan. Dengan kaget Hesa berkata:
"Paman kapan paman menyelesaikan ini."
__ADS_1
"Ini selesai tadi pagi, apakah kamu ingin mencobanya." Jawab Ayah Kalista menyerahkan pedang kepada Hesa.
Hesa membuka pedang itu dari sarungnya dan melakukan beberapa tebasan. pedang itu berkilauan terkena sinar matahari pagi. Siapapun yang melihat pedang itu pasti langsung tahu bahwa pedang itu sangat tajam.
Setelah selesai mengetes pedangnya, Hesa kembali memasukan pedang itu kedalam sarungnya. Dia terlihat sangat senang dengan pedang yang dibuat oleh ayah Kalista itu. Dengan tersenyum ia berkata.
"Terimakasih banyak paman sudah membuatkan ku pedang ini."
"Apa yang kamu katakan, lagi pula sudah tugas ku sebagai seorang pengrajin pedang untuk membuat pedang." Jawab Ayah Kalista.
"Kalau begitu aku pamit paman." Ucap Hesa bersiap dengan kudanya.
"Apakah kamu tidak ingin sarapan terlebih dahulu."
"Tidak paman terimakasih."
"Bibi aku pamit, Kalista aku pamit." ucap Hesa setelah ia menaiki kudanya.
Setelah berpamitan dengan keluarga Kalista, Hesa memacu kudanya dan pergi dari sana. Ia sebenarnya sedang menjalankan misi yang tidak jauh dari desa itu. Tapi saat sedang bertarung dengan musuh, Hesa tidak sengaja merusak pedangnya sendiri.
__ADS_1
Karena itulah Hesa pergi ke desa Kalista untuk memesan pedang kepada ayah Kalista. Saat ini ia memacu kudanya untuk kembali menyelesaikan misi yang sudah ia ambil.