
Dua hari setelah pertempuran Hesa melawan iblis ular, saat ini Hesa sedang tertidur di atas sebuah ranjang dengan tubuh yang penuh dengan perban. Sesudah dua hari ini Hesa tidak kunjur bangun dari tidurnya yang membuat pesta perayaannya atas kemenangannya melawan ular raksasa di tunda. Tapi hari ini dokter yang merawat Hesa mengatakan bahwa kemungkinan besar Hesa akan terbangun.
Mendengar kabar yang sangat baik itu, kepala desa memerintahkan semua warganya untuk menyiapkan sebuah pesta perayaan. Namun setelah semuanya sudah di persiapan mulai dari makanan, jalanan dan rumah rumah yang sudah di hias seta beberapa musik, Hesa tidak kunjung terbangun dari tidurnya. Dengan ekspresi khawatir kepala desa berkata kepada dokter yang sedang merawat Hesa.
“Apakah dia benar benar baik baik saja.”
“Tenang saja, dia baik baik saja.” Jawab si dokter yang merawat Hesa berusaha untuk menenangkan si kepala desa.
Tidak lama setelah itu tiba tiba saja jari Hesa mulai bergerak dan kemudian Hesa bangun dari tidurnya. Duduk di atas ranjang Hesa menutup matanya menggunakan kedua tangannya karena silau sinar matahari yang terpancar dari luar jendela. Setelah matanya sudah terbiasa dengan sinar matahari Hesa mulai menggerakkan tubuhnya yang sudah tidak ia Gerakan selama ini.
“Kenapa kalian menatapku seperti itu.” Ucap Hesa kepada kepala desa, dokter dann beberapa warga yang menatapnya dengan sangat terkejut.
“Aku memang mengatakan kamu akan bangun hari ini, tapi aku berpikir beberapa tulang mu patah jadi kamu tidak akan bisa bergerak untuk sementara waktu.” Ucap si dokter dengan sangat terkejut.
“Apa yang kamu katakan dengan tidak bisa bergerak, lihatlah aku bisa menggerakkan tubuhku bukan.” Jawab Hesa sembari beranjak dari tempat tidurnya.
“Ngomong ngomong siapa kamu.” Lanjut Hesa menatap ke arah si dokter.
“Tuan Hesa perkenalkan dia adalah dokter yang merawat mu selama dua hari ini.” Jawab si kepala desa.
“Apa dua hari, jadi aku sudah tertidur selama dua hari ini.” Ucap Hesa dengan ekspresi panik.
“Tapi terimakasih karena sudah merawat ku.” Lanjut Hesa sembari menjabat tangan si dokter.
“Sama sama.” Jawab si dokter dengan ekspresi yang masih sedikit terkejut.
Tiba tiba saja seorang gadis kecil menerobos kerumunan dan berlari ke arah Hesa dan memeluknya dengan sangat erat. Anak kecil itu adalah seorang anak yang Hesa selamatkan dari si iblis ular yang menculiknya. Masih memeluk Hesa dengan sangat erat anak kecil itu berkata.
__ADS_1
“Kak Hesa terimakasih karena sudah menyelamatkan ku.” Ucap si anak kecil itu tetap memeluk Hesa dengan erat.
“Eh kamu sudah tahu namaku yang, siapa yang memberi tahu mu.” Jawab Hesa.
“Kepala desa yang memberitahu ku namamu kak.”
“kepala desa ya, jadi aku sekarang ingin bertanya siap namamu?” Tanya Hesa sembari menggendong si anak kecil itu.
“Namaku adalah Catelyne.”
“Catelyne yan ama yang bagus, aku yakin kamu akan tumbuh menjadi gadis yang sangat cantik Catelyne.” Ucap Hesa kepada Catelyne.
“Terimakasih.” Jawab Hesa dengan tersenyum.
Setelah semua itu, kepala desa memerintahkan semua warganya untuk berkumpul karena Hesa sudah terbangun dan pesta akan segera dimulai. Pesta itu digelar dengan sangat meriah dengan banyak sekali makan dan musik yang mengiringi pesta. Para warga di sana bersuka cita dengan makan sepuasnya serta menari dengan diiringi musik menikmati jalannya pesta. Hesa juga menikmati pesta itu dengan makan sangat banyak karena ia sudah tidak makan selama dua hari penuh.
Mereka semua tertidur lelap hingga akhirnya pagi pun tiba, merkea masih tertidur dengan posisi tubuhny yang tidak beraturan karena mereka tidur dalam posisi mabuk. Seorang pira yang menunggangi kuda datang ke desa itu dan seketika kaget melihat para warga yang tergeletak di jalan.
Pira itu mengira telah terjadi pembantaian di desa itu karena ia mengira bahwa orang orang yang tertidur di jalan sudah mati. Hingga akhirnya seorang pria terbangun dan menguap, mengagetkan sip ria yang mengendarai kuda. Mereka berdua saling menatap satu sama lain dengan saling kebingungan.
“Apa yang sebenarnya terjadi di desa ini.?” Taya si pria penunggang kuda.
“Tidak apa apa, desa ini baru saja mengadakan sebuah pesta dan akhirnya beginilah keadaan des aini sekarang.” Jawab si pria.
“Aku ada perlu dengan kepala desa bisakah kamu mengantarku untuk bertemu dengannya.”
“Tentu saja, ikuti aku.”
__ADS_1
Beberapa saat berlalu, terlihat si kepala desa berlarian sembari membawa secarik surat di tangannya. Sembari berlari ia meneriaki nama Hesa yang sedang sibuk menyiapkan kudanya. Dengan napas yang terengah engah si kepala desa memberikan surat itu kepada Hesa. Saat membaca surat itu ekspresi Hesa berubah seketika dan berkata:
“Kepala desa, darimana anda mendapatkan surat ini.”
“Aku mendapatkannya dari pengantar surat yang biasanya mengantarkan surat ke des aini.” Jawab si kepala Desa.
“Maaf tapi aku harus pergi saat ini juga, tolong sampaikan salam ku kepada yang lainnya.” Ucap Hesa bersiap dengan kudanya.
Si kepala desa menghentikan Hesa yang sudah siap memacu kudanya, ia dengan sangat memohon meminta Hesa untuk pergi ke rumahnya terlebih dahulu sebelum pergi meninggalkan desa. Hesa yang melihat si kepala desa memintanya dengan sangat memohon sampai menunduk kepadanya membuat Hesa tidak bisa menolak tawarannya. Mereka berdua akhirnya berjalan ke rumah si kepala desa yang tidak jauh dari tempat itu.
Sesampainya mereka di rumah si kepala desa, mereka duduk di kursi yang berada di ruang tamu. Dan seperti biasa istri dari si kepala desa menyiapkan makanan dan minuman untuk si kepala desa dan Hesa. Dengan sangat rama si kepala desa menawarkan makanan dan minuman yang sudah di sajikan.
“Ada apa anda meminta saya untuk data kemari.” Ucap Hesa kepada si kepala desa.
“Maaf tuan Hesa, saya lupa memberikan anda surat untuk pengambilan Hadiah anda.” Jawab si kepala desa memberi memberikan sebuah surat kepada Hesa.
“Sekali lagi saya mewakili semua warga desa mengucapkan banyak sekali terimakasih kepada tuan Hesa karena sudah membantu desa kami dengan membunuh ular raksasa. Sekali lagi saya ucapkan terimakasih banyak.” Lanjut si kepala desa.
“Sama sama, kalau begitu bisakah saya pergi sekarang.” Jawab Hesa.
“Tunggu tuan ini adalah sedikit emas tambahan yang di berikan oleh beberapa warga desa untuk anda.” Ucap si kepala desa bersamaan dengan memberikan sekantung emas kepada Hesa.
“Tunggu apa yang anda lakukan, saya tidak bisa menerima emas itu.”
“Tolong terimalah ini sebagai tanda terimakasih kami tuan Hesa.” Ucap si kepala desa kembali memohon.
Hesa yang melihat hal itu kembali tidak bisa menolak apa yang diberikan oleh si kepala desa. Setelah semuanya selesai Hesa bergegas keluar dari rumah si kepala desa dan menyiapkan kudanya. Setelah semuanya selesai Hesa menaiki kudanya dan berkata:
__ADS_1
“Sekali lagi saya pamit, ucapkan salam ku kepada semuanya.” Ucap Hesa sebelum ia memacu kudanya dengan sangat cepat keluar dari desa itu.